Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
EFEKTIVITAS PELATIHAN PENGENDALIAN MASSA DI KEPOLISIAN RESOR (POLRES) TUBAN

EFEKTIVITAS PELATIHAN PENGENDALIAN MASSA DI KEPOLISIAN RESOR (POLRES) TUBAN

Ratings: (0)|Views: 68 |Likes:
Published by Alim Sumarno
Jurnal Online Universitas Negeri Surabaya, author : AYU RAHMAWATI CIPTONINGTYAS,
http://ejournal.unesa.ac.id
Jurnal Online Universitas Negeri Surabaya, author : AYU RAHMAWATI CIPTONINGTYAS,
http://ejournal.unesa.ac.id

More info:

Published by: Alim Sumarno on May 27, 2013
Copyright:Public Domain

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/05/2013

pdf

text

original

 
 1
EFEKTIVITAS PELATIHAN PENGENDALIAN MASSADI KEPOLISIAN RESOR (POLRES) TUBANAyu Rahmawati CiptoningtyasEva Hany FanidaABSTRAK
Berbagai fenomena aksi massa yang kerap terjadi di Indonesia mengisyaratkan bahwaperan Kepolisian dalam melindungi dan menjaga stabilitas keamanan sangat kurang. Hal tersebutdibuktikan saat terjadi unjuk rasa di berbagai kota besar dan daerah di Indonesia tidak terkecualiJawa Timur (Jatim). Polres Tuban yang berada dibawah Kepolisian Daerah (Polda) Jatim menjadisalah satu pihak yang pernah menjadi penanggungjawab kerusuhan politik massa pada tahun 2006silam. Belajar dari kejadian tersebut, pihak kepolisian melaksanakan pelatihan pengendalian massasesuai dengan Peraturan Kepala Kepolisian (Perkap) Nomor 16 Tahun 2006 tentang PedomanPengendalian Massa.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan sejauhmana efektivitaspelatihan pengendalian massa di Polres Tuban.Jenis penelitian ini menggunakan deskriptif kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini yaitu60 anggota Dalmas dan sampelnya 52 responden. Adapun teknik pengumpulan data yangdigunakan yaitu berasal dari sumber data primer melalui kuesioner dan observasi
nonparticipant 
 dan sumber data sekunder yaitu diperoleh dari literature serta arsip-arsip milik Polres Tuban.Teknik analisi data yang digunakan melalui pengolahan data yang terdiri dari
editing, coding, danscoring
. Selanjutnya dilakukan pengorganisasian data dengan cara menghitung jumlah skor itemkuesioner, membuat kelas interval serta menghitung skor jawaban dari responden. Hasil dariseluruh penghitungan berupa prosentase angka yang nantinya dinyatakan efektivitasnyaberdasarkan kelas interval, kemudian dideskripsikan.Hasil dari penelitian ini menyatakan bahwa hasil tiap dimensi pengukuran efektivitasmasing-masing ialah dimensi reaksi dan belajar termasuk pada kategori sangat efektif denganmencapai prosentase 84,32% dan 83,33%. Dimensi perilaku dan hasil termasuk pada kategoriefektif dengan mencapai prosentase 77,31% dan 75%. Dari keempat dimensi tersebut, dimensireaksi yang sangat berperan besar dalam pelaksanaan pelatihan karena mencapai skor tertinggi.Secara keseluruhan, pelatihan pengendalian massa di Polres Tuban dikategorikan sangat efektif dengan prosentase 82,94%. Hasil tersebut diperkuat dengan prestasi yang diraih oleh anggotaDalmas saat lomba Dalmas di Polda Jatim pada 2012 lalu dalam peringatan HUT Bhayangkara ke-66. Selain itu, kinerja Dalmas di lapangan juga baik terbukti Dalmas Polres Tuban dapat meredamaksi massa yang sempat ricuh pada November 2012 di Kantor Pemerintah Kabupaten Tuban.Kata kunci: Efektivitas, Pelatihan Pengendalian Massa
ABSTRACT
 Various mass action phenomenon that often occurs in Indonesia suggests that the role of police in protecting and maintaining security and stability is very less. This was evidenced during arally in major cities and regions in Indonesia is no exception East Java (Jatim). The District Police(Polres) is under The East Java Provincial Police (Polda) became one of the side who had beenresponsible for mass political unrest in 2006. Learning of the incident, the police carry out masscontrol training according to Police Chief Regulation (Perkap) No. 16 Year 2006 on Guidelines for
 
