Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
14Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Solusi Cara Mendidik Anak

Solusi Cara Mendidik Anak

Ratings:

4.0

(1)
|Views: 2,011 |Likes:
Published by bangmoody401
Sedikit cuplikan dari sebuah artikel tentang psikologi membesarkan anak, apa yang harus dan apa yang tidak boleh kita lakukan sebagai orang tua
Sedikit cuplikan dari sebuah artikel tentang psikologi membesarkan anak, apa yang harus dan apa yang tidak boleh kita lakukan sebagai orang tua

More info:

Published by: bangmoody401 on Apr 21, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/30/2012

pdf

text

original

 
Assalamu'alaikum Wr.Wb.Ini adalah PR saya yang tertunda tentang sharing buku yang telah saya baca yang berjudul 37Kebiasaan Orang Tua yang Menghasilkan Perilaku Buruk pada Anak, karya Ayah Edy, terbitanGrasindo. Saya merasa buku ini perlu dibaca, dipahami, lalu dicoba diaplikasikan dalam mendidik anak2 kita. Bisa juga kita adaptasikan pada balita, sejak dini. Tentu saja dalam hal ini kita tidak akanmelihat hasil dalam waktu dekat atau dalam waktu singkat, apalagi terhadap balita. Yang terpentingadalah kontinyuitas, jangan pernah nyerah dan bosan. Dalam hal ini kita berikhtiar, fokus pada proses, hasilnya nanti bagaimana, kita serahkan pada Allah.Karena tidak memungkinkan saya menulis ke 37 kebiasaan tersebut, maka hanya beberapa saja yangsaya sajikan. Ada yang saya kutip semua ada pula yang saya ringkas. Saya menuliskan kembali dariawal agar tidak terpotong2, so para pembaca yang tertarik akan membacanya sampai tuntas. Berikutadalah kebiasaan2 tersebut. SEMOGA BERMANFAAT.1.
Raja yang Tak Pernah Salah
Sewaktu anak kita masih kecil dan belajar jalan tidak jarang tanpa sengaja mereka menabrak kursiatau meja. Lalu mereka menangis. Umumnya, yang dilakukan oleh orang tua supaya tangisan anak  berhenti adalah dengan memukul kursi atau meja yang tanpa sengaja mereka tabrak. Sambilmengatakan, "Siapa yang nakal ya? Ini sudah Papa/Mama pukul kursi/mejanya...sudahcup....cup...diem ya..Akhirnya si anak pun terdiam.Ketika proses pemukulan terhadap benda benda yang mereka tabrak terjadi, sebenarnya kita telahmengajarkan kepada anak kita bahwa ia tidak pernah bersalah. Yang salah orang atau benda lain.Pemikiran ini akan terus terbawa hingga ia dewasa. Akibatnya, setiap ia mengalami suatu peristiwadan terjadi suatu kekeliruan, maka yang keliru atau salah adalah orang lain, dan dirinya selalu benar.Akibat lebih lanjut, yang pantas untuk diberi peringatan sanksi, atau hukuman adalah orang lainyang tidak melakukan suatu kekeliruan atau kesalahan.Kita sebagai orang tua baru menyadari hal tersebut ketika si anak sudah mulai melawan pada kita.Perilaku melawan ini terbangun sejak kecil karena tanpa sadar kita telah mengajarkan untuk tidak  pernah merasa bersalah.Lalu, apa yang sebaiknya kita lakukan ketika si anak yang baru berjalan menabrak sesuatu sehinggamembuatnya menangis? Yang sebaiknya kita lakukan adalah ajarilah ia untuk bertanggung jawabatas apa yang terjadi; katakanlah padanya (sambil mengusap bagian yang menurutnya terasa sakit): "Sayang, kamu terbentur ya. Sakit ya? Lain kali hati-hati ya, jalannya pelan-pelan saja dulu supayatidak membentur lagi."
 
