Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Spiritualitas AMGPM

Spiritualitas AMGPM

Ratings: (0)|Views: 70 |Likes:
Spiritualitas AMGPM
Spiritualitas AMGPM

More info:

Published by: Maryo Indra Manjaruni on May 19, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/18/2013

pdf

text

original

 
PEMBINAAN SPIRITUALITAS AMGPM
Oleh. Elifas Tomix Maspaitella[Ketua Umum PB AMGPM]PENGANTAR 
Kiprah pemuda Maluku di kancah nasional dan internasional telah menjadi bagian darilembaran sejarah kebanggaan masyarakat Indonesia. Sejak zaman pergerakan kemerdekaanIndonesia, banyak pemuda Maluku telah menunjukkan patriotismenya demi sebuah artikebebasan. Di zaman Indonesia merdeka, bertaburan pula nama-nama pemuda Maluku yang turutmengharumkan nama Indonesia di berbagai bidang dan arena. Tentu tidak bisa disangkali masihada sekelompok lain yang sering berurusan dengan pihak kepolisian, terbelilit lingkaran narkoba,terhisab ke dalam
 gank motor,
dan lainnya. Pemuda, di mana pun, berdiri di antara podium prestasi dan panggung kegagalan; di ant
ara pomeo „tulang punggung‟ dan „tukang [baku]pukul‟.
Pada posisi di antara itulah, pembangunan spiritualitas anggota AMGPM menjadi hal yang perlu. Spiritualitas yang dimaksudkan lebih condong pada gaya hidup yang baru ---roh atausemangat untuk membarui diri dan lingkungan. Spiritualitas selalu terkait dengan potensi diri,kreatifitas yang harus mendorong perbuatan [aktifitas] keseharian seorang untuk mencapai cita-cita/harapan.Ada tiga sifat spiritualitas yakni (a) bersifat fungsional ---dalam arti menjadi sumber motivasi untuk mendorong seseorang berkarya; (b) bersifat membangun ---dalam arti menjadisumber etik untuk menumbuhkan rasa percaya diri (
 self-confidence
) dalam rangka melaksanakantugas/tanggungjawab tertentu; dan (c) bersifat empati (belarasa) ---dalam arti gelisah melihatorang lain terkapar di dalam penderitaan, kelemahan, apatisme, pesimisme, lalu mendorongmereka berprestasi, sebab hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok harus lebih baik dari hari ini.Dalam konteks AMGPM, pembangunan spiritualitas menjadi penting karena berbagaikondisi seperti: (a) tingkat pengangguran terus tinggi dari waktu ke waktu, seiring dengan (b)tingginya jumlah keluarga miskin; (c) penyerobotan lahan produksi di pedesaan sehinggamasyarakat terancam terus miskin; karena (d) ijonisasi dan ijonisme yang tetap subur; (e) pertumbuhan sektor ekonomi informil terus dipacu, tetapi watak ambtenar masih menguat dikalangan pemuda; (f) ruang belajar untuk hidup bersaudara semakin terbuka, tetapi pemuda masihmenjadi kelompok rentan dari proses pembodohan atas nama agama dan politik aliran.
SPIRITUALITAS FUNGSIONAL; BERBASIS AMGPM
Agama-agama bertanggungjawab membina umatnya. Pemuda merupakan salah satukategori umat yang terus dibangun dalam seluruh sendi kehidupan mereka. Kelompok-kelompok  pembinaan pemuda pada setiap agama di Maluku malah terstruktur secara baik. Di GPM, terdapatAngkatan Muda Gereja Protestan Maluku (AMGPM) yang terstruktur di 26 Daerah, ribuanCabang dan Ranting dalam seluruh wilayah pelayanan GPM di Maluku dan Maluku Utara.Bagaimana hal itu dilakukan di AMGPM? Sebagai Wadah Tunggal Pembinaan Pemuda
GPM, AMGPM bertanggungjawab untuk “
membina pemuda gereja sebagai pewaris dan penerusnilai-nilai Injili agar memiliki ketahanan iman, Iptek, sosio ekonomi, sosio budaya dan sosio politik, untuk mewujudkan tanggung jawabnya dalam kehidupan bergereja, bermasyarakat,
