Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Perkembangan Penginderaan Jauh - Program s2 Penginderaan Jauh

Perkembangan Penginderaan Jauh - Program s2 Penginderaan Jauh

Ratings: (0)|Views: 69 |Likes:
Published by Jolly Gara Sirait
aaa
aaa

More info:

Published by: Jolly Gara Sirait on Jun 03, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/25/2013

pdf

text

original

 
5/26/13Perkembangan Penginderaan Jauh - PROGRAM S2 PENGINDERAAN JAUHpuspics.ugm.ac.id/s2pj/LightNEasy.php?page=Perkembangan_PJ1/7
PROGRAM S2 PENGINDERAAN JAUH
FAKULTAS GEOGRAFI UGM
HomeTentang Penginderaan JauhTentang KamiAkademikAbstrak TesisDownloadTestimoniLinksCredits
Perkembangan Penginderaan Jauh
Diambil dari Danoedoro (2011)
PERKEMBANGAN SISTEM DAN WAHANA
Penginderaan jauh pada awalnya dikembangkan dari teknik interpretasi foto udara. Padatahun 1919 telah dimulai upaya pemotretan melalui pesawat terbang dan interpretasi foto udara(Howard, 1990). Meskipun demikian, teknik interpretasi foto udara untuk keperluan sipil(damai) sendiri baru berkembang pesat setelah Perang Dunia II, karena sebelumnya foto udaralebih banyak dimanfaatkan untuk kebutuhan militer. Dalam tiga puluh tahun terakhir,penggunaan teknologi satelit dan teknologi komputer untuk menghasilkan informasi keruangan(atau peta) suatu wilayah semakin dirasakan manfaatnya. Penggunaan teknik interpretasi citrasecara manual, baik dengan foto udara maupun citra non-fotografik yang diambil melaluiwahana selain pesawat udara dan sensor selain kamera hingga saat ini telah cukup mapan dandiakui manfaat dan akurasinya. Di sisi lain, pengolahan atau pemrosesan citra satelit secaradigital telah taraf operasional untuk seluruh aplikasi di bidangsurvei-pemetaan.Hampir bersamaan dengan perkembangan teknikanalisis data keruangan melaluiteknologi SIG, kebutuhan akan citra digital yang diperolehmelalui perekaman sensor satelitsumberdaya pun semakin meningkat. Perolehan data penginderaan jauh melalui satelitmenawarkan beberapa keunggulan dibandingkan melalui pemotretan udara, antara lain darisegi harga, periode ulang perekaman daerah yang sama, pemilihan spektrum panjanggelombang untuk mengatasi hambatan atmosf er, sertakombinasisaluranspektral (
band 
) yangdapat diatur sesuai dengan tujuan.Di Indonesia, penggunaan foto udara untuk survei-pemetaan sumberdaya telah dimulaioleh beberapa lembaga pada awal tahun 1970-an. Pada periode yang sama, ketika berbagailembaga di Indonesia masih belajar memanfaatkan foto udara, Amerika Serikat pada tahun1972 telah meluncurkan satelit sumberdaya ERTS-1 (
Earth Resources Technology Satellite
- 1),yang kemudian diberi nama baru menjadi Landsat-1. Satelit ini mampu merekam hampirseluruh permukaan bumi pada beberapa spektra panjang gelombang, dan dengan resolusispasial sekitar 80 meter. Sepuluh tahun kemudian, Amerika Serikat telah meluncurkan satelitsumberdaya Landsat-4 (Landsat-D) yang merupakan satelit sumberdaya generasi kedua, denganmemasang sensor baru
Thematic Mapper 
yang mempunyai resolusi yang jauh lebih tinggidaripada pendahulunya, yaitu 30 meter pada enam saluran spektral pantulan dan 120 meterpada satu saluran spektral pancaran termal. Pada tahun yang hampir bersamaan itu pula,beberapa lembaga di Indonesia baru mulai memasang sistem komputer pengolah citra digitalsatelit, dan menjadi salah satu negara yang termasuk awal di Asia Tenggara dalam penerapansistem pengolah citra digital. Meskipun demikian, tampak nyata bahwa Indonesia sebagainegara berkembang cenderung tertinggal dalam pengembangan dan pemanfaatan teknologi.Memasuki awal sasrawarsa (milenium) ketiga ini, telah beredar banyak jenis satelitsumberdaya yang diluncurkan oleh banyak negara. Dari negara maju seperti Amerika Serikat,Kanada, Perancis, Jepang, dan Rusia, hingga negara-negara besar namun dengan pendapatanper kapita yang masih relatif rendah seperti India dan Republik Rakyat Cina. Berbagai satelitsumberdaya yang diluncurkan itu menawarkan kemam-puan yang bervariasi, dari resolusisekitar satu meter atau kurang (IKONOS, OrbView, QuickBird dan GeoEye milik perusahaanswasta Amerika Serikat), 10 meter atau kurang (SPOT milik Perancis, COSMOS milik Rusia, IRS
PerkembanganPenginderaan Jauh
HomeTentang Penginderaan JauhPerkembangan Penginderaan JauhBuku dan Jurnal Utama Penginderaan JauhPUSPICSTentang KamiAkademikAbstrak TesisDownloadTestimoniLinksCredits
Latest News
-
Posted at 26/10/11 - 08:13 PM
Selamat untuk Wisudawan/Wisudawati S2 Penginderaan JauhPeriode I T.A. 2011/2012
Periode wisuda pascasarjana I T.A. 2011/2012ini Program Studi S2 Penginderaan Jauhmeluluskan 4 orang, yaitu:1. Andrew Mullabi, MSc. (Uganda)2. Bintang Aulia Pradnya Paramita, MSc.3. Sawalludin, MSc.4. Nursida Arief, MSc.Selamat untuk Anda berempat dan semogalancar berkarir dengan menggunakan ilmuyang Anda peroleh di S2 Penginderaan Jauh.... 
Kuliah Tamu dan Kunjungan Prof. Josaphatke Fakultas Geografi UGM
Prof. Josaphat Tetuko Sri Sumantyo, PhD,associate professor dari Center for EnvironmentalRemote Sensing (CEReS), Chiba University, Jepangtelah memberikan kuliah tamu di Fakultas GeografiUGM. Ratusan audiens hadir dalam kesempatanitu, dan sebagian besar di antaranya adalahmahasiswa baru Fakultas Geografi. Prof. Josaphatyang asli Indonesia, tepatnya mempunyai leluhur dari Ceper dan Kartosuro, Jawa Tengah ini sangat populer di kalangan praktisi dan akademisi penginderaan jauh di Indonesia, karena prestasinyayang termasuk langka: menjadi dosen dengan
 
