Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Tipologi Paradigma Pemikiran Politik Islam Indonesia _ Bung Darko

Tipologi Paradigma Pemikiran Politik Islam Indonesia _ Bung Darko

Ratings: (0)|Views: 4 |Likes:
Published by Acep Johani

More info:

Published by: Acep Johani on May 05, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/18/2014

pdf

text

original

 
Bung Darko
Demi Rakyat Indonesia Saya Tidak Akan Ngantuk
 Tipologi Paradigma Pemikiran Politik Islam Indonesia
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr.Wb.P
uji syukur kami panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat, taufi
q, dan hidayah serta karunia-Nya. Tak lupa sholawat dansalam untuk junjungan kita Nabi Muhammad SAW.Secara garis besar, makalah ini memuat Bagaimana Paradigma Pemikiran Politik Islam di Indonesia dengan membandingkan paradigma pemikirantokoh-tokoh Politik Islam di Indonesia. Tujuannya agar menambah pengetahuan pada mata kuliah Teori-Teori PolitikKami selaku penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada :Bapak Nasiwan, M.Si selaku Dosen Pengampu pada mata kuliah Teori-Teori Politik dan selaku pembimbing akademik, yang telah memberikanpengarahan dan bimbingan.1.Pihak-pihak lain yang telah membantu dan memberikan motivasi, demi terselesaikannya makalah ini.2.Hasil makalah ini, kami yakin masih terdapat beberapa kekurangan. Semua itu di sebabkan serba keterbatasan kami, oleh karena itu kami mohon maafdan dengan senang hati akan menerima kritik maupun saran.Wassalamu’alaikum Wr.Wb.Yogyakarta, 20 Desember 2011Penyusun
 DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ……………………………………………………………………………. 1DAFTAR ISI ………………………………………………………………………….. 2BAB I PENDAHULUAN ……………………………………………………………. 3
Latar Belakang Masalah………..……………………………………………….. 31.Rumusan Masalah…………………………………………………………………………………. 32.Tujuan Masalah…………………………………………………………………………………….. 43.
BAB II PEMBAHASAN ………………………………………………………………. 5
Pelemik dan kontroversi Hubungan antara1.Islam dan negara …………………………………………………………………… 5Konseptualisasi Politik Islam Terhadap Konsep Negara Islam ……………… 91.Transformasi Pemikiran Politik Islam di Indonesia menuju2.kulturasi Islam sebagai alternatif pemikiranpolitik Islam di Indonesia……………………………………………………………………… 15
BAB III KESIMPULAN ………………………………………………………………. 33DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………………… 35
 
 BAB IPENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
1.Indonesia merupakan negara yang berpenduduk mayoritas beragama Islam. Namun bukan berarti bahwa Indonesia adalah negara Islam. KarenaIndonesia terdiri dari beberapa agama yang dilindungi oleh Konstisusi negara. Karakteristik Indonesia adalah negara yang pluralistik baik dalam segisuku, ras, maupun agama. Sehingga toleransi baik dalam perbedaan suku, ras, dan agama sangat dibutuhkan di dalam negara pluralistik dengan tujuanterlahirnya kehidupan yang saling menghotmati dan berada di dalam ranah persatuan Indonesia.Oleh karena itu, penegakan syariah atau menformalistikan Al-Qur’an dan Hadist sangat tidak mungkin diberlakukan di Indonesia. Hal tersebutdikarenakan bahwa jika ditinjau dari kondisi kultus-sosiologis dan politik masyarakat yang pluralistik dan konteks negara Indonesia tersebut. Namunpemikiran politik Islam di Indonesia hampir mewarnai dari seluruh aspek dalam perjalanan sejarah politik di Indonesia, oleh karenanya dalam makalahini akan disajikan berbagai paradigma pemikiran politik di Indonesia yang tak kunjung
memberikan jawaban yang signifikan demi kebaikan posisi Islam
dalam sisitem politik Indonesia.Dalam mengkaji paradigma pemikiran politik Islam di Indonesia ini, pendekatan yang akan digunakan adalah tidak sekedar dengan kronologis historisperjalanan politik Islam di Indonesia. Namun mengkaji dengan membandingkan berbagai kontroversi pemikiran antar tokoh pemikir politik Islam yang berkembang di Indonesia. Dengan demikian dapat di simpulkan mengenai karakteristik tipologi paradigma pemikiran politik Islam di Indonesia.
B. Rumusan Masalah
1.Dengan memaparkan konseptualisasi pemikiran politik Islam, membandingkan mengenai hubungan negara dengan Agama Islam dari beberapa tokohdengan dimensi paradigma pemikiran akan dapat disimpulkan mengenai perkembangan paradigma pemikiran politik Islam di Indonesia dari dimensiwaktu dan koherensi dari berbagai tokoh pemikir. Penulis mencoba menyajikan rumusan yang akan menjadi pembahasan dalam makalah inni yaitu:Pelemik dan kontroversi Hubungan antara Islam dan negara1.Konseptualisasi Politik Islam Terhadap Konsep Negara Islam2.Transformasi Pemikiran Politik Islam di Indonesia menuju kulturasi Islam sebagai alternatif pemikiran politik Islam di Indonesia3.
C. Tujuan Penulisan
1.Secara umum tujuan penulisan ini adalah sebagai proses pembelajaran mengenai salah satu teori pemikiran politik yaitu pemikiran politik Islam diIndonesia agar penulis dapat memahami karakteristik tipologi paradigma pemikiran politik Islam di Indonesia. Namun secara khusus makalah ini di tulissebagai pemenuhan tugas mata kuliah teori-teori Politik yang di ampu oleh bapak dosen Nasiwan, M.Si.
 BAB IIPEMBAHASAN
 
