Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
2Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Pemilu 2009 : Jangan Keliru Pilih Semangka

Pemilu 2009 : Jangan Keliru Pilih Semangka

Ratings: (0)|Views: 27|Likes:
Published by beMuslim
Pemilihan Umum tinggal seminggu lagi, namun umat Islam masih belum bisa menentukan pilihannya. Ketika pamor partai Islam semakin meredup, haruskah ummat memilih sembarangan?


Ingar-bingar terus mewarnai panggung politik tanah air dalam pekan-pekan terakhir ini. Maklumlah, hajatan demokrasi terbesar di negeri ini hanya tinggal sebulan lagi. Spanduk-spanduk warna-warni centang-perenang di jalan. Bendera-bendera partai besar kecil berkelebat riuh merusak keindahan kota. Ratusan baliho segede gajah menutup pemandangan. Album-album foto jalanan menampilkan caleg-caleg narsis yang haus suara. Sementara pepohonan, tiang listrik, tiang telepon dan tugu beton mendadak berbuah pas foto.

Tak cukup sekadar nampang lewat baliho, spanduk dan selebaran, belakangan para elit politik kian rajin terbang wira-wiri ke luar kota. Mendadak mereka jadi getol turun ke bawah, alias turba menurut bahasa Orde Baru. Tiba-tiba mereka jadi ramah dan punya perhatian kepada masyarakat. Bahkan dalam waktu sehari, mereka bisa menclok kota sana, terbang daerah sini, lalu menclok ke wilayah lain lagi tanpa berhenti untuk sekadar ‘menyapa konstituen’. “Ini salah satu tugas kami,” kata Ketua Dewan Pembina Golkar, Surya Paloh.
Pemilihan Umum tinggal seminggu lagi, namun umat Islam masih belum bisa menentukan pilihannya. Ketika pamor partai Islam semakin meredup, haruskah ummat memilih sembarangan?


Ingar-bingar terus mewarnai panggung politik tanah air dalam pekan-pekan terakhir ini. Maklumlah, hajatan demokrasi terbesar di negeri ini hanya tinggal sebulan lagi. Spanduk-spanduk warna-warni centang-perenang di jalan. Bendera-bendera partai besar kecil berkelebat riuh merusak keindahan kota. Ratusan baliho segede gajah menutup pemandangan. Album-album foto jalanan menampilkan caleg-caleg narsis yang haus suara. Sementara pepohonan, tiang listrik, tiang telepon dan tugu beton mendadak berbuah pas foto.

Tak cukup sekadar nampang lewat baliho, spanduk dan selebaran, belakangan para elit politik kian rajin terbang wira-wiri ke luar kota. Mendadak mereka jadi getol turun ke bawah, alias turba menurut bahasa Orde Baru. Tiba-tiba mereka jadi ramah dan punya perhatian kepada masyarakat. Bahkan dalam waktu sehari, mereka bisa menclok kota sana, terbang daerah sini, lalu menclok ke wilayah lain lagi tanpa berhenti untuk sekadar ‘menyapa konstituen’. “Ini salah satu tugas kami,” kata Ketua Dewan Pembina Golkar, Surya Paloh.

More info:

Published by: beMuslim on Apr 07, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as TXT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/27/2013

