Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
24Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
12.KepMenKes 1027-2004

12.KepMenKes 1027-2004

Ratings: (0)|Views: 1,170 |Likes:
Published by robert_ardo

More info:

Published by: robert_ardo on Apr 03, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/10/2014

pdf

text

original

 
 
KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIANomor 1027/MENKES/SK/IX/2004TENTANGSTANDAR PELAYANAN KEFARMASIAN DI APOTEKMENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
MENIMBANG : bahwa dalam rangka meningkatkan mutu dan efisiensipelayanan Kefarmasian yang berasaskan PharmaceuticalCare perlu menetapkan standar pelayanan Kefarmasiandengan Keputusan Menteri.MENGINGAT : 1. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentangKesehatan (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 100,Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 3495);2. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentangPemerintahan Daerah (Lembaran Negara Tahun 1999Nomor 60, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839);3. Peraturan Pemerintah No. 25 Tahun 1980 tentangperubahan atas Peraturan Pemerintah No. 26 tahun1965 tentang Apotek;4. Peraturan Pemerintah Nomor. 72 Tahun 1998 tentangPengamanan Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan(Lembaran Negara Tahun 1998 Nomor 138, TambahanLembaran Negara RI Nomor 3781);5. Peraturan Pemerintah Nomor. 25 Tahun 2000 tentangKewenangan Pemerintah dan Kewenangan ProvinsiSebagai Daerah Otonomi ( Lembaran Negara Tahun2000 Nomor 54, Tambahan Lembaran Negara Nomor3952);6. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1747/Menkes/ SK/XII/2000 tentang Pedoman Penetapan StandarPelayanan Bidang Kesehatan di Kabupaten/Kota;7. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1277/Menkes/ SK/X/2001 tentang Organisasi dan Tata KerjaDepartemen Kesehatan.;8. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1332/Menkes/ SK/X/2002 tentang Perubahan atas Peraturan MenteriKesehatan Nomor. 922/Menkes/Per/X/1993 tentangKetentuan dan Pemberian Izin Apotek;
 
 9. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1191/Menkes/ SK/IX/2002 tentang Perubahan atas Peraturan MenteriKesehatan Nomor 918/Menkes/Per/X/1993 tentangPedagang Besar Farmasi;10. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1331/MenkesSK/X/2002 tentang Perubahan Peraturan Menkes Nomor167/Kab/B.VII/1972 tentang Pedagang Eceran Obat ;
M E M U T U S K A NMENETAPKAN :
PERTAMA : KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN TENTANG STANDARPELAYANAN KEFARMASIAN DI APOTEKKEDUA : Standar Pelayanan kefarmasian dimaksud Diktum Pertamasebagaimana tercantum dalam lampiran Keputusan ini.KETIGA : Semua tenaga kefarmasian dalam melaksanakan tugasprofesinya di Apotek agar mengacu pada standarsebagaimana ditetapkan dalam Keputusan ini.KEEMPAT : Dinas Kesehatan Kabupeten/Kota melakukan pembinaan danpengawasan pelaksanaan Keputusan ini dengan melibatkanorganisasi profesi.KELIMA : Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan .Ditetapkan di JAKARTAPada tanggal 15 September 2004MENTERI KESEHATAN,Dr. ACHMAD SUJUDI
 
 LampiranKeputusan Menteri KesehatanNomor 1027/Menkes/SK/IX/2004Tanggal 15 September 2004
STANDAR PELAYANAN KEFARMASIAN DI APOTEKBAB IPENDAHULUAN
1. Latar BelakangPelayanan kefarmasian pada saat ini telah bergeser orientasinya dari obatke pasien yang mengacu kepada pelayanan kefarmasian (pharmaceuticalcare). Kegiatan pelayanan kefarmasian yang semula hanya berfokus padapengelolaan obat sebagai komoditi menjadi pelayanan yang komprehensifyang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup dari pasien .Sebagai konsekuensi perubahan orientasi tersebut, apoteker dituntut untukmeningkatkan pengetahuan, ketrampilan dan perilaku untuk dapatmelaksanakan interaksi langsung dengan pasien. Bentuk interaksi tersebutantara lain adalah melaksanakan pemberian informasi, monitoringpenggunaan obat dan mengetahui tujuan akhirnya sesuai harapan danterdokumentasi dengan baik. Apoteker harus memahami dan menyadarikemungkinan terjadinya kesalahan pengobatan (medication error) dalamproses pelayanan. Oleh sebab itu apoteker dalam menjalankan praktik harussesuai standar yang ada untuk menghindari terjadinya hal tersebut. Apotekerharus mampu berkomunikasi dengan tenaga kesehatan lainnya dalammenetapkan terapi untuk mendukung penggunaan obat yang rasional.Sebagai upaya agar para apoteker dapat melaksanakan pelayanankefarmasian dengan baik, Ditjen Yanfar dan Alkes Departemen Kesehatanbekerja sama dengan Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia (ISFI) menyusunstandar pelayanan kefarmasian di apotek untuk menjamin mutu pelayanankefarmasian kepada masyarakat .2. TujuanStandar Pelayanan Kefarmasian di apotek disusun :2.1. Sebagai pedoman praktik apoteker dalam menjalankan profesi.2.2. Untuk melindungi masyarakat dari pelayanan yang tidak profesional2.3. Melindungi profesi dalam menjalankan praktik kefarmasian3. Pengertian3.1. Apotek adalah tempat tertentu, tempat dilakukan pekerjaankefarmasian dan penyaluran sediaan farmasi, perbekalan kesehatanlainnya kepada masyarakat.3.2. Apoteker adalah sarjana farmasi yang telah lulus pendidikan profesidan telah mengucapkan sumpah berdasarkan peraturanperundangan yang berlaku dan berhak melakukan pekerjaankefarmasian di Indonesia sebagai apoteker.

Activity (24)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Kiki Zakiyya liked this
Monicha Agustina liked this
Joni Rasmanto liked this
Yossi Engka liked this
Jefri Eliyan liked this
Awaludian Manson added this note
ho
Awaludian Manson liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->