• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
Download
 
BAB IPENDAHULUAN1.Latar Belakang
Bahwa dalam waktu yang relative singkat (1999-2002) Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang merupakanlandasan konstitusional penyelenggaraan negara telah mengalami 4(empat) kali perubahan. Dengan berlakunya amandemen Undang-UndangDasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, telah tejadi perubahandalam pengelolaan pembangunan, yaitu:1)penguatan kedudukan lembaga legislatif dalampenyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara,(APBN);2)ditiadakannya Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN)sebagai pedoman penyusunan rencana pernbangunannasional; dan3)diperkuatnya Otonomi Daerah dan desentralisasipemerintahan dalam Negara Kesatuan RepublikIndonesia.Perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik IndonesiaTahun 1945 yang mengatur bahwa Presiden dipilih secara langsung olehrakyat dan tidak adanya GBHN sebagai pedoman Presiden untukmenyusun rencana pembangunan maka dibutuhkan pengaturan lebihlanjut bagi proses perencanaan pembangunan nasional. Denganberlakunya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang PemerintahanDaerah tidak sesuai dengan perkembangan keadaan, ketatanegaraan,dan tuntutan penyelenggaraan otonomi daerah sehingga perlu digantidengan Undang-undang Nomor 32 tahun 2004 tentang PemerintahanDaerah. Penyelenggaraan Otonomi Daerah dilaksanakan denganmemberikan kewenangan yang luas, nyata, dan bertanggung jawabkepada daerah. Pemberian kewenangan yang luas kepada daerahmemerlukan koordinasi dan pengaturan untuk lebih mengharmoniskandan menyelaraskan pembangunan, baik pembangunan Nasional,Pembangunan Daerah maupun pembangunan antardaerah. Berdasarkanpertimbangan di atas, perlu dibentuk Undang-Undang yang mengatur tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional yaitu Undang-undang Nomor 25 tahun 2004.
Perubahan Sosial Dan Pembangunan Nasional 
1
 
2.Ruang Lingkup Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004
Undang-Undang ini mencakup landasan hukum di bidangperencanaan, pembangunan baik oleh Pemerintah Pusat maupunPemerintah Daerah. Dalam Undang-Undang ini ditetapkan bahwa SistemPerencanaan Pembangunan Nasional adalah satu kesatuan tata caraperencanaan pembangunan untuk menghasilkan rencana pembangunandalam jangka panjang, jangka menengah, dan tahunan yang dilaksanakanoleh unsur penyelenggara pernerintahan di pusat dan Daerah denganmelibatkan masyarakat.
3.Proses Perencanaan
Sistem perencanaan pembangunan nasional dalam Undang-Undang ini mencakup lima pendekatan dalam seluruh rangkaianperencanaan, yaitu:1)politik;2)teknokratik;3)partisipatif;4)atas-bawah (top-down); dan5)bawah-atas (bottom-up).Pendekatan politik memandang bahwa pemilihanPresiden/Kepala Daerah adalah proses penyusunan rencana, karenarakyat pemilih menentukan pilihannya berdasarkan program-programpembangunan yang ditawarkan masing-masing calon Presiden/KepalaDaerah. Oleh karena itu, rencana pembangunan adalah penjabaran dariagenda-agenda pembangunan yang ditawarkan Presiden/Kepala Daerahpada saat kampanye ke dalam rencana pembangunan jangka menengah.Perencanaan dengan pendekatan teknokratik dilaksanakan denganmenggunakan metoda dan kerangka berpikir ilmiah oleh lembaga atausatuan kerja yang secara fungsional bertugas untuk itu. Perencanaandengan pendekatan partisipatif dilaksanakan dengan melibatkan semuapihak yang berkepentingan (stakeholders) terhadap pembangunan.Pelibatan mereka adalah untuk mendapatkan aspirasi dan menciptakanrasa memiliki. Sedangkan pendekatan atas-bawah dan, bawah-atasdalam perencanaan dilaksanakan menurut jenjang pemerintahan.Rencana hasil proses atas-bawah dan bawah-atas diselaraskan melalui
 
musyawarah yang dilaksanakan baik di tingkat nasional, provinsi,kabupaten/kota, kecamatan, dan desa. Perencanaan pembangunan terdiridari empat (4) tahapan yakni:a)penyusunan rencana;
rancangan rencana pembangunan nasional/daerah;
rancangan rencana kerja departemen/lembaga SKPD;
musyawarah perencanaan pembangunan;
rancangan akhir rencana pembangunanb)penetapan rencana;
RPJPN dengan Undang-undang dan RPJP daerahdengan perda;
RPJMN/RPJMD dengan peraturan presiden/kepaladaerah;
RKP/RKPD dengan peraturan presiden/kepala daerahc)pengendalian pelaksanaan rencana; dand)evaluasi pelaksanaan rencana.Keempat tahapan diselenggarakan secara berkelanjutan sehingga secarakeseluruhan membentuk satu siklus perencanaan yang utuh.Tahap penyusunan rencana dilaksanakan untuk menghasilkanrancangan lengkap suatu rencana yang siap untuk ditetapkan yang terdiridari 4 (empat) langkah. Langkah pertama adalah penyiapan rancanganrencana pembangunan yang bersifat teknokratik, menyeluruh, dan terukur.Langkah kedua, masing-masing instansi pemerintah menyiapkanrancangan rencana kerja dengan berpedoman pada rancangan rencanapembangunan yang telah disiapkan. Langkah berikutnya adalahmelibatkan masyarakat (stakeholders) dan menyelaraskan rencanapembangunan yang dihasilkan masing-masing jenjang pemerintahanmelalui musyawarah perencanaan pembangunan. Sedangkan langkahkeempat adalah penyusunan rancangan akhir rencana pembangunan.Tahap berikutnya adalah penetapan rencana menjadi produkhokum sehingga mengikat semua pihak untuk melaksanakannya. MenurutUndang-undang Nomor 25 Tahun 2004 rencana pembangunan jangkapanjang Nasional/Daerah ditetapkan sebagai Undang-undang atauperaturan daerah, rencana pembangunan jangka menengahNasional/Daerah ditetapkan sebagai peraturan presiden/Kepala daerah,dan rencana pembangunan tahunan Nasional/Daerah ditetapkan sebagaiperaturan presiden/Kepala Daerah.Pengendalian pelaksanaan rencana pembangunandimaksudkan untuk menjamin tercapainya tujuan dan sasaran
Perubahan Sosial Dan Pembangunan Nasional 
3
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...