 
Mass Control. This study aimed to describe extent the effectiveness of mass control training inTuban.The type of research used descriptive quantitative. Populations of this study are 60personel of Dalmas and its sampels are 52 respondent. The techniques of data collection usedwere derived from the primary data source through nonparticipant observation andquestionnaires and secondary data sources are obtained from the literature and archivesbelonging District Police of Tuban. Techniques of data analysis used by the data processingconsists of editing, coding, and scoring. Organizing data is then performed by calculating the totalscore questionnaire items, make the grade intervals and calculates a score answers fromrespondents. The results of all calculations in the form of percentage figures based on classroomeffectiveness later stated intervals, then described.The results of this study stated that the results of measuring the effectiveness of eachdimension is the dimensions of reaction and learning, including the highly effective category byachieving percentage of 84.32% and 83.33%. Dimensions of behavior and outcomes, including theeffective category with 77.31% and the percentage reaches 75%. Of these four dimensions,dimension reactions play a huge role in the implementation of training for achieving the highestscore. Overall, mass control training in District Police of Tuban is very effective and categorized bypercentage of 82.94%. These results reinforced the achievements of members of mass controler(Dalmas) at race of Dalmas in East Java Provincial Police in 2012 that commemoration of the 66thanniversary of the Police. In addition, performance on the mass control area, Dalmas also well.That was proven Dalmas Tuban Police can reduce the mass action was chaos in November 2012 inthe Office of the Government of Tuban.Keywords: Effectiveness, Mass Control Training
PENDAHULUAN
Berbagai fenomena aksi massa kerapterjadi di Indonesia. Demonstrasi besar-besaran terjadi pada 12 Mei 1998 olehmahasiswa dari berbagai perguruan tinggi kegedung DPR/MPR(Dewan PerwakilanRakyat/Majelis Permusyawaratan Rakyat).Mereka menuntut Presiden Soeharto turundari jabatannya. Menurut Wikipedia.com parademonstran bentrok dengan pihak kepolisianhingga terdapat empat korban tewas danbeberapa lainnya luka-luka. Aksi massatersebut menjadi awal mula terjadinya aksi-aksi massa lainnya pasca era reformasi tahun1998 sampai sekarang.Aksi massa yang terjadi beberapa waktuterakhir yaitu unjuk rasa penolakan kenaikanBBM (Bahan Bakar Minyak) diantaranyademonstrasi yang dilakukan mahasiswa digedung DPR RI (Dewan Perwakilan RakyatRepublik Indonesia) pada Maret 2012. Tidakhanya itu, aksi unjuk rasa terkait penolakanBBM juga terjadi di Stasiun Gambir, JakartaPusat (27 Maret 2012). Para pengunjuk rasamemadati jalan menyuarakan penolakan atasrencana pemerintah menaikkan harga BBM per1 April 2012. Menurut ketua Indonesia PoliceWatch (IPW), aparat kepolisian telahmenghalang-halangi dan merampas kamerawartawan media cetak juga elektronik yangmeliput aksi demo mahasiswa. Selain diJakarta, unjuk rasa juga terjadi di Semarang.Gelombang aksi unjuk rasa penolakan kenaikanbahan bakar minyak datang silih berganti darimahasiswa hingga partai politik di depanKantor DPRD (Dewan Perwakilan RakyatDaerah) Jawa Tengah (27 Maret 2012).Kejadian serupa pun terjadi di Kota Bandungtepatnya di depan kantor Gubernuran JawaBarat. Ribuan mahasiswa dan buruh melakukanaksi unjuk rasa menentang kenaikan hargaBBM. Aksi di kota Bandung itu berakhir ricuhsetelah aparat kepolisian melakukan tindakanrepresif.
 
