Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
1Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
ASPEK BUDAYA DALAM LAYANAN BIMBINGAN DAN.docx

ASPEK BUDAYA DALAM LAYANAN BIMBINGAN DAN.docx

Ratings: (0)|Views: 285|Likes:

More info:

Published by: Rossyeva Shee Al'ziLendh on May 03, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOCX, TXT or read online from Scribd
See More
See less

12/30/2013

pdf

text

original

 
ASPEK BUDAYA DALAM LAYANAN BIMBINGANDAN KONSELING
4 May, 2009 at 03:07(Bahan Bacaan)  Setelah mempelajari bab ini, diharapkan Anda dapat menjelaskan faktor sosial budayayang mempengaruhi masalah yang dialami klien.Setelah memahami hakikat mata kuliah LSB, budaya dan pengaruhnya terhadaptingkah laku, pada bab ini Anda diajak untuk membahas berbagai aspek sosial budaya yangmempengaruhi tingkah laku, termasuk layanan bimbingan konseling. Dalam bab ini, kamimenguraikan aspek budaya dalam tingkah laku dan layanan bimbingan khususnya konseling,testing dan pemberian informasi. Pada akhir bab ada sejumlah tugas yang perlu Andakerjakan agar pemahaman Anda terhadap materi menjadi lebih komprehensif.
Aspek Budaya dalam Tingkah Laku
Tingkah laku selama ini hanya dipandang sebagai gejala psikologis murni, namunsekarang tingkah laku juga dipandang sebagai gejala budaya. Tingkah laku dibentuk danmencerminkan budaya tertentu. Cara siswa menghormati guru, misalnya memperhatikanucapan-ucapan guru, mengandung nilai hormat kepada orang lain yang sedang berbicarawalaupun ia tidak setuju dengan apa yang dibicarakan, lebih-lebih terhadap guru. Tingkah
laku selalu mengandung nilai budaya yang mengacu ke perbuatan “baik” atau mengandung
nilai-nilai baik. Setiap kelompok masyarakat mempunyai nilai masing-masing, misalnya
kelompok pencuri menganggap “baik” jika seorang anak dapat mencur 
i tanpa diketahui oleh pemiliknya, tetapi kelompok masyarakat agamis atau taat hukum akan menganggap mencurisebagai tingkah laku yang buruk.Layanan bimbingan antara lain kegiatan pemberian informasi, inventori, konseling,
home room
,
home visit 
, dan konsultasi dengan orang tua. Di antara layanan tersebut, yang banyak mengandung aspek sosial budaya adalah konseling dan testing, sedangkan yangsedikit mengandung aspek sosial budaya adalah pemberian informasi. Namun, hampir semualayanan selalu mengandung unsur kode etik yang harus diperhatikan oleh konselor. Kode etik adalah pola tingkah laku dan tugas konselor yang dituntut oleh masyarakat yangmencerminkan nilai-nilai budaya yang dijunjung tinggi oleh masyarakat, misalnya sopansantun, menghormati kerahasiaan pribadi, menghargai harkat dan martabat manusia,kejujuran dan kebenaran. Tujuan kode etik untuk melindungi klien dari hal-hal yangmengancam kesejahteraan klien, dan untuk meningkatkan kemaslahatan klien yangmerupakan tujuan dari masyarakat. Dengan demikian, tingkah laku konselor dalammelaksanakan tugas bimbingan pun tidak lepas dari aspek sosial budaya.
Aspek Budaya dalam Layanan Testing
Misalnya di kelas X semua anggotanya adalah siswa wanita. Ketika mereka memilihkegiatan kelas maka cenderung akan dipilih kegiatan seperti memasak, lomba kebersihan dansebagainya. Di sini telah terjadi bias jenis kelamin karena pilihan itu lebih dipengaruhi oleh budaya wanita. Demikian pula jika kelas itu didominasi oleh siswa laki-laki, setiap keputusan
 
