Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
1Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Permesta-Bukan-Pemberontakan

Permesta-Bukan-Pemberontakan

Ratings: (0)|Views: 118|Likes:
Published by radenwiralodra

More info:

Published by: radenwiralodra on May 13, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOC, TXT or read online from Scribd
See More
See less

02/09/2014

pdf

text

original

 
"Permesta Bukan Pemberontakan"
 
 Herman Nicolas Ventje Sumual:
Gerbang gubernuran di Kota Makassar terbuka lebih lebar hari itu,menyambut para tamu yang datang dari jauh dan dekat. Andi PangerangPetta Rani berdiri di ambang pintu, menyambut rombongan dengan sangatramah-tamah, kendati ia tahu pertemuan itu akan lebih merupakan sidangyang makan urat saraf ketimbang silaturahmi bahagia.Sekitar 51 tokoh Perjuangan Semesta (Permesta) yang datangkemudian berunding selama tiga jam di kediaman Gubernur Sulawesi AndiPangerang. Pada akhir pertemuan, mereka menandatangani PiagamPerdjoangan Semesta dalam Wilajah IT-VII Wirabuana. Dan Herman Nicolas"Ventje" Sumual, penanda tangan pertama, lantas membacakan ikrar  bersama, yang kemudian dikenal sebagai Deklarasi Permesta.Dengan membacakan ikrar, Ventje saat itu sesungguhnya tengahmenuliskan bab yang penting dalam sejarah negeri leluhurnya. Deklarasiyang ditujukan ke alamat pemerintah pusat itu mengandung dua tuntutan penting: otonomi seluas-luasnya kepada daerah dan penghapusan sifatsentralisasi dari sistem pemerintahan politik nasional. Maka, lahirlahPermesta, pada hari itu, 2 Maret 1957. Sejarah kemudian mencatat,Permesta, yang mula-mula hanya sebuah deklarasi perjuangan, akhirnya berbuntut pada pemberontakan. Mengapa?Herman Nicolas Sumual alias Ventje adalah orang yang paling tepatuntuk menjawab pertanyaan ini. Ia bukan saja seorang pejuang tangguh,melainkan juga terlibat secara emosiserta fisik dalam seluruh proses panjang—sejak ide gerakan dicetuskan hingga akhir yang antiklimaks.Gerakan itu ditumpas TNI, sedangkan Ventje bersama kawan-kawannya harusmembayar keterlibatan mereka dengan harga sepadan: masuk penjara. Ventjelahir di Rembokan, Minahasa, 11 Juni 1922. Sebagai anak seorang sersanKNIL (serdadu Belanda), Ventje pernah belajar di Fakultas HukumUniversitas Gadjah Mada (1946-1948),Yogyakarta. Sembari kuliah, ia aktif sebagai perwira penghubung Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS)dan diangkat menjadi Kepala Staf Brigade XVI dengan pangkat mayor. Iamemimpin satuan-satuan KRIS dalam perjuangan menangkis serangan Belandadi Yogyakarta pada Januari 1949. Setahun kemudian, ia menjadi anggotaKomisi Militer untuk Indonesia Timur dengan tanggung jawab wilayahSulawesi Utara.Pada Mei 1956 ia menjabat Kepala Staf Tentara Teritorium (TT) VII.Setelah tiga bulan, Ventje dilantik menjadi Komandan TT VII IndonesiaTimur dengan pangkat kolonel. Pada 2 Maret 1957, ia mengumumkan SOB(staat van oorlog en beleg, negara dalam keadaan bahaya) di Indonesia
 
Timur—sekaligus memproklamasikan Permesta. Nama Permesta lantas digunakan oleh kalangan tertentu di SulawesiUtara yang bergabung dengan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia(PRRI). Alhasil, PRRI dan Permesta sering ditulis sebagai suatu kesatuanmenjadi PRRI/Permesta. Penyatuan seperti ini ditolak Ventje. "Permesta bukangerakan pemberontakan, melainkan suatu piagam perjuangan," ujarnya.Kakek delapan cucu ini memimpin pemerintahan militer yang dibentuk Permesta. Kegiatan itu membuat Ventje dipecat dari TNI pada 26 Februari1958. Sejak itu, ia pun semakin memusatkan kegiatannya dalam pergolakan.Dari 1958-1961, Ventje berjuang bersama pasukan PRRI/Permesta diSulawesi Utara dan Maluku Utara. Gerakan itu ternyata tidak bertahanlama.Pada 20 Oktober 1961 ia menyerah kepada pemerintah pusat dan masuk karantina serta tahanan militer selama lima tahun. Lepas dari bui,Ventje banting setir menjadi orang swasta. Ia mendirikan PT KonsultasiPembangunan, yang bergerak di bidang perkayuan. Bekas tentara inimendapat hak pengelolaan hutan seluas 100 ribu hektare di Maluku. Adayang unik dari perusahaan itu: mempekerjakan sejumlah orang yang pernahterlibat PRRI/Permesta. Ventjesebagai presiden direktur, Kolonel Simbolon sebagai presiden komisaris,Ahmad Husein sebagai direktur, adapun para bekas anggota pasukan menjadistaf.Kini, dalam usia 77 tahun, pendengaran dan daya ingat ayah empat anak ini tetap cemerlang. Setiap detail peristiwa tersimpan rapi dalam kotak memorinya, sedangkan rambutnya sudah memutih perak. Staminanya terjaga baik. Maklum, sampai hari ini Ventje masih lari pagi dengan semangatseorang tentara. "Ini olahraga murah dan sehat," katanya.Pekan lalu, wartawan TEMPO Setiyardi dan fotografer FernandezHutagalung menemui Ventje di kantornya, di kawasan Jatinegara, JakartaTimur.
Petikannya:
 
