Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
40Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Problematika Ketatanegaraan Indonesia Pasca Perubahan UUD 1945

Problematika Ketatanegaraan Indonesia Pasca Perubahan UUD 1945

Ratings:

4.88

(57)
|Views: 8,780 |Likes:
Published by fachrazz
Hukum Tata Negara
Hukum Tata Negara

More info:

Published by: fachrazz on Jan 23, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/02/2012

pdf

text

original

 
Problematika Ketatanegaraan Indonesia Pasca Perubahan UUD 1945
Contributed by Dr. H. Suko Wiyono, S.H., M.Hum. *)Thursday, 04 October 2007Last Updated Thursday, 29 November 2007
PendahuluanSalah satu tuntutan reformasi yang digulirkan sejak tahun 1998 adalah dibangunnya suatu sistemketatanegaraan Indonesia yang berbasis secara murni dan konsekuen pada paham “kedaulatan rakyat”dan “Negara hukum” (rechstaat). Karena itu, dalam konteks penguatan sistem hukum yang diharapkanmampu membawa rakyat Indonesia mencapai tujuan bernegara yang di cita-citakan, maka perubahan atau amandemenUUD 1945 merupakan langkah strategis yang harus dilakukan dengan seksama oleh bangsa Indonesia.Berbicara tentang sistem hukum tentunya tidak terlepas dari persoalan politik hukum atau rechts politiek, sebab politikhukumlah yang menentukan sistem hukum yang bagaimana yang dikehendaki (Wiratma, 2002:140). Politik hukumadalah kebijakan dasar yang menentukan arah, bentuk, dan isi hukum yang akan dibentuk (Wahjono, 1983:99).Kebijakan dasar tersebut adalah Undang-Undang Dasar Negara RI tahun 1945 (UUD1945) dan RencanaPembangunan Jangka Menegah Nasional (RPJMN 2004-2009). Dengan demikian UUD 1945 atau konstitusi RepublikIndonesia menentukan arah politik hukum Negara Kesatuan Republik Indonsia yang berfungsi sebagai hukum dasartertulis tertinggi untuk diopersionalisasikan bagi pencapaian tujuan Negara. Persoalannya, mengapa setelah dilakukanperubahan UUD 1945 masih menimbulkan problematika konstitusionalisme yang kontraproduktif terhadappenyelenggaraan Pemerintahan Negara Indonesia di tingkat Pusat maupun Daerah? Persoalan itulah yang hendakdielaborasi melalui tulisan ini.Pembahasan Pasca perubahan UUD 1945, memang masih menimbulkan pro dan kontra tentang pengaturankelembagaan Negara berikut kewenangannya. Sebab, sekalipun dari segi substansinya, materi muatan UUD 1945 dinilaisudah mencerminkan paham “kedaulatan rakyat” tetapi dari segi sistem pemerintahan danoperasionalisasinya justru menimbulkan berbagai persoalan baru, baik menyangkut hubungan Presiden dengan DPRmaupun dengan lembaga-lembaga Negara lainnya. Padahal seharusnya konstitusi mampu menciptakan suatu sistemyang dapat dipergunakan untuk menyelesaikan persoalan tata hubungan kelembagaan Negara itu dan upaya bangsaIndonesia mencapai tujuan nasionalnya. Namun yang terjadi, justru aroma konflik antar lembaga negara, khususnyaantara Presiden dengan DPR dalam penetapan kebijakan negara, penyusunan kebinet dan hubungan Pusat denganDaerah yang sampai kini tetap menjadi isu-isu politik yang strategis, bersifat laten dan tidak mudah menyelesaikannyasecara tuntas. Sebagai contoh, menurut Adnan Buyung Nasution (Forum, No.19, 16 Juni 2002, 70) para tukangamandemen di MPR sama sekali tidak memiliki konsep atau desain yang jelas tentang sistem pemerintahan yang dinilaiterbaik buat Indonesia. Sehingga pasal-pasal UUD 1945 hanya asal tempel saja, amburadul, sangat pragmatis, campuraduk, tumpang tindih, kontradiksi, dan berlubang-lubang, yang akan menimbulkan polemik