Tabel 3Kondisi Cadangan, Uang Kas dan GWM Perbankan 1987 -1991Dalam Trilyun RupiahUangGiro WajibCadangan / KreditKenaikanKenaikanTahunKasMinimumReserve u/ Swastadalam %dalam %ABCDcd19870.72.12.828.019880.71.11.838.9-363919891.01.62.660.9445719901.21.62.897.386019911.51.42.9117.5421Sumber: BI, Statistik Ekonomi Keuangan IndonesiaDari Tabel 3 tersebut di atas dapat diinterpretasikan bahwa sejakdiberlakukannya Pakto 1988, cadangan perbankan turun 36% dari Rp. 2,8 trilyun pada1987 menjadi hanya Rp. 1,8 trilyun pada 1988. Hal ini karena perbankan menarikcadangannya di BI sebanyak Rp. 1 trilyun untuk menambah sumber pendanaankreditnya. Oleh karena itu kredit perbankan untuk swasta naik tajam sebesar 39%dari Rp. 28,0 trilyun pada 1987 menjadi Rp. 38,9 trilyun pada 1988. Selama 1988-1991, cadangan mengalami peningkatan rata-rata 5% per tahun, yang jauh lebihrendah dibandingkan dengan kenaikan kredit untuk swasta yang mencapai kenaikanrata-rata 45% per tahun. Kenaikan kredit untuk swasta tersebut terus meningkatpesat terutama pada 1988-1990 yaitu sebesar 39% per tahun menjadi pada 1988menjadi 60% per tahun pada tahun 1990.Tetapi setelah adanya beberapa kasus yang dimulai dengan kasus runtuhnya BankSumma, kemudian kasus Bank Pacific dan Bank Arta Prima, mulai terlihat deregulasi(dan liberalisasi) di sektor perbankan ternyata mengundang ekses yang tidakdiinginkan. Meski demikian, Paket Pebruari pada Kabinet Pembangunan V yang lalu,sedikit banyak dapat mencegah ekses-ekses negatif ekspansi perbankan tersebut.Hanya saja, walaupun sudah ada UU Perbankan yang baru, serta UU Pasar Modal, tetapsaja terlihat perkembangan siklus sektor finansial mulai terasa ekspansif dengankecepatan dan volatility yang cukup mencemaskan. Ini berkaitan dengan sektorproperty yang banyak berhubungan dengan kredit perbankan, baik kepada calonpemilik rumah maupun kepada pengembang (developer). Begitu juga perkembangan yangcepat di sektor jasa, seperti leasing dan produk produk derivatif perbankan yangmenambah maraknya kehidupan sektor finansial, dan sekaligus menambah tingginyarisiko bisnis yang bergerak di sektor keuangan.Kondisi tersebut terus berlangsung hingga pertengahan tahun 1997 dan puncaknyaterjadi ketika otoritas moneter memperlebar intervention band BI dan bahkanmelepaskannya sama sekali sehingga nilai rupiah dibiarkan bebas mengambang (freefloating) terhadap dollar Amerika.Akibatnya nilai rupiah, selain juga dipengaruhi oleh faktor-faktor non ekonomimisalnya politik dll, merosot drastis, suku bunga pinjaman membubung tinggi danindeks harga saham gabungan maupun nilai kapitalisasi pasarnya anjlok takterbendung seperti terlihat pada Tabel 4.Hal ini membawa konsekuensi yang sangat tidak diinginkan baik oleh sektorpemerintah, sektor finansial sendiri maupun sektor riel. Dari sektor pemerintahterjadi gejolak dan terjadi krisis politik. Dari sektor finansial terjadipenghentian operasional puluhan bank sehingga sempat terjadi krisis kepercayaanterhadap dunia perbankan. Sektor riel juga merasakan penderitaan yang amatdahsyat, karena tidak ada lagi kredit yang terkucur baik untuk keperluan modalkerja (apalagi investasi) di dalam negeri maupun untuk menunjang ekspor. Hal inikarena L/C dari perbankan di Indonesia banyak ditolak di luar negeri. Padahalsebagian besar industri kita, termasuk industri otomotif, sebagian besarkomponennya masih harus diimpor dari luar negeri.Yang pasti merasakan dampaknya secara luas adalah masyarakat. Dengan terpuruknya