 3
Beberapa kejadian tersebutmenggambarkan bahwa peran kepolisiansebagai pelindung sekaligus pengayommasyarakat belum sepenuhnya dapatterlaksana. Padahal, sesuai dengan pasal 5 ayat1 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia
menyatakan “Kepolisian Negara Republik
Indonesia merupakan alat negara yangberperan dalam memelihara keamanan danketertiban masyarakat, menegakkan hukum,serta memberikan perlindungan, pengayoman,dan pelayanan kepada masyarakat dalamrangka terpeliharanya keamanan dalam
negeri”.
 Sesuai Undang-Undang Nomor 2 Tahun2002 tentang Kepolisian Negara RepublikIndonesia pasal 2, Kepolisian RepublikIndonesia (Polri) mempunyai fungsi untukpemeliharaan keamanan dan ketertibanmasyarakat, penegakan hukum, perlindungan,pengayoman, dan pelayanan kepadamasyarakat.Sesuai ketentuan Undang-UndangNomor 2 Tahun 2002 tentang KepolisianNegara Republik Indonesia, Polri mengembantugas yang kompleks dalam menciptakanNegara yang aman serta tertib. Namun, padaprakteknya kepolisian seringkali terbawaamarah dan mungkin kalah dengan berbagaiaksi yang dilakukan oleh massa pendemo. Halini juga pernah terjadi di kawasan Jawa Timur(Jatim). Unjuk rasa anarkis terkait denganpolitik massa dan sempat menjadiperbincangan pada pertengahan tahun 2006yaitu di Tuban, Jatim. Dari 18 Pilkada di JawaTimur, hanya di Kabupaten Tuban yangmengalami kerusuhan (Rahmadiana, 2007).Peristiwa itu kemudian menjadi sorotan mediamassa untuk dijadikan berita saat itu.Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada)adalah salah satu proses perwujudan dariotonomi daerah, dimana masyarakat belajaruntuk berdemokrasi dengan memilih langsungkepala daerahnya sendiri. Namun, prosesPilkada Kabupaten Tuban ini diwarnaikerusuhan setelah beberapa hari kemudian.Massa yang mengatasnamakan AliansiMasyarakat Tuban Peduli melakukandemonstrasi ketidakpuasan hasil KomisiPemilihan Umum (KPU) di depan kantor DewanPerwakilan Cabang (DPC) Partai KebangkitanBangsa (PKB) Tuban di Jalan dr. Wahidin pada29 April 2006. Saat kejadian, massa melakukanperusakan dan pembakaran gedung KPUbeserta isinya, hotel, dan kediaman bupatiyang terpilih dalam Pilkada kala itu. KesatuanPengendali Massa (Dalmas) Polres Tubanmenghadang dengan bentangan pagar kawatberduri saat itu sama sekali tidak dipedulikanoleh massa.Beberapa kejadian diatasmenggambarkan bahwa era reformasimemberikan kelonggaran untuk masyarakatIndonesia dalam melakukan aksi massa. Pihakkepolisian sudah seharusnya melakukanperbaikan dalam tubuh organisasinya agarterciptanya suasana aman dan kondusif bukanhanya angan-angan Negara Demokrasi.Perbaikan tersebut harus dilakukan semuakesatuan Polri seluruh wilayah di Indonesia,termasuk Kabupaten Tuban yang mempunyai
track record 
aksi massa anarkis pada politikmassa 2006. Untuk mencapai hal tersebutmaka diperlukan suatu pelatihan.Pelatihan merupakan suatu kegiatanyang bertujuan untuk meningkatkan,pengetahuan, keterampilan dan penyesuaiansikap seseorang terhadap tugas-tugas yangditangani. Pelatihan biasanya diberikan kepadasekelompok orang untuk kepentinganorganisasi, baik organisasi pemerintah maupunorganisasi swasta. Pemahaman organisasi dariaspek realitas, bahwa organisasi merupakankumpulan beberapa orang yang memilikikepentingan dan tujuan yang sama, sertabersedia bekerja bersama-sama dalammemenuhi harapan mereka. Pemahamantersebut mengandung konsekuensi logis bahwakepentingan dan tujuan mereka akan tercapaimanakala kinerja dari sumberdaya manusiayang ada cukup memadai. Kinerja yangmemadai membutuhkan komitmen yang kuatterhadap kepentingan organisasi dan akan

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->