berkepanjangan di kemudianhari. Demikian pula, dari hasil kajian tim amandemen Fakultas Hukum Universitas Brawijaya (2000, 32) yangmenyimpulkan, antara lain amandemen tahap I hanya sekadar mewujudkan niat menggeser kekuasaan legislatif(legislative power) dari Presiden ke DPR. Sementara masalah fundamental tentang sistem ketatanegaraan dan ketatapemerintahan yang terbaik bagi Republik Indonesia sama sekali tidak tersentuh. Tampaknya, kritikan Adnan BuyungNasution dan hasil kajian Tim amandemen Fakultas Hukum Universitas Brawijaya tersebut ada benarnya, terbukti dariperubahan I sampai dengan perubahan IV yang paling banyak dipreteli adalah kekuasaan Presiden dan semakin tidak jelasnya sistem ketatanegaraan atau sistem pemerintahan yang dianut oleh Negara Indonesia. Dari perspektif sejarah,sebenarnya eksistensi UUD 1945 memang dimaksudkan untuk bersifat sementara, hal ini telah ditegaskan secaraimplisit di dalam aturan tambahan UUD 1945, yang menyatakan : “(1) dalam enam bulan sesudah akhirnyapeperangan Asia Timur Raya, Presiden Indonesia mengatur dan menyelenggarakan segala hal yang ditetapkan dalamUUD ini; (2) dalam enam bulan sesudah MPR dibentuk, Majelis itu bersidang untuk menetapkan UUD. Dengan demikianseharusnya selambat-lambatnya dua belas bulan setelah berakhirnya peperangan Asia Timur Raya, harus dibentukUndang-Undang Dasar yang baru. Demikian pula, apabila kita simak pidato ketua PPKI Ir. Soekarno tanggal 18 Agustus1945 dan pidato Iwa Koesoema Soemantri (anggota PPKI), menunjukkan bahwa UUD 1945 memang bersifatsementara. Adapun pidato tersebut adalah sebagai berikut: 1.Ir. Soekarno: Saya beri kesempatan untuk membuatpemandangan umum, yang singkat. Cekak aos hanya mengenai pokok-pokok saja dan tuan-tuan semuanya tentumengerti, bahwa Undang-Undang Dasar yang kita buat sekarang ini, adalah Undang-Undang Dasar sementara. Kalauboleh saya memakai perkataan ini: ini adalah Undang-Undang Dasar kilat. Nanti kalau kita telah bernegara di dalamsuasana yang lebih tenteram, kita tentu akan mengumpulkan kembali Majelis Permusyawaratan Rakyat yang dapatmembuat Undang-Undang Dasar yang lebih lengkap dan sempurna. 2.Iwa Koesoema Soemantri: Salah satu perubahanyang akan saya tambahkan, yang saya usulkan, yaitu tentang perubahan Undang-Undang Dasar. Disini belum adaartikel tentang perubahan Undang-Undang Dasar dan itu menurut pendapat saya, masih perlu diadakan. Oleh karena itusebenarnya perubahan terhadap UUD 1945 adalah merupakan hal yang wajar dalam rangka menampung dinamikamasyarakat, namun permasalahannya adalah perlu adanya tahapan yang harus dilalui agar perubahan UUD 1945 tidakmenimbulkan permasalahan di kelak kemudian hari. Sebab apabila MPR keliru dalam mengambil keputusan maka dapatmengacaukan proses ketatanegaraan di masa yang akan datang. Sebenarnya proses perubahan Undang-UndangDasar 1945 akan lebih baik apabila melalui berbagai tahapan yaitu: a.Perubahan apapun yang akan dilakukan tehadappasal-pasal UUD 1945 haruslah disertai dengan pertimbangan-pertimbangan yang sangat matang, b.Proses penyiapandan pembahasannya harus dilakukan dalam waktu yang cukup panjang, mendalam, cermat dan teliti c.Sebagailandasan dasar bagi pengelolaan kehidupan bangsa dan Negara Indonesia yang sangat heterogen, maka perubahanUUD 1945 rumusan-rumusannya harus menghindarkan masuknya kepentingan sempit golongan ataupun perorangan
Fakultas Hukum [Universitas Wisnuwardhana Malang]http://wisnuwardhana.ac.id/fhPowered by Joomla!Generated: 23 January, 2008, 16:49
 
