Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
1Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
hakikat_hidup

hakikat_hidup

Ratings: (0)|Views: 112|Likes:
Published by Charles Miller

More info:

Published by: Charles Miller on May 16, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See More
See less

02/23/2014

pdf

text

original

 
FAKTA-FAKTA YANGMENGUNGKAPHAKIKAT HIDUP
HARUN YAHYA
 
Pendahuluan
Wanita ini berumur tujuh puluhan. Pernahkah Anda membayangkan bagaimana orangseusia ini menilai hidupnya?Bila ia mengingat hidupnya, sudah pasti sebagai suatu ‘kehidupan yang cepat berlalu’.Ia hanya akan berucap bahwa hidupnya bukanlah hidup yang “panjang” sebagaimana iaimpikan di usia belasan. Mungkin tidak pernah terlintas dalam benaknya bahwa suatu hari iaakan menjadi sangat tua. Namun kini, ia dicekam oleh kenyataan bahwa ia telahmeninggalkan tujuh puluh tahun di belakangnya. Pada awal kehidupannya, ia mungkin tidak  pernah berpikir bahwa kemudaan dengan segala gairahnya akan berlalu begitu cepat.Bila pada usia senja ia diminta untuk menceritakan kisah hidupnya, kenangannya akanterangkum dalam pembicaraan selama lima atau enam jam saja. Hanya itulah yang tersisa dariyang disebutnya sebagai “masa tujuh puluh tahun yang panjang”.Daya pikir seseorang, yang melemah sesuai usia, dipenuhi banyak pertanyaan. Berbagai pertanyaan ini sungguh penting untuk direnungkan, dan menjawabnya secara jujur sangatmendasar untuk memahami seluruh aspek kehidupan: “Apakah tujuan dari hidup yang berlalu begitu cepat ini? Mengapa aku harus terus bersikap positif dengan semua masalah kerentaanyang kumiliki? Apa yang akan terjadi di masa depan?”Jawaban yang mungkin terhadap pertanyaan-pertanyaan ini terbagi dalam dua kategoriutama: dari orang-orang yang mengimani Allah dan dari orang-orang yang tidak mengimani- Nya.Seseorang yang tidak mengimani Allah akan mengatakan, ”Saya telah menghabiskanhidup mengejar hal yang sia-sia. Saya telah meninggalkan tujuh puluh tahun di belakang saya,namun sebenarnya, saya masih belum dapat memahami untuk apa saya hidup. Ketika masihanak-anak, orang tua adalah pusat kehidupan saya. Saya mendapatkan kebahagiaan dankesenangan dalam cinta mereka. Kemudian, sebagai seorang wanita muda, saya mengabdikandiri kepada suami dan anak-anak. Pada masa itu, saya membuat banyak cita-cita untuk dirisaya. Namun ketika tercapai, semuanya seperti sesuatu yang cepat berlalu. Saat bergembiradalam keberhasilan, saya melangkah menuju cita-cita lain yang menyibukkan, sehingga sayatidak memikirkan makna hidup yang sesungguhnya. Kini pada usia tujuh puluh tahun, dalamketenangan usia senja, saya mencoba menemukan apa gerangan tujuan masa lalu saya.Apakah saya hidup untuk orang-orang yang kini hanya samar-samar saya ingat? Untuk orangtua saya? Untuk suami saya yang telah berpulang bertahun-tahun yang lalu? Atau anak-anak yang kini jarang saya lihat karena telah memiliki keluarga masing-masing? Saya bingung.Satu-satunya kenyataan adalah bahwa saya merasa dekat dengan kematian. Saya akan segerameninggal dan menjadi kenangan yang redup dalam benak orang-orang. Apa yang akanterjadi selanjutnya? Saya benar-benar tidak tahu. Bahkan memikirkannya saja sudahmenakutkan!”
 
Tentunya ada alasan mengapa ia begitu berputus asa. Ini semata karena ia tidak dapatmemahami bahwa alam semesta, seluruh makhluk hidup dan manusia memiliki tujuan yangtelah ditentukan sebelumnya dan harus dipenuhi dalam hidup. Adanya tujuan-tujuan ini berasal dari fakta bahwa segalanya telah diciptakan. Orang yang berakal dapat melihathadirnya perencanaan, perancangan, dan kearifan dalam setiap detail dunia yang penuhvariasi. Hal ini membawanya pada pengenalan terhadap sang Pencipta. Selanjutnya ia akanmenyimpulkan bahwa, karena seluruh makhluk hidup tidaklah disebabkan oleh suatu prosesacak atau tanpa sadar; mereka semua menjalankan tujuan yang penting. Dalam Al Quran, pedoman asli terakhir yang diturunkan untuk manusia, Allah berulangkali mengingatkan kitaakan tujuan hidup kita, suatu hal yang cenderung kita lupakan, dan dengannya membimbingkita pada kejelasan pemikiran dan kesadaran. (Al Mulk: 107)Ayat ini memberikan pemahaman penuh akan tujuan hidup bagi orang-orang yang beriman. Mereka mengetahui bahwa hidup ini adalah tempat mereka diuji dan dicoba olehPencipta mereka. Karenanya, mereka berharap untuk berhasil dalam ujian ini dan mencapaisurga serta kesenangan yang baik dari Allah.Akan tetapi, demi kejelasan, ada sebuah poin penting untuk dipikirkan: mereka yangmempercayai ‘keberadaan’ Allah tidak lantas memiliki keyakinan yang benar; jika merekatidak meletakkan kepercayaan kepada Allah. Kini, banyak orang menerima bahwa alamsemesta adalah ciptaan Allah; namun, mereka kurang memahami dampak fakta ini terhadaphidup mereka. Karenanya, mereka tidak menjalankan hidup mereka sebagaimana yangseharusnya. Apa yang dianggap orang-orang ini sebagai kebenaran adalah, bahwa padaawalnya Allah menciptakan alam semesta ini, kemudian meninggalkannya.
Dalam Al Quran, Allah menunjukkan kesalahpahaman ini dalam ayat berikut:(Luqman, 31: 25) (Az-Zukhruf: 87)
Karena kesalahpahaman ini, manusia tidak dapat menghubungkan kehidupan merekasehari-hari dengan fakta bahwa mereka memiliki Pencipta. Itulah alasan dasar mengapa setiapmanusia mengembangkan prinsip dan nilai-nilai moral pribadinya sendiri, yang terbentuk dalam budaya, komunitas, dan keluarga tertentu. Prinsip-prinsip ini sebenarnya berfungsisebagai “petunjuk hidup” hingga datangnya kematian. Manusia yang menaati nilai-nilaimereka sendiri akan mendapatkan kenyamanan dalam harapan bahwa setiap tindakan yangsalah akan dihukum sementara dalam neraka. Pemikiran sejenis menyimpulkan bahwakehidupan abadi dalam surga akan mengikuti masa penyiksaan ini. Pemikiran tersebut tanpasadar meredakan rasa takut akan hukuman yang memilukan di akhir kehidupan. Beberapaorang, di lain pihak, bahkan tidak merenungkan hal ini. Mereka sama sekali tidamemedulikan dunia selanjutnya dan “memanfaatkan hidup sebaik-baiknya”.
Bagaimanapun, hal di atas tidaklah benar dan kenyataannya berseberangandengan apa yang mereka pikirkan. Mereka yang berpura-pura tidak menyadari

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->