 berbangsa dan bernegara” (Pasal 5, AD AMGPM).
 Tugas itu merupakan tujuan AMGPM yang dilaksanakan oleh seluruh perangkat organisasimulai dari Pengurus Besar (di tingkat Sinodal), Pengurus Daerah (di tingkat Klasis), PengurusCabang dan Pengurus Ranting (di tingkat Jemaat) melalui berbagai program kerja yangdikembangkan secara desentral di masing-masing jenjang kepengurusan sesuai dengan kondisidan permasalahan di wilayah pelayanan masing-masing.Sesuai dengan tujuan ber-AMGPM itu, panggilan untuk membentuk pemuda yang bertanggungjawab di dalam masyarakat, bangsa dan negara memberi aksentuasi bahwa organisasiini pun menjalankan tugas sebagai bagian dari Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP) diMaluku dan Maluku Utara.Itu berarti sinergitas proses pembentukan spiritualitas pemuda di Maluku dapat denganmudah ditata, ketika organisasi-organisasi kepemudaan ini bersama-sama meningkatkan fungsinyasecara internal atau dalam satu wahana pemuda lintas-agama di Maluku dan Maluku Utara.Sebuah forum pemuda lintas agama menjadi perlu dalam rangka membentuk spiritualitas yanglebih inklusif, pluralis tetapi juga inovatif.Spiritualitas yang inklusif dimaksudkan untuk memperkuat basis pemahaman agama dikalangan pemuda. Beberapa program strategis sudah mesti dirancang, di antaranya pendidikan dan pembinaan teologi kepada para pemuda untuk 
mengantisipasi „gerakan pembodohan teologis‟
yang kini marak di Indonesia. Proses-proses pembodohan teologis telah dipraktekkan melaluiaksi-aksi anarkhisme dengan membawa simbol-simbol agama. Gerakan-gerakan itu meninggalkankhitah suci agama sebagai
„pembawa damai‟ atau „menghadirkan tanda
-
tanda damai sejahtera‟ di
dunia dan di antara manusia dan alam semesta. Sebagai kelompok rentan, pemuda menjadi target proses-proses pembodohan teologis. Karena itu teologi agama-agama sudah bukan lagi urusanakademis di kampus, melainkan urusan praksis dalam hidup sosial di masyarakat. Teologi adalah juga praksis (
in doing theology
), atau teologi harus menjadi seni kehidupan umat beragama.Spiritualitas yang pluralis dimaksudkan untuk membingkai kehidupan antar-umat, sehingga
 para pemuda lintas agama dapat memperkuat „hidop orang basudara‟ yang lebih kreatif dan
 bermutu di Maluku dan Indonesia. Khusus di Maluku spiritualitas seperti itu akan sangatmemperkuat basis ketahanan lokal umat, jemaat atau masyarakat. Pluralisme yang adalah berkatmesti dipahami sebagai kekayaan beragama dan peradaban.Spiritualitas yang inovatif sebab pemuda adalah juga
„tulang punggung‟ bagi kesejahteraan
keluarga, daerah, gereja dan bangsa. Spiritualitas inovatif menegaskan bahwa pemuda bertekadmelawan kemalasan, apatisme, pengangguran, budaya kekerasan, narkoba, sex bebas ---danmelawannya dengan berkarya, berkreasi di berbagai sektor kehidupan.
SPIRITUALITAS MEMBANGUN; PEMBERDAYAAN POTENSI KADER 
Mengapa kecenderungan menganggur cukup tinggi di Maluku? Selain adanya faktor-faktor struktural, salah satunya ialah struktur mentalitas ambtenar yang masih menjadi carapandangsekelompok pemuda Kristen tentang kerja dan usaha. Jika dalam satu tahun Akademik, semuaPerguruan Tinggi di Ambon menghasilkan 3.000 Sarjana dan Diploma baru, pasar kerja di Malukuhanya mampu menyerap 20% dari total pencari kerja baru ---itu berarti 600 pencari kerja yangterserap ke dalam pasar kerja dalam 1 (satu) tahun. Artinya ada 2.400 pengangguran intelektual
1 2
 
