Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
21Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
- Buku Poligami Solutif - Razuardy El Ebrahem (Fadlisyah)

- Buku Poligami Solutif - Razuardy El Ebrahem (Fadlisyah)

Ratings:

4.86

(7)
|Views: 5,341|Likes:
Published by Fadlisyah, S.Si
Razuardi El-Ebrahem, pria kelahiran 9 Desember 1961 merupakan generasi kedua dari Mahmud bin Ibrahim, atau lebih populer dipanggil Teungku Mud Perindra. Panggilan akrab itu diperoleh karena Mahmud mengelola perusahaan industri rakyat dan dagang umum yang bernama Firma Perindra, di Matang Geulumpang Dua, Kabupaten Bireuen sekarang. Seluruh penghidupan keluarga besarnya dibiayai oleh usaha perdagangan di daerah ini. Sejak berumur 5 tahun Razuardi berstatus yatim setelah ayahanda Razali bin Mahmud wafat sehingga pembinaan beralih ke tangan Binsari bin Budiman Lhoksukon, wali perkawinan sebelah ibunya. Di tangan Pakwa inilah talenta lelaki humanis itu ditempa, dan dengan bekal motivasi Pak Ben (semasa hidupnya orang sering menyapa begitu) pulalah magister teknik sipil dapat diraih. Tidak berbeda dengan keluarga masyarakat Aceh pesisir lainnya, generasi Mahmud ke atasnya masih berperawakan import, dikarenakan Abu Syik ini masih kental berciri komunitas asalnya, Turki Seljuk. Cerita ini sedikit perlu untuk menggambarkan masa assimiliasi pendatang di daratan Serambi Mekah ini, di samping untuk mengurangi tendensi sejarah masing-masing keluarga. Setelah Perang Salib I (1095-1099) yang berhasil mendirikan Kerajaan Jerussalem, komunitas Bani Seljuk hijrah ke berbagai penjuru dunia, dengan pelayaran tentunya. Di Aceh, salah satu tempat pendaratan terbesar adalah Kampung Pande, ujung pulau Sumatera, yang terjadi dalam banyak gelombang dan berkelanjutan hingga masa Kerajaan Aceh Darussalam. Aktivitas mereka kala itu adalah sebagai perajin perca, logam, dan keramik. Penyusupan kaum pendatang berjalan relatif lambat, dikarenakan kendala transportasi, kondisi lahan, dan lain sebagainya. Begitu pula dengan Nek Tu dari Nek Tu Teungku Mud Perindra. Komunitas Seljuk kecil berpencar dan menetap di desa-desa seperti di Aceh Besar dan Pidie. Leluhur Teungku Mud Perindra yang berassimilasi membangun komunitas baru di berbagai tempat pedalaman dan pesisir Aceh tersebut. Sementara Teungku Mud terus berjalan mengakhiri penyebaran kaum pendatang itu dengan memilih tempat mengembangkan usaha di wilayah Ampon Syik Peusangan, Matang Geulumpang Dua. Berbekal keterampilan warisan leluhur, di sini beliau membangun pabrik genteng, batu bata, dan industri berbasis rakyat lainnya. Dalam perjalanannya, kondisi berceritera lain. Sekitar tahun 1953 di saat kondisi Aceh tengah sulit, lagi-lagi Teungku Mud harus hijrah ke Kota Medan dengan meninggalkan ragam asset usaha yang telah berkembang itu. Meskipun sebagian besar keluarga telah membangun penghidupan baru di Medan, Razuardi masih bertahan untuk mengecap pendidikan di Aceh dan pernah bercita-cita melanjutkan usaha yang dirintis Abu Syik. Kenyataan menentukan lain, khayalan kandas dikarenakan banyak hal, hingga akhirnya ia harus berpuas hati dengan predikat seorang pegawai negeri sipil. Beberapa buku yang pernah diterbitkan penulis antara lain, Penyelesaian Soal-soal Mekanika Tanah, Sekilas Pantun Aceh di Bireuen, dan Karakteristik Lahan Bireuen. Kesemua produk tulisan itu disalurkan kepada para siswa dan mahasiswa di wilayah Kabupaten Bireuen.
Buku ini telah diedit dan direview oleh Fadlisyah penulis 21 buku komputer nasional.
