Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Vol. V No. 09 I P3DI Mei 2013

Vol. V No. 09 I P3DI Mei 2013

Ratings: (0)|Views: 39 |Likes:
Published by Yulia Indahri
Tindak Pidana Pengedaran Uang Palsu di Indonesia (Denico Doly)
Ancaman Eskalasi Kekerasan Sektarian Global (Poltak Partogi Nainggolan)
Ketidakpuasan Buruh Alih Daya (Elga Andina)
Peningkatan Logistic Performance Index (LPI) dan Rendahnya Infrastruktur Pendukung (Achmad Wirabrata)
Lelang Jabatan Camat dan Lurah di DKI Jakarta (Dewi Sendhikasari D.)
Tindak Pidana Pengedaran Uang Palsu di Indonesia (Denico Doly)
Ancaman Eskalasi Kekerasan Sektarian Global (Poltak Partogi Nainggolan)
Ketidakpuasan Buruh Alih Daya (Elga Andina)
Peningkatan Logistic Performance Index (LPI) dan Rendahnya Infrastruktur Pendukung (Achmad Wirabrata)
Lelang Jabatan Camat dan Lurah di DKI Jakarta (Dewi Sendhikasari D.)

More info:

Published by: Yulia Indahri on May 09, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/24/2013

pdf

text

original

 
H U K U M
- 1 -
Vol. V, No. 09/I/P3DI/Mei/2013
Info Singkat 
© 2009, Pusat Pengkajian, Pengolahan Data dan Inormasi (P3DI)Sekretariat Jenderal DPR RI www.dpr.go.idISSN 2088-2351
TINDAK PIDANAPENGEDARAN UANGPALSU DI INDONESIA
Denico Doly
*)
Abstrak 
indak pidana pengedaran uang palsu di Indonesia banyak terjadi dikarenakan beberapa  aktor antara lain karena perekonomian dan penyalahgunaan teknologi. indak pidana  pengedaran uang palsu di Indonesia harus diberantas sampai ke akarnya, yaitu pembuat uang palsu. Upaya-upaya pemerintah bersama dengan Lembaga/Instansi terkait perludilaksanakan dengan tegas dan cepat dalam memberantas pengedaran uang palsu di Indonesia.
A. Pendahuluan
Pentingnya keberadaan uang di Indonesia tidak luput dari kejahatan atau tindak pidana pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.Pembuatan dan pengedaran uang palsumerupakan salah satu kejahatan terhadapmata uang rupiah. Salah satu contoh tindak pidana tersebut adalah kasus UM alias Nuriyah(46 tahun), seorang ibu rumah tangga asalKampung Legok Muncang, KelurahanCipaku, Kecamatan Bogor Selatan Kota Bogor.Penangkapan UM didasarkan pada aduanseorang korban yang merasa tertipu. Barang bukti yang telah diamankan oleh Polres Bogoryaitu sebanyak 59.847 lembar pecahan mata uang asing dan rupiah, senilai 1,2 triliundengan rincian 50.549 lembar uang Brasilpecahan 5.000 real dan 400 lembar pecahan1 real, 153 lembar dolar Singapura pecahan1.000 dolar, 1.718 lembar rupiah pecahan100.000, dan 7.000 lembar uang yuan China.Selain menemukan barang bukti berupa uang senilai 1,2 triliun di kediaman pelaku, petugas juga mengamankan barang bukti lain berupa pelat sertikat dari bank Swiss yang terbuatdari tembaga. Menurut Kapolres Bogor, modusyang digunakan pelaku dalam melancarkanaksinya adalah mengaku sebagai perwira tinggikepolisian berpangkat inspektur jenderal.Kasus tindak pidana pengedaran uang palsu di Indonesia mengalami peningkatan.Bank Indonesia (BI) pada tahun 2012mencatat, peredaran uang palsu di Indonesia mencapai 50.134 lembar. Dari kasus-kasusdi atas, dapat dilihat bahwa pengedaran uang palsu di Indonesia telah membawa kerugianyang cukup besar kepada negara. Kerugian ini
*)
Peneliti bidang Hukum pada Pusat Pengkajian, Pengolahan Data dan Inormasi (P3DI)Setjen DPR RI, e-mail: nico_tobing@yahoo.com
 
