Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
8Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
UU No 11 tentang Pemerintah Aceh - Penjelasan

UU No 11 tentang Pemerintah Aceh - Penjelasan

Ratings: (0)|Views: 3,523|Likes:
Published by Indonesia
Penjelasan atas Undang-undang No. 11 tentang Pemerintahan Aceh
Penjelasan atas Undang-undang No. 11 tentang Pemerintahan Aceh

More info:

Published by: Indonesia on Apr 23, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See More
See less

12/10/2012

pdf

text

original

 
PENJELASANATASUNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIANOMOR 11 TAHUN 2006 TENTANGPEMERINTAHAN ACEHDENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESAPRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,I.UMUMSistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia menurutUndang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 mengakuidan menghormati satuan-satuan pemerintahan daerah yang bersifatkhusus atau bersifat istimewa. Perjalanan ketatanegaraan RepublikIndonesia menempatkan Aceh sebagai satuan pemerintahan daerah yangbersifat istimewa dan khusus, terkait dengan karakter khas sejarahperjuangan masyarakat Aceh yang memiliki ketahanan dan daya juangtinggi.Kehidupan masyarakat Aceh yang demikian terartikulasi dalam perspektif modern dalam bernegara dan berpemerintahan yang demokratis sertabertanggung jawab. Tatanan kehidupan yang demikian merupakanperwujudan di dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Ketahanan dandaya juang tinggi tersebut bersumber dari pandangan hidup yangberlandaskan syari’at Islam yang melahirkan budaya Islam yang kuat,sehingga Aceh menjadi salah satu daerah modal bagi perjuangan dalammerebut dan mempertahankan kemerdekaan Negara Kesatuan RepublikIndonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.Kehidupan demikian, menghendaki adanya implementasi formal penegakansyari’at Islam. Itulah yang menjadi bagian dari latar belakang terbentuknyaMahkamah Syar’iyah yang menjadi salah satu bagian dari anatomikeistimewaan Aceh. Penegakan syari’at Islam dilakukan dengan asaspersonalitas ke-Islaman terhadap setiap orang yang berada di Aceh tanpamembedakan kewarganegaraan, kedudukan, dan status dalam wilayahsesuai dengan batas-batas daerah Provinsi Aceh.Aspirasi . . .
 
- 2 -Aspirasi yang dinamis masyarakat Aceh bukan saja dalam kehidupan adat,budaya, sosial, dan politik mengadopsi keistimewaan Aceh, melainkan jugamemberikan jaminan kepastian hukum dalam segala urusan karena dasarkehidupan masyarakat Aceh yang religius telah membentuk sikap, daya juang yang tinggi, dan budaya Islam yang kuat. Hal demikian menjadipertimbangan utama penyelenggaraan keistimewaan bagi Provinsi DaerahIstimewa Aceh dengan Undang-Undang Nomor 44 Tahun 1999.Pembentukan Kawasan Sabang dengan Undang-Undang Nomor 37 Tahun2000 adalah rangkaian dari upaya untuk meningkatkan kesejahteraanmasyarakat Aceh, dan menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi danpembangunan di kawasan Aceh serta modal bagi percepatan pembangunandaerah lain.Dalam perjalanan penyelenggaraan keistimewaan Provinsi Daerah IstimewaAceh dipandang kurang memberikan kehidupan di dalam keadilan ataukeadilan di dalam kehidupan. Kondisi demikian belum dapat mengakhiripergolakan masyarakat di Provinsi Daerah Istimewa Aceh yangdimanifestasikan dalam berbagai bentuk reaksi.Respon Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat melahirkan salah satusolusi politik bagi penyelesaian persoalan Aceh berupa Undang-UndangNomor 18 Tahun 2001 yang mengatur penyelenggaraan otonomi khususbagi Provinsi Daerah Istimewa Aceh sebagai Provinsi Nanggroe AcehDarussalam. Dalam pelaksanaannya undang-undang tersebut juga belumcukup memadai dalam menampung aspirasi dan kepentinganpembangunan ekonomi dan keadilan politik. Hal demikian mendoronglahirnya Undang-Undang tentang Pemerintahan Aceh dengan prinsipotonomi seluas-luasnya. Pemberian otonomi seluas-luasnya di bidangpolitik kepada masyarakat Aceh dan mengelola pemerintahan daerah sesuaidengan prinsip
good governance
yaitu transparan, akuntabel, profesional,efisien, dan efektif dimaksudkan untuk sebesar-besarnya kemakmuranmasyarakat di Aceh. Dalam menyelenggarakan otonomi yang seluas-luasnya itu, masyarakat Aceh memiliki peran serta, baik dalammerumuskan, menetapkan, melaksanakan maupun dalam mengevaluasikebijakan pemerintahan daerah.Bencana alam, gempa bumi, dan tsunami yang terjadi di Aceh telahmenumbuhkan solidaritas seluruh potensi bangsa untuk membangunkembali masyarakat dan wilayah Aceh. Begitu pula telah tumbuhkesadaran yang kuat dari Pemerintah dan Gerakan Aceh Merdeka untukmenyelesaikan konflik secara damai, menyeluruh, berkelanjutan, sertabermartabat yang permanen dalam kerangka Negara Kesatuan RepublikIndonesia. Hal demikian adalah sebuah kemutlakan.Nota . . .
 