yang dapat menimbulkan konflik antar kepentingan dan antar kelompok masyarakat, sebaliknya harus dapat menjamintetap kokohnya persatuan dan kesatuan dalam kemajemukan, d.Perubahan UUD 1945 seharusnya dilakukan oleh suatukomisi yang independen dengan melibatkan Perguruan Tinggi, tokoh keagamaan, kaum professional, Oonop dansebagainya yang terkait langsung maupun tidak langsung dengan masalah yang akan diputuskan. e.Hasil rancangankomisi tersebut diserahkan pada Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), untuk dibahas dalam Badan Pekerja MPR(BPMPR), Sidang Komisi MPR dan Sidang Paripurna MPR untuk diambil putusan. Selanjutnya, apabila kita telaahsubstansi UUD 1945 sebelum perubahan baik dalam Batang Tubuh maupun dalam penjelasannya, tidak diketemukanistilah lembaga negara secara eksplisit. Namun hal ini tidak menimbulkan permasalahan baik secara konseptual maupundalam praktek ketatanegaraan, karena pada masa itu melalui Ketetapan MPR No. III/MPR/1978 telah ditetapkan tentangkelembagaan Negara dengan mengelompokkan menjadi dua yaitu MPR sebagai Lembaga Tertinggi Negara danLembaga Tinggi Negara meliputi Presiden, DPR, MA, BPK dan DPA. Dalam Ketetapan MPR tersebut ditetapkan pulabagaimana hubungan diantara Lembaga Tinggi Negara dan juga dengan Lembaga Tertinggi Negara. Sistuasi dankondisi setelah perubahan UUD 1945 (1999-2002) sangat berbeda dengan situasi dan kondisi sebelum perubahan UUD1945. Hal ini disebabkan dalam teks UUD 1945 hasil perubahan tidak secara eksplisit disebutkan mana yang termasuklembaga tertinggi negara dan lembaga mana yang dikategorikan sebagai lembaga tinggi negara. Dalam teks perubahanUUD 1945 dijumpai adanya 2(dua) pasal yang menyebut secara eksplisit istilah Lembaga Negara, yaitu Pasal 24c ayat(1) tentang wewenang Mahkamah Konstitusi, antara lain…..” memustus sengketa kewenangan LembagaNegara yang kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang Dasar”. Dan dalam Pasal 11 Aturan Peralihanyang menyatakan “Semua Lembaga Negara yang ada masih tetap berfungsi sepanjang untuk melaksanakanketentuan Undang-Undang Dasar dan belum diadakan yang baru menurut Undang-Undang Dasar ini”. Dari duapasal tersebut di atas, untuk Pasal 24c ayat (1) UUD 1945 tidak jelas tentang kriteria Lembaga Negara, kecuali hanyadisebutkan kriteria bahwa kewenangannya harus diberikan oleh UUD 1945. Sedangkan pasal 11 Aturan Peralihan dapatditafsirkan meliputi Lembaga-Lembaga yang dahulu disebut oleh MPR dengan Lembaga Tertinggi dan Lembaga TinggiNegara yang terdiri dari MPR, Presiden, DPR, DPA, MA dan BPK. Selain ketidak jelasan tentang apa yang dimaksuddengan Lembaga Negara oleh UUD 1945 hasil perubahan, juga terjadi tumpang tindih dan ketidakjelasan kewenanganantara Lembaga-Lembaga tersebut, sehingga kemudian terjadi kontradiksi dan kompleksitas hubungan antar LembagaNegara. Contoh paling aktual dalam kasus ini adalah tentang kewenangan pengawasan yang dimiliki Kornisi Yudisial.Dalam pasal 14 UU No. 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial menyebutkan Komisi Yudisial mempunyai kewenanganuntuk menjaga dan mengawasi perilaku hakim. Sedangkan menurut UU No. 5 tahun 2004 tentang Perubahan atas UUNo. 14 tahun 1985 tentang Mahkamah Agung antara lain menyatakan MA berwenang melakukan pengawasan terhadapkecakapan hakim dan perbuatan tercela dari hakim. Kemudian menurut pasal 23 ayat (3) UU No. 24 tahun 2003 tentangMahkamah Konstitusi dinyatakan Pengawasan Hakim Konstitusi ditentukan oleh Majelis Kehormatan MahkamahKonstitusi. Hal ini mengakibatkan timbulnya konflik antar Lembaga Negara yang mestinya tidak perlu terjadi apabila UUD1945 