 A. Pelemik dan kontroversi Hubungan antara Islam dan negara
1.Hubungan politik dengan Islam dapat dikaji dalam berbagai pendekatan, salah satunya dalam dalam pendekatan Historis. Secara historis dipaparkan
oleh Effendy (1998:21-22) yang dikutip oleh Asep Saeful Muhtadi (2008:64). Hubungan an
tara Islam dan politik di Indonesia memang memiliki latar belakang tradisi yang amat panjang. Akar-akar geneologisnya dapat ditarik kebelakang hingga akhir abad ke- 13 dan awal abad ke- 14, ketika Islamseperti dikatakan banyak kalangan pertama kali diperkenalkan dan disebarkan di kepulauan ini. Dalam perjalanan sejarahnya yang panjang inilah,Islam, sambil mengadakan dialog yang bermakna dengan realitas-realitas sosio-kultural dan politik. Pada kenyataanya malah dapat dikatakan bahwaIslam, sepanjang perkembangan di Indonesia telah menjadi bagian intergral dari sejarah politik negeri ini, meskipun hal ini tidak serta mertamenggadaikan bahwa Islam secara
in heren
adalah agama politik, seperti dikatakan sejumlah pengamat.Pada perjalanan selanjutnya, tema hubungan Islam dan politik ini telah mendorong berkembangnya paling tidak dua pemikiran yang berbeda. Sehinggatimbul terjadinya polemik persoalan tentang hubungan Islam dan negara. Umaruddin masdar (1999:171) menyebutkan bahwa salah satu sejarah Islamyang menimbulkan kontroversi dan polemik berkepanjangan adalah persoalan hubungan Islam dan negara (politik). Kontroversi itu terutama berkembang diseputar masalah yang bersangkut paut dengan sistem atau struktur politik yang diidelaisasikan. Bahwa Islam merupakan agama yangtidak memisahkan antara urusan agama secara partikular dan urusan negara (politik) secara universal adalah suatau aksioma yang telah diterimahampir semua umat Islam. Persoalanya muncul tentang ketika tidak ada kesepakatan mengenai ada dan tidaknya sistem politik atau negara Islam yangdi dalamnya tersedia secara lengkap suprastruktur dan infrastruktur formal yang berfungsi praktis.Dua pemikiran berbeda dalam polemik tersebut telah mendorong adanya dua pemikiran yang berbeda yang disebutkan oleh Ahmad Suhelmi (2002:87).
Pertama,
kategori pemikiran yang menyebutkan adanya dan bahkan pada saat yang mana menyatakan pentingnya apa yang disebut negara Islam.Natsir misalnya adalah diantara diantara tokoh yang memiliki padangan seperti ini dengan mendasarkan pemikiran pada konsep “ persatuan agamadan negara”. Dalam pandangan Natsir (1998), negara bukanlah tujuan melainkan alat. Yang menjadi tujuan adalah kesempurnaan berlakunya undang-undang ilahi, baik yang berkenaan dengan perikehidupan manusia sendiri sebagai individu maupun sebagai masyarakat. Bahkan, dalam kepastianyaorang nomor satu di Matsyumi Natsir pernah secara gigih memeperjuangkan Islam sebagai dasar negara majelis konstituante. Menurutnya, ada
 beberapa alasan mengapa Islam pantas dijadikan sebagai dasar negara. Diantaranya, (1)
karena agama lebih banyak memberikan pemeluknya peluangdan kemungkinan untuk mencari ilmu dan kebenaran, dan (2) paham agama meliputi seluruh bagian kehidupan termasuk kematian, pikiran, perasaandan tindakan lainnya. (Asep Saeful Muhtadi. 2008:65). Dengan kata lain, bagi Natsir agama tidak dapat dipisahakan dari negara. Ia menganggap bahwaurusan kenegaraan pada pokoknya merupakan bagian intregral risalah Islam. Dinyatakanya pula bahwa kaum Muslimin mempunyai falsafah hidupseperti kalangan kristen, fasis, atau komunisme. Natsir lalu mengutip nash Al-Quran yang dianggapnua sebagai dasar ideologi Islam. “ Tidaklah Aku jadikan jin dan manusia melainkan untuk mengabdi kepada-Ku”. Bertitik tolak dari dasar ideologi Islam ini, hanyalah menjadiakan hamba Allah, agarmencapai kejayaan dunia dan akhirat kelak. Menurut Natsir, kesalah pahaman terhadap Negara Islam, negara yang menyatukan agama dan politik,pada dasarnya bersumber dari kekeliruan memahami gambaran pemerintahan Islam. (Ahmad Suhelmi.2002:87)Natsir berkata, bahwa bila ingin memahami agama dan negara dalam Islam secara jernih, maka hendaklah mampu mengahpuskan gambaran kelirutentang Negara Islam diatas. Secara implisit Natsir menilai gambaran Negara Islam seperti inilah yang terdapat pada pandangan Soekarno maupunKemal A
