• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
Download
 
Sugeng Abdullah (2006), "Teknologi Inderajakes Bidang Sanitasi",
Hal : 1 dari 10
TEKNOLOGI INDERAJAKESDALAM BIDANG SANITASI DAN KESEHATAN LINGKUNGAN
*)
 
Oleh : Sugeng Abdullah
**)
 
Pendahuluan.
Inderajakes merupakan akronim dari penginderaan jauh untuk kesehatan.Istilah inderajakes ini oleh sebagian orang yang bekerja di bidang kesehatan masih jarang dikenal bahkan terkesan asing. Inderajakes merupakan sebagian kecil dari bentuk aplikasi teknologi inderaja (penginderaan jauh). Menyadari bahwa teknologiinderajakes masih jarang dikenal, maka sejak akhir tahun 90an kosa kata inderajakesini mulai diperkenalkan sebagai istilah yang "resmi" dipakai secara nasional.Di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, sejak tahun 1997 telahterbentuk suatu kelompok kerja yang terutama melibatkan Fakultas Kedokteran,Geografi, dan Kedokteran Hewan, dengan nama Penginderaan Jauh untuk Kesehatan(Inderajakes). Kelompok kerja ini telah melaksanakan simposium, proyek penelitian, bahkan pembimbingan skripsi, tesis, dan disertasi doktor bersama-sama.Danoedoro (2005) dalam sebuah publikasi internet secara panjang lebar mengemukakan bahwa beberapa pakar kesehatan lingkungan, misalnya Hollander danStaatsen (2003) dari Pusat Riset Kesehatan Lingkungan Negeri Belanda,mengelompokkan faktor-faktor penentu kesehatan masyarakat ke dalam empat hal:gaya hidup, lingkungan fisik, lingkungan sosial, serta atribut individual endogen, baik yang bersifat genetik maupun yang diperoleh selama hidup. Dalam perspektif keruangan, pakar-pakar inderaja seperti Lambin (2002), Albert, Gesler danLevergoods (2000), serta Gatrell (2001) memandang lingkungan fisik dan sosialsebagai faktor kunci dalam memahami pola spasial penyakit dan penularannya.Loncat inang juga terjadi karena perubahan lingkungan. Misalnya perambahanhutan, pengubahan pola tanam pertanian, pendangkalan rawa, dan sebagainya.Perubahan lingkungan juga menyebabkan manusia lebih mudah terpapar, melaluikontak langsung ataupun melalui kotoran, dengan hewan-hewan yang menjadi inangalami (natural host) kuman. Penelitian di Jerman yang sedang akan diterbitkan oleh jurnal Preventive Veterinary Medicine (Hansen dkk, 2003) menunjukkan bahwa pertambahan jumlah semacam rubah di habitat yang dilindungi juga membawaimplikasi pada bertambahnya risiko penularan penyakit cacing pita Echinococcusmultilocularis ke manusia melalui kotoran rubah, karena rubah tadi adalah inangalaminya.
*) Makalah ini dibuat dan disajikan secara khusus untuk studium general bagi mahasiswa JurusanKesehatan Lingkungan Purwokerto Poltekkes Semarang pada tanggal 13 Maret 2006.**) Staf Pengajar pada Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto Poltekkes Semarang
.
KetuaYayasan Sanitarian Banyumas.
 
Sugeng Abdullah (2006), "Teknologi Inderajakes Bidang Sanitasi",
Hal : 2 dari 10Faktor ekologis juga ditemukan oleh peneliti di India (Srivastava dkk, 2003: jurnal Health and Place) yang mengkaji hubungan kualitas permukiman urban dan peri-urban dengan insidensi malaria. Di Afrika Selatan juga ditemukan banyak kasusmalaria di wilayah-wilayah yang kurang berkembang sektor pertanian, wisata, danindustrinya (Martin dkk, 2002; jurnal Computer Methods and Programs inBiomedicine). Di kedua negara itu, pengendalian malaria dilaksanakan secara terpadudalam kerangka nasional sistem informasi malaria berbasis GIS.GIS (Geographic Information System = Sistem Informasi Geografik (SIG))merupakan bagian yang sangat penting dalam rangka pemanfaatan teknologiinderajakes. Hampir dapat dinyatakan bahwa tanpa GIS, inderajakes tidak akan banyak memberikan manfaat. Pemanfaatan GIS dalam bidang kesehatan (misalnyaepidemiologi) sangat lekat dengan kegiatan pemantauan wilayah setempat. GISmerupakan alat bantu analisis yang dapat dipadankan kegunaannya dengan statititik.GIS menekankan pada aspek keruangan, sedangkan statistik lebih menekankan padaangka-angka. Keduanya sangat diperlukan dalam menunjang pemanfaataninderajakes.Ketika telah memutuskan akan memanfaatkan teknologi inderajakes untuk kajian atau program sanitasi dan kesehatan lingkungan, maka terlebih dahulu harusmengenal teknologi inderaja. Aplikasi teknologi inderaja memerlukan pengetahuandan ketrampilan dalam bidang GIS, Kartografi, GPS, Komputer dan ilmu sanitasi /kesehatan lingkungan itu sendiri. Penguasaan bidang ilmu sanitasi dan kesehatanlingkungan secara mendalam akan sangat membantu dalam memberikan tafsir terhadap citra satelit. Citra satelit, foto udara dan sejenisnya merupakan objek pentingdalam inderajakes.
Teknologi inderaja
Manusia memiliki kemampuan untuk mengetahui sesuai yang ada dilingkungannya melalui alat indera. Alat indera yang dimiliki manusia yang lebihdikenal dengan sebutan panca indera ini meliputi mata, hidung, telinga, lidah dankulit. Berdasarkan "ciri-ciri" yang telah dipelajarinya, manusia mampu mengenal panas, dingin, tumpul, halus, cerah dan lainnya menggunakan indera yang dimiliki.Indera yang dimiliki manusia mampu mendeteksi kondisi lingkungan secararelatif dan subyektif. Misalnya seseorang menyatakan bahwa ruangannya panas,tetapi yang lain menyatakan biasa saja. Agar tidak terjadi perbedaan tafsir terhadapkondisi ruangan / lingkungan, maka diciptakan alat bantu penginderaan. Alat bantu penginderaan ini dapat berupa termometer, anemometer, luxmeter, kamera, sensor-sensor optik dan lainnya. Alat bantu penginderaan ini dapat dipasang pada balon, pesawat udara atau satelit. Hasil penginderaannya kemudian dapat dikirim melaluigelombang radio dan diterima di stasiun penerima. Karena penginderaannya dari jarak  jauh maka disebut sebagai penginderaan jauh.Penginderaan jauh biasa dikenal dengan sebutan PJ atau Inderaja. Dalaminstilah yang lebih baku secara internasional dikenal sebagai
remote sensing 
.Soetanto (1995) mengemukakan bahwa dalam inderaja, kegiatan pengkajian atas
 
