Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
10Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Teknik Penjelasan Al-Qur'an - Sofyan Hadi

Teknik Penjelasan Al-Qur'an - Sofyan Hadi

Ratings:

4.0

(2)
|Views: 829 |Likes:
Published by Sofyan Hadi

More info:

Published by: Sofyan Hadi on Apr 23, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/11/2014

pdf

text

original

 
 
Sofyan Hadi
|
Teknik Penjelasan Al-Qur`an
 1
LSQ
[Lembaga Studi Al-Qur’an]Al-Hadi
Serial Kajian Tafsir Tarbawi
 
TEKNIK PENJELASAN AL-QUR’AN:Suatu Kajian Metodologi Pendidikan Islamdengan Pendekatan Tafsir Tematik
Sofyan Hadi
Dosen Fakultas Tarbiyah dan KeguruanUIN Sultan Syarif Kasim Riau
Alamat Rumah:
Jln. Taman Sari 43 Tangkerang Selatan Bukit RayaPekanbaru Riau Indonesia 28282E-mail:sofyan-pku@hotmail.com 
A. Pendahuluan
Al-Qur’an yang merupakan dasar dan sumber ajaran Islam bukanlah sekedarsebuah kitab doktrin teoretis yang hanya mengatur urusan aqidah dan ubudiyahdalam arti sempit, tetapi lebih dari itu ia merupakan sebuah kitab petunjuk danpedoman bagi tatanan kehidupan manusia untuk memperoleh kebahagiaan didunia dan akhirat. Ayat-ayat yang terkandung di dalamnya bukanlah sekedarungkapan-ungkapan eksistensional, melainkan suatu penjelasan yang fungsional.Dalam bidang pendidikan, Al-Qur’an dan sunnah Nabi merupakan dasar dansumber asasi ilmu pendidikan Islam. Sebab, dari kedua dasar dan sumber tersebutdapat dijabarkan berbagai persoalan dasar kependidikan, dapat ditetapkanpandangan filosofis dalam mengungkap realitas manusia, serta dapat puladijadikan pedoman dalam menggariskan landasan metodologis pendidikan Islam.
1
 Menurut al-Jamâlîy, gaya bahasa (
uslûb
) dan ungkapan (`
ibârah
) yangterdapat dalam ayat-ayat Al-Qur’an menunjukkan bahwa ayat-ayat itumengandung nilai-nilai metodologis kependidikan dengan corak dan ragam yangberbeda-beda sesuai dengan waktu dan tempat serta sasaran (
khithâb
) yangdihadapi.
2
M. Arifin secara lebih tegas mengatakan bahwa metodologi pendidikanIslam dalam penerapannya banyak menyangkut wawasan keilmuan pendidikanyang bersumber dari Al-Qur’an dan hadits.
3
Oleh karena itu, untuk meningkatkandan mengembangkan metodologi pendidikan Islam perlu digali dan diungkapkanimplikasi-implikasi metodologis kependidikan dalam kitab suci Al-Qur’an danhadits Nabi Muhammad saw.Salah satu kegiatan yang sangat esensial dan fundamental dalam prosespendidikan adalah menjelaskan. Sebab, dengan penjelasanlah pemahaman pesertadidik dapat ditimbulkan, sedangkan pemahaman merupakan asas dalam prosesbelajar.
4
Tanpa pemahaman, usaha untuk membentuk perilaku anak didik, baikmenyangkut aspek pengetahuan, sikap, keterampilan, maupun akhlaknya, sesuaidengan tujuan pendidikan yang dicita-citakan sangat sulit direalisasikan. Dengan
1
`Abd al-Fattâh al-Jalâl,
 Min Ushûl al-Tarbiyyat fî al-Islâm
, diterjemahkan oleh Herry NoerAli dengan judul
 Asas-asas Pendidikan Islam
(Cet. I; Bandung: CV. Diponegoro, 1988), hlm. 15.
 
2
Muhammad Fâdlil al-Jamâlîy,
Tarbiyyat al-Insân al-Jadîd 
(Tunisia: Mathba`at al-Ittihâd al-`Âm, 1967), hlm. 111.
3
M. Arifin,
 Ilmu Pendidikan Islam
(Cet. II; Jakarta: Bumi Aksara, 1993), hlm. 62.
4
Sa`îd Ismâ`îl `Alî,
 Nasy’at al-Tarbiyyat al-Islâmiyyah
(Kairo: `Âlam al-Kutub, 1978),hlm. 170.
 