yang siap mengantri untuk tahun berikutnya. Maka di tahun ke dua, akan ada 4.800 pengangguranintelektual, dan tiap tahun terus bertambah 2.400 penganggur intelektual baru.Tingginya angka pengangguran berpengaruh pada tingginya permasalahan sosial, apalagidi pusat-pusat kota. Berbagai kasus kriminal, bahaya narkotika, HIV/Aids yang terus menggunungdi Maluku, kecelakaan lalu lintas, terjadi juga karena para pemuda belum menyibukkan diridengan kegiatan-kegiatan ekonomi secara pribadi maupun kelompok.S
eiring dengan otonomi daerah, serta paradigma ekonomi daerah dengan pendekatan „pintu jamak‟ (
multy gate system
), diharapkan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru bertumbuh disetiap daerah melalui pengelolaan potensi sumber daya alam unggulan yang ada di daerah.Persoalannya ialah di daerah-daerah terjadi surplus potensi sumber kekayaan alam, tetapidefisit tenaga kerja trampil dan ahli. Me
reka lebih banyak „bermigrasi‟ ke kota
---ketika berkuliah,dan belum atau tidak mau pulang ke daerah asalnya. Sebab itu di sektor formil seperti Pegawai Negeri Sipil (PNS), terjadi persaingan yang cukup tinggi di antara para sarjana dan diploma.Karena sesuai alokasi atau kuota penerimaan
minim, maka tidak jarang timbul „gelombang protes‟
terhadap mekanisme dan kuota penerimaan PNS.Jika 2.400 penganggur intelektual tadi kembali ke daerah masing-masing dan menekunisektor ekonomi informil, menjadi wirausaha baru, berarti pusat-pusat ekonomi baru tadi semakin bergairah dan daerah-daerah secara langsung bertumbuh. Jika pengangguran menurun secaradrastis, terjadi lompatan cepat ke kesejahteraan; kemiskinan teratasi secara berkelanjutan.Tinggal
 political will 
dari pemerintah untuk „mengeksekusi‟ dana dan membuka „keran
-
keran‟ pemberdayaan, maka ekonomi perdesaan benar 
-benar menjadi primadona di Maluku.Beberapa sektor unggulan seperti di bidang kelautan dan perikanan, pertanian, perindustrian dan perdagangan
serta koperasi dan UKM perlu „di
-Maluku-
kan‟ (baca.dimasyarakatkan). Sebab itu,
kerjasama pemberdayaan antara Pemda dengan organisasi-organisasi pemuda atau kelompok-kelompok wirausaha baru pemuda merupakan bagian dari usaha membangun spiritualitas pemudaMaluku. Pembangunan spiritualitas tidak serta merta menjadi tugas agama-agama dan AMGPM.Agama-agama mengisi ruang pembinaan personal, untuk memperkuat sumber motivasi etis-injili,etis-religius. Ruang praksisnya memerlukan koordinasi gerakan bersama dengan pemerintah danstakeholders lainnya. Tujuannya ialah spiritualitas membangun menjadi kekuatan untuk melakukan serangkaian kegiatan positif untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat.
SPIRITUALITAS EMPATI;
MEMULIHKAN PARA ‘KORBAN’
 