hasil perubahan merumuskan dengan jelas kewenangan masing-masing lembaga tersebut. Kemudian jikadicermati lebih mendalam UUD 1945 hasil perubahan, ternyata tidak dapat memberikan kejelasan terhadap konstruksinilai dan bangunan kenegaraan yang hendak dibentuk, sehingga terlihat adanya beberapa hal yang bersifat bertolakbelakang atau inkonsistensi terhadap hasil-hasil perubahan yang telah diputuskan. Hal ini mengakibatkan UUD 1945perubahan tidak secara jelas menentukan apakah Negara Indonesia menganut Negara kesatuan yang didesentralisasiataukah sebagai Negara Federal, menganut sistem pemerintahan Presidensial ataukah sistem PemerintahanParlementer? Kenyataan itu, nampak dari adanya Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dalam struktur kelembagaan MPR.Apabila DPD diberi kedudukan sama dengan senat, maka eksistensi DPD tidak sesuai dengan bentuk Negara Kesatuan,keberadaan DPD mengingatkan keberadaan senat di Negara Federal (misal berdasarkan Konstitusi RIS 1949). Bentukfederal ini diperkuat pula dengan adanya Pasal 18 ayat (5) UUD 1945 yang menyatakan Pemerintahan Daerahmenjalankan otonomi seluas-luasnya, kecuali urusan pemerintahan yang oleh undang-undang ditentukan sebagaiurusan Pemerintah Pusat”. Sebagai tindak lanjut dari Pasal 18 ayat (5) UUD 1945, kemudian dibentuk UU No. 32Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah yang dalam Pasal 10 ayat (3) menyatakan : “Urusan pemerintahanyang menjadi urusan Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1), meliputi : politik luar negeri, pertahanan,keamanan, yustisi, moneter dan fiskal nasional, dan agama. Kemudian dipertegas lagi dalam penjelasan Pasal 10 ayat(3), bahwa yang dimaksud dengan: a.Urusan politik luar negeri adalah “mengangkat pejabat diplomatik danmenunjuk warga negara untuk duduk dalam jabatan lembaga internasional, menetapkan kebijakan luar negeri,melakukan perjanjian dengan negara lain, menetapkan kebijakan perdagangan luar negeri, dan sebagainya”.b.Urusan pertahanan misalnya mendirikan dan membentuk angkatan bersenjata, menyatakan damai dan perang,menyatakan negara atau sebagaian wilayah negara dalam keadaan bahaya, membangun dan mengembangkan sistempertahanan negara dan persenjataan, menetapkan kebijakan untuk wajib militer, bela Negara bagi setiap warga negaradan sebagainya. c.Urusan keamanan misalnya mendirikan dan membentuk kepolisian negara, menetapkan kebijakankeamanan nasional, menindak setiap orang, kelompok atau organisasi yang kegiatannya mengganggu keamanannegara dan sebagainya; d.Urusan yustisi misalnya mendirikan lembaga peradilan, mengangkat hakim dan jaksa,mendirikan lembaga pemasyarakatan, menetapkan kebijakan kehakiman dan keimigrasian, memberikan grasi, amnesti,abolisi, membentuk undang-undang, Peraturan Pemerintah pengganti undang-undang, Peraturan Pemerintah, danperaturan lain yang berskala nasional; e.Urusan moneter dan fiskal nasional adalah kebijakan makro ekonomi, misalnyamencetak uang dan menentukan nilai mata uang, menetapkan kebijakan moneter, mengendalikan peredaran uang dansebagainya; f.Urusan agama, misalnya menetapkan hari libur keagamaan yang berlaku secara nasional, memberikanpengakuan terhadap keberadaan suatu agama, menetapkan kebijakan dalam penyelenggaraan kehidupan keagamaandan sebagainya; dan bagian tertentu urusan pemerintah lainnya yang berskala nasional, tidak diserahkan kepadadaerah, khusus dibidang keagamaan sebagian kegiatannya dapat ditugaskan oleh Pemerintah kepada daerah. sebagai
Fakultas Hukum [Universitas Wisnuwardhana Malang]http://wisnuwardhana.ac.id/fhPowered by Joomla!Generated: 23 January, 2008, 16:49
 