pdf

text

original

 
Pemilu 2009 : Jangan Keliru Pilih SemangkaMonday, 06 April 2009Pemilihan Umum tinggal seminggu lagi, namun umat Islam masih belum bisa menentukanpilihannya. Ketika pamor partai Islam semakin meredup, haruskah ummat memilihsembarangan? Ingar-bingar terus mewarnai panggung politik tanah air dalam pekan-pekan terakhirini. Maklumlah, hajatan demokrasi terbesar di negeri ini hanya tinggal sebulanlagi. Spanduk-spanduk warna-warni centang-perenang di jalan. Bendera-benderapartai besar kecil berkelebat riuh merusak keindahan kota. Ratusan baliho segedegajah menutup pemandangan. Album-album foto jalanan menampilkan caleg-caleg narsisyang haus suara. Sementara pepohonan, tiang listrik, tiang telepon dan tugu betonmendadak berbuah pas foto.Tak cukup sekadar nampang lewat baliho, spanduk dan selebaran, belakangan paraelit politik kian rajin terbang wira-wiri ke luar kota. Mendadak mereka jadi getolturun ke bawah, alias turba menurut bahasa Orde Baru. Tiba-tiba mereka jadi ramahdan punya perhatian kepada masyarakat. Bahkan dalam waktu sehari, mereka bisamenclok kota sana, terbang daerah sini, lalu menclok ke wilayah lain lagi tanpaberhenti untuk sekadar ‘menyapa konstituen’. “Ini salah satu tugas kami,” kataKetua Dewan Pembina Golkar, Surya Paloh.Temu kader, aksi simpatik, dan penyuluhan kepada masyarakat kini menjadi menukeseharian para petinggi partai politik. Naik turun panggung jualan kecap politikpun menjadi pekerjaan baru mereka. Yang sudah lincah bersilat lidah tentu semakintampak piawai. Main klaim sudah jadi hobby, sulap data bukan lagi hal tabu,sementara berbohong sudah tak lagi menjadi beban. Lalu bagaimana pekerjaan kantordan tugas negara? Hhmm… mohon maaf, untuk sementara dilupakan dulu…Untuk urusan klaim-mengklaim, tengoklah betapa Partai Demokrat, Partai KeadilanSejahtera dan Partai Golkar sama-sama mengaku bahwa merekalah yang paling berjasahingga Indonesia kembali mencapai swasembada pangan. “Swasembada pangan dicapai dimasa pemerintahan SBY…” kata Demokrat. Sementara kata PKS, swasembada dicapaikarena Anton Apriantono, sang Menteri Pertanian, adalah orang PKS. Adapun PartaiGolkar merasa ide dan pemilik lahan yang terus berupaya hingga berhasil meraihswasembada pangan adalah Ketua Umum Partai Golkar, Jusuf Kalla.Bagi yang baru belajar jualan kecap, keliru ngomong, grogi dan salah tingkah jaditontonan selingan yang lucu. Alih-alih jualan kecap nomor satu, Ary Mardjono,Sekjen Partai Hanura malah membanting kecapnya di depan publik. Saat berorasi didepan massanya sendiri di lapangan Pulo Mas, Jakarta, ia keseleo lidah. “Salamuntuk kader Golkar,” teriaknya kencang. Buru-buru ia mengoreksi kesalahan. Namunsemua sudah terlanjur basi. Teriakan huuu dari konstituennya sendiri sempatterlontar…Pemilu dan Aspirasi RakyatTapi tampaknya, kampanye dan kegiatan politik partai yang ramai itu lagi-lagihanya sekadar menjadi acara para elit politik. Meski seolah seluruh rakyat ikutterimbas grengseng pemilu, sebenarnya mereka rata-rata hanya ikut arus. Apalagi dikampung dan di desa, di mana pendapatan masyarakat turun drastis, daya belianjlog, sementara harga-harga membubung tinggi. Iming-iming rupiah dan sembakoakhirnya jadi pilihan untuk menyambung hidup. “Saat ini paling mudah mengumpulkanwarga desa untuk kampanye,” kata Dr Iman Sugema, ekonom dari Intercafe.Hanya dengan iming iming duit sepuluh-dua puluh ribu, rakyat mau diajak ikut truk
 
