Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
1Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Ulasan Mengenai Majunya Jenderal (Purn.) Tni Djoko Santoso Untuk Ri 1 Periode 2014-2019

Ulasan Mengenai Majunya Jenderal (Purn.) Tni Djoko Santoso Untuk Ri 1 Periode 2014-2019

Ratings: (0)|Views: 103|Likes:
Published by Arif Rohman
Tulisan ini sengaja saya tulis karena merasa tergelitik menanggapi kesiapan Pak Djoko Santoso untuk maju sebagai calon presiden Republik Indonesia pada pemilu 2014. Saya juga minta maaf karena kesibukan saya selama kuliah PhD di Charles Sturt University Australia sehingga jarang menengok dan menulis di blog ini lagi. Tulisan ini dimaksudkan untuk para pembaca yang masih awam dengan sosok beliau dan memiliki rasa keingintahuan yang lebih terhadap pribadi beliau. Perkenalan saya dengan Pak Djoko Santoso dimulai pada tahun 2003 ketika saya masih kuliah S2 di Kajian Pengembangan Perkotaan UI.
Tulisan ini sengaja saya tulis karena merasa tergelitik menanggapi kesiapan Pak Djoko Santoso untuk maju sebagai calon presiden Republik Indonesia pada pemilu 2014. Saya juga minta maaf karena kesibukan saya selama kuliah PhD di Charles Sturt University Australia sehingga jarang menengok dan menulis di blog ini lagi. Tulisan ini dimaksudkan untuk para pembaca yang masih awam dengan sosok beliau dan memiliki rasa keingintahuan yang lebih terhadap pribadi beliau. Perkenalan saya dengan Pak Djoko Santoso dimulai pada tahun 2003 ketika saya masih kuliah S2 di Kajian Pengembangan Perkotaan UI.

More info:

Categories:Types, Reviews
Published by: Arif Rohman on May 27, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See More
See less

04/20/2014

pdf

text

original

 
1
ULASAN MENGENAI MAJUNYA JENDERAL (PURN.) TNI DJOKOSANTOSO UNTUK RI 1
Oleh : Arif Rohman 
 
Tulisan ini sengaja saya tulis karena merasa tergelitik menanggapi kesiapan Pak Djoko Santosountuk maju sebagai calon presiden Republik Indonesia pada pemilu 2014. Saya juga minta maaf karena kesibukan saya selama kuliah PhD di Charles Sturt University Australia sehingga jarangmenengok dan menulis di blog ini lagi.Tulisan ini dimaksudkan untuk para pembaca yang masih awam dengan sosok beliau danmemiliki rasa keingintahuan yang lebih terhadap pribadi beliau. Perkenalan saya dengan PakDjoko Santoso dimulai pada tahun 2003 ketika saya masih kuliah S2 di Kajian PengembanganPerkotaan UI.Pada waktu itu salah seorang dosen favorit saya semasa kuliah di Sekolah Tinggi KesejahteraanSosial (STKS) Bandung, sakit dan dirawat di Rumah Sakit Cipto Jakarta. Sebagai seseorang yangbaru satu dua tahun merantau di Jakarta tentu saja saya masih awam tentang prosedur rumahsakit dan segala tetek bengeknya.Pada waktu itu jam 11 pagi kita sampai di rumah sakit dan kebetulan saya yang menungguikarena kebetulan tidak ada kuliah. Dosen saya mengerang kesakitan sampai saya tidak tegamelihatnya. Hal yang membuat kami berdua jengkel pada waktu itu adalah perawat dan doktersudah menanyakan/mendiagnosis si sakit dengan serangkaian pertanyaan dan semua telahdijawab oleh dosen saya walaupun dengan merintih kesakitan. Anehnya, setelah itu beberapaorang (sepertinya mereka yang lagi koas) bolak-balik menanyakan hal yang sama berkali-kalitapi tanpa ada tindakan yang diambil sampai hari menjelang sore.Tentu saja saya khawatir banget karena keluarga beliau ada di Bandung. Karena sudah tidaktahan dengan rasa sakit dan tidak mendapat tindakan tapi justru ditanyai terus-terusan terangsaja saya jadi emosi. Kemudian saya bilang, Mas, beliau ini sakit dan sudah menahan sakit tapiditanya terus-terusan dengan pertanyaan yang sama sampai 4-5 kali dengan orang yangberbeda tanpa tindakan apapun. Mbok ya mikir dong. Koas sih boleh tapi kok caranyaserabutan kayak gini? Dosen saya kemudian bilang ke saya, ini uang Rp 100,000,- telpon nomorini.Namanya Djoko Santoso. Bilang adiknya sakit di RSCM. Dia Mayjen. Lagi latihan tempur diSukabumi?? Terus langsung saja saya cari wartel terdekat dan saya menelpon ke nomor
1
Arif Rohman is a Phd Scholar at Charles Sturt University, Australia. He can be reached atarohman@csu.edu.au.
 