upaya meningkatkan keikutsertaan daerah dalam menumbuh kembangkan kehidupan beragama. Pasal 18 ayat (5) UUD1945 tersebut mempunyai pengertian bahwa otonomi yang seluas-luasnya yang dijalankan oleh Pemerintahan Daerahkecuali urusan pemerintahan yang oleh undang-undang ditentukan sebagai urusan Pemerintah Pusat, mengandungkonsekuensi pengertian kearah pengaturan yang bersifat federalistik. Asumsi dasarnya, bahwa kekuasaan asal atau sisa(residual power) justru berada di daerah, kecuali jika undang-undang menentukan lain. UUD 1945 perubahan menganutsistem presidensial ataukah sistem parlementer juga tidak jelas, sebab meskipun secara minimal sudah ada indikatorprinsip sistem presidensial, namun dalam elaborasi pasal-pasalnya menunjukkan sistem parlementer yang memperkuatposisi Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Apalagi UUD 1945 perubahan memang memberikan kekuasaan yang lebihbesar kepada DPR dibandingkan UUD 1945 yang asli. Dengan kata lain, DPR yang ada sekarang ini telah menjadisuper parlemen, merupakan lembaga perwakilan rakyat dengan kewenangan yang amat besar. Dalam pasal 6a danPasal 17 ayat (2) dinyatakan: Bahwa Presiden dan Wakil Presiden di piilih langsung oleh Rakyat dan Menteri diangkatserta diberhentikan oleh Presiden . Apabila konsekuen dengan isi pasal tersebut, maka sudah semestinya UUD 1945mengikuti pula tolok ukur sistem pemerintahan presidensial yang antara lain: a.Kekuasaan bersifat tunggal (tidakbersifat kolegial) baik sebagai kepala Negara maupun kepala pemerintahan; b.Kedudukan presiden dan parlemen samakuatnya dan tidak bisa saling menjatuhkan; c.Masa jabatan presiden bersifat pasti (fix-term), tidak dapat diberhentikankecuali melanggar konstitusi; d.Presiden dan Wakil Presiden tidak bertanggungjawab kepada parlemen, tetapibertanggungjawab kepada rakyat; e.Presiden dipilih rakyat baik langsung maupun tidak langsung dengan suaramayoritas; f.Presiden dalam menjalankan tugasnya dibantu oleh menteri-menteri dan menteri bertanggungjawab kepadaPresiden; g.Pertangungjawaban pemerintahan berada ditangan Presiden. Oleh karena itu tidak tepat apabila DPRmencampuri kewenangan yang seharusnya menjadi domain Presiden, bahkan dalam UUD 1945 sekarang ini nampakadanya dominasi legislatif terhadap eksekutif. Antara lain dalam: 1.Pasal 5 ayat (1) Presiden hanya berhak mengajukanRancangan Undang-Undang (RUU) kepada DPR. Sebaliknya Pasal 20 ayat (1): DPR memegang kekuasaanmembentuk undang-undang.. Perubahan ini jelas bertujuan untuk menggrogoti kekuasaan Presiden dari padamelaksanakan prinsip demokrasi. 2.Pasal 6A, Pasal 7A, dan Pasal 7B: sekalipun Presiden dan Wakil Presiden dipilihsecara langsung oleh rakyat, akan tetapi tetap dapat diberhentikan dari masa jabatannya oleh MPR atas usul DPR danputusan Mahkamah Konstitusi, yaitu: apabila terbukti melakukan pelanggaran hukum berupa pengkhianatan terhadapnegara, korupsi, penyuapan, tindak pidana berat lainnya, atau perbuatan tercela maupun apabila terbukti tidak lagimemenuhi syarat sebagai Presiden dan/atau Wakil Presiden. Perubahan ini, jelas sudah keblabasan, sebab MahkamahKonstitusi diberikan kekuasaan peradilan pidana sekaligus peradilan politik (untuk perbuatan tercela atau tidakmemenuhi syarat sebagai presiden yang dapat ditafsirkan secara politis). Padahal, setiap perbuatan tindak pidanaseharusnya diadili di peradilan umum baik tindak pidana umum maupun pidana khusus, serta tidak mengenal adanyaperadilan politik. 3.Pasal 13 ayat (2) yang menyatakan dalam hal ini mengangkat duta, Presiden memperhatikanpertimbangan Dewan Perwakilan Rakyat dan ayat (3) menyatakan Presiden menerima penempatan duta negara laindengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Rakyat, Pasal 14 ayat (2) menyatakan Presiden memberiamnesti dan abolisi dengan memperhatikan pertimbangan Dewan erwakilan Rakyat. 