bak terbuka, datang ke kampanye dan berpanas-panas ria. Apalagi jika ada acarabagi-bagi sembako. Mereka akan sangat bersemangat dan datang paling pagi di baristerdepan, bahkan siap rebutan. Lalu, menjelang hari pencoblosan, “serang fajar”biasa digelar. Sambil dibekali sembako, rokok dan amplop berisi uang sepuluh duapuluh ribu, mereka kembali diingatkan untuk mencontreng bapak ini, dibisiki untukmemilih ibu anu, atau mencoblos partai yang itu.Sebelum hari pencoblosan, rakyat jelata sungguh dimanja. Jika permintaan merekabelum bisa dipenuhi segera, janji muluk pun ditebar. Tengoklah janji-janjikampanye partai, mulai dari pengentasan kemiskinan, perbaikan infrastruktur,sekolah gratis, hingga kemandirian negara. Maklumlah, pilihan mereka memang sangatdibutuhkan, agar sang calon legislatif bisa nangkring di DPR atau di DPRD.Contrengan itu pun sangat diperlukan agar partai mereka tidak terlempar keluarelectoral threshold. “Syukur-syukur total suara yang ditangguk lumayan banyaksehingga menarik minat partai lain untuk mengajak koalisi,” kata Arbi Sanit,pengamat politik Universitas Indonesia.Tapi itu cerita sebelum pemilu. Usai pemilu, lain lagi ceritanya. Rakyat dimintauntuk bisa memaklumi. Sebab, para anggota legislatif mulai sibuk dengan urusanrapat-rapat komisi, kunjungan kerja ke daerah hingga melancong ke luar negeri.Partai-partai penguasa maupun oposisi pun sibuk memainkan bandul politik. Untukurusan pemenuhan janji, lagi-lagi rakyat hanya bisa menunggu dan berharap semogasang anggota legislatif dan partainya masih ingat pada semua janjinya.Walhasil, rakyat jelata yang selalu disebut-sebut sebagai sumber kekuasaan dalamsistem demokrasi, pada kenyataannya hanyalah obyek penyerta. Aspirasi yangseharusnya diperhatikan negara dan partai politik, lebih sering terlupakan.Perannya hanya diperhitungkan menjelang dan pada saat pemilu. Habis itu, selesaiurusan. Pemenuhan aspirasi rakyat bukan lagi prioritas utama mereka. Semuadilimpahkan kepada penguasa terpilih, sementara partai-partai yang tak kebagiankue kekuasaan kemudian menjadi tukang kompor masyarakat, tapi engganmemperjuangkan sampai titik darah penghabisan.Di saat-saat seperti ini, tampak jelas betapa konsep massa mengambang yangdirancang Orde Baru untuk memetakan masyarakat dalam sistem demokrasi ala Soehartoterasa sangat jitu dan berhasil, meski tak bisa dikatakan benar. Dengan konsepini, hubungan antara partai dengan masyarakat hanya terjalin menjelang pemilu.“Usai pemilu, pudar pula hubungan mereka,” kata pengamat politik LIPI SyamsuddinHaris. Seolah urusan kepartaian sudah usai begitu mereka berhasil mengantarkankader-kader partainya menjadi anggota legislatif, atau di eksekutif.Dalam sistem politik yang terbangun sejak empat dasa warsa lalu itu, pemahamanumum tentang rakyat juga telah didesain sedemikian rupa, sehingga aspirasi rakyattidak dihitung secara individu. Rakyat seolah berbentuk jamak, sehingga massa-lahyang dilihat penguasa. Ideologi dan aspirasi individu tidak ada. Yang ada hanyalahaspirasi massa dan golongan. Itu pun aspirasi yang sudah dirancang dan dipaksakanoleh penguasa.Aspirasi Ummat IslamSudah bertahun-tahun pula aspirasi ummat Islam tak pernah diperhatikan denganbaik, meski ummat Islam adalah golongan mayoritas penduduk Indonesia. Kalaupundiperhatikan, umumnya hanya sekitar urusan muamalahnya saja. Jadi, sejak pemilu dijaman Orde Baru, kaum muslimin di Indonesia sudah seperti barang rebutan. Sayang,mereka sudah langsung dilupakan begitu acara hajatan demokrasi selesai. Bahkan takjarang, mereka semakin ditekan dengan berbagai beleid dan aturan setelah itu.Karena itu, di tengah semangat yang menggebu dari para elit partai menjelang
 