5/26/13Perkembangan Penginderaan Jauh - PROGRAM S2 PENGINDERAAN JAUHpuspics.ugm.ac.id/s2pj/LightNEasy.php?page=Perkembangan_PJ2/7
milik India dan ALOS milik Jepang), 15-30 meter (ASTER yang merupakan proyek kerjasamaJepang dan NASA, Landsat 7 ETM+ milik Amerika Serikat, yang sayangnya mengalamikerusakan sejak tahun 2003), 50 meter (MOS, milik Jepang), 250 dan 500 meter (MODIS milikJepang) hingga 1,1 km (NOAA-AVHRR milik Amerika Serikat).Banyak negara di Eropa, Amerika Utara, Amerika Latin, Asia, dan bahkan Afrika telahmemanfaatkan citra satelit itu untuk pembangunan, baik dalam pengelolaan sumberdayamaupun mitigasi bencana alam. Tahun-tahun belakangan ini, negera-negara berkembangseperti Thailand, Malaysia, Nigeria dan Indonesia pun menyusul untuk meluncurkan danmengoperasikan satelit penginderaan jauh berukuran kecil. Sensor-sensor satelit baru tidakhanya beroperasi pada wilayah multispektral. Saluran pankromatik dengan resolusi spasial yanglebih tinggi daripada saluran spektral lain pada sensor yang sama juga dioperasikan olehberbagai sistem. Sensor aktif seperti radar juga telah dioperasikan oleh berbagai satelitseperti JERS (Jepang), ERS dan Envisat (Uni Eropa), Radarsat (Kanada); sementara sistemsensor aktif berbasis teknologi laser (Lidar) terus dikembangkan untuk memperoleh informasiketinggian permukaan kanopi pepohonan dan ketinggian permukaan tanahnya sekaligus.Sistem satelit Modis, Envisat dan EO-1 juga mengangkut sensor hiperspektral dengan ratusansaluran spektral untuk memperoleh informasi yang lebih spesifik mengenai objek, termasukkomposisi kimia mineral dan spesies organisme.
PERKEMBANGAN APLIKASI
Penginderaan jauh sekarang tidak hanya menjadi alat bantu dalam menyelesaikanmasalah. Begitu luasnya lingkup aplikasi penginderaan jauh sehingga dewasa ini bidangtersebut telah menjadi semacam, kerangka kerja (
 framework
) dalam menyelesaikan berbagaimasalah terkait dengan aspek ruang (lokasi, area), lingkungan (ekologis) dan kewilayahan(regional). Perkembangan ini meliputi skala sangat besar (lingkup sempit) hingga skala sangatkecil (lingkup sangat luas). Gambar 1.4 memberikan deksripsi visual tentang hubungan antarabidang aplikasi dengan resolusi spasial (kerincian ukuran atau detil informasi terkecil yangdiekstrak) dan resolusi spasial (kerincian informasi dari sisi frekuensi perekaman atauobservasi ulang).Penginderaan jauh di awal perkembangannya berasosiasi dengan aplikasi militer, karenagambaran wilayah yang dapat disajikan secara vertikal mampu memberikan inspirasi bagipengembangan strategi perang yang lebih efektif daripada peta. Efektivitas ini khususnyamenyangkut pemantauan posisi dan pergerakan musuh, serta peluang penyerbuan dari titik-titik tertentu. Kemajuan teknologi pemotretan yang melibatkan film peka sinar inframerahdekat juga telah mendukung analisis militer dalam membedakan kenampakan kamuflase objekmiliter dari objek-objek alami seperti misalnya pepohonan.Penggunaan teknologi foto inframerah akhirnya juga dimanfa-atkan untuk aplikasipertanian, khususnya dalam konteks