Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
0Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Makalah II Ttg Alam

Makalah II Ttg Alam

Ratings: (0)|Views: 2 |Likes:
Published by Lindsay Wolfe

More info:

Published by: Lindsay Wolfe on May 24, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/24/2013

pdf

text

original

 
Kejadian Alam Semesta Menurut Filosof Islam
 Pada awal perkembangan Islam, sebenarnya kaum Muslimin tidak bermaksud mengutip pemikiran-pemikiran filsafat dari fihak mana pun. Bila kemudian terjadi perembesan sebagianilmu-ilmu itu kepada orang Arab itu adalah akibat dari eratnya hubungan dengan bangsa-bangsalain di sekitarnya yang terjadi sejak zaman jahiliyyah.Pada masa Daulah Abasiyah, khalifah Al-Mansyur membangun kota Baghdad yang kemudianmenjadi mercusuar di Timur dan jantung dunia Islam dalam kurun waktu yang amat panjang.Dari kota Jundshabur, pusat ilmu pengetahuan dan filsafat pindah ke Baghdad. Pada tahun 215H, Khalifah Al-Makmun mendirikan akademi penerjemahan yang bernama
 Baitul Hikmah
(Al-Ahwani, 1993:32-33). Selanjutnya pada masa khalifah Harun Al-Rasyid tahun 786 M, penerjemahan buku-buku ilmu pengetahuan Yunani ke dalam bahasa Arab pun mulai marak (Nasution, 1990:10-11). Sejak itulah timbul filosof-filosof dan ahli ilmu pengetahuan dikalangan umat Islam. Mereka itu misalnya Al-Razi dan Al-Zarkasyi dalam bidang kedokteran;Al Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, dll di kalangan filsafat. Muhammad, Ahmad danHasan dalam bidang Matematika. Jabir dalam bidang kimia; Al-Biruni dalam bidang astronomi,geografi dan sejarah, serta Al-Haitami di bidang optika (Nasution,1990:12-13).Kaum filosof berpegang pada pendapat yang mereka warisi dari orang Yunani bahwa alamsemesta adalah
qadim/ 
azali sebagaimana dikemukakan oleh Aristoteles dan Plato serta Plotinuswalaupun tidak secara tegas. Menurut Plato, alam memang qadim, tetapi Tuhanlah yangmengaturnya; sekalipun pada bab lain dari
 Dialogue
-
nya, ia mengatakan bahwa "Kreator"(pencipta) itulah yang mengharapkan ide azali, kemudian Ia mencipta alam seperti ide itu (Al-Ahwani,1993:110-111). Sementara itu Plotinus menampilkanteori
emanasi
(
 pemancaran,
 faidh/sudur pelimpahan)
, semacam teori wahdatul wujud.Jika dikaitkan dengan pandangan Islam, pendapat-pendapat di atas tentu bertentangan. Islamdengan tegas menyatakan bahwa Tuhan sama sekali berbeda dengan alam. Ia maha tinggi darisegala sesuatu (QS,122). Islam menegaskan bahwa Tuhan menciptakan dari ketiadaan, dan Dia berkuasa untuk mengganti ciptaan-Nya atau mengembalikannya seperti semula (QS,39:38;2:117; 21:16:3 ;30:8 ;11:123).Para filosof Islam saling berbeda pendirian dalam menanggapi pendapat tersebut. Sebagian berpendapat seperti filosof Yunani bahwa alam ini
qadim
tetapi berusaha menafsirkannyadengan tidak mengingkari kekuasaan Tuhan yang Maha Pencipta. Sebagian mengikuti pendapatIslam bahwa alam ini tidak qadim dan tidak azali. Sebagian lainnya menganggap bahwa alam inimerupkan rangkaian kejadian yang berasal dari Zat Tuhan melalui pelimpahan "
 faidh/ emanasi".
 Berikut akan dibicarakan berbagai pendapat filosof Islam tentang kejadian semesta alam iniantara lain oleh Al-Farabi, Ibnu Sina, dan Al-Kindi, serta Ibnu Rusyd.Al-Kindi yang berasal dari Kindah di Yaman tetapi lahir Kufah (irak) pada tahun 796 M(Nasution,1990:14), termasuk filosof yang menentang pendapat bahwa alam itu qadim. Beliau berpendapat bahwa alam itu berakhir (
mutanahim
), tidak azali. Hal itu didasarkan atas teorimatematika dalam pendangannya mengenai alam semesta, beliau menampilkan teori bahwasetiap benda pasti berakhir. Demikian pula keseluruhan benda itu, yakni seluruh alam wujud.Karena setiap benda mempunyai jenis dan macam, maka benda itu tidak mungkin azali, sebabyang azali tidak berjenis. Jadi, bukan sesuatu yang azali (Al-Ahwani,1993:111). Al Kindimemandang alam ini adalah ciptaan Tuhan, tetapi tidak menerangkan bagaimana cara penciptaanitu kepada kita.Menurut Al-Farabi (870 M,- 950 M) segala sesuatu itu keluar dari Tuhan (Yang Awal/WujudPertama). Jika sesuatu itu diadakan oleh Tuhan Yang Awal (
 Al 'awwal 
) maka tidak bisa tidak 
 