pemilu, masyarakat kini justru tampak semakin apatis menghadapi perkembanganpolitik tanah air. “Buat apa sih ada pemilu, kalau keadaan kita tidak jugaberubah,” kata Slamet, seorang seorang sopir taksi di Jakarta, pekan lalu. Iamasih ingat betapa Demokrat, partai yang dulu dipilihnya pada Pemilu 2004 ternyatatak mampu memenuhi janjinya ketika itu. “Pendidikan buat anak-anak nyatanya tetapmahal,” ujarnya pula.Sementara urusan-urusan yang dijanjikan partai-partai politik saja tak segeradilunasi, apalagi urusan yang benar-benar dituntut ummat. Misalnya pembubaranAhmadiyah, enyahnya NAMRU, hingga pelaksanaan syariat Islam di Indonesia. Bisadipastikan, selama sistem sekuler liberal masih terus diterapkan di Indonesia,maka aspirasi-aspirasi ummat Islam itu bakal menjadi aspirasi abadi ummat IslamIndonesia.Partai politik pun kian tak diminati. Selain karena kurang greget dan banyak yangtak punya platform jalas, para pemimpin, dan elit partai mereka pun banyak yangkepentok kasus di berbagai tingkat. Kini berbagai kasus korupsi menimpa puluhananggota DPR dan DPRD sementara puluhan kasus lain mengintai. Meski sebagian belumberkekuatan hukum tetap hal itu telah memperburuk citra politisi. “Kalau dengerberita di televisi, kayaknya pada maling semua, ya,” kata Parman, sopir yang lain.Jika pamor partai sekuler kian redup, partai Islam pun setali tiga uang. Meskiberbagai kasus kriminal yang terungkap tak hanya melibatkan politisi berbasisIslam, namun citra partai Islam langsung tercoreng. Repotnya lagi, perilaku partaiIslam justru sering tak berpihak kepada rakyat. Masih terekam di benak ummat,bahwa ketika pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM), partai-partaiIslam hanya duduk manis, dan diam tanda setuju.Konflik internal di tubuh beberapa partai Islam pun semakin membuat masyarakatapatis. Sementara itu, sikap para pemimpin partai itu kadang sangat berlebihan.Saling hujat terjadi sehingga muncul kesan bahwa dalam partai Islam hanya adasaling berebut kekuasaan dan keuntungan pribadi. Sementara itu, para pengamat punmemprediksi bahwa perolehan suara partai Islam, dan partai sekuler berbasis massaIslam dalam pemilu nanti bakal turun. “Partai berbasis Islam sudah tidak diminatilagi,” kata Saiful Mujani, peneliti dari LSILalu Nyontreng Apa Dong?Melihat kenyataan perpolitikan tanah air yang kurang berpihak kepada ummat Islamini, maka pertanyaan bakal nyontreng apa pun menjadi sangat relevan. Apalagi semuakondisi buruk ini telah memunculkan apatisme politik yang parah. Bukan tak mungkinjika dalam pemilu sebulan ke depan nanti, jumlah pemilih yang tidak memilih aliasgolongan putih akan semakin membengkak.Memang, persoalan memilih atau tidak memilih masih menjadi bahan perdebatan seru.Sebagian ulama mengharamkan ikut terlibat dalam pemilihan umum dalam sistemdemokrasi. “Sebab, demokrasi adalah sistem kufur sehingga melaksanakan pernik-perniknya pun haram hukumnya,” kata Ustadz Abu Bakar Baasyir, pengasuh PesantrenAl Mukmin, Ngruki, Sukoharjo, Jawa Tengah.Sementara itu, ulama dan kelompok muslim yang lain menganggap bahwa perjuangandakwah lewat parlemen adalah langkah yang sah dalam Islam. Meski Demokrasi tidakberasal dari Islam, tapi bisa dimanfaatkan untuk perjuangan Islam. Bahkan memilihuntuk tidak memilih alias golput bisa dinilai tidak bertanggung jawab karena akanmemunculkan wakil rakyat dan pemimpin negara dari kalangan non muslim dan tidakamanah. “Justru kalau tidak memilih akan merugikan kepentingan ummat,” kata ImamBesar Masjid Istiqlal, KH Ali Mustafa Ya’qub.

Activity (2)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->