Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
72Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Konsep Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development)

Konsep Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development)

Ratings: (0)|Views: 5,689 |Likes:
Published by oef

More info:

Published by: oef on Apr 18, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as TXT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/02/2013

pdf

text

original

 
KONSEP PEMIKIRANPEMBANGUNAN EKONOMI BERKELANJUTANOleh: Slamet Prayogi )1. Tinjauan Ke BelakangMelihat kondisi perekonomian Indonesia diperlukan suatu pengertian yang cukupmendalam baik dari sisi mikro ekonomi dan terutama sisi makro ekonomi. Sepertidiketahui bahwa kondisi perekonomian Indonesia diwarnai dengan berbagai kejutan(shock) sejak tahun 1960an sampai saat ini. Berbagai kejadian moneter dan nonmoneter menyebabkan fluktuasi yang senantiasa berulang sehingga memberikan tingkatketidakpastian (uncertainty) dan country risk yang cukup tinggi.Meskipun agak riskan dan kasar, untuk memudahkan memperoleh gambaran sekilasserta kemungkinan tren ekonomi Indonesia di masa mendatang, maka tinjauan inidibagi 2 (dua) periode perkembangan ekonomi Indonesia yaitu periode Pra - Krisisdan Paska Krisis.Pra - Krisis EkonomiAdalah menjadi karakteristik perekonomian Indonesia sejak Pelita I dimulai, bahwasektor swasta ternyata sangat bergantung pada sektor pemerintah. Oleh karena itusemua kebijakan di sektor pemerintah akan berdampak langsung terhadap sektor rielmisalnya adanya tight money policy tahun 1986 yang langsung diikuti oleh lesunyahampir semua sektor perekonomian Indonesia.Pada tahun 1970an terjadi resesi dunia yang membawa dampak amat besar terhadapperekonomian Indonesia. Sektor pemerintah mengalami kontraksi cukup signifikan dandiikuti kontraksi yang lebih besar di sektor riel. Krisis tersebut berdimensibanyak bukan hanya berpengaruh pada kelesuan ekonomi dalam negeri tetapi jugatelah merambah pada sektor luar negeri yang menghadapi krisis devisa dan kemacetanindustrial.Semenjak digulirkannya deregulasi sektor perbankan tahun 1983, serentetankebijakan dikeluarkan pemerintah termasuk di antaranya Inpres No. 4/1985, disusuldengan Paket 6 Mei 1986 (Pakem), dan devaluasi 19 Desember 1986 serta kebijakan 25Oktober 1986. Kesemuanya dikeluarkan dengan alasan untuk meningkatkan devisadari sektor non migas. Namun semua kebijakan tersebut tidak sepenuhnya berjalanmulus karena peningkatan sektor devisa adalah merupakan langkah jangka panjang dansangat bergantung pada struktur industri dan tata niaga yang ada.Kelesuan atau resesi ekonomi yang terjadi sekitar tahun 1986an tidak saja melandasektor industri barang mahal seperti otomotif tetapi juga melanda sektor lainnyaseperti papan, sandang dan pangan dengan derajat kelesuan yang berbeda beda.Gejala yang sifatnya menyeluruh tersebut tentu saja tidak hanya disebabkan olehmasalah masalah mikro yang dihadapi oleh sektor riel secara individu, namun lebihcondong pada masalah makro, yaitu turunnya pendapatan nasional perekonomianIndonesia dari keadaan sebelumnya. Pada lima tahun pertama dan kedua tahun 1970 anpertumbuhan pendapatan nasional Indonesia tercatat sebesar 7,1% dan 7,9%.Sedangkan pada periode 1983-1988 pertumbuhan ekonomi merosot hingga mencapai ratarata 5,1%.Menghadapi hal ini pemerintah mengeluarkan paket kebijakan pada tahun 1988 yangdikenal dengan Pakto 1988 yang intinya (terutama pada sektor moneter ) adalah:1.Keharusan memenuhi persyaratan modal, sistem dan ijin bila hendak mendirikanbank dan lembaga keuangan lainnya di kota dan di daerah, atau bila akan melakukanmerger dan menarik partisipasi modal asing.2.Keharusan memenuhi koefisien tentang sehat tidaknya lembaga keuangan.3.Cara menjalankan transaksi call money, Certificate of Deposits, SBI, SBPU,
 