perkiraan kerapatan vegetasi, biomassa dan aktivitasfotosintesis, karena kepekaan pantulan sinar inframerah dekat ternyata berkaitan denganstruktur interal daun dan kerapatan vertikal vegetasi. Foto udara inframerah juga terbuktiefektif pembedaan objek air dan bukan air, sehingga pemetaan garis pantai pun sangatterbantu oleh teknologi ini.Dalam perkembangan selanjutnya, sensor-sensor ini merambah ke wilayah spektra panjanggelombang yang lebih luas, seperti misalnya inframerah tengah, jauh dan termal, sertagelombang mikro. Rambahan ini memerlukan jenis sensor dan detektor yang berbeda dengankamera, namun sekaligus memperluas bidang aplikasi penginderaan jauh, sehingga semakinbanyak jenis objek dan fenomena yang dapat dikaji melalui citra hasil perekaman yangdiperoleh. Setiap eksperimen yang sukses dengan rancangan sensor baru kemudian diuji-cobakan dengan wahana yang berbeda, untuk kemudian dioperasionalisasikan ke sistem satelit,yang mampu melakukan perekaman secara kontinyu dan sekaligus memiliki cakupan global.Berbeda dari pendahulunya yang hanya beroperasi dengan kamera dengan hasil perekamana
 jabatan associate professor di salah satuuniversitas terkemuka di Jepang, yaitu UniversitasChiba, setelah menyelesaikan studinya pada tingkatmaster dan doktor di universitas tersebut.Pak Jos, begitu panggilan akrab Prof. Josaphat, banyak berkecimpung di bidang instrumentasisensor penginderaan jauh, khususnya sensor untuk microwave remote sensing, dan lebih spesifik lagi berupa sensor aktif radar. Bidang semacam inirelatif masih langka di Indonesia, sehinggakuliahnya terasa menyegarkan bagi kebanyakanmahasiswa geografi dan juga dosen-dosen penginderaan jauh. Dalam kuliah umum tersebut,Prof. Josaphat banyak bercerita tentang pengalaman pengembangan sensor radar, misalnyauntuk penetrasi permukaan pasir di wilayah gurunsehingga dapat digunakan untuk mengamati polaaliran air tanah di bawah permukaan pasir gurun. Disamping itu, dia juga menceritakan pengembanganmutakhir sistem sensor radar polarisasi sirkular (melingkar) yang bisa diterapkan pada sistem satelitmikro yang ringan. Gagasan-gagasan Pak Jos yang brilian ini memberi peluang bagi calon-calonmahasiswa yang ingin belajar ke Jepang danmenekuni bidang desain sensor maupunaplikasinya.Pada kesempatan itu, Pak Jos didampingi Dr Danang Sri Hadmoko, MSc., Wakil Ketua BiroKerjasama Luar Negeri Fakultas Geografi UGMdatang mengunjungi PUSPICS untuk berdiskusidengan Dr Projo Danoedoro, ketua PUSPICSsekaligus Ketua Program S2 Penginderaan Jauh.Dalam dialog mereka, terungkap rencana untuk  pematangan program
double degree
di bidang penginderaan jauh dalam dua-tiga tahun ke depan,yang melibatkan beberapa graduate schools diUniversitas Chiba –di samping CEReS sendiri—danFakultas Geografi UGM. Hingga saat ini sudah ada beberapa mahasiswa S2 dari Fakultas GeografiUGM, khususnya yang mengambil Magister Pengelolaan Pesisir dan DAS (MPPDAS) berangkatdan studi di Universiyas Chiba untuk satu tahun.Salah satu di antaranya sedang dalam prosesuntuk melanjutkan hingga tingkat doktor.
 