mengetahui zat-Nya dan mengetahui bahwa ia menjadi dasar susunan wujud yang sebaik- baiknya. Jadi, ilmu-Nya menjadi sebab bagi wujud semua yang diketahui-Nya. Bagi Tuhancukup dengan mengetahui zat-Nya yang menjadi sebab adanya alam agar alam ini terwujud.Jadi, dengan demikian keluarnya alam (makhluk) dari Tuhan itu tanpa gerak atau alat, karenaemanasi adalah pekerjaan alam semesta (Nasution,1990:26; Hanafi,1991:92-93; Al-Ahwani,1993:113).Eksistensi (wujud) segala sesuatu dari Yang Awal itu berlangsung secaramelimpah/
 faidh.
Wujud pertama yang keluar dari Tuhan disebut Akal Pertama. Akal inimengandung dua segi. Pertama, segi hakikatnya sendiri yaitu wujud yang
mumkin.
Kedua, segilain, yaitu wujud yang nyata (wajib) yang terjadi dari Tuhan, sebagai zat yang menjadikan. Dariwujud yang nyata ini keluarlah Akal Kedua.dari pemikiran Akal Pertama, dalam kedudukannyasebagai Wujud yang Mumkin dan tidak mengetahui dirinya, timbullah Langit Pertama (
 First  Heaven)
atau benda langit terjauh dengan jiwannya sama sekali.Dari Akal Kedua, timbullah Akal Ketiga dan Langit Kedua atau bintang-bintang tetap beserta jiwannya, dengan cara seperti yang terjadi pada akal pertama. Dari akal ketiga keluarlah akalkeempat dan planet saturmus beserta jiwanya. Dari akal keempat keluarlah akal kelima dan planet yupiter beserta jiwanya. Dari akal kelima keluarlah akal keenam dan planet mars beserta jiwanya. Dari akal keenam lahir akal ketujuh dan matahari beserta jiwanya. Dari akal ketujuhlahir akal kedelapan dan planet venus beserta jiwanya. Dari akal kedelapan lahirlah akalkesembilan dan planet merkurius beserta jiwanya. Dari akal kesembilan keluarlah akal kesepuluhdan bulan.Pada pemikiran akal kesepuluh, berhentilah timbulnya/ keluarnya akal-akal. Tetapi dari akalkesepuluh muncul bumi serta roh-roh dan materi pertama yang menjadi dasar dari keempatunsur; api, air, udara, dan tanah. Akal kesepuluhlah yang mengatur dunia yang ditempati olehmanusia.Sedang menurut Al-Farabi, alam terjadi dengan tidak melalui permulaan dalam waktu. Artinyatidak terjadi secara berangsur-angsur, tetapi sekaligus dengan tak berwaktu. Materi asal dari alammemancar dari wujud Allah. Pemancaran itu terjadi dari
qadim ( 
tak bermula). Pemancarandiartikan sebagai penjadian. Materi dan alam dijadikan tetapi mungkin sekali bersifat qadim(Nasution, 1990: 26-32: Hanafi, 1991 : 81
 – 
113 dan Al Ahwani, 1990 : 113
 – 
115). Dari sinitampak bahwa pemikiran Al- Farabi ini berpijak pada aliran Neo Platonisme dengan teoriemanasinya.Sedangkan menurut Ibnu Sina yang nama lengkapnya Ali Abu Huseein Ibnu Abdillah Ibnu Sina(1037 M) Tuhan memancar dari Akal Pertama. Dari Akal Pertama memancar Akal Kedua danlangit pertama. Demikian seterusnya sehingga mencapai Akal Kesepuluh dan bumi. Dari AkalKesepuluh memancarlah segala apa yang terdapat di bumi yang berada di bawah bulan. AkalPertama itu adalah Jibril. (Nasution, 1990 : 30).Berlainan dengan Al-Farabi, Ibnu Sina mengatakan bahwa keluarnya suatu dari yang satu itutidak secara "tiga-tiga". Pertama Akal Pertama mengerti akan dirinya yaitu Tuhan, makaterjadilah "akal" di bawahnya yang kedudukannta lebih rendah dari pada Akal Pertama. Kedua,karena akal yang lebih rendah itu mengerti akan zatnya sendiri maka terjadilah "cakrawalatertinggi"
(al-falaqul-aqsa)
yang kesempurnaannya berupa jiwa
( an-nafs, soul)
. Ketiga, karenawatak yang memungkinkan terjadinya eksistensi yang lebih rendah sebagai hasil dari pengertianakan zatnya sendiri maka terjadilah " cakrawala tertinggi"
( al-falaqul-aqsa)
(lihat al-Ahwani,1993 : 116 ; Nasution, 1990 : 34-38).
 