Sugeng Abdullah (2006), "Teknologi Inderajakes Bidang Sanitasi",
Hal : 3 dari 10 benda / objek atau fenomena, dilakukan pada hasil rekamannya dan bukan pada bendaaslinya. Menurut Lilesand dan Keifer (Suharyadi, 2004) inderaja didefinisikansebagai ilmu dan ketrampilan untuk memperoleh informasi tentang suatu obyek,daerah atau fenomena melalui anlisis citra yang diperoleh dengan suatu alat tanpakontak langsung dengan obyek, daerah atau fenomena yang dikaji.Dalam inderaja terdapat dua sub sistem utama yaitu (1) subsistem perolehandata dan (2) subsistem analisis dan sintesis. Dalam hal perolehan data, perludiperhatikan tentang tenaga/energi, objek/benda, proses dan output yang dikehendaki.Energi yang banyak digunakan dalam inderaja adalah energi elektromagnetik dengan pola gelombang sinusoidal yang harmonis. Oleh karena itu diperlukan pengetahuantentang teori dan sifat-sifat dari berbagai macam gelombang. Energi pada tiapgelombang berbeda-beda, sehingga secara praktis untuk keperluan ini lazimdigunakan unit ukuran panjang gelombang (
λ
) dan frekwensi (f).Objek / benda dalam inderaja dapat berupa benda atau fenomena. Benda bisa berupa bangunan, tanah, air, udara, tumbuhan, dll. Fenomena bisa dalam bentuk suhuudara, aliran air, kecepatan angin, distribusi permukinan, distribusi vektor penyakit,dll. Benda dapat langsung dikenali melalui hasil rekaman inderaja, tetapi untuk fenomena dapat dikenali melalui benda lain yang ada disekitarnya. Contohnya fotoudara yang menunjukan rumah penduduk yang berhimpitan dapat ditafsirkan :terdapat banyak orang, resting places nyamuk Aedes sp.Di dalam Proses perolehan data, hal penting yang harus diketahui adalah bagaimana interakasi antara energi yang digunakan dalam inderaja dengan atmosfer.Juga interaksi antara energi inderaja dengan objek/benda yang direkam. Apakahterjadi penyerapan energi atau terjadi pantulan energi atau keduanya. Juga pentingdiperhatikan adalah tentang perekaman. Perekaman suatu benda atau fenomenauntuk inderaja saat ini banyak digunakan cakram magnetik, atau cakram fotonik.Perekaman harus memperhatikan ciri spektral (rona-kecerahan), ciri spasial (bentuk, pola, ukuran, tekstur, situs dan asosiasi), ciri temporal (waktu, periode). Ketiga ciri inimerupakan kunci dalam inderaja.Output inderaja berupa hasil perekaman yang merupakan data penginderaan jauh. Sesuai dengan cara perekammanya maka data inderaja dapat berupa data digitalatau data analog. Data digital direkam dalam informasi tingkat kecerahan yangditunjukkan dalam angka nilai pixel (picture elemen). Nilai pixel dapat dibuat berkisar 0 – 255. Data analog adalah hasil perekaman dalam bentuk gambar / visual.Data visual ini bisa digunakan satu dimensi berupa grafik atau garis, bisa jugadigunakan dua dimensi berupa image / citra.Lebih lanjut citra dapat dibedakan menjadi citra foto dan citra non foto. Citrafoto dapat dirinci sebagai berikut : (a) berdasarkan wahana (platform) yaitu fotoudara dan foto satelit, (b) berdasarkan sumbu kamera yaitu foto tegak, agak condongdan sangat condong, (c) berdasarkan gelombang yang digunakan yaitu fotoultraviolet, pankromatik, inframerah dan multispektral, (d) berdasarkan ukuran yaitufoto format standar dan format kecil. Citra non foto berdasarkan gelombang yangdigunakan yaitu citra spektrum tampak, citra inframerah termal, citra gelombangmikro/radar. Panjang gelombang yang digunakan pada berbagai satelit yang
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...