 Apa sebetulnya yang melahirkan Permesta?
UUD Sementara 1950 menegaskan otonomi seluas-luasnya bagi daerah dan pengakuan hak asasi manusia. Namun, hal itu tidak pernah dilaksanakan.Jadi, telah terjadi pelanggaran konstitusi.
 Jadi, bukan karena alasan kepincangan ekonomi pusat-daerah?
Itu hanya soal manajemen. Ada manusia yang menyusun dan menjalankannyadan menentukan maju-tidaknya perekonomian suatu negara. Untuk meluruskansoal otonomi dan manajemen ekonomi, apa perlunya memberontak?Ini yang sejak dulu ingin saya luruskan. Permesta bukan pemberontakan, melainkan suatu deklarasi politik. Isinya seperti yangdiperjuangkan gerakan reformasi sekarang ini. Dulu, gerakan reformasikami sebut sebagai Permesta.
 Lantas, mengapa PRRI/Permesta begitu populer sebagai "duet" pemberontak?
 
 
Itulah, mengapa harus menggabungkan PRRI/Permesta? Mengapa tidak PRRI/Dewan Banteng? Atau PRRI/Dewan Gajah? Pemerintah seperti inginmenciptakan citra tertentu yang negatif terhadap gerakan Permesta.Lo, kalau bukan PRRI/Permesta, siapa yang memberontak pada 1957-1961 itu?Unit-unit TNI dan perwira yang banyak berjasa dalam pembentukan TNI danmempertahankan proklamasi, seperti Kolonel Simbolon, Kolonel ZulkifliLubis, Kolonel Dahlan Djambek, Kolonel Warouw, Kolonel A.E. Kawilarang.Dari tokoh sipil ada Mr. Asaat, Mohamad Natsir, Burhanuddin Harahap,Sumitro Djojohadikusumo, dan Syafrudin Prawiranegara. Contoh unit TNIyang ikut PRRI adalah Daerah Militer Sumatra Tengah dan Daerah Militer Sumatra Utara.
 Jadi, bagaimana bentuk hubungan PRRI-Permesta?
Tidak ada hubungan apa-apa. Kalau PRRI memang pemberontakan. TapiPermesta hanyalah suatu program untuk pembangunan Indonesia Timur.Pemerintah yang kemudian ingin memecah belah. Jadi, seolah-olah ada dua pemberontakan, PRRI di Sumatra dan Permesta di Sulawesi.
 Anda ikut Deklarasi Palembang pada Januari 1957. Bukankah hal itumenunjukkan hubungan yang kuat antara PRRI dan Permesta?
Yang ikut Deklarasi Palembang adalah unit-unit TNI. Tidak ada urusannyadengan masyarakat umum. Lagipula, ketika itu UUD-nya bersifat sementara(UUDS 1950), hingga segala sesuatu bisa berubah. Sebagai Angkatan 45,kami merasa harus mengambil sikap atas keadaan yang berkembang.
 Bukankah Barbara Silars Harvey dari Cornell University, yang menulis Permesta sebagai tesis doktornya, menyebut gerakan tersebut a half rebellion, pemberontakan setengah hati?
Saya sudah membaca tulisan itu. Isinya kurang akurat. Dia menyebutPermesta sebagai Perjuangan Semesta Alam. Padahal, Permesta adalahPiagam Perjuangan Semesta, tanpa ada kata alam.
 Apa tanggapan pemerintah setelah Permesta dideklarasikan?
Pak Nasution (KSAD) dan Pak Yani sebetulnya setuju dengan Permesta.Sekitar Mei 1957, keduanya datang ke Makassar."Saya setuju dengan isi Permesta. Ini untuk kepentingan prajurit,tapi tidak usah berpolitik," kata Pak Nasution.
 Kalau gerakan Permesta bukan pemberontakan, lalu wewenang apa yang Anda gunakan untuk mendeklarasikannya atas nama Indonesia Timur?
Undang-undang yang ada memungkinkan panglima teritorial menyatakankeadaan darurat perang. Saat itu kita masih menggunakan SOB buatanBelanda. Nah, melihat situasi yang ada, saya lalu menyatakan IndonesiaTimur dalam keadaan darurat perang.
 Situasi seperti apa itu?
Di luar masalah ekonomi, daerah-daerah di Indonesia Timur mulaimenyatakan ingin berdiri sendiri. Di Sulawesi Selatan ada DewanHasanudin, di Maluku ada dewan serupa. Daripada berdiri sendiri, semuasaya ambil alih dan Permesta sebagai simbol perjuangan. Kemudian, sayamenyelenggarakan kongres Bhinneka Tunggal Ika di Makassar. Wakil darisemua kabupaten di empat provinsi Indonesia Timur hadir sekaligus

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->