- 2 -
dirasakan secara langsung oleh masyarakat pada saat akan melakukan transaksi jual beli.
B. Mata Uang Rupiah
Mata uang yang berlaku di Indonesia diatur dalam UU No. 7 ahun 2011 tentang Mata Uang (UU Mata Uang). Pasal 2 ayat (1)UU Mata Uang mengatakan bahwa mata uang Negara Kesatuan Republik Indonesia adalahRupiah. Rupiah memiliki ciri pada setiaprupiah yang ditetapkan dengan tujuan untuk menunjukkan identitas, membedakan harga atau nilai nominal, dan mengamankan rupiahtersebut dari upaya pemalsuan.Ciri khusus yang ada dalam rupiah diaturdalam Pasal 5 ayat (3) dan (4) UU Mata Uang dimana ciri khusus ini dimaksudkan sebagaipengaman dan terdapat dalam desain, bahandan teknik cetak rupiah tersebut. Adapunsiat dari ciri khusus ini bersiat terbuka, semitertutup, dan tertutup.Pembuatan dan pengedaran uang rupiahdi Indonesia diamanatkan dalam Pasal 11 ayat(3) UU Mata Uang kepada BI. BI merupakansatu-satunya lembaga yang berwenang untuk mengedarkan uang rupiah kepada masyarakat.Hal ini berarti tidak ada lembaga ataupunorang lain yang berhak untuk mengedarkanuang rupiah yang sudah dibuat.Banyaknya pengedaran uang palsu diIndonesia dikarenakan banyak aktor, salahsatunya yaitu aktor ekonomi masyarakatyang masih rendah. Hal ini dimanaatkanoleh pihak yang tidak bertanggung jawabdalam memberikan pekerjaan kepada orang yang kesulitan ekonomi. Faktor lainnya yaitumakin canggihnya teknologi dalam meniruuang rupiah asli. Kemajuan teknologi inidimanaatkan untuk mengambil keuntungandengan membuat uang palsu.
C. Tindak Pidana PengedaranUang Palsu
Kejahatan terhadap mata uang rupiahdapat dikategorikan dua jenis, yaitu:
a. Pembuatan Uang Palsu
Ketentuan larangan mengenai pembuatanuang rupiah palsu sudah diatur dalamPasal 26 ayat (1) UU Mata Uang dimana disebutkan bahwa setiap orang dilarang memalsu rupiah. Adapun sanksi pidana yang diberikan diatur dalam Pasal 36 ayat(1) UU Mata Uang yang menyebutkanbahwa setiap orang yang memalsu Rupiahdipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan pidana denda paling banyak Rp10.000.000.000,00(sepuluh miliar rupiah).Pembuatan uang palsu ini juga diatur dalam Pasal 244 KUHP yang menyebutkan bahwa barang siapa meniruatau memalsu mata uang atau kertasyang dikeluarkan oleh Negara atau Bank,dengan maksud untuk mengedarkanatau menyuruh mengedarkan mata uang atau uang kertas itu sebagai asli dan tidak dipalsu, diancam dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun.
b. Pengedaran Uang Palsu
Pengedaran uang palsu diatur dalamPasal 26 ayat (3) UU Mata Uang yang menyebutkan bahwa setiap orang dilarang mengedarkan dan/atau membelanjakanrupiah yang diketahuinya merupakanrupiah palsu. Hal ini juga diatur dalamPasal 245 KUHP yang menyebutkanbahwa barang siapa dengan sengaja mengedarkan mata uang atau uang kertasyang dikeluarkan oleh Negara atau Bank sebagai mata uang atau uang kertas asli dantidak dipalsu, padahal ditiru atau dipalsuolehnya sendiri, atau waktu diterima diketahuinya bahwa tidak asli ataudipalsu, ataupun barang siapa menyimpanatau memasukkan ke Indonesia mata uang dan uang kertas yang demikian,dengan maksud untuk mengedarkan ataumenyuruh mengedarkan sebagai uang aslidan tidak dipalsu, diancam dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun.
 