2
tersebut. Yang menjawab ternyata masih muda dan saya langsung berpikir itu ajudannya. Sayabilang tolong disampaikan ke Pak Djoko Santoso kalau adiknya sedang sakit di RSCM dansampai sekarang belum ada tindakan.Saya juga menelpon untuk mengabari isteri dan keluarganya yang di Bandung. Tak berselangberapa lama, datanglah Pak Djoko Santoso dengan berpakaian dinas dan diapit dua ajudannya.Beliau berkata, belum sempat ganti baju karena langsung buru-buru ke RSCM begitu dapatkabar. Penampilan beliau low profile, ramah dan murah senyum. Dia memijiti dosen saya danberkata semoga ini hanya masuk angin biasa.Setelah itu beliau ganti baju batik dan kami ngobrol sambil menghibur si sakit. Kesan pertamasaya pada Pak Djoko Santoso adalah beliau tidak seperti bayangan saya tentang jenderal selamaini. Beliau baik dan merakyat. Setelah berbincang-bincang datanglah dokter dan perawat yangmemberitahukan kalau penyakitnya adalah usus buntu dan harus dioperasi. Kami akhirnyakeluar dan beliau mengajak saya cari makan. Coba tebak, kami berempat akhirnya makanindomie rebus di pinggir trotoar! Saya sih sudah biasa bahkan itu makanan saya sehari-harikarena teman-teman kuliah di UI bahkan menjuluki saya mahasiswa gelandangan karena hidupsaya yang serba pas-pasan dan saya kebetulan dibimbing oleh Alm. Professor Parsudi Suparlanyang memang ahli di bidang gelandangan.Tapi untuk seukuran jenderal? Bagi saya memang luar biasa. Saya pun bertanya, Lho pak,bukannya Bapak seorang jenderal? Apa tidak malu makan indomie di pinggir jalan kayak gini(maksudnya banyak debu). Beliau pun menjawab, Ahhh.... Sama saja. Makan di restoranmewah sama di pinggir jalan sama saja rasanya. Asal kita lapar akan terasa enak. Yangmembedakan suasananya saja. Kami pun mengobrol tentang kuliah saya di Bandung dan di UIsaat itu. Beliau bilang harus belajar yang tekun untuk meraih cita-cita.Saya bilang saya adalah mahasiswa terbaik STKS tahun 2000 tapi kenapa karier dan pekerjaansaya tidak sebagus teman-teman yang lain. Padahal kalau saya dapat pekerjaan yang baik, Ibusaya pasti akan senang dan saya bisa membahagiakan Ibu saya. Beliaupun berkata, dalam karierpasti ada naik turun. Beliau bilang kalau beliau sejatinya adalah lulusan terbaik Akabri tahun1975?? Tetapi dalam pejerjaan awalnya justru kesulitan dan dihina. Akhirnya beliaumemutuskan untuk tetap bekerja dengan baik dan membuktikan siapa yang nantinya akan jadiJenderal duluan.Akhirnya teman beliau masih letkol tapi beliau sudah brigjen. Kata beliau selagi saya rajin danbekerja dengan baik dan tekun belajar saya pasti bisa meraih apa yang saya cita-citakan.Obrolan singkat ini mengena di hati saya. Kita buktikan siapa yang Jenderal duluan. Aduhhh...Merinding gw... Kemudian kami masuk untuk melihat jalannya operasi. Sudah datang padawaktu itu adik perempuan Pak Djoko. Selama persiapan operasi, dosen saya sempat bercandakarena kaos dalamnya digunting dokter yang susah melepasnya karena ada selang infus. Gantiya dok? Dokter dan para perawat pun tertawa karena dalam kondisi seperti itu masih bisabercanda.
 
