Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
2Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
KERANGKA ACUAN KERJA (KAK) SURVEI PENGEMBANGAN OBJEK WISATA, KABUPATEN TOLIKARA, PAPUA

KERANGKA ACUAN KERJA (KAK) SURVEI PENGEMBANGAN OBJEK WISATA, KABUPATEN TOLIKARA, PAPUA

Ratings: (0)|Views: 622|Likes:
Kabupaten Tolikara, yang juga merupakan bagian dari papua memiliki potensi pariwisata belum dikembangkan. Berdasarkan kajian dari rencana tata ruang wilayah Tolikara pada tahun 2012, Tolikara memiliki kawasan suakamargasatwa Memberamo-foja di sisi utara yang merupakan potensi utama alam yang dapat dijadikan sebagai kawasan penelitian, belajar dan sekaligus wisata. Selain itu ada wisata alam seperti air terjun dibeberapa distrik. Potensi topografi yang ekstrim di Tolikara pun dapat dijadikan potensi wisata adrenalin bagi pencinta alam (natural adventure tourism). Tidak hanya itu, potensi lain yang dapat dikembangkan adalah kawasan pertanian pangan yang terdapat di Bokondini, Kanggime dan Kembu sebagai kawasan wisata terpadu agro. Tidak hanya itu Tolikara juga memiliki catatan sejarah panjang dalam membuka ruangnya dari isolasi pembangunan budaya, sosial dan agama sejak tahun 1950 hal ini ditandai dengan banyaknya landmark keagaamaan dan kawasan keagamaan yang dijaga dan dirawat secara kelembagaan gereja.
Permasalahannya adalah Tolikara belum melakukan kajian yang mendalam terhadap objek dan kemampuan daya tarik dari berbagai potensi sehingga tidak ada profil objek wisata yang dapat dijadikan sebagai data untuk dikembangkan dan berimplikasi kepada tidak adanya program-program pemerintah Tolikara untuk mengembangkan objek wisata dan menjadi destinasi wisata terbaik di Wilayah Timur Indonesia. Oleh karena itu pekerjaan Survei Pengembangan Objek Wisata ini dilakukan dan diharapkan dapat dijadikan sebagai sebuah perangkat hukum daerah dalam pengelolaan pembangunan pariwisata di Tolikara.
Menurut Maryani (1991:11) syarat-syarat pengembangan pariwisata suatu objek wisata adalah 1. What to see, 2. What to do, 3 what to buy, 4 what to arrived, 5 what to stay. Dengan berpijak kepada 5 syarat tersebut diharapkan semua potensi objek dan destinasi wisata di Tolikara dapat disurvei dan dijadikan sebagai data/informasi induk pariwisata Tolikara, baik yang memiliki potensi secara alami maupun potensi yang membutuhkan dorongan kebijakan dari pemerintah Tolikara.
Kegiatan ini dilaksanakan oleh pihak ketiga (konsultan pariwisata) melalui dinas kebudayaan dan pariwisata pemerintah Tolikara.
Kabupaten Tolikara, yang juga merupakan bagian dari papua memiliki potensi pariwisata belum dikembangkan. Berdasarkan kajian dari rencana tata ruang wilayah Tolikara pada tahun 2012, Tolikara memiliki kawasan suakamargasatwa Memberamo-foja di sisi utara yang merupakan potensi utama alam yang dapat dijadikan sebagai kawasan penelitian, belajar dan sekaligus wisata. Selain itu ada wisata alam seperti air terjun dibeberapa distrik. Potensi topografi yang ekstrim di Tolikara pun dapat dijadikan potensi wisata adrenalin bagi pencinta alam (natural adventure tourism). Tidak hanya itu, potensi lain yang dapat dikembangkan adalah kawasan pertanian pangan yang terdapat di Bokondini, Kanggime dan Kembu sebagai kawasan wisata terpadu agro. Tidak hanya itu Tolikara juga memiliki catatan sejarah panjang dalam membuka ruangnya dari isolasi pembangunan budaya, sosial dan agama sejak tahun 1950 hal ini ditandai dengan banyaknya landmark keagaamaan dan kawasan keagamaan yang dijaga dan dirawat secara kelembagaan gereja.
Permasalahannya adalah Tolikara belum melakukan kajian yang mendalam terhadap objek dan kemampuan daya tarik dari berbagai potensi sehingga tidak ada profil objek wisata yang dapat dijadikan sebagai data untuk dikembangkan dan berimplikasi kepada tidak adanya program-program pemerintah Tolikara untuk mengembangkan objek wisata dan menjadi destinasi wisata terbaik di Wilayah Timur Indonesia. Oleh karena itu pekerjaan Survei Pengembangan Objek Wisata ini dilakukan dan diharapkan dapat dijadikan sebagai sebuah perangkat hukum daerah dalam pengelolaan pembangunan pariwisata di Tolikara.
Menurut Maryani (1991:11) syarat-syarat pengembangan pariwisata suatu objek wisata adalah 1. What to see, 2. What to do, 3 what to buy, 4 what to arrived, 5 what to stay. Dengan berpijak kepada 5 syarat tersebut diharapkan semua potensi objek dan destinasi wisata di Tolikara dapat disurvei dan dijadikan sebagai data/informasi induk pariwisata Tolikara, baik yang memiliki potensi secara alami maupun potensi yang membutuhkan dorongan kebijakan dari pemerintah Tolikara.
Kegiatan ini dilaksanakan oleh pihak ketiga (konsultan pariwisata) melalui dinas kebudayaan dan pariwisata pemerintah Tolikara.

