Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Menjadi Caleg Dalam Sistem Demokrasi

Menjadi Caleg Dalam Sistem Demokrasi

Ratings: (0)|Views: 1|Likes:
Published by Rizky M Faisal

More info:

Published by: Rizky M Faisal on May 27, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/22/2014

pdf

text

original

 
27/05/13Menjadi Caleg dalam Sistem Demokrasi « Konsultasi Islamkonsultasi.wordpress.com/2013/05/24/menjadi-caleg-dalam-sistem-demokrasi/1/7
Konsultasi Islam
Mengatasi Masalah dengan SyariahMenjadi Caleg dalam Sistem Demokrasi
Posted by Farid Ma'ruf pada 24 Mei 2013
Pertanyaan :
Apa hukum menjadi anggota legislatif dalam sistem demokrasi?
Jawaban :Pendahuluan
Sistem demokrasi dirumuskan sebagai reaksi terhadap kekuasaan tunggal yang memusat pada rajaatau kaesar, yang diklaim sebagai wakil tuhan. Kekuasaan yang akhirnya menjadi korup. Karena itu,muncullah pandangan tentangsparating of power (pemisahan kekuasaan). Dari sinilah, makakonsep trias politica Montesque itu lahir.Legislatif, eksekutif dan yudikatif sebagai representasi kekuasaan dipisahkan satu sama lain, sehinggamasing-masing bersifat independen. Dengan klaim, bahwa semuanya merupakan kekuasaan rakyat.Sehingga memunculkan klaim, bahwa demokrasi adalah sistem pemerintahan dari rakyat, oleh rakyatdan untuk rakyat. Namun, ternyata semuanya itu hanyalah klaim kosong. Karena terbukti, rakyattidak pernah memerintah. Demikian juga kebijakan pemerintah senyatanya juga tidak berpihakkepada rakyat.Akibatnya, tingkat partisipasi rakyat dalam pemilu pun terjun bebas. Padahal, pemilu diklaim sebagaimedium rakyat dalam menentukan nasib mereka, melalui representasi pemerintahan yang merekapilih. Menurunnya tingkat kepercayaan publik, dan minimnya partisipasi mereka dalam pemilu, iniselain karena tidak adanya bukti yang sahih, bahwa pemilu ini bisa mengubah nasib mereka. Juga,karena baik partai maupun calon-calon pemimpin yang tampil sebagai representasi rakyat itu sudah jatuh di mata mereka, baik karena korupsi dan moral hazard yang lainnya. 
 
27/05/13Menjadi Caleg dalam Sistem Demokrasi « Konsultasi Islamkonsultasi.wordpress.com/2013/05/24/menjadi-caleg-dalam-sistem-demokrasi/2/7
Tak terkecuali dengan partai Islam, partai yang mengklaim Islam, atau berbasis massa Islam.Termasuk barisan politikus berlabel kyai, ustadz dan sebagainya. Meski demikian, dalam situasi dankondisi seperti ini, masih saja ada yang mencoba peruntungan. Siapa tahu, bernasib baik. Namun,disadari atau tidak, sistem demokrasi, parlemen dan habitatnya bukanlah tempat yang baik, bahkan berlumuran noda dan najis.
Demokrasi dan Pemilu
Tidak ada demokrasi tanpa pemilu. Karena pemilu merupakan stempel demokrasi.Sementara itu, sikap ideologis terhadap pemilu mengharuskan kita, pertama-tama harus memahamifakta pemilu itu sendiri, agar kita tahu hukum syara’ yang terkait dengan pemilu ini.Sistem demokrasi berdiri di atas dua pilar, yaitu: kedaulatan di tangan rakyat dan rakyat sebagaisumber kekuasaan.
Pilar pertama
 , dan ini yang terpenting, bahwa yang berhak dalam membuathukum dan perundang-undangan yang digunakan negara mengurus urusan rakyat adalah rakyat itusendiri.
Pilar kedua
 , rakyat juga dijadikan sebagai pemilik hak dalam memilih penguasa, memonitordan mengoreksinya bahkan mencopotnya dalam sebagian sistemasi.Karena rakyat tidak mungkin melakukan peran ini secara langsung, kecuali pemilu kepala negaradalam banyak sistem, maka sistem ini menetapkan, bahwa rakyat mewakilkan kepada wakil-wakilyang mereka pilih untuk melaksanakan wewenang tersebut. Jadilah, parlemen sebagai wakil rakyatdalam hal legislasi dan penetapan perundang-undangan yang disebut sebagai kekuasaan legislatif.Demikian pula parlemen mewakili rakyat dalam memonitor dan mengoreksi kekuasaan eksekutif.Dalam sebagian sistem, parlemen mewakili rakyat dalam memilih kepala negara.Inilah sistem yang oleh sebagian pihak dinilai sebagai sistem modern yang dijalankan oleh banyak bangsa dan umat sebagai metode termodern yang berhasil dicapai umat manusia untuk melangsungankehidupan politik, yaitu kehidupan masyarakat, negara dan pembuatan hukum. Berkembang danditerapkannya sistem ini di seluruh negara di dunia, baik secara formalis maupun riil, tidak lebihkarena dominasi peradaban Barat yang telah menyerang umat Islam sejak dua abad lalu. Merekayang diserang peradaban tersebut dengan berbagai pemikiran dan sistemnya adalah dunia Islam,termasuk negeri Indonesia.
Islam dan Pemilu
Adapun sistem yang dijadikan pedoman umat Islam karena telah diwajibkan kepada mereka olehkeimanan mereka kepada akidah Islam, sesungguhnya sistem tersebut berbeda dengan sistemdemokrasi di atas, baik dari aspek akidah Islam, maupun pilar yang menjadi pondasi tegaknya sistemdan rinciannya.Pilar terpenting yang menjadi pondasi sistem pemerintahan Islam adalah kedaulatan di tangan syara’.Pilar ini dinyatakan oleh ayat-ayat al-Qur’an yang bersifat qath’i ad-dalâlah. Sebagaimana firmanAllah: 
І І І
 
