Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Persaman differensial

Persaman differensial

Ratings: (0)|Views: 3 |Likes:
Published by hsuhhj
hjj
hjj

More info:

Published by: hsuhhj on May 07, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/22/2014

pdf

text

original

 
Mat-Kim/Peers. Differensial/
3.
PERSAMAAN DIFFERENSIAL
1. Pendahuluan
Sangat banyak problem terapan yang melibatkan turunan atau derivatif. Persamaan yangmengadung derivatif disebut
 persamaan differensial 
. Jika persamaan itu mengandung derivetif parsialmaka ia disebut
 persamaan differensial parsial.
Sedang yang tidak parsial tadi disebut
 persamaandifferesial ordine
. Pada bab ini kita akan membahas problem-problem persamaan differensialordiner ordiner yang sering digunakan dalam aplikasi problem fisik. Lihatlah beberapa contoh berikut:Dalam kinetika kita tahu bahwa laju reaksi order satu adalah sebanding dengan konsentrasireaktan. Jadi misal untku reaksi order satu:A
Bmaka :v = k . A(1-1)dengan v adalah laju reaksi yang didefinisikan sebagai berkurangnya konsntrasi reaktan atau bertambahnya konsentrasi produk persatuan waktu dan k adalah tetapan laju reaksi. Jadi:v =
 
dtdA
(1-2)atauv =
dtdB
(1-3)Jika gunakan (1-2) dan disubstitusikan ke (1-1), maka:
A.dtdA
=
(1-4) persamaan (1-4) di atas adalah salah satu contoh persamaan differensial ordiner ordiner order satu.Untuk menyelesaikannya caranya adalah sebagai berikut:
dtAdA
(1-5)Jika pada saat t = t konsentrasi yang tersisa adalah At sedang pada keadaa mula-mula, konsentrasinyaAo, maka integrasi kedua ruas adalah:
t0AtAo
dtdAA1
(1-6)atau:
t0AtAo
tAln
(1-7)atau:ln At – ln Ao =
kt(1-8)atau:
AoAtln
=
kt(1-9)atau:
AoAt
=
kt
e
(1-10)Biasanya dari (1-10) orang mencari persamaan untuk menentukan waktu paruh (
half life
). Caranyaadalah sebagai berikut:Jika t = waktu paruh = T, maka At = ½ Ao, sehingga (1-10) menjadi:½ =
kT
e
(1-11)atau:ln ½ =
kTatau
56
 
Mat-Kim/Peers. Differensial/
T =
1/2ln
=
693,0
(1-12)Itu tadi adalah salah satu contoh aplikasi persamaan differensial ordiner ordiner dalam kinetika.Sekarang kita akan membahas jenis-jenis persamaan differensial ordiner ordiner. Untuk itu perhatikan bentuk-bentuk berikut:(1)y
+ xy
2
= 1(2)xy
+ y = 1(3) y
+ y
+ kx = 0Contoh (1) dan (2) merupakan contoh persamaan differensial ordiner ordiner order pertama karenaoperator differensial yang ada hanya operator turunan pertama dan tidak ada operator turunan yanglebih tinggi sedang contoh (3) merupakan contoh persamaan differensial ordiner order kedua karenamengandung y
. Yang perlu diperhatikan adalah bahwa ada perbedaan mendasar antara pengertian persamaan linear dengan persamaan order pertama. Order sebuah persamaan differensial ditentukanoleh derajat differensial tertinggi yang dimiliki oleh persamaan differensial itu sedang linear atautidaknya sebuah persamaan ditentukan oleh pangkat variabelnya. Ditinjau dari pangkat variabelnyaContoh (1) adalah persamaan kuadrat, tetapi ditinjau dari sisi persamaan differensial contoh (1)adalah persamaan diferensial order pertama. Contoh (2) adalah persamaan linear jika ditinjau dari pangkat variabelnya dan merupakan persamaan diferensial order pertama karena adanya y
danoperator differensial yang lebih tinggi derajatnya tidak ada. Contoh (3) merupakan persamaan linear  jika ditinjau dari pangkatnya variabel, tetapi persamaan tersebut merupakan persamaan differensialordiner order kedua.
2. Penyelesaian Persamaan Linear Orde ke satu dengan Metode Pemisahan Variabel.
Perhatikan bentuk persamaan diferensial berikut:y
= x
2
(2-1)Bentuk di atas bukan merupakan bentuk terpisah karena bentuk di atas dapat ditulis:
dxdy
= x
2
(2-2)dan tampak bahwa di ruas kiri masih ada y dan x. Bentuk tersebut akan menjadi bentuk terpisah jika dx dipindah ke ruas kanan sehingga bentuknya menjadi:dy = x
2
dx(2-3)Persamaan (2-3) disebut persamaan terpisah karena ruas kiri hanya mengandung variabel x sedangruas kanan hanya mengandung variabel y. Penyelesaian persamaan differensial dengan cara sepertiini disebut teknik pemisahan variabel.Jika sebuah persamaan differensial dapat dinyatakan dalam bentuk persamaan terpisah, maka penyelesaiannya dengan mudah dapat diperoleh, yaitu dengan jalan mengintegrasi kedua ruas. Jadi penyelesaian untuk persamaan terpisah (2-3) di atas adalah:y =
∫ 
dxx
2
=
3
x31
+ c(2-3)Persamaan (2-3) di atas merupakan bentuk umum dari penyelesaian persamaan differensial (2-1).Untuk memperoleh bentuk khusus harus dimasukkan harga y untuk x tertentu. Misal persamaan(2-3) tersebut mempunyai harga y = 10 untuk x = 3, maka penyelesaiannya adalah:10 =
3
3.31
+ c
c = 7Sehingga persamaan (2-3) dapat ditulis:y =
3
x31
+ 4(2-4)Persamaan (2-4) di atas adalah salah satu bentuk khusus dari penyelesaian persamaan (2-1) untuk (3,10).
Soal 2Tentukan bentuk umum penyelesaiannya dulu, kemudian tentukan pula penyelesaiankhususnya untuk harga yang x dan y yang ditentukan.
1. x y
= yy = 3 jika x = 22. x
2
y1
dx + y
2
x1
dy =0 y = ½ jika x = ½
57
 