Bahaya narkoba dan penyebaran virus HIV/Aids yang terus tinggi di Maluku memerlukan pendampingan dan pembinaan yang intensif khusus di kalangan pemuda Maluku. Dalam rangka
itu tidak ada pilihan lain daripada sebuah spiritualitas empati kepada para „korban‟ baik dengan
 jalan konseling, tetapi juga proses-proses rehabilitasi psikhis. Ini memerlukan sebuah langkahyang sistematis dan komprehensif. Perlu dibangun pusat-pusat rehabilitasi dan pemulihanketergantungan narkoba, minuman keras, ODHA, dan mereka yang menjadi korban kekerasanfisik dan kekerasan seksual. Sarana seperti ini mesti dibangun sebagai wahana pemulihan rasa
 percaya diri sehingga bisa pula menjadi „komunitas eksemplaris‟ kepada para pemuda mengenai
 bagaimana mengantisipasi berbagai potensi negatif dari perkembangan zaman. Dengan begitutingginya pengguna narkoba dan korban HIV/Aids dapat ditekaan. Pembinaan mental dan spiritual pemuda pun sudah mesti diperkuat pada organisasi basis.Mengingat Maluku adalan provinsi kepulauan, maka spiritualitas empati adalah jugasebuah usaha untuk memperjuangkan pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya di semuakawasan kepulauan seribu pulau ini. Sulitnya akses transportasi dan ekonomi menjadi masalahserius. Banyak yang kawin di usia muda, namun cukup
„heroik‟
berjuang dengan tantangan alamyang keras untuk menghidupi rumah tangga, menyantuni biaya pendidikan dan kesehatan anak-anak mereka. Di beberapa kawasan pulau,
mereka „terkurung‟ di dalam kelimpahan sumber 
kekayaan alam. Contohnya di MBD, para pemuda yang menekuni usaha rumput laut mampumenghasilkan 20 ton rumput laut per/orang.Logikanya mereka sejahtera. Ironinya, mereka tidak bisa bersekolah karena terbatasnya biaya pendidikan. Kawin dalam usia muda, dan kesulitan mencukupi kebutuhan keluarganya.Hasil jual rumput laut yang semestinya membuat mereka sejahtera sebaliknya membuat mereka
terus „terkapar‟ dalam kemiskinan karena lilitan ijonisasi.
Karena itu, spiritualitas empati yang dimaksudkan di sini harus juga mewarnai kebijakan publik di Pemerintahan pada semua tingkatan untuk mengatur regulasi-regulasi ekonomi yangdapat memutuskan lilitan ijonisasi dan ijonisme agar masyarakat lebih sejahtera. Keberpihakan
kepada mereka yang „miskin di dalam lumbung‟ sudah mesti menjadi salah satu paradigma
 pembuatan keputusan politik dan publik di daerah (Provinsi, Kabupaten/Kota). Jika tidak, mereka
akan terpaksa „menikmati‟ kemiskinannya.
 
SPIRITUALITAS AMGPM
Bagaimana pembinaan spiritualitas melalui atau oleh AMGPM? Pertanyaan ini sama pentingnya dengan bagaimana meningkatkan minat pemuda GPM ikut serta di dalam aktifitas ber-AMGPM? Apa yang hendak disampaikan di sini meliputi dua hal: [a] Dasar teologi pembangunanspiritualitas AMGPM, dan [b] Usaha membangun spiritualitas AMGPM.
[a] Dasar Teologi Pembangunan Spiritualitas AMGPM
Moto AMGPM „Kamu adalah Garam dan Terang Dunia‟ [Mat.5:13a dan 14a] merupakan
imperatif teologi bagi seluruh aspek pengembangan AMGPM. Moto itu merupakan
panggilanAMGPM
secara langsung dari TUHAN untuk „memberi
 
manfaat‟ dan „menjadi berarti‟ bagi
dunia dan manusia. Sebagai
panggilan,
maka moto itu sekaligus menjadi perintah misi AMGPMyang dalam AD/ARTI meliputi seluruh tugas pelayanan GPM, baik koinonia, marturia, diakoniadan pemberdayaan ekonomi [catur pelayanan GPM].Dalam kaitan dengan spiritualitas, moto itu menekankan pada:
[1] personalitas atau identitas diri 
 
anggota AMGPM. Subyek „
kamu adalah…
‟ dalam
moto itu menggambarkan bahwa AMGPM termotivasi membentuk pribadi kadernya agar mereka
„menjadi gereja‟
yang hidup. Pembinaan dalam AMGPM difokuskan kepada diri atau pribadianggota itu sendiri. Pribadi atau anggota AMGPM memiliki latar belakang sosial yang berbeda- beda dan ada, tinggal serta hidup di berbagai wilayah dengan dinamika masyarakat yang berbeda- beda pula. Paradigma keanggotaan yang
 stelsel pasif 
mengasumsikan bahwa dari anggota-anggotaitu ada yang aktif berorganisasi ---sehingga program pembinaan dapat menyentuh langsung,namun ada pula yang tidak atau kurang aktif ---sehingga program pembinaan kurang menyentuhsecara langsung. Sebab itu pembinaan spiritualitas AMGPM tidak bisa dipisahkan dari GPM, agar  penjangkauan terhadap semua anggota, yang adalah warga GPM, dapat terjangkau secara
3 4
 