Simposium Nasional Sains Geoinformasi2011: Membangun Informasi Geospasialuntuk Pengelolaan dan PengembanganWilayah
Untuk keduakalinya, PUSPICsmenyelenggarakan Simposium SainsGeoinformasi. Simposium yang akan
 
5/26/13Perkembangan Penginderaan Jauh - PROGRAM S2 PENGINDERAAN JAUHpuspics.ugm.ac.id/s2pj/LightNEasy.php?page=Perkembangan_PJ3/7
berupa citra analog, sensor-sensor baru beroperasi dengan sistem opto-elektronik yang lebihmaju dan citra yang dihasilkan pun berformat digital. Beda tinggi orbit, kecepatan mengorbitdan sistem teleskop maupun sistem opto-elektronik detektor akhirnya juga menentukanresolusi temporal, resolusi spasial serta resolusi spektral data yang dihasilkan.
PERGESERAN PENERAPAN TEKNOLOGI: DARI PEMERINTAH KE SWASTA
Pada tahun 1994, pemerintah Amerika Serikat mengambil keputusan untuk mengijinkanperusahaan sipil komersial untuk memasarkan data penginderaan jauh resolusi tinggi, yaituantara 1-4 meter (Jensen, 1996). Hal ini kemungkinan berkaitan dengan berakhirnya eraPerang Dingin. Dua perusahaan swasta, yaitu Earth Watch dan Space Imaging segeramenanggapi keputusan ini dengan mengeluarkan produk mereka, masing-masing adalahEarlybird dan Quickbird (
Earth Watch
) dan Ikonos (
Space Imaging
). Earlybird memberikanresolusi spasial 3 meter untuk citra pankromatik dan 15 meter untuk citra multispektralmeskipun proyek ini kemudian gagal; sedangkan Quick Bird dan Ikonos mampu memberikancitra dengan resolusi spasial yang lebih tinggi, yaitu masing-masing 0,6 dan 1 meter untukpankromatik 2,4 dan 4 meter untuk multispektral. GeoEye saat ini mampu memberikan datapada resolusi sekitar 40 cm, meskipun Pemerin-tah Amerika Serikat membatasi distribusi danpenggunaan citra resolusi spasial tinggi hanya sampai dengan 50 cm.Pada aras pengguna, semakin banyak perusahaan swasta yang bergerak di bidang penginderaanjauh. Lingkup kegiatan ini bukan hanya pada penguasaan pengolahan data awal hinggapemasaran pada tingkat hulu seperti EOSAT, SpaceImaging dan DigitalGlobe, melainkan jugapenyediaan jasa konsultansi untuk berbagai kegiatan seperti pekerjaan umum, kehutanan,pembukaan lahan transmigrasi, hingga lahan yasan (
real estate
). Pergesaran ini membawaimplikasi pada kemampuan akses data penting kewilayahan yang sebelumnya hanya dikuasaioleh negara (khususnya militer) ke pihak swasta. Pertukaran dan jual-beli data resolusi tinggisaat ini semakin sulit untuk diawasi dan diatur oleh negara, mengingat bahwa lalu lintas datatelah dapat dilakukan secara bebas melalui jaringan internet. Banyak perusahaan pemasarandata satelit sumberdaya dan cuaca dewasa ini menyediakan fasilitas
download 
data melaluiinternet.
PERKEMBANGAN TEKNIK ANALISISDari Manual ke Digital
Ketika berbagai negara berkembang masih memiliki akses terbatas ke sistem komputeruntuk pengolahan citra digital, pemanfaatan produk penginderaan jauh satelit masih berupacitra tercetak (
hard copy 
) yang diinterpretasi secara visual atau manual. Teknik interpretasisemacam ini telah berkembang pesat dalam penginderaan jauh sistem fotografik, dan hinggasaat ini merupakan teknik yang dipandang mapan. Prinsip-prinsip interpretasi fotografis dapatditerapkan pada citra satelit yang telah dicetak, dan memberikan banyak informasi mengenaifenomena spasial di permukaan bumi pada skala regional. Citra-citra satelit yang telahtercetak ini memberikan keuntungan terutama dalam hal (a) kemudahan analisis regionalsecara cepat (karena dimungkinkannya
synoptic overview 
pada satu lembar citra berukuran 60km x 60 km sampai dengan 180 km x 185 km), dan (b) kemudahan pemindahan hasilinterpretasi (
 plotting
) ke peta dasar, karena tidak memerlukan banyak lembar dengan skalayang berbeda-beda dan mempunyai distorsi geometri yang relatif lebih rendah dibandingkanfoto udara.Sejalan dengan perkembangan teknologi komputer yang semakin pesat dewasa ini --dimana banyak perusahaan telah melakukan
downsizing
(beralih dari komputer
mainframe
kekomputer mini, dan dari komputer mini ke komputer mikro/PC) maka akses berbagai kelompokpraktisi dan akademisi ke otomasi pengolahan citra digital pun semakin besar. Semakinbanyak paket perangkat lunak pengolah citra digital dan SIG yang dioperasikan dengan PC danbahkan komputer jinjing (
laptop
). Di sisi lain, berbagai jenis PC dan laptop saat ini ditawarkandengan harga yang semakin murah namun dengan arsitektur prosesor yang semakin canggihdan kemampuan pengolahan maupun penyimpanan data yang semakin tinggi.Teknologi SIG sebenarnya telah dimulai pada akhir tahun 1960-an, antara lain olehTomlinson (Marble dan Pequet, 1990). Kemudian pada dekade 1970-an beberapa negara bagiandi Amerika Serikat telah memulai untuk menerapkan SIG dalam pengelolaan sumberdaya lahandiselenggarakan pada hari
Kamis-Jumat, 27-28 Oktober 2011
ini rencananya akanmenempati Gedung Sekolah Pascasarjana UGMLantai V. Tema yang diangkat untuksimposium kali ini adalah
MembangunInformasi Geospasial untuk Pengelolaan danPengembangan Wilayah
 