Razuardi El-Ebrahem, pria kelahiran 9 Desember 1961 merupakan generasi kedua dari Mahmud bin Ibrahim, atau lebih populer dipanggil Teungku Mud Perindra. Panggilan akrab itu diperoleh karena Mahmud mengelola perusahaan industri rakyat dan dagang umum yang bernama Firma Perindra, di Matang Geulumpang Dua, Kabupaten Bireuen sekarang. Seluruh penghidupan keluarga besarnya dibiayai oleh usaha perdagangan di daerah ini. Sejak berumur 5 tahun Razuardi berstatus yatim setelah ayahanda Razali bin Mahmud wafat sehingga pembinaan beralih ke tangan Binsari bin Budiman Lhoksukon, wali perkawinan sebelah ibunya. Di tangan Pakwa inilah talenta lelaki humanis itu ditempa, dan dengan bekal motivasi Pak Ben (semasa hidupnya orang sering menyapa begitu) pulalah magister teknik sipil dapat diraih. Tidak berbeda dengan keluarga masyarakat Aceh pesisir lainnya, generasi Mahmud ke atasnya masih berperawakan import, dikarenakan Abu Syik ini masih kental berciri komunitas asalnya, Turki Seljuk. Cerita ini sedikit perlu untuk menggambarkan masa assimiliasi pendatang di daratan Serambi Mekah ini, di samping untuk mengurangi tendensi sejarah masing-masing keluarga. Setelah Perang Salib I (1095-1099) yang berhasil mendirikan Kerajaan Jerussalem, komunitas Bani Seljuk hijrah ke berbagai penjuru dunia, dengan pelayaran tentunya. Di Aceh, salah satu tempat pendaratan terbesar adalah Kampung Pande, ujung pulau Sumatera, yang terjadi dalam banyak gelombang dan berkelanjutan hingga masa Kerajaan Aceh Darussalam. Aktivitas mereka kala itu adalah sebagai perajin perca, logam, dan keramik. Penyusupan kaum pendatang berjalan relatif lambat, dikarenakan kendala transportasi, kondisi lahan, dan lain sebagainya. Begitu pula dengan Nek Tu dari Nek Tu Teungku Mud Perindra. Komunitas Seljuk kecil berpencar dan menetap di desa-desa seperti di Aceh Besar dan Pidie. Leluhur Teungku Mud Perindra yang berassimilasi membangun komunitas baru di berbagai tempat pedalaman dan pesisir Aceh tersebut. Sementara Teungku Mud terus berjalan mengakhiri penyebaran kaum pendatang itu dengan memilih tempat mengembangkan usaha di wilayah Ampon Syik Peusangan, Matang Geulumpang Dua. Berbekal keterampilan warisan leluhur, di sini beliau membangun pabrik genteng, batu bata, dan industri berbasis rakyat lainnya. Dalam perjalanannya, kondisi berceritera lain. Sekitar tahun 1953 di saat kondisi Aceh tengah sulit, lagi-lagi Teungku Mud harus hijrah ke Kota Medan dengan meninggalkan ragam asset usaha yang telah berkembang itu. Meskipun sebagian besar keluarga telah membangun penghidupan baru di Medan, Razuardi masih bertahan untuk mengecap pendidikan di Aceh dan pernah bercita-cita melanjutkan usaha yang dirintis Abu Syik. Kenyataan menentukan lain, khayalan kandas dikarenakan banyak hal, hingga akhirnya ia harus berpuas hati dengan predikat seorang pegawai negeri sipil. Beberapa buku yang pernah diterbitkan penulis antara lain, Penyelesaian Soal-soal Mekanika Tanah, Sekilas Pantun Aceh di Bireuen, dan Karakteristik Lahan Bireuen. Kesemua produk tulisan itu disalurkan kepada para siswa dan mahasiswa di wilayah Kabupaten Bireuen.
Buku ini telah diedit dan direview oleh Fadlisyah penulis 21 buku komputer nasional.

More info:

Published by: Fadlisyah, S.Si on Apr 23, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See More
See less

05/30/2011

pdf

text

original

You're Reading a Free Preview
Pages 6 to 90 are not shown in this preview.
You're Reading a Free Preview
Pages 96 to 139 are not shown in this preview.
You're Reading a Free Preview
Pages 145 to 155 are not shown in this preview.
You're Reading a Free Preview
Pages 161 to 220 are not shown in this preview.
You're Reading a Free Preview
Pages 226 to 257 are not shown in this preview.

Activity (21)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
embunlangit liked this
Arkas Suleepan liked this
zunnurin_wpkl liked this
soedjai liked this
zainikamal liked this
shokri2210 liked this
tsuganda liked this
Wiwit Purwanto liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->