- 3 -Nota Kesepahaman
(Memorandum of Understanding)
antara Pemerintah danGerakan Aceh Merdeka yang ditandatangani pada tanggal 15 Agustus 2005menandakan kilas baru sejarah perjalanan Provinsi Aceh dan kehidupanmasyarakatnya menuju keadaan yang damai, adil, makmur, sejahtera, danbermartabat. Hal yang patut dipahami bahwa Nota Kesepahaman adalahsuatu bentuk rekonsiliasi secara bermartabat menuju pembangunan sosial,ekonomi, dan politik di Aceh secara berkelanjutan.Anatomi ideal dalam kerangka di atas memberikan konsiderasi filosofis, yuridis, dan sosiologis dibentuknya Undang-Undang tentang PemerintahanAceh. Undang-Undang ini mengatur dengan tegas bahwa PemerintahanAceh merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Negara KesatuanRepublik Indonesia dan tatanan otonomi seluas-luasnya yang diterapkan diAceh berdasarkan Undang-Undang ini merupakan subsistem dalam sistempemerintahan secara nasional. Dengan demikian, otonomi seluas-luasnyapada dasarnya bukanlah sekadar hak, tetapi lebih dari itu yaitu merupakankewajiban konstitusional untuk dimanfaatkan sebesar-besarnya bagikesejahteraan di Aceh.Oleh karena itu, pengaturan dalam qanun yang banyak diamanatkandalam Undang-Undang ini merupakan wujud konkret bagi terselenggaranyakewajiban konstitusional tersebut dalam pelaksanaan pemerintahan Acehdan kabupaten/kota, dan merupakan acuan yang bermartabat untukmengelola urusan pemerintahan secara mandiri sebagai bagian dari wilayah kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.Pengaturan kewenangan luas yang diberikan kepada Pemerintahan Acehdan pemerintahan kabupaten/kota yang tertuang dalam Undang-Undangini merupakan wujud kepercayaan Dewan Perwakilan Rakyat danPemerintah untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan yangberkeadilan dan keadilan yang berkesejahteraan di Aceh.Adanya ketentuan di dalam Undang-Undang ini mengenai perlunya norma,standar, prosedur, dan urusan yang bersifat strategis nasional yangmenjadi kewenangan Pemerintah, bukan dimaksudkan untuk mengurangikewenangan yang dimiliki Pemerintah Aceh dan pemerintahkabupaten/kota, melainkan merupakan bentuk pembinaan, fasilitasi,penetapan dan pelaksanaan urusan pemerintahan yang bersifat nasional.Pengaturan perimbangan keuangan pusat dan daerah tercermin melaluipemberian kewenangan untuk pemanfaatan sumber pendanaan yang ada.Kerja sama pengelolaan sumber daya alam di wilayah Aceh diikuti denganpengelolaan sumber keuangan secara transparan dan akuntabel dalamrangka perencanaan, pelaksanaan, serta pengawasan. Selanjutnya, dalamrangka . . .

Activity (8)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Iyut Hildya liked this
I LOVE GAYO liked this
imam radianto liked this
Zia As liked this
Rizal Feeder D' liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->