 bersama-sama. Pembinaan personalitas dilakukan melalui bimbingan rohani, pekabaran injil dan pastoralia. Apalagi anggota AMGPM juga adalah pemuda di dalam masyarakat yang nyaris tidak terelak dari berbagai perubahan sosial, termasuk penyakit-penyakit sosial.
[2] kapasitas diri anggota.
Subyek „
kamu adalah…
‟ dalam mo
to itu menegaskan bahwakapasitas dan kompetensi diri kader harus ditingkatkan melalui program-program yang terencana.Pendidikan kader secara berjenjang dan reguler merupakan
core
dasar yang diharapkan dapatmembentuk kapasitas diri anggota yang meliputi kapasitas keorganisasian, kapasitas teologi dankegerejaan dan kapasitas sosial dan IPTEKS. Perlunya pembentukan kapasitas diri kader, melalui pendidikan kader, sebab anggota AMGPM dewasa ini ditantang dengan profesionalisme diri di berbagai bidang kerja dan kehidupan. Profesionalisme mencakup tingginya tingkat pendidikan, peningkatan keterampilan [
 skill 
] untuk berusaha dan berkreasi di berbagai bidang.
[3] Penghayatan terhadap fungsi dan panggilan.
Ada dua metafora mengenai fungsi dan panggilan AMGPM, yakni
‘menjadi garam dan terang dunia’ 
. Kedua metafora ini perlu diresapidi dalam pembentukan spiritualitas kader AMGPM. Maka spiritualitas AMGPM adalahspiritualitas fungsional, membangun dan empati. Metafora
‘menjadi garam dunia’ 
 