 
Sofyan Hadi
|
Teknik Penjelasan Al-Qur`an
 2
LSQ
[Lembaga Studi Al-Qur’an]Al-Hadi
Serial Kajian Tafsir Tarbawi
 
demikian, keterampilan menjelaskan merupakan kompetensi yang harus dimilikioleh setiap pendidik.Dalam strategi pengajaran, secara operasional memberi penjelasan dikenaldengan
expository approach,
yaitu peserta didik diberi tahu atau diberi penjelasanserta petunjuk-petunjuk terlebih dahulu agar dapat mengerti, menanggapi, atausupaya bisa berbuat sesuatu kemudian.
5
Ini berarti bahwa penjelasan itu pentingdalam menumbuhkan pengertian, tanggapan, dan keterampilan peserta didik.Berdasarkan kenyataan bahwa Al-Qur’an, sebagai yang diintrodusir Allah,antara lain merupakan kitab petunjuk (
hudâ
)
6
dan penjelasan (
bayân, tibyân
),
7
 sedangkan dalam interaksi komunikasi edukatif menjelaskan merupakan salahsatu kegiatan yang esensial dan fundamental, maka sangat penting untuk mengkajidan meneliti teknik penjelasan Al-Qur’an dalam rangka mengembangkanmetodologi pendidikan Islam.Pertanyaan mendasar yang menjadi problem pokok dalam kajian danpenelitian ini adalah “bagaimana teknik penjelasan Al-Qur’an sebagai metodependidikan Islam.” Dari pertanyaan pokok ini dapat dirumuskan permasalahan-permasalahan khusus sebagai berikut. (1) Bagaimana hakikat penjelasan yangdapat dipahami dari ungkapan ayat-ayat Al-Qur’an? (2) Komponen apa yangharus ada dalam proses penjelasan menurut Al-Qur’an sebagai metodependidikan Islam? (3) Bagaimana teknik penjelasan yang digunakan dalamAl-Qur’an sebagai metode pendidikan Islam?Pada dasarnya, secara keseluruhan ayat-ayat Al-Qur’an merupakanpenjelasan bagi umat manusia (QS. Alû `Imrân, 3/89: 138). Namun, dalam Al-Qur’an terdapat ungkapan-ungkapan yang secara eksplisit dan spesifik digunakanuntuk menunjukkan makna “penjelasan”. Oleh karena itu, untuk membahasrumusan masalah di atas penelitian ini dibatasi hanya pada ayat-ayat Al-Qur’anyang memuat ungkapan-ungkapan dimaksud denagn menggunakan pendekatantafsir tematik (
mawdlû`îy
).
8
Di samping itu, pembahasan rumusan masalah di atas juga dibatasi hanya dalam kerangka metodologi pendidikan Islam.
B. Terminologi Al-Qur’an tentang Penjelasan
Al-Qur’an menggunakan tiga bentuk pengungkapan untuk menunjuk konseppenjelasan, yaitu
bayân, tafshîl
dan
tafsîr.
Dalam bahasa Arab,
bayân
adalah bentuk(
shighat 
)
ism mashdar 
(kata benda abstrak, infinitif) dari
 fi`l mâdlî tsulâtsîy mujarrad ma`lûm
(kata kerja lampau simpel aktif) dengan
wazn
(pola kata)
bayân
yang berakardengan huruf-huruf 
bâ’, yâ
dan
nûn
.
9
Dalam Al-Qur’an, term
bayân
dengan berbagai
musytaqq
(kata bentukan)-nya diulang sebanyak 257 kali.
10
 Kata kerja yang berakar dengan huruf-huruf 
bâ’, yâ’,
dan
nûn
secara etimologissebagaimana yang dikemukakan oleh Ibn Fâris mengandung makna "menjauhkan
5
Vernon S. Gerlach dan Donald P. Ely,
Teaching and Media: A Systematic Approach
 (Englewood Cliffs: Prentice-Hall, 1971), hlm. 15.
 
6
Lihat QS. al-Baqarah (2/87): 2, 97, 185; QS. al-Mâ’idah (5/112): 46.
 
7
Lihat QS. al-Nahl (16/70): 89; QS. Alu `Imrân (3/89): 138.
 
8
Mengenai langkah-langkah metode tafsir
mawdlû`îy
lihat `Abd al-Hayy al-Farmâwîy,
 Al- Bidâyat fî al-Tafsîr al-Mawdlû`îy
(Mesir: Maktabat Jumhûriyyat Mishr, 1977), hlm. 61-62.
 
9
Lihat al-Thâhir Ahmad al-Zâwîy,
Tartîb al-Qâmûs al-Muhîth `alâ Tharîqat al-Mishbâh al- Munîr wa Asâs al-Balâghah
, juz I (Cet. III; Bayrût: Dâr al-Fikr, t.th.), hlm. 251.
 
10
Muhammad Fu’âd `Abd al-Bâqîy,
al-Mu`jam al-Mufahras li Alfâz al-Qur’ân al-Karîm
 (Cet. II; Bayrût: Dâr al-Fikr, 1401/1981), hlm. 141-154.
 