Dengan demikian dari "Akal" keluarlah tiga eksistensi yaitu : Akal, jiwa (
nafs, soul 
) dan jisim(materi). Ibnu Sina menyesuaikan istilah filsafat dengan istilah agama. Dalam risalahnya yang berjudul
 
 Ma'rifat al-Nafs an-'Natiqah
, sebagaimana dikutip Al-Ahwani (1993 : 116), ia mengatakan :"Akal mempunyai tiga daya pengertian. Pertama, ia mengerti akan penciptanya, yaituTuhan. Kedua, ia mengerti akan zatnyasendiri mempunyai kewajiban terhadap
 Al- Awwal 
, yakni Tuhan. Ketiga, ia mengerti akan kemungkinan yang ada pada zatnyasendiri. Dari pengertian Penciptanya, akal itu menghasilkan akal pula, yaitu substansiakal lain, tak ubahnya seperti sinar yang memantulkan sinar lainnya. Dari pengertianakan zatnya sendiri yang mempunyai kewajiban terhadap
 Al-Awwal,
(tuhan) terjadilah
al- Nafs
(jiwa), yang juga merupakan substansi rohani seperti akal, tetapi menurut urutan ialebih rendah. Dari pengertian akan kemungkinan yang ada pad zatnya sendiri terjadilahsubstansi kebendaan (jasmani, fisik) yaitu
al-Falaq al-Aqsa
(Cakrawala Tertinggi).
 Al-Falak al Aqsa
itu adalah juga
 Al-Falak al-Atlas
yang di dalam istilah agama dikenalsebagai
 Al-Arsy.
Akal kesepulah disebut juga Akal Efektif 
(Al-Aql-Fa'al)
, sebagai pemberi bentuk 
(wahib as-Suwar)
yaitu
 Ar-Ruhul-Amin
,
 Jibril 
dan
 An-Namus al-Akbar.
 Dari
Al-Wajib al-wujud 
turun secara berurutan beberapa eksistensi (wujud) hingga sampai keAkal Kesepuluh dan planet bulan. Dari sini timbullah alam unsur, yaitu alam
kaun wal- fasad 
(Alam Kejadian dan kerusakan, alam dunia) dengan empat unsur tersebut terjadilah benda- benda logam yang kemudian meningkat menjadi tumbuh-tumbuhan. Selanjutnya meningkatmenjadi hewan. Akhirnya meningkatlah menjadi manusia sebagai hewan yang paling sempurna(Nasution, 1990 : 34-40 ; Hanafi, 1991 :115-133 ; dan Al-Ahwani 115-117).Sementara itu pendapat Ibnu Rusyd (1126 M-1198 M) tentang alam semesta lebih dekat pada pendapat Aristoteles. Menurutnya, alam seluruhnya dan benda-benda alam yang bersifat partialtersusun dari dua elemen yang saling berlawanan, yaitu materi dan bentuk. Hayula
(primordial  Matter / materi purba)
tidak mungkin timbul dari bentuk. Hal itu disebabkan adanya penafsirandari sesuatu yang wujud, terutama yang konkrit, tidak mungkin dapat dilakukan kecuali berdasarkan dua elemen, yaitu elemen materi dan elemen bentuk. Jika ada suatu wujud yang berupa "gambaran" semata-mata dan berupa fi'il semurni-murninya, ia dapat ditafsirkan dengansatu
'illah
, yaitu
'illah suwariyyah (formal-cause),
dan itu hanya Tuhan saja. Sedangkan alammesti ditafsirkan dengan dua
'illah
. (Al-Ahwani (1993 : 117)Segala sesuatu yang mempunyai eksistensi kongkrit, yang terjadi kemudian rusak di alam wujud,semuanya terdiri dari materi dan bentuk. Terjadinya pun dari benda-benda serupa. Jadi, bendaadalah asal terjadinya segala sesuatu yang berwujud. Dalam kaitannya tentang apakah alamini
qadim
atau baru, ia mengambil sikap tengah-tengah. Ia mengambil permasalahan itu dalamtiga golongan berdasarkan tiga jenis yang terdapat didalam alam wujud. Ketiganya itu adalah :1.Semua eksistensi kongkrit yang bersifat partial seperti tumbuh-tumbuhan, hewan, logamdan semua benda yang serupa adalah baru, karena keberadaannya berasal dari zat lain.2.Suatu wujud yang tidak terjadi dari sesuatu dan tidak berasal dari sesuatu serta tidak didahului waktu. Ia adalah qadim. Sesuatu itu adalah Allah, karena dialah pembuatsegalanya.3.Sesuatu yang berada di antara keduanya, yaitu ada yang tidak berasal dari sesuatudantidak di dahului waktu, tetapi ia dari sesuatu, yaitu dari
 Fa'il 
.

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->