akan dipengaruhi oleh budaya laki-laki. Ada bias yang lain yang terjadi dalam masyarakat,misalnya bias etnik, bias sampel, dan bias kelas sosial.Testing sering menimbulkan bias. Dalam testing, budaya menjadi penyebab biaskarena keadaan yang dilukiskan tidak menggambarkan hal yang sebenarnya. Bahan-bahan testernyata banyak mengandung unsur-unsur budaya terutama dari kelas sosial menengah atasorang kulit putih. Ahli penyusun tes umumnya berasal dari kelas menengah yang kurangmenghayati budaya kelas bawah sehingga ada kesenjangan budaya. Butir-butir tes kecerdasanmisalnya, mencerminkan budaya kelas sosial tertentu, yaitu budaya kelas sosial menengah.Butir-butir tes menyangkut hal yang dikenal baik oleh siswa dari kelas sosial menengah atas,tetapi asing bagi siswa dari kelas menengah bawah. Hal ini mempengaruhi siswa dalammenjawab tes.Di samping itu, testing berlangsung dalam situasi hubungan sosial tester-testee.Penciptaan hubungan dan suasana yang aman, nyaman, tenang, dan tidak mencemaskansangat mempengaruhi hasil tes siswa. Sebagai contoh, tempat tes yang gaduh, bising, tataletak kursi yang sangat padat dan tidak teratur, waktu tes siang hari dalam suasana yang panas, akan mengganggu konsentrasi testee dalam mengerjakan tes. Kinerja testee bukanhanya dipengaruhi oleh kemampuannya, melainkan juga oleh keadaan kesehatan terutamakesegaran fisik, keyakinan diri testee dan lingkungan pelaksanaan tes. Norma tes disusun berdasar atas sampel dari populasi tertentu yang dipakai sebagaistandar norma. Standar itu kemudian digunakan sebagai pembanding dalam menentukantingkat dari skor tes. Masalah timbul ketika sampel untuk norma tes diperlakukan bagi testeeyang berbeda tingkat sosial dan latar belakang budayanya. Pada waktu proses standardisasi, penyusun tes menggunakan orang-orang kota atau negara maju sebagai norma, tetapi setelahtes selesai disusun, ia digunakan untuk mengukur orang-orang yang berasal dari desa ataunegara berkembang. Dengan perbedaan tersebut, hasil tes bisa menjadi relatif.Dengan demikian, karena unsur bias, instrumen testing tidak bisa terlalu diandalkan.Konselor harus hati-hati, tidak sembarangan dalam menafsirkan dan menginformasikan hasiltes, terutama tes kecerdasan. Dalam hal ini konselor perlu melihat pula latar belakang testee,dan perlu melengkapi dengan data yang lain.
Aspek Budaya dalam Layanan Konseling
Latar belakang budaya klien dan konselor seringkali berbeda.Walaupun secara fisik klien dan konselor hanya berdua dalam satu ruang konseling, pada hakikatnya masing-masingmewakili budaya lingkungannya yang berbeda. Masing-masing telah menyerap nilai-nilai, pandangan, sikap yang khas dari lingkungan budayanya sebagai hasil belajar dari lingkungantersebut, bukan hasil keturunan. Disamping nilai-nilai, klien dan konselor juga menyerapmasalah dari lingkungannya yang juga berbeda.Dalam konseling, alat utama yang digunakan adalah bahasa. Konselor perlumemperhatikan bahasa atau ucapan-ucapan klien baik yang verbal maupun non verbal.Bahasa dipengaruhi oleh budaya setempat, istilah-istilah yang digunakan bisa sama antar  budaya tetapi seringkali maknanya jauh berbeda. Kita ambil contoh, kata
atos
dalam bahasaJawa yang berarti keras, sangat berbeda makna dengan
atos
bahasa Sunda yang berarti sudah
 