4.Pasal 17 ayat (4) yangmenyatakan pembentukan, pengubahan, dan pembubaran kementerian negara diatur dalam undang-undang. 5.Pasal 30berkorelasi dengan Ketetapan MPR No. VII/MPR/2000, Undang-Undang No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian NegaraRI dan Undang-Undang No. 34 Tahun 2004 tentang TNI, Panglima TNI diangkat dan diberhentikan oleh Presidendengan persetujuan DPR. Jadi semuanya, mesti lewat persetujuan DPR. Apabila UUD 1945 asli dibandingkan denganUUD 1945 perubahan, maka nampak bahwa berdasarkan UUD 1945 asli Presiden memiliki 11 (sebelas) kewenangan.Dari 11 (sebelas) kewenangan Presiden tersebut hanya 2 (dua) kewenangan yang tidak merupakan kategori hakprerogatif Presiden, yaitu : Pertama, Pasal 5 ayat (1) yang menyatakan Presiden memegang kekuasaan membentukundang-undang dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat. Ke dua, Pasal 12 yang menyatakan presidenmenyatakan keadaan bahaya, syarat-syarat dan akibatnya keadaaan bahaya ditetapkan dengan undang-undang.Sedangkan menurut UUD 1945 perubahan telah ditetapkan 14 (empat belas) kewenangan Presiden, tetapi hanya 2(dua) kewenangan yang berkategori hak prerogatif Presiden yaitu: Pertama, Pasal 10 yang menyatakan Presidenmemegang kekuasaan yang tertinggi atas Angkatan Darat, Angkatan Laut dan Angkatan Udara. Ke dua, Pasal 17 ayat(2) yang menyatakan menteri-menteri itu diangkat dan diberhentikan oleh Presiden. Hal ini diperparah dengan sistemkepartaian multi partai yang tidak menunjang dalam sistem kabinet Presidensial. Mengapa konstruksi yang demikian itudikedepankan? Jawabannya, menurut pandangan penulis, karena paradigma yang dipakai oleh keanggotaan MPR 1999-2004 masih berbasis pada: a.interpretasi kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilakukan sepenuhnya oleh MPR;b.asumsi historis kekuasaan Presiden terlalu kuat; c.menguatnya pemikiran dan atau paham liberalistik individualistik;d.berkembangnya pemikiran negara federalis; Dengan dipangkasnya dan dibatasinya kekuasaan Presiden tersebut,maka terjadi dominasi Dewan Perwakilan Rakyat terhadap Presiden, sehingga Presiden tidak memiliki keleluasaan baiksebagai kepala negara maupun sebagai kepala pemerintahan. Di samping itu Presiden mengalami kesulitan untukmemperoleh dukungan DPR dalam membuat kebijakan dan mengimplementasikannya.Penutup Dari pembahasan tentang Kelembagaan Negara yang diatur dalam UUD 1945 perubahan seperti tersebutdiatas, nampak bahwa perubahan UUD 1945 dilaksanakan tanpa melalui kajian yang mendalam. Hal ini dikarenakansuasana kebatinan saat itu ada pada kondisi bergeloranya kesuksesan reformasi (ditandai lengsernya PresidenSoeharto), yang ingin mengadakan perubahan terhadap segala sesuatu yang dinilai sebagai atribut Orde Baru. Sebagaiakibat dari situasi dan kondisi tersebut di atas, maka dalam perubahan UUD 1945 nampak sangat situasional danemosional, bahkan pengaturan yang semestinya sebagai materi muatan undang-undang dimasukkan ke dalam pasal-pasal UUD 1945. Di samping itu ternyata keberhasilan reformasi dalam menumbangkan Orde Baru, tidak disertaidengan manajemen reformasi, penegakkan hukum dan persiapan yang matang. Oleh karena itu sangat mendesak perlu
Fakultas Hukum [Universitas Wisnuwardhana Malang]http://wisnuwardhana.ac.id/fhPowered by Joomla!Generated: 23 January, 2008, 16:49

Activity (40)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
INna Endel liked this
Amira Natasya liked this
Moeslim Khan liked this
Ayulia Christy added this note
PUSING tugas mulu,,,,
Lisa Aprilia added this note
ini format aslinya apa ya?
Dhy Ajalah liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->