• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • 2
    CommentGo Back
Download
 
Srikandi Dusun Sriti
 Rengget Dyaloka
Sayup temaram lampu teplok membentuk bayang-bayang dua orang yang sedangkasmaran. Mereka saling terhunus panah-asmara yang kemudian menjadikannya se
 sukma
. Gadisitu. Pemuda itu. Saling beradu-pandang malu-malu. Sedikit-sedikit sang pemuda menyibak rupaayu terselambu pekat rambut menghutan milik gadisnya. Rupa yang begitu menggairahkan,menyulut rasa
tresna-asih
1
. Si gadis malu-malu dibuatnya, ia menundukkan parasnya dalam bayang-malam. Takut mencelakai, jangan-jangan menimbulkan harap menggebu yang tiadatercapai. Mungkin. Terlalu banyak rupa ayu yang menyebabkan celaka semisal Ken Dedes yangmembuat Ken Arok terkutuk, Dyah Pitaloka yang membikin Hayam Wuruk jatuh hati kemudianmenimbulkan Perang, dan masih banyak hikayat lainnya. Benar-benar serupa kutukan-anugerahyang tak bisa dikenali selain dialami.“Tegakkan, Dinda..” bisik sang pemuda ditelinga kekasihnya, pelan namun pasti, sanggadis menuruti dan lamat-lamat menampakkan rupa ayunya berhadap dengan yang dikasihi, pemuda itu.“Kamu memang ayu, Sri,” kemudian dikecupnya kening sang gadis mesra. Kali ini Srimakin bersemu, malu. Ia menundukkan parasnya lagi, menyembunyikan rona wajahnya yangmemerah bak buah ranum. Toh, ruangan sedang temaram, sebenarnya, tidak menundukpunrupanya juga tak terlihat, tapi yang namanya gadis memang tampak 
nggemesaké 
2
  jika sedangmalu begitu.
 Loo
…Jangan malu begitu,
tho
,”Si gadis tampak tak mempedulikan, ia tetap menunduk.“Sri..”“Ah, kakang…”Dicubitnya dada-terbuka milik kakangmas nya itu pelan. Sri menunduk lagi.“Sudahlah, Sri, jangan malu-malu begitu, nanti dikecup lagi
loo
..” Goda Panji sambilmembelai-belai rambut Sri.“Ah, kakang…” Dicubitnya lagi dada Panji, kali ini lebih keras. Gemas.“Aduh, sakit
tho
,”
1
kasih-sayang
2
menggemaskan
 
Sri tertawa kecil.Panji tersenyum simpul, kemudian dipeluknya si gadis erat. ERAT.*Terasa dalam gembungan dada membesar yang kemudian menciut— mengembus gelisah,Panji tampak tak tenang. Sri juga merasakan. Raut wajahnya berubah cemas. Kedua kekasih itusaling berkontemplasi tanpa harus berbicara satu sama lain. Mereka sedang memikirkan hal-halyang mungkin sama, mungkin juga tidak. Dalam diam mereka bersapa.Diembuskan lagi desah gelisah, dan raut tertekuk itu juga menampak.Mereka sedang cemas.Atau…..Mereka saling cemas.Mencemaskan hal yang sama, mungkin. Atau jangan-jangan berbeda. Entah. Panji danSri masih terdiam, namun mereka masih saling-berpeluk, mencoba menyeimbangkan irama jantung dan siapa tahu dapat menenangkan pikiran masing-masing.Entah.“Sri…”“Iya, Mas…”Kemudian terdiam lagi.Bayang-bayang mereka tampak menari-nari mengikuti kelebat lampu yang menerangi bilik kecil itu.
Sang Bayu
rupanya berhasrat mengintip kekasih yang sedang dilanda asmara—  juga galau itu dengan menggangu kelebat lampu. Bayang-bayang terlihat senang-senang saja,tapi para kekasih tampak mengerutkan roman mukanya. Kemudian
Sang Bayu
beranjak danmeninggalkan hening yang lebih membisu. Tanpa tarian bayang-bayang, tanpa embusanmenyejukkan. Hening. Sehening-heningnya.“Hhhh…Sri, andai saja……….”“Kakang……..”Mata mereka saling terpejam, Panji makin mempererat pelukan.“Jadi bagaimana Bapakmu, Sri?”Sri terdiam.
 
Perlahan, hangat-
luh
3
merembes-deras hingga menyesakkan dada. Bahunya terguncangkecil, jiwanya mengharap tak labil.“Sudah, sudah, jangan dipikirkan.” Panji mengelus-sayang Sri Bestari, gadisnya,kasihnya, orang yang teramat berarti dalam hidupnya. Sri mengangguk perlahan, namun bahunyamasih terguncang. Ia banyak memikirkan hal-hal menyangkut mereka.“Kabarnya Bapak mencari-cariku, Mas, dan hendak membunuhmu juga,”Mulai timbul segurat senyum Panji Satriyo, ia tak menampakkan gentar seujung kukupunmenghadapi Bapak Sri demi bebenang takdir yang sedang mereka sulam.“Yah, aku paham,”Sri memandangi kekasihnya itu dengan
asih
, andai saja ada kesempatan menjalani hidup bersama Panji tanpa restu Bapaknya, tentu Sri tidak cemas begini, Panji tidak murung begini.***“Hoeeeh! Bebengeeeek!!” Mandor meneriaki anak buahnya, Bengek, yang kala ituterlihat sangat jauh dari pematang garapannya. Bengek yang sedang
 gendakan
4
 dengan penggarap sawah lainnya, Maimunah, seketika terbata-bata lalu meluncur kembali ke pematangnya.“Hiyoooh,
ngapunten
5
, Ndor, tadi mau minjem pacul,” kilahnya. Si Mandor melintir-lintir kumisnya yang serba-lebat hingga membentuk ujung rucing seperti hendak dipakai untuk menghunus Bengek dengan
tajam
nya. Bengek 
 gemeteran
. Mandor masih melotot.
 Paculmu’a
???!! Minjem! Minjem! Dipikir aku percaya apa?
Wong yo gendakan,ngunu
!” Bentak Si Mandor dengan kumis melintir runcing dan dada membusung tinggi.Terdengar napasnya yang —kemudian— ngos-ngosan setelah meluapkan amarah. Dia menderitadarah tinggi.“Sabaaar, Ndor…Sabar…” Bengek mengelus-elus dada-busung Mandornya yangseketika ditepis.“Kurang ajar,
 Kowe
!”
3
airmata
4
berpacaran
5
maaf (sopan)
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...

lnjuuttttt.... masih blom seru klo sgini... msh preambule duank... kesannya lucu

ini belum kelar, nanti dilanjutkan lagi :P

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...