selesai. Dengan demikian, jika konselor tidak peka terhadap perbedaan latar budaya masing-masing, maka bahasa bisa menimbulkan salah paham bahkan pertentangan.Kata-kata yang diucapkan klien bisa mengungkapkan kekhawatiran, ketakutan,konflik batin, kegelisahan, kebingungan, kesedihan, ketakutan dan muatan-muatan psikologislainnya. Namun, bahasa verbal kadang bertentangan dengan bahasa non verbal, misalnyaklien sama sekali tidak mengatakan bahwa dia takut tetapi ia tampak gemetar, pucat mukadan seringkali menengok ke jendela. Konselor yang peka dan memahami latar budaya klienakan menangkap bahasa non verbal tersebut sebagai pertanda ketakutan. Bahasa non verbal biasanya lebih sulit disembunyikan, namun maknanya sangat lokal dan berkaitan dengan budaya setempat. Untuk itu konselor sangat perlu mempelajari dan mengenali lain budayaatau ragam budaya tempat ia bertugas. Dalam hal ini tugas konselor adalah mengenali,mendeskripsi, memprediksi dan memberikan perlakuan terhadap tingkah laku klien danmenyesuaikan dengan budaya klien.Persoalan terjadi jika ada perbedaan yang tajam antara konselor dan klien. Akibatnya,seringkali klien mengalami hambatan emosional seperti takut salah, cemas, dan ragu-ragudalam berkomunikasi dengan konselor sehingga klien tidak lancar berkomunikasi. Misalnya,ketika konselor menanyakan sesuatu, sebenarnya klien mengetahui jawabannya, namun iamenjawab dengan lirih karena takut sehingga jawaban itu sulit ditangkap maknanya olehkonselor. Ketika konselor meminta penegasan, muka klien berubah menjadi pias, dan iamengatakan tidak tahu.Tingkah laku sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosial budaya, fisik dan psikologis.Lingkungan sosial budaya mulai dari lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat sekitar,teman, sampai masyarakat luas. Klien yang memiliki masalah belajar umumnya berasal darilingkungan keluarga yang berlatar sosial ekonomi rendah dan tidak mementingkan pendidikan. Orang tua bersosial ekonomi rendah umumnya sibuk bekerja untuk memenuhikebutuhan dasar keluarganya. Mereka umumnya juga berlatar belakang pendidikan yangrendah sehingga tingkat aspirasi pendidikan bagi anak-anaknya juga cenderung rendah.Lebih-lebih, mereka mengamati kenyataan bahwa banyak lulusan sekolah yang telahmenghabiskan biaya masih menganggur di masyarakat. Logika sederhana merekamenganggap bahwa sekolah tidak terlalu berguna dan menghabiskan biaya besar. Akibatnya,mereka lebih mendorong anaknya untuk membantu bekerja mencari uang daripada untuk membaca buku pelajaran.Lingkungan fisik misalnya ruang konseling. Ruang yang bersih, rapi, cukup cahaya,dan sehat akan mendorong klien bertingkah laku yang spontan dan wajar. Sebaliknya ruangkonseling yang bau busuk dan pengap akan menimbulkan tingkah laku seperti sebentar-sebentar menutup hidung. Lingkungan fisik yang baik dapat mendukung kelancaran,sebaliknya lingkungan fisik yang buruk dapat menghambat proses konseling.Lingkungan psikologis, misalnya
non-threathening atmosphere
yang ditandai denganadanya rasa aman, hangat, bebas, dan saling percaya. Lingkungan itu akan mendorong klien berkomunikasi secara lancar tanpa merasa terancam. Sebaliknya, lingkungan yang
threathening 
akan menekan keinginan klien untuk berbicara. Lingkungan psikologisdiciptakan oleh konselor sendiri, misalnya dengan menerima klien apa adanya walau kliendatang ke ruang konseling sambil merokok. Konselor tidak menegur, tidak melarang, tidak menunjukkan wajah cemberut, tetapi tetap netral. Dengan kata lain, ucapan dan tingkah laku

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->