Mat-Kim/Peers. Differensial/
3. (1 + y
2
) dx + xy dy = 0y = 0 jika x = 54. xy
xy = yy = 1 jika x = 15.y
=
yy2xx2xy2
+
y =0 jika x =
2
6. ydy + (xy
2
8x) dx = 0y = 3 jika x = 17. y
+ 2xy
2
= 0y = 1 jika x = 28. (1 + y) y
= yy = 1 jika x = 19.y
xy = xy = 1 jika x = 110. y
+ ky = 0y = y
0
jika x = 0
3 Penyelesaian Persamaan Differensial Linear Order kesatu dengan Metode Standar
Persamaan differensial linear order kesatu mempunyai bentuk umum baku:y
+ Py = Q(3-1)P dan Q dapat merupakan bilangan konstan, tetapi juga dapat merupakan fungsi x. Jika P atau Qtidak nol, maka penyelesaian dengan cara pemisahan variabel tidak dapat dilakukan. Untuk itu kitagunakan rumus sebagai berikut:Jika y
+ Py = Q maka:y =
I
e
cdx.e.Q
I
+
∫ 
dengan I =
∫ 
dxP
(3-2)Persamaan (3-2) di atas diperoleh dari langkah-langkah sebagai berikut:Pertama, kita ambil bentuk (3-1) yang paling lebih sederhana, yaitu untuk Q = 0, sehingga (3-1) menjadi:y
+ Py = 0 atau
dxdy
=
Py(3-3)yang dapat dipisahkan menjadi bentuk:
dyy1
=
P dx atau ln y =
 
∫ 
+
cdxP
atau:y =
∫ 
+
cdxP
e
= A
∫ 
dxP
e
(3-4)dengan A =
c
e
. Agar tampak sederhana, marilah untuk selanjutnya kita nyatakan:I =
∫ 
dxP
(3-5)sehingga:
dxdI
= P(3-6)dan persamaan (3-4) dapat ditulis y = A . e
I
atau:y . e
I
= A(3-7)Sekarang kita dapat melihat, bagaimana menyelesaikan persamaan (3-1). Jika (3-7) diturunkanterhadap x dan kita gunakan (3-6):
( )
I
e.ydxd
=
dxdy e
I
+ y
I
edxd
=
I
e
y
+ y .
I
e
.
dxdI
=
I
e
y
+ y .
I
e
. PJadi:
( )
I
e.ydxd
=
I
e
(y
+ Py) = Q .
I
e
atau:d (y .
I
e
) = Q .
I
e
(3-8)Jika persamaan (3-8) diintegralkan:y
I
e
=
∫ 
dx.e.Q
I
+ c atau y =
I
e
cdx.e.Q
I
+
∫ 
Contoh 1:
58

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->