Informasi lengkap:http://puspics.ugm.ac.id/sainsgeoinformasi2011/Dalam dua hari penyelenggaraan, simposium jugaakan meliput dua
workshop
. Yang pertama adalah
 Integrated Coastal Resources Inventory
(ICRI),yang merupakan proyek kegiatan Bakosurtanal bekerja sama dengan PUSPICS. Yang kedua adalah penelitian tentang pengembangan evaluasikesesuaian lahan untuk akuakultur, yangmerupakan kerjasama PUSPICS denganKementerian kelautan dan Perikanan (KKP), dengan pendanaan dari
 Australian Centre for  International Agricultural Research
(ACIAR), dandikoordinasi oleh A/Prof. Jes Sammut dari UNSW,Sydney. Kedua topik ini akan diangkat menjadi duasesi tersendiri dalam simposium.Di samping itu, simposium akan menampilkan berbagai makalah dan poster yang mencakup berbagai macam topik, mulai dari pengolahan citrahingga aplikasi penginderaan jauh dan SIG. Untuk itu Panitia Simposium mengundang para peminatuntuk mengirimkan abstraknya (
Call for Papers
)dengan pilihan topik seperti tersaji dihttp://puspics.ugm.ac.id/sainsgeoinformasi2011/home1.pdengan
deadline
tanggal 15 Oktober 2011. Abstrak dikirim ke puspics@geo.ugm.ac.idatausainsgeoinformasi@gmail.com.Selain dengan Bakosurtanal dan UNSW, simposiumini juga merupakan forum kerja sama antaraPUSPICS dengan Program S2 Penginderaan Jauh,Program S1 Kartografi dan Penginderaan Jauh,semua di Fakultas Geografi UGM, Ikatan Geograf Indonesia, serta Masyarakat Penginderaan JauhIndonesia (MAPIN) Komisariat Yogyakarta.Informasi lebih lanjut dapat diperoleh denganmenghubungi Sekretariat PUSPICS FakultasGeogafi UGM, Bulaksumur Yogyakarta 55281.Telpon 0274 521459 atau 0274 901217, dan email puspics@geo.ugm.ac.id
 

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->