Sugeng Abdullah (2007), O & P IPAL, Hlm - 2
air, sedangkan rotifera makan flok biologis berukuran kecil yang tidak mengendap.Disamping berfungsi sebagai polisher, protozoa juga dapat berfungsi sebagai indikator dalam proses lumpur aktif.Didalam bak aerasi terdapat berbagai organisma, salah satu diantaranya adalah protozoa. Menurut K. Mudrack & S. Kunst (1981), beberapa protozoa yang terdapat pada bak aerasi dapat digunakan sebagai indikator proses lumpur aktif, antara lain adalah :
Zooflagellates, Amoebae, Cilliates (
antara lain
: Colpidium campylum, parameciumcaudatum, Apisdisca costata, Euplotes affinis, Vorticella spp, carchesium polypinum,Opercularia coarctata)
, dan
Suctoria
. Disamping protozoa, dalam lumpur aktif sering juga terdapat jasad multiseluler antara lain
Rotifera
, larva serangga,
Nematoda
dan bangsaudang (
Crustacean
).
Zooflagellates
dari klas Mastiophorae, terutama
Bodo spp
. dan
Trigonomonas
,apabila hadir dalam bak aerasi dalam jumlah yang mendominasi, hal tersebut menunjukansuatu kondisi anaerobik. Dengan demikian juga menunjukan bahwa sistem aerasi berjalantidak sesuai dengan kriteria yang diharapkan.
Amoebae
biasanya hadir pada fase star upatau pada kondisi beban yang berat (over loading). Sebaliknya spesies
Testate amoebae
selalu hadir pada kondisi beban organik yang sangat kecil.Keberadaan
Cilliates
dapat menunjukan kondisi sock loading karena adanya unsur toksik, atau kondisi over loading atau defisiensi oksigen. Pada kondisi optimal jumlah
Cilliates
berkisar antara 2000 – 100.000 sel /ml. Bila kondisi mendadak menurun secaradrastis, menunjukan adanya unsur toksik dalam air limbah. Berbagai spesies
Cilliates
dapatmerupakan indikator spesifik terhadap kondisi sistem aerasi pada suatu bak aerasi.
Colpidium campylum
jika hadir dalam jumlah yang besar menunjukan kondisisuplai oksigen tidak baik atau kondisi over loading.
Paramecium caudatum
menunjukan bahwa pada proses lumpur aktif terjadi kondisi pembebanan dibawah normal (under normalloading).
Asidisca costata,
apabila tiba–tiba menghilang, menunjukan bahwa kandunganoksigen terlarut < 2 mg/L. Sebaliknya bila keberadaanya tetap, hal tersebut menunjukankondisi aerasi cukup baik. Demikian juga
Euplotes affinis,
kehadiranya menunjukan suplaioksigen yang bagus.Keberadaan
Vorticella spp,
khususnya
Vorticella microstoma
menunjukan kondisimiskin oksigen atau kondisi pembebanan berat. Sedangkan
Vorticella convallaria
dan
Vorticella campanula,
kehadirannya menunjukan pembebanan normal dan ini menunjukan juga bahwa suplai oksigen dalam kondisi baik.
Carchesium polypinum
keberadaanyaselalulu berhungan dengan
Vorticella. Opercularia coarctata
juga merupakan ciliata yangmerupakan indikator suplai oksigen yang baik bila terdapat dalam bak aerasi. Sedangkan
Suctoria
dapat merupakan indikator pembebanan sangat ringan (lightly loading).Dari uraian diatas, keberadaan protozoa dalam proses lumpur aktif, dapatdikemukakan sebagai berikut :-
Pembebanan berat (Highly loaded plants). Biasanya terdapat flagelata atau amoeba.-
Pembebanan normal (Normal loaded plants). Biasanya terdapat spesies ciliata antaralain :
: Vorticella convallaria, Opercularia coarctata, , Euplotes affinis
dan
Apisdiscacostata.
-
Pembebanan ringan ( lightly loaded / under loaded plants). Biasanya terdapat
rotifera
dan sedikit
protozoa.
Proses lumpur aktif intinya terdiri dari dua tangki, yakni bak aerasi dan bak pengendap (clarifier). Pada bak aerasi terjadi penguraian zat organik secara biokimia oleh jasad renik aerob dengan suplai oksigen yang cukup. Bak pengendap berfungsi untuk memisahkan lumpur aktif (biomassa) yang berasal dari bak aerasi. Lumpur aktif yangmengendap sebagian dikembalikan lagi ke bak aerasi dan sebagian yang lain di buang.Modifikasi pada proses lumpur aktif, terutama dilakukan dengan merubahkonfigurasi sistem inlet, merubah konfigurasi sistem aerator, merubah parameter F/M,
Leave a Comment