2.
"Berbohong Kecil
Awalnya anak-anak kita adalah anak yang selalu mendengarkan kata-kata orang tuanya, Mengapa?KArena mereka percaya sepenuhnya pada orang tuanya. Namun, ketika anak beranjak besar, iasudah tidak menuruti perkataan atau permintaan kita? Apa yang terjadi? Apakah anak kita sudahtidak percaya lagi dengan perkataan atau ucapan-ucapan kita lagi?Tanpa sadar kita sebagai orang tua setiap hari sering membohongi anak untuk menghindarikeinginannya. Salah satu contoh pada saat kita terburu-buru pergi ke kantor di pagi hari, anak kitameminta ikut atau mengajak berkeliling perumahan. Apa yang kita lakukan? Apakah kitamenjelaskannya dengan kalimat yang jujur? Atau kita lebih memilih berbohong dengan mengalihkan perhatian si kecil ke tempat lain, setelah itu kita buru-buru pergi? Atau yang ekstrem kitamengatakan, "Papa/Mama hanya sebentar kok, hanya ke depan saja ya, sebentaaaar saja ya, Sayang."Tapi ternyata, kita pulang malam. Contah lain yang sering kita lakukan ketika kita sedang menyuapimakan anak kita, "Kalo maemnya susah, nanti Papa?Mama tidak ajak jalan-jalan loh." Padahalsecara logika antara jalan-jalan dan cara/pola makan anak, tidak ada hubungannya sama sekali.Dari beberapa contah di atas, jika kita berbohong ringan atau sering kita istilahkan "bohong kecil",dampaknya ternyata besar. Anak tidak percaya lagi dengan kita sebagai orang tua. Anak tidak dapatmembedakan pernyataan kita yang bisa dipercaya atau tidak. akibat lebih lanjut, anak menganggapsemua yang diucapkan oleh orang tuanya itu selalu bohong, anak mulai tidak menuruti segala perkataan kita.
Apa yang sebaiknya kita lakukan?
Berkatalah dengan jujur kepada anak. Ungkapkan dengan penuh kasih dan pengertian:"Sayang, Papa/Mama mau pergi ke kantor. Kamu tidak bisa ikut. Tapi kalo Papa/Mama ke kebun binatang, kamu bisa ikut."Kita tak perlu merasa khawatir dan menjadi terburu-buru dengan keadaan ini. Pastinyamembutuhkan waktu lebih untuk memberi pengertian kepada anak karena biasanya merekamenangis. Anak menangis karena ia belum memahami keadaan mengapa orang tuanya harus selalu pergi di pagi hari. Kita harus bersabar dan lakukan pengertian kepada mereka secara terus menerus.Perlahan anak akan memahami keadaan mengapa orang tuanya selalu pergi di pagi hari dan bila pergi bekerja, anak tidak bisa ikut. Sebaliknya bila pergi ke tempat selain kantor, anak pasti diajak orang tuanya.
 Pastikan kita selalu jujur dalam mengatakan sesuatu. Anak akan mampumemahami yang kita katakan dan menuruti yang kita katakan.
====
 
3.
"Banyak Mengancam"
"Adik, jangan naik ke atas meja! nanti jatuh dan nggak ada yang mau menolong!""Jangan ganggu adik,nanti MAma/Papa marah!"Dari sisi anak pernyataan yang sifatnya melarang atau perintah dan dilakukan dengan cara berteriak 
tanpa kita beranjak dari tempat duduk atau tanpa kita menghentikan suatu aktivitas
, pernyataanitu sudah termasuk ancaman. Terlebih ada kalimat tambahan "....nanti Mama/Papa marah!"Seorang anak adalah makhluk yang sangat pandai dalam mempelajari pola orang tuanya; dia tidak hanya bisa mengetahui pola orang tuanya mendidik, tapi dapat membelokkan pola atau malahmengendalikan pola orang tuanya.
 Hal ini terjadi bila kita sering menggunakan ancaman dengankata-kata,namun setelah itu tidak ada tindak lanjut atau mungkin kita sudah lupa denganancaman-ancaman yang pernah kita ucapkan
Apa yang sebaiknya kita lakukan?
Kita tidak perlu berteriak-teriak seperti itu. Dekati si anak, hadapkan seluruh tubuh dan perhatiankita padanya. tatap matanya dengan lembut, namum perlihatkan ekspresi kita tidak senang dengantindakan yang mereka lakukan. Sikap itu juga dipertegas dengan kata-kata, "Sayang, Papa/Mamamohon supaya kamu boleh meminjamkan mainan ini pada adikmu. Papa/Mama akan makin sayangsama kamu." Tidak perlu dengan ancaman atau teriaka-teriakan. Atau kita bisa juga menyatakansuatu pernyataan yang menjelaskan suatu konsekuensi, misal "Sayang, bila kamu tidak meminjamkan mainan in ke adikmu,Papa/Mama akan menyimpan mainan ini dan kalian berduatidak bisa bermain. MAinan akan Papa/Mama keluarkan, bila kamu mau pinjamkan mainan itu keadikmu.
Tepati pernyataan kita dengan tindakan.
4.
"Mengajari Anak untuk Membalas
Sebagian anak ada yang memiliki kecenderungan suka memukul dan sebagian lagi menjdai objek  penderita dengan lebih banyak menerima pukulan dari rekan sebayanya. Sebagian orang tua biasanya tidak sabar melihat anak kita disakiti dan memprovokasi anak kita unutuk membalasnya.Hal ini secara tidak langsung
mengajari
anak 
balas dendam
. Sebab pada saat itu emosi anak sedang sensitif dan apa yang kita ajarkan saat itu akan membekas. Jangan kaget bila anak kita seringmembalas atau membalikkan apa yang kita sampaikan kepadanya.

Activity (14)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Ajir Muhajir liked this
Didoth Purnomo liked this
Randy Zulkarnain liked this
Aam Maryati liked this
rahmat putra liked this
ayahjundi liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->