devisa-swap, dan jenis kertas yang harus digunakan.4.Tugas tugas yang harus dipenuhi oleh money changers.5.Penurunan reserve ratio, yaitu alat kontrol Bank Indonesia terhadaplikuiditas yang harus dipelihara bank komersial, dari 15% menjadi 2%.6.Ketentuan bahwa BUMN diperbolehkan mentransfer 50% depositonya di bankpemerintah ke bank swasta.7.Pengenaan pajak baru sebesar 15% terhadap pendapatan dari depositoberjangka, sertifikat deposito dan lain sebagainya.Dengan adanya Pakto 1988 tersebut, perokonomian nasional sontak bangkit danbergairah yang ditandai dengan melonjaknya uang beredar, tingginya likuiditasperbankan yang bahkan over liquid, ekspansi kredit besar-besaran sebagaimana dapatdilihat pada Tabel 1 dan Tabel 2 di bawah ini.Namun kondisi ini ternyata membawa dampak yang cukup besar pada total perekonomianIndonesia di belakang hari karena ternyata fundamental perekonomian Indonesiarapuh dan sektor finansial cenderung lepas kendali.Pakto 88 ternyata menjadi tonggak kebangkitan perekonomian secara umum dankhususnya sektor finansial / perbankan dalam menjawab era globalisasi. Bersamasama pasar modal yang berkembang cepat, kita melihat maraknya perkembangan sektorfinansial ini.Tabel 1Profil M1, M2, Kredit Swasta dan Sumber DananyaTahun 1988 - 1991Kenaikan dalam (%)Sumber Dana (Rp. Trilyun)KreditSumber Giro &R/K ValasModalTahunM1M2UntukDanaDepositdan Pinja-Perbank-SwastaBerjangkaman LNan19881324392828.97.74.519894040575143.01.37.919901848606362.727.211.319911117211069.43210.2Sumber : BI, Statistik Ekonomi KeuanganTabel 2Kondisi Likuiditas Perbankan Tahu 1988 - 1991Alat LikuidPersentaseSimp. WajibKelebihanPerbankanLikuiditasPerbankanLikuiditas(Rp. Trilyun) ( % )(Rp. Trilyun)(Rp. trilyun)19881.860.61.219892.660.81.819902.741.21.519912.841.51.3Sumber : BI, Statistik Ekonomi KeuanganSebagaimana diketahui bahwa dengan Pakto 1988, rasio cadangan perbankan (reserverequirement) diturunkan dari 15% menjadi sangat rendah yakni 2%. Demikianrendahnya sehingga perbankan menjadi sangat leluasa memperluas kredit dan uangberedar (M1), yang seolah olah tanpa kendali dari Bank Indonesia seperti terlihatpada Tabel 3. Sebagaimana diketahui, Rasio Cadangan, sesuai ketentuan BI, adalahperbandingan antara cadangan perbankan (R) dengan uang giro dan depositoberjangka.
 