menegaskan bahwa kader AMGPM mesti meningkatkan fungsinya melalui cara mengembangkan potensi yang
telah ada di dalam dirinya. Garam memiliki potensi „asin‟ di dalam dirinya. Potensi itu bergunauntuk „memberi rasa, mengawetka
n, menambah cita-
rasa [baca. hasrat untuk makan]‟. Oleh potensi itu maka tanpa „kehadirannya‟ sesuatu [baca. dunia] tidak akan bermakna. Dunia akantetap berada di dalam kondisi „hambar‟; artinya tidak memberi manfaat bagi manusia dan makhluk 
lainnya. Pada
hal dunia adalah ajang kehidupan. Itulah sebabnya „menjadi garam dunia‟ berarti
memulihkan fungsi dunia agar benar-benar menjadi ruang kehidupan yang bermakna bagi manusiadan segala makhluk. Jadi AMGPM dengan metafora itu berfungsi untuk membangun tatakehidupan dunia yang lebih baik. Ada seperangkat tanggungjawab yang harus dijalankan, sepertitampak dalam Alinea ke-
2 AD/ART yakni “…turut aktif melayani gereja, masyarakat, bangsa dan
negara Indonesia menuju masyarakat yang adil dan makmur berasazkan Pancasila dalam tugasselaku Rasul, Imam dan Nabi oleh ketaatan mutlak kepada Yesus Kristus, Tuhan Gereja dan dunia
sampai Ia datang kembali”. Sedangkan metafora
‘menjadi terang dunia’
memiliki dua arah penting dalam pembinaan spiritualitas, yakni: [1] profesionalisme diri pemuda ---
„sebab tidak mungkin orang menyalahkan pelita dan meletakkannya di bawah gantang‟. Seruan itu berarti
 bahwa profesionalisme diri harus dikembangkan sesuai dengan kadar atau pada jalurnya. Perananggota AMGPM di bidang apa pun harus benar-benar dikembangkan secara profesional; [2] agar dunia percaya. Artinya ada pengakuan tentang profesionalisme kader AMGPM. Sesungguhnya halini berkaitan dengan sejauhmana kita berfungsi atau menjadi semakin profesional. AMGPMsebagai wadah tunggal pembinaan pemuda GPM dan OKP bertanggungjawab untuk menyelenggarakan aktifitas yang bermanfaat bagi dunia dan lingkungan sekitarnya.
[b] Usaha membangun spiritualitas AMGPM 
Pendidikan Kader merupakan aktifitas utama AMGPM dalam membentuk kapasitas kader.Di dalam kapasitas itu faktor spiritualitas kader menjadi hal yang sangat penting. Untuk itu ada beberapa cara praksis yang perlu dilaksanakan:
1]. Pengenalan karakteristik kade
---berbasis di Ranting. Sudah saatnya data base potensiorganisasi dimaknai sebagai suatu hal yang membantu berbagai strategi pembinaan AMGPM. Kitaselama ini terjebak dalam hal-hal teknis mengenai pembuatan format, pengisian kuestioner, pengembalian, dan tabulasi. Sudah saatnya kita mengubah kultur itu dengan memahami bahwadata base itu penting untuk memahami karakteristik kader. Selain data base, perjumpaan intensif antara semua kader perlu ditata melalui program-program pelayanan. Relasi pastoral menjadikunci di dalam usaha mengenal karakteristik kader. Ini penting sebab AMGPM ada di kawasan pulau-pulau, kota, pedalaman, pelosok. Dengan mengenal karakteristik kader berarti kita akanmampu memahami minat, hobi, perhatian, dan cita-cita mereka. Dengan begitu, program-programakan terarah kepada potensi kader.
2]. Pemetaan wilayah dan karakteristik pembinaan potensi kader.
Terdapat 8 (delapan)wilayah AMGPM yang merupakan satuan-satuan wilayah sosial dengan tipikal daerah sertamasyarakat masing-masing. Hal ini berarti agenda-agenda AMGPM di masing-masing wilayahharus dirancang secara strategis agar semua potensi [PD, PC, PR] di dalam wilayah-wilayah itumengelola agenda-agenda khusus yang sama, yang sesuai dengan tipikal daerah/wilayah. Inimencakup pembentukan kader, peningkatan peran kader di berbagai bidang, kontrol organisasiterhadap pembangunan wilayah, partisipasi dalam usaha-usaha pembangunan yang sesuai dengankarakteristik wilayah, peran AMGPM dalam menggerakkan tugas pelayanan gereja di masing-masing wilayah [bersama Klasis dan Jemaat serta Kring masing-masing]. Program pemberdayaan potensi ekonomi ---dalam kerjasama dengan pemerintah dan stakeholders lainnya, dapat menjadisalah satu model program pengembangan wilayah yang penting. Ini memerlukan pembinaanmentalitas usaha dan kerja kader [mengubah
mindset 
kader].
3]. Penanggulangan masalah-masalah sosial.
Pengangguran, kemiskinan, kecelakaan lalulintas, sex bebas dan penggunaan narkoba yang dapat menjurus pada penularan virus HIV/Aidssudah mesti dijabarkan dalam program-program pelayanan AMGPM. Dengan demikian semua pemuda gereja akan mendapat ruang untuk membentuk dirinya. Mengenai pengangguran, adakecenderungan para sarjana tidak mau kembali ke negerinya setelah berkuliah di Kota [Ambon].Padahal negeri-negeri kita berlimpah potensi kekayaan alam. Ironinya ialah kita menjadikonsumen sayur, ikan, hasil kebun, yang dijual oleh pedagang dari luar; yang menanam danmelaut di atas tanah negeri-negeri kita. Praksisnya, tingkat ekonomi mereka terus terdongkrak naik, dan kita hidup dengan mengandalkan potensi tanaman umur panjang yang sudah jarangdikonservasi. Kita mendapat hasil sekali setahun; mereka mendapat keuntungan setiap hari.
4]. Pembinaan Mental Spiritual,
melalui aktifitas-aktifitas ibadah, meditasi, bible-camp,dan percakapan pastoralia. Ini memerlukan kerjasama yang intensif dengan gereja, dalam hal ini para pendeta di Klasis dan Jemaat masing-masing. Sebab sebagai wadah tunggal pembinaan
 pemuda GPM, kita harus selalu ada dalam „berjalan bersama‟ jemaat
-jemaat untuk membina pemuda GPM.Demikian beberapa hal yang dapat disampaikan guna menjadi pemahaman bersama,dengan berdoa agar usaha-usaha kita meningkatkan spiritualitas kader AMGPM akan semakin berkembang dari waktu ke waktu.
 T
etaplah berpegang pada moto kita „Kamu adalah Garam dan Terang Dunia‟!
 
5 6

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->