Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
0Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Mubarak_Makbul - Immediasi

Mubarak_Makbul - Immediasi

Ratings: (0)|Views: 92|Likes:

More info:

Published by: Rogger Metchel Paath on May 11, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/11/2013

pdf

text

original

 
1
Immediasi Dan Abstraksi
Only Immediacy could lead to abstraction
(G.F.W Hegel)Oleh: Makbul Mubarak 
1
 Sepanjang keberadaannya, ada satu hal yang tak pernah lepas dari kehidupanmanusia: realitas. Sepanjang itupula manusia selalu memperdebatkan bagaimana sebenarnya bentuk realitas ini dan bagaimana seharusnya manusia mempersepsikannya. Daripadaterjebak pada kalimat-kalimat yang terlampau (sok) filosofis, lebih baik kita pahami bahwarealitas sangatlah menarik bila dikaji dari aspek intelektual dan kesenian, bila kemudian kitahendak mengusahakannya menjadi wacana emansipatoris, itu lain urusan. Kita tentu seringmendengar bahwa ada tiga pilar yang sangat penting dalam kehidupan sosial, salah satunyaadalah seni, perjalanan sejarah sejak zaman Homer sampai Goethe saja sudah bisamembuktikan ini. Meminjam pemikiran Nietzsche, Seni adalah entitas yang bisamenjembatani antara ke-ilahi-an Apollo dan kelindan hasrat Dionysian. Kesenian pernahmemasuki sebuah zaman penting dimana dikenal sebuah jenis seni baru yang disebutkesenian
avant-garde
. Pergerakan ini merambah hampir semua jenis kesenian seperti musik,sastra, teater, arsitektur, bahkan sampai kepada kesenian yang paling muda, dan film.Beberapa waktu lalu, Saya membaca dua artikel yang sangat menarik yang berisisemacam perdebatan di ranah sastra
avant-garde
. Seorang pemikir bernama
Gyorgy Lukacs
 melakukan penetrasi intelektual dengan menyerang pemikiran seorang ilmuwan lain yang bernama Ernst Bloch. Gyorgy Lukacs berargumen bahwa realitas yang kemudian bertransformasi menjadi seni adalah realitas yang di-immediasi atau realitas yang dimediasisecara langsung. Oleh karena itu, di ranah literatur, Gyorgy Lukacs juga seringdiklasifikasikan sebagai kritikus berhaluan realisme, dalam artikelnya dia banyak membahaskarya-karya penulis macam Thomas Mann, Von Grimmelsausen, bahkan karya penulis dramaMaxim Gorky. Bagi realism, apa yang penting adalah realitas di sekitar sang penulis dan pembaca yang kemudian akan mempengaruhi bagaimana tindak-tanduk artistik si seniman.
1
Penulis adalah Mahasiswa FISIPOL UMY, lumayan aktif dikampus dan bergabung dalam sebuah kelompok film (segala sesuatu tentang film kecuali bikin film) bernama KINOKI
 
2Perdebatan bermula kita Lukacs menuding bahwa terdapat salah satu mazhab besar sastra yang sebenarnya berdiri tidak pada tempatnya, mazhab itu adalah ekspresionsime(tudingan ini yang kemudian akan memunculkan reaksi dari Bloch). Lukacs menyebutkan bahwa ekspresionisme sudah seharusnya bergeser dan bergabung di bawah payungsurrealisme, dikarenakan prinsip dasar ekspresionisme yakni abstraksi realitas (arbitrer dengan immediasi realitas) secara faktual sudah sangat lemah. Lukacs (dan sebenarnya Bloch juga) yang notabene banyak terpanguruh oleh Karl Marx memperlihatkan bahwa rentetanrevolusi di abad 19 yang diawali oleh Bolshevik di Uni Soviet akan semakin menutup jalan para seniman untuk meng-abstraksi-kan realitas, sebab mereka berdua sepakat bahwa materi pasti akan mempengaruhi cara berfikir seseorang menyangkut dunia sekitarnya (konsepsi inisudah dirangkum Marx dengan jelas lewat
 Mode of Production
-nya). Bloch, didukung olehfakta bahwa era ekspresionisme menjadi
mainstream
dalam kurun yang cukup signifikan, berusaha menangkis semua tudingan intelektual itu bahkan dengan cermat menggunakan paradigma Nietzschean untuk menyerang balik konsep Totalitas Lukacs, Bloch menekankan pada pentingnya tingkat ke-
nyeni
-an individu seorang seniman dalam proses abstraksi realitasmenjadi karya seni. Konsep Bloch ini yang menurut Saya justru menjauhi Marxisme yang iasendiri anut dengan taat. Sebab, ketika penekanan individu meruak ke permukaan, makaidealisme struktural Marx akan semakin dijauhi.Distingsi Abstraksi-Immediasi yang membingungkan ini kemudian mengingatkanSaya pada salah satu film Luchino Visconti,
 Death in Venice
. Secara naratif, film ini sangatrealis. Tapi, apakah itu otomatis berarti yang butuh dilakukan hanyalah immediasi?Immediasi menjadi problematis ketika
 Death in Venice
dihubungkan dengan penonton yangtak punya pengalaman bersama realitas pra-immediasi. Penonton tanpa pengalaman iniselanjutnya mau tak mau harus melakukan abstraksi berdasarkan kemampuan mereka sendiri-sendiri. Seorang Arsitek yang mengamati
 Death in Venice
akan melakukan abstraksi denganfokus kota Venezia: tekstur air dan bangunan-bangunan gothic-nya. Seorang Dokter akancenderung meng-abstraksi-kan wabah penyakit yang kabarnya akan segera menjangkitiVenezia. Seorang Sartrean akan berpikir tentang konsekuensi yang harus ditanggung Dirk Bogarde (Pemeran tokoh utama) karena berkunjung ke Venezia. Sekarang,
 Death in Venice
 termasuk kedalam kategori ekspresionisme atau realisme? (Ekspresionisme berdasarkantipologi Bloch dan Lukacs (bukan Gerakan Ekspresionisme yang eminen pada dekade 1919– 1927-an). Menjadi sulit untuk menemukan perbedaan sebab immediasi dan abstraksisebenarnya adalah hal yang
indivisible
, Lukacs sendiri mengakui itu.

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->