Tabel 3Kondisi Cadangan, Uang Kas dan GWM Perbankan 1987 -1991Dalam Trilyun RupiahUangGiro WajibCadangan / KreditKenaikanKenaikanTahunKasMinimumReserve u/ Swastadalam %dalam %ABCDcd19870.72.12.828.019880.71.11.838.9-363919891.01.62.660.9445719901.21.62.897.386019911.51.42.9117.5421Sumber: BI, Statistik Ekonomi Keuangan IndonesiaDari Tabel 3 tersebut di atas dapat diinterpretasikan bahwa sejakdiberlakukannya Pakto 1988, cadangan perbankan turun 36% dari Rp. 2,8 trilyun pada1987 menjadi hanya Rp. 1,8 trilyun pada 1988. Hal ini karena perbankan menarikcadangannya di BI sebanyak Rp. 1 trilyun untuk menambah sumber pendanaankreditnya. Oleh karena itu kredit perbankan untuk swasta naik tajam sebesar 39%dari Rp. 28,0 trilyun pada 1987 menjadi Rp. 38,9 trilyun pada 1988. Selama 1988-1991, cadangan mengalami peningkatan rata-rata 5% per tahun, yang jauh lebihrendah dibandingkan dengan kenaikan kredit untuk swasta yang mencapai kenaikanrata-rata 45% per tahun. Kenaikan kredit untuk swasta tersebut terus meningkatpesat terutama pada 1988-1990 yaitu sebesar 39% per tahun menjadi pada 1988menjadi 60% per tahun pada tahun 1990.Tetapi setelah adanya beberapa kasus yang dimulai dengan kasus runtuhnya BankSumma, kemudian kasus Bank Pacific dan Bank Arta Prima, mulai terlihat deregulasi(dan liberalisasi) di sektor perbankan ternyata mengundang ekses yang tidakdiinginkan. Meski demikian, Paket Pebruari pada Kabinet Pembangunan V yang lalu,sedikit banyak dapat mencegah ekses-ekses negatif ekspansi perbankan tersebut.Hanya saja, walaupun sudah ada UU Perbankan yang baru, serta UU Pasar Modal, tetapsaja terlihat perkembangan siklus sektor finansial mulai terasa ekspansif dengankecepatan dan volatility yang cukup mencemaskan. Ini berkaitan dengan sektorproperty yang banyak berhubungan dengan kredit perbankan, baik kepada calonpemilik rumah maupun kepada pengembang (developer). Begitu juga perkembangan yangcepat di sektor jasa, seperti leasing dan produk produk derivatif perbankan yangmenambah maraknya kehidupan sektor finansial, dan sekaligus menambah tingginyarisiko bisnis yang bergerak di sektor keuangan.Kondisi tersebut terus berlangsung hingga pertengahan tahun 1997 dan puncaknyaterjadi ketika otoritas moneter memperlebar intervention band BI dan bahkanmelepaskannya sama sekali sehingga nilai rupiah dibiarkan bebas mengambang (freefloating) terhadap dollar Amerika.Akibatnya nilai rupiah, selain juga dipengaruhi oleh faktor-faktor non ekonomimisalnya politik dll, merosot drastis, suku bunga pinjaman membubung tinggi danindeks harga saham gabungan maupun nilai kapitalisasi pasarnya anjlok takterbendung seperti terlihat pada Tabel 4.Hal ini membawa konsekuensi yang sangat tidak diinginkan baik oleh sektorpemerintah, sektor finansial sendiri maupun sektor riel. Dari sektor pemerintahterjadi gejolak dan terjadi krisis politik. Dari sektor finansial terjadipenghentian operasional puluhan bank sehingga sempat terjadi krisis kepercayaanterhadap dunia perbankan. Sektor riel juga merasakan penderitaan yang amatdahsyat, karena tidak ada lagi kredit yang terkucur baik untuk keperluan modalkerja (apalagi investasi) di dalam negeri maupun untuk menunjang ekspor. Hal inikarena L/C dari perbankan di Indonesia banyak ditolak di luar negeri. Padahalsebagian besar industri kita, termasuk industri otomotif, sebagian besarkomponennya masih harus diimpor dari luar negeri.Yang pasti merasakan dampaknya secara luas adalah masyarakat. Dengan terpuruknya

Activity (72)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Anwar Hidayat liked this
Pawit Setianto liked this
edyducation liked this
Devi Mutiara liked this
Djames Djamudin liked this
Febby Yolanda liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->