3
Akhirnya operasi dimulai. Pak Djoko pun sholat bersama ajudannya dan saya menunggubersama kakak perempuannya. Selama menunggu, iseng saya menghampiri seorang ibu-ibuyang duduk terpekur sambil menahan tangis. Ada apa Ibu? Kok sepertinya sedang menangis?Ibu itu sambil sesenggukan bilang kalau anak perempuannya korban penggusuran di daerahTanjung Priok lagi hamil dan jatuh dari tangga dan akhirnya keguguran.Karena tidak punya beaya akhirnya dia bawa ke dukun. Sama dukun dirogoh tapi ternyata adatangan bayi yang ketinggalan di dalam perut yang mengakibatkan rahimnya membusuk. Kalautidak segera dioperasi malam ini, dokter tidak menjamin keselamatannya. Terus kenapa Ibumenangis? Ternyata untuk bisa dioperasi harus membayar uang muka Rp 700,000,- dan Ibu itusepertinya tidak punya uang. Lha emang suaminya dimana? Itu... Di pojokan. Dia ga punya duit.Kerjaannya aja ngamen.Saya lihat ternyata suaminya masih muda banget. Masih anak-anak. Mungkin baru lulusan SMPatau seusia anak SMA. Terus gimana dong? Ibu itu malah menangis... Saya ingin membantu tapitidak punya uang. Akhirnya saya ceritakan ke kakak perempuan dosen saya. Kakak perempuandosen saya bilang, ceritakan sama Mas Djoko... Ceritakan sama Mas Djoko... Dia lagi sholat danhabis itu dia mau balik ke Sukabumi. Ceritakan sama Mas Djoko... Akhirnya Pak Djoko Santosodatang dengan seragam lengkap karena harus balik untuk latihan tempur di Sukabumi.Saya kemudian menceritakan tentang kisah Ibu yang ada di pojok ruangan sebelah. Adapunyang membuat saya kaget, terkejut dan merinding adalah setelah mendengar cerita saya, airmata beliau langsung jatuh bercucuran. Baru kali ini dalam hidup saya melihat seorang jenderalmenangis! Saya bisa melihat air mata beliau yang keluar secara spontan dan tidak dibuat-buatkarena di tempat itu hanya ada saya dan beliau. Mana Ibu itu? Itu pak di sana. Tanpa babibudan basa basi dikeluarkannya uang 700 ribu dari dompetnya dan dikasih ke Ibu itu. Ibu... Ini adasedikit uang untuk membantu biaya operasi anak Ibu... Terus Pak Djokonya turun tangga. Ibuyang menerima uang itu seperti orang yang kaget dan tidak sadar. Bapak itu siapa? Bapak itusiapa? Bapak itu siapa? Kenapa baik sama saya? Saya tidak kenal... Tidak sanak tidak kadangkenapa mau membantu saya? Ibu itu mengira yang ngasih dia uang itu mungkin seorangmalaikat.Kemudian saya menghampiri dan bilang kalau bapak yang ngasih uang itu namanya DjokoSantoso. Beliau adalah mayor jenderal. Terus Ibu itu pun menangis dan berkata, Bapak itusungguh baik sekali. Saya doakan semoga kariernya cepat naik. Semoga diberikan kemudahandan kelancaran kariernya. Saya pun bilang Amien. Terus saya ketemu dengan adikperempuannya lagi. Kata beliau, Mas Djoko memang orangnya lain. Dia suka bantu orang. Kami9 bersaudara dia yang tertua. Dan dia bilang akan ngemong/mengasuh kami semua sampai jadiorang (menikah dan dapat pekerjaan).Dia berjanji tidak akan menikah sebelum semua adik-adiknya mapan. Dan itu dia tepati. Begitusayangnya dia dengan keluarganya begitupun kami sayang sama Mas Djoko. Sehabis momentitu pun saya bilang pada diri saya. Orang ini orang hebat. Gila... Gw ketemu orang hebat. Orangini bener-bener orang hebat. Ada jenderal yang begitu sayang dengan keluarga, berkorban

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->