- 3 -
Seperti disebutkan sebelumnya bahwa pembuatan dan pengedaran uang rupiahmerupakan kewenangan dari BI berdasarkanPasal 11 ayat (3) UU Mata Uang, hal ini berartiapabila ada lembaga atau orang perorangan lainyang membuat, mengedarkan uang rupiah,maka uang rupiah tersebut merupakan uang palsu. Hal ini juga ditegaskan dalam Pasal 1angka (9) UU Mata Uang yang menyebutkanbahwa Rupiah Palsu adalah suatu benda yang bahan, ukuran, warna, gambar, dan/ataudesainnya menyerupai Rupiah yang dibuat,dibentuk, dicetak, digandakan, diedarkan,atau digunakan sebagai alat pembayaran secara melawan hukum.
D. Upaya Penanggulangan Tindak Pidana Pengedaran UangPalsu
Indonesia saat ini telah meratikasikonvensi internasional mengenaiPemberantasan Uang Palsu Beserta Protokol
(International Convention or the Suppression o  Countereiting Currency and Protocol, Geneve 1929)
. Selain itu Presiden Republik Indonesia mengeluarkan Peraturan Presiden Nomor123 ahun 2012 tentang Badan KoordinasiPemberantasan Rupiah Palsu (PP Botasupal).Fungsi dari Badan Koordinasi PemberantasanRupiah Palsu (Botasupal) yaitu sebagaikoordinator dalam hal pemberantasan uang palsu yang memadukan kegiatan dan operasipemberantasan rupiah palsu yang dilakukanoleh lembaga/instasi terkait sesuai denganungsi, tugas, dan wewenang masing-masing lembaga/instasi. ugas dari Botasupal yaitumengoordinasikan dan mensinkronisasikanpenyusunan kebijakan pemberantasanuang palsu, mengoordinasikan danmensinkronisasikan pelaksanaan pemberantasanrupiah palsu, menganalisis dan mengevaluasipemberantasan rupiah palsu, memasilitasikerja sama pelaksanaan pemberantasan rupiahpalsu, membuat dan memberikan rekomendasikepada lembaga/instansi terkait mengenaipemberantasan rupiah palsu, dan menghimpundata dan bahan keterangan yang terkait denganpemberantasan rupiah palsu. Dengan adanya Botasupal ini diharapkan dapat memberantaspengedaran uang palsu di Indonesia.BI juga berperan dalam pemberantasanuang palsu di Indonesia, yaitu denganmembentuk suatu lembaga yang dapatmendeteksi keberadaan uang palsu yang bernama Bank Indonesia 
Counterait  Analysis Center 
(BI-CAC). Adapun tujuandari pembentukan BI-CAC ini yaitu untuk memudahkan Botasupal atau pihak kepolisianuntuk membongkar jaringan pemalsu uang.Hal ini mengingat jaringan pembuat danpengedar uang palsu di Indonesia cukupbesar. Upaya-upaya ini merupakan upaya yang diterapkan oleh Pemerintah dan juga Lembaga/Instansi yang berkaitan denganuang di Indonesia, akan tetapi pelaksanaandari pemberantasan pengedaran uang palsudi Indonesia belum eekti oleh karena ituperlu ada upaya lain yang dapat secara eekti memberantas pengedaran uang palsu diIndonesia Menurut penulis, ada beberapa upaya yang dapat dilakukan dalam penanggulangantindak pidana pengedaran uang palsu, yaituupaya preventi dan represi. Upaya preventi,yaitu dengan menuntut institusi-institusi yang mendapatkan amanat undang-undang untuk membuat dan mengedarkan mata uang rupiahuntuk lebih memperhatikan ciri-ciri darirupiah itu sendiri, di mana mata uang rupiahharus dapat dibuat secanggih mungkin agarlebih sulit untuk dipalsukan. Untuk itu perluada pemilihan bahan kertas, pemilihan warna dan juga pembuatan nomor-nomor kombinasiyang tepat untuk mempersulit pembuatanuang palsu. Selain pembuatan uang asli yang canggih, juga perlu ada pengaturan lebih lanjutmengenai pengedaran uang dan penarikan uang yang secara berkala dapat berubah. Pengetahuanmasyarakat terhadap keaslian mata uang juga perlu diperluas dan secara berkala dilakukansosialisasi terhadap pengedaran mata uang dansosialisasi mengenai pengenalan mata uang asli.Selain upaya preventi, juga perlu dilakukanupaya represi, upaya ini perlu dilakukan dalamrangka pemberantasan dan pengungkapankejahatan uang palsu oleh penegak hukum.Upaya penanggulangan tindak pidana pengedaran uang palsu juga perlu dilakukan

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->