aturk. (Ahmad Suhelmi.2002:89)Dalam konteks negara mengedepankan spirit Islam sebagai dasar bagi penegelolaan kehidupan politik kenegaraanya, di mana kewarganegaraan diikatoleh nilai-nilai keTuhanan , kesederajatan, kesamaan, keharmonisan keadilan, negara yang mampu menjamin hal itu adalah negara yang membatasikewarganegaraan hanya kepada mereka yang tinggal dalam suatu wilayah dengan batas geo
grafis tertentu. Al- Maududi megatakan, negara Islam
 bukanlah negara ekstrateritorial, dan terbuka bagi para imigran yang hendak berpindah mukim dari wilayah negara tertentu ke wilayah negara Islam.Negara Islam bukanlah negara transnasional, melainkan hanya berkuasa dalam satu wilay
ah tertentu ke wilayah geografi tertentu. Argumentasi
demikian di dasarkan ayat Al-Qur’an yang memberikan penegasan mengenai konsep kewarganegaraan. (Syarifuddin Jurdi. 2008: 36)“S
esungguhnya orang-orang yang beriman, hijrah meninggalakan negerinya, berjuang dengan
mengorbankan harta dan jiwa raganya di jalan Allah.,
dan orang-orang yang memberikan suaka dan pertolangan kepada orang-orang yang berhijra
h tersebut, mereka ini satu sama lain sudah terikat dalam
ikatan-ikatan setia kawan. Dan terhadap orang-orang yang beriman tetapi tidak berhijra
h, kamu tidak terikat apa-apa dengan mereka dalam ikatan setia
kawan sampai mereka berhijrah (ke negara Islam). Seandainya mereka meminta perolongan kepadamu dalam urusan agama dari serangan kafir, kamuwajib menolong mereka, kecuali jika antara kamu dan kaum kafir itu telah terikat oleh
perjanjian tidak saling menyerang. Dan Allah maha melihat apayang kamu lakukan. (QA. Al-Anfal [8]: 72)”Ayat diatas secara jelas menekankan kewajiban negara untuk melindungi warga negaranya dari ancaman pihak-pihak yang menguasai mereka. Negarahanya memiliki kawajiban untuk melindungi warga negaranya dari ancaman pihak luar dan terhadap warga muslim di luar negara Islam tidak adakewajiban untuk dilindungi. ( Syarifuddin Jurdi. 2008: 38)Selanjutnya pemikiran
kedua,
katagori pemikiran yang hanya menyatakan komitmennya yang kuat terhadap nilai-nilai Islam meskipun tidakmenganggap perlu adanya formalisme Islam dengan mengedepankan pentingnya bentuk negara Islam, atau memberlakukan Islam sebagai agamanegara. Baik Al-Qur’an secara tekstual maupun pengalaman Nabi, tidak mengisyaratkan keharusan pembentukan negara Islam Madinah ketikadipimpin Nabi, dalam Mohammad Roem (1993: 72) yang dikutip oleh Asep Saeful Muhtadi (2008: 66). Adalah potret komunitas yang mendasarkanmekanisme sosialnya pada nilai-nilai Islam secara subtansial, atau hakikat, dan tidak dalam nama. Kristalisasi munculnya dua kategori pemikiran inisebetulnya merupakan sisi lain dari kenyataan sulitnya menemukan alternatif bagaimana membangun hubungan politik antara Islam dan negara .Dalam polemik dan kontroversi mengenai hubungan Islam dan negara bahwa adanya katagori adanya pemisahan hubungan negara dengan agama.Dengan Soekarno, gagasan Soekarno mengenai masalah ini sangat erat dengan gagasan pemisahan agama dari negara Barat (Eropa), yaitu bahwaagama dapat dan harus dipisahkan dari negara dan pemerintah, sebab agama merupakan aturan-aturan spiritual (akhirat) dan negara adalah masalahduniawi (sekuler). Soekarno juga mengutip ucapan Mahmud Assad Bey, bahwa agama itu perlu dimerdekaan dari negara, sebab manakala agama
dipakai pemerintah, ia (agama) selalu dijadikan alat pemghukum di tanganya raja-raja,
orang-orang zalim dan tangan besi. Dengan demikian agaragama dapat menyelamatkan dunia dari bencana, hendaknya di aman modern ini urusan dunia dipisahkan dari urusan spiritual sehingga agamamenempati satu singgasana yang mahakuat dalam kalbunya kaum yang percaya.(Ahmad Suhelmi.2002:80)

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->