More info:

Published by: Tiar Pandapotan Purba on May 27, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOC, TXT or read online from Scribd
See More
See less

08/31/2013

pdf

text

original

 
PEMERINTAH KABUPATEN TOLIKARADINAS KEBUDAYAAN DAN PARIWISATAKERANGKA ACUAN KERJA (KAK)SURVEI PENGEMBANGAN OBJEK WISATA, KABUPATEN TOLIKARA,PAPUATAHUN ANGGARAN 2013
 
Kerangka Acuan KerjaSurvei Pengembangan Objek Wisata di Tolikara
I.LATAR BELAKANG
Pariwisata memainkan peran kunci dalam pembangunan di Indonesia. Tahunlalu kontribusi pariwisata industry pariwisata terhadap PDB lebih dari 3 %(persen) dan jumlah pengunjung ke negara ini juga terus berkembang, sekitar 7(tujuh) juta pengunjung asing pada tahun 2010 dan lebih dari 122 jutawisatawan domestic pada tahun 2010.Di Provinsi Papua laju pertumbuhan ekonominya didominasi oleh sectorpertambangan dan galian yang mencapai 48.28% (dengan tambang),sedangkan jika tanpa tambang laju pertumbuhan ekonomi di papua mencapai23.19%. pertumbuhan ekonomi dari sector jasa termasuk didalamnya adalahpariwisata belum memiliki peranan kunci dalam pembangunan Papua.Kabupaten Tolikara, yang juga merupakan bagian dari papua memiliki potensipariwisata belum dikembangkan. Berdasarkan kajian dari rencana tata ruangwilayah Tolikara pada tahun 2012, Tolikara memiliki kawasan suakamargasatwaMemberamo-foja di sisi utara yang merupakan potensi utama alam yang dapatdijadikan sebagai kawasan penelitian, belajar dan sekaligus wisata. Selain ituada wisata alam seperti air terjun dibeberapa distrik. Potensi topografi yangekstrim di Tolikara pun dapat dijadikan potensi wisata adrenalin bagi pencintaalam (
natural adventure tourism)
. Tidak hanya itu, potensi lain yang dapatdikembangkan adalah kawasan pertanian pangan yang terdapat di Bokondini,Kanggime dan Kembu sebagai kawasan wisata terpadu agro. Tidak hanya itu Tolikara juga memiliki catatan sejarah panjang dalam membuka ruangnya dariisolasi pembangunan budaya, sosial dan agama sejak tahun 1950 hal iniditandai dengan banyaknya
landmark 
keagaamaan dan kawasan keagamaanyang dijaga dan dirawat secara kelembagaan gereja.Permasalahannya adalah Tolikara belum melakukan kajian yang mendalamterhadap objek dan kemampuan daya tarik dari berbagai potensi sehingga tidakada profil objek wisata yang dapat dijadikan sebagai data untuk dikembangkandan berimplikasi kepada tidak adanya program-program pemerintah Tolikarauntuk mengembangkan objek wisata dan menjadi destinasi wisata terbaik diWilayah Timur Indonesia. Oleh karena itu pekerjaan
Survei PengembanganObjek Wisata
ini dilakukan dan diharapkan dapat dijadikan sebagai sebuahperangkat hukum daerah dalam pengelolaan pembangunan pariwisata di Tolikara.Menurut Maryani (1991:11) syarat-syarat pengembangan pariwisata suatuobjek wisata adalah 1.
What to see,
2.
What to do
, 3
what to buy,
4
what toarrived
, 5
what to stay 
. Dengan berpijak kepada 5 syarat tersebut diharapkansemua potensi objek dan destinasi wisata di Tolikara dapat disurvei dandijadikan sebagai data/informasi induk pariwisata Tolikara, baik yang memilikipotensi secara alami maupun potensi yang membutuhkan dorongan kebijakandari pemerintah Tolikara.Kegiatan ini dilaksanakan oleh pihak ketiga (konsultan pariwisata) melalui dinaskebudayaan dan pariwisata pemerintah Tolikara.
hal. 2
 
Kerangka Acuan KerjaSurvei Pengembangan Objek Wisata di Tolikara
 
II.MAKSUD, TUJUAN & SASARANa)MAKSUD DAN TUJUAN
1)Menyusun data dan informasi potensi-potensi objek dan destinasiwisata didalam wilayah Tolikara yang kemudian dijadikan dokumeninduk data potensi objek dan destinasi pariwisata.2)Memberikan rekomendasi mengenai objek dan destinasi pariwisatayang dapat ditetapkan untuk segera dikembangkan oleh pemerintahdan atau dipasarkan untuk dikelola oleh investor.
b)SASARAN
Sasaran dari kegiatan
Survei Pengembangan Objek Wisata
antara lain :1)Tersajinya data dan informasi objek dan destinasi wisata yanglengkap.2)Teridentifikasinya potensi dan permasalahan setiap objek dandestinasi wisata.3)Teridentifikasinya kebutuhan pengembangan objek wisata.4)Terwujudnya keterpaduan program pembangunan antar kawasandalam wilayah kabupaten.5)Terciptanya percepatan investasi masyarakat dan swasta di dalamkawasan.6)Terkoordinasinya pembangunan kawasan antara pemerintah danmasyarakat/swasta.
III.DASAR HUKUM
Kegiatan
Survei Pengembangan Objek Wisata
, Kabupaten Tolikara
inididasarkan pada beberapa peraturan perundangan sebagai berikut:
1.Undang Undang No.5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber DayaAlam Hayati dan Ekosistemnya;
2.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1992 tentangBenda Cagar Budaya
3.
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Lingkungan Hidup
4.
Undang undang nomor 26 tahun 2002 tentang pembentukanKabupaten Sarmi, Kabupaten Keerom, Kabupaten Sorong Selatan,Kabupaten Raja Ampat, Kabupaten Pegunungan Bintang, Kabupaten
hal. 3

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->