Saya mengetahui dari sebuah perusahaan penyalur tenaga kerja di Jepang akan sebuah paradigma “Bila anda datang ke kantor pada pukul 09.00 (jam resmi masuk kantor diJepang) dan pulang pada pukul 17.00 (jam resmi pulang kantor di Jepang), maka atasandan kawan-kawan anda akan mengatakan bahwa anda tidak memiliki niat bekerja”. Sayamembuktikan pameo tersebut, karena setiap hari saya bersepeda melintasi kantor walikota (shiyakusho).Sebagian besar lampu di kantor itu masih menyala hingga pukul 20.00. Dan beberapa kalisaya jumpai staf kantor tersebut memasuki stasiun kereta, juga sekitar pukul 20.00. Halini berarti, mereka semua memiliki niat bekerja -versi Jepang.Pasar, pertunjukan kejujuran dan perhatian Suatu kali pernah kami membeli sebungkus buah- buahan dengan bandrol murah; favorit bagi kalangan mahasiswa asing seperti saya.Saya sudah mengetahui bahwa ada sedikit cacat (gores atau bekas benturan) pada permukaan beberapa buah-buahan - sesuai dengan harga murah yang disematkan padanya. Pada saat kami hendak membayar buah tersebut, penjual buah buru-burumenerangkan dan menunjuk-nunjuk kondisi sedikit cacat pada beberapa buah-buahantersebut, dan kembali memastikan niat kami membelinya. Sembari tersenyum, tentu sajakami mengatakan “daijobu” (tidak apa-apa), karena kami sudah melihatnya dari awal.Beberapa kawan kami mengiyakan pada saat kami menceritakan kejadian yang bagi kamicukup mengherankan ini; ini berarti sikap jujur tersebut tidak dimonopoli oleh satu-dua pedagang. Mereka mengerti betul bahwa kejujuran adalah prasyarat utama keberhasilandalam berdagang. Tidak perlu meraup untung sesaat dalam jumlah besar, bila nantinyaakan kehilangan pelanggan.Hingga hari ini, pada saat bertransaksi di kasir, kami selalu menerima uang kembaliandalam jumlah yang utuh - sesuai dengan yang tertera pada slip pembayaran. Tidak kurang, meski hanya satu ¥en (mata uang terkecil di Jepang). Tidak ada “pemaksaan”untuk menerima permen sebagai pengganti nominal tertentu.Selain kagum dengan praktek berdagang yang baik ini, kami sekaligus kagum dengansistem perbankan Jepang yang mampu menyediakan uang recehan untuk pedagang danvending machine (mesin penjual otomatis) di se-antero Jepang. Meski bagi sebagiankalangan, uang kembalian terlihat “sepele”; hal ini bisa menyebabkan ketidakikhlasan pembeli terhadap transaksi jual-beli.Istri saya selalu berbelanja bersama anak-anak; dan karena ‘keriangan’ anak-anak, pada beberapa kasus, pak telur atau buah-buahan bisa meluncur ke lantai. Dua kali terjadi beberapa telur dalam satu pak pecah akibat keriangan anak-anak, dan satu kalimelibatkan buah yang mudah penyok. Pada semua kejadian tersebut, petugasSupermarket melihat dan segera mengganti barang-barang tersebut dengan yang baru.Padahal kami datang dengan wajah lelah dan pasrah untuk membayarnya, karena kamimenyadari benar bahwa ini adalah kelalaian kami.
Leave a Comment