 
27/05/13Menjadi Caleg dalam Sistem Demokrasi « Konsultasi Islamkonsultasi.wordpress.com/2013/05/24/menjadi-caleg-dalam-sistem-demokrasi/3/7
 “Keputusan (hukum) itu hanyalah kepunyaan Allah.”
(Q.s. Yûsuf [12]: 40)
Keputusan di sini maknanya adalah tasyrî’ (legislasi), yaitu perintah, larangan dan kemubahan. Bukandalam konteks kekuasaan dan pelaksanaan politik. Allah juga berfirman: 
І І ІІ І І
 
І І
“Siapa saja yang tidak menghukumi dengan apa yang telah diturunkan oleh Allah maka ia termasukorang-orang yang kafir.”
(Q.s. al-Mâidah [5]: 44)
 
 ﯾІ І І І І
 
ﯾІ
 
І
 
І ІІ І І І І І І І І І
 
І І
 “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “Inihalal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung.”
(Q.s. an-Nahl [16]:116)
 Masih banyak ayat yang lain. Semuanya menunjukkan makna yang sama. Dengan begitu di dalamsistem Islam tidak ada yang namanya kekuasaan legislatif, sebagaimana dalam sistem demokrasi yangsedang diterapkan (secara formal) di sebagian besar dunia Islam. Tetapi sumber legislasi dalam sistemIslam adalah nash-nash al-Quran dan as-Sunnah, dan penggalian (istinbath)-nya yang dilakukan olehpara mujtahid.Hak mengadopsi hukum yang bersifat ijtihadi yang di dalamnya para mujtahid berbeda pendapatadalak wewenang kepala negara yang dipilih oleh umat sebagai wakil mereka dalam menerapkansistem Islam dan mengurusi urusan mereka. Kepala negara berpijak kepada ijtihad yang dipandangpaling kuat dalilnya, yang dituntut oleh kewajiban mengurus urusan umat. Ini berdasarkan firmanAllah: 
І І ІІ
 
ﯿ І
 
 І ﯿ
 
 “Taatilah Allah dan taatilah Rasul, dan ulil amri dari kalian.”
(Q.s. an-Nisâ [4]: 59)
Berdasarkan hal itu, dalam sistem Islam, majelis umat yang mewakili rakyat, tidak memiliki apa yangdisebut kekuasaan legislatif. Karena kedaulatan dalam Negara Khilafah ada di tangan syara’. Kepalanegara, Khalifah, adalah pihak yang diberi wewenang untuk mengadopsi hukum syara’ dan undang-undang yang bersifat administratif yang menjadi tuntutan dalam mengurus urusan rakyat.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->