 
 
Sofyan Hadi
|
Teknik Penjelasan Al-Qur`an
 3
LSQ
[Lembaga Studi Al-Qur’an]Al-Hadi
Serial Kajian Tafsir Tarbawi
 
sesuatu dan menyingkapkannya"
11
dan secara leksikal menurut Ibn Manzhûrberarti "jelas, nyata, menerangkan, menjelaskan dan memberitahukan".
12
Lebihlanjut, Ibn Manzhûr memberi arti
bayân
dengan
al-ifshâh ma`a zakâ' 
13
 "menjelaskan maksud disertai dengan kecerdasan".Menurut, lafal
bayân
dalam Al-Qur’an digunakan dengan makna"pengungkapan sesuatu di dalam hati dengan kata-kata yang fasih; dankemampuan memahami penjelasan orang lain".
14
Al-Ashfahânîy mengartikandengan
al-kasyf `an al-syay’
15
 
"mengungkapkan sesuatu". Lebih lanjut, iamengatakan bahwa
bayân
itu lebih umum daripada berbicara (
al-nuthq
) yangdikhususkan bagi manusia.
16
 Term
bayân
, dilihat dari segi bentuknya, dalam Al-Qur’an muncul denganlima bentuk
musytaqq
, yaitu:
 fi`l mâdlî 
(kata kerja yang menunjuk waktu lampau);
 fi`l mudlâri‘
(kata kerja yang menunjuk waktu sekarang dan atau akan datang);
 fi`l amr 
(kata kerja yang mengandung perintah);
mashdar 
(kata benda abstrak,infinitif); dan
ism fâ`il
(kata benda yang mengandung arti pelaku/subjek).Dalam bentuk (
shighat 
) kata kerja lampau (
 fi`l mâdlî 
), term
bayân
 diungkapkan dengan menggunakan dua
wazn
(pola kata), tanpa memperhatikankata ganti (
dlamîr 
) yang menyertai, yaitu: pola
bayyana
yang diulang sebanyak 5kali; dan pola
tabayyana
yang diulang sebanyak 12 kali.
17
 Term
bayân
dalam bentuk kata kerja yang menunjuk waktu sekarang atauakan datang (
 fi`l mudlâri`
) dalam Al-Qur’an diungkapkan dengan menggunakanempat pola kata (
wazn
), tanpa memperhatikan kata ganti (
dlamîr 
) yang menyertai,yaitu: pola
 yubayyinu
diulang sebanyak 30 kali; pola
 yubînu
diulang sebanyak 1kali; pola
 yatabayyanu
diulang 3 kali; dan pola
 yastabînu
diulang sebanyak 1kali.
18
 Term
bayân
dalam bentuk kata kerja yang mengandung perintah (
 fi`l amr 
)hanya diungkapkan dengan satu
wazn
(pola kata), yaitu pola
tabayyan
, tanpamemperhatikan kata ganti (
dlamîr 
) yang menyertai, diulang sebanyak 3 kali.
19
 Pengungkapan term
bayân
dalam bentuk
mashdar 
(infinitif) dalam Al-Qur’anmenggunakan dua
wazn
(pola kata), yaitu: pola
bayân
yang diulang sebanyak 3 kali,tanpa memperhatikan kata ganti (
dlamîr 
) yang menyertai; dan pola
tibyân
yang diulangsebanyak 1 kali.
20
Pola
bayân
merupakan
mashdar 
dari kata kerja
bâna-yabînu-bayân(an)
, sedangkan pola
tibyân
merupakan
mashdar 
dari kata kerja
bayyana-
 
11
Abû al-Husayn Ahmad bin Fâris bin Zakariyâ,
 Mu`jam Maqâyis al-Lughah
, diteliti dandikoreksi oleh `Abd al-Salâm Muhammad Hârûn, juz I (Cet. II; Mesir: Syirkat Maktabat waMathba`at Mushthafâ al-Bâbîy al-Halabîy wa Awlâduh, 1391/1971), hlm. 327.
12
Abû al-Fadl Jamâl al-Dîn Muhammad bin Mukarram bin Manzhûr,
 Lisân al-`Arab
, juzXVI (t.tp.: Dâr al-Mishriyyat li al-Ta’lîf wa al-Tarjamah, t.th.), hlm. 214-215.
13
 Ibid.
, hlm. 216.
 
14
Muhammad Ismâ`îl Ibrâhîm,
 Mu`jam al-Alfâz wa al-A`lâm al-Qur’âniyyah
(Kairo: Dâr al-Fikr al-`Arabîy, t.th.), hlm. 81.
 
15
Al-Râghib al-Ashfahânîy,
 Mu`jam Mufradât Alfâz al-Qur’ân
, ditahkik oleh NadîmMar`asylî (Bayrût: Dâr al-Fikr, t.th.), hlm. 67.
 
16
 Ibid.
 
17
Muhammad Fu’âd `Abd al-Bâqîy,
Op. Cit.,
hlm. 141-142.
18
Muhammad Fu’âd ‘Abd al-Bâqîy,
Op. Cit.,
hlm. 142.
 
19
Muhammad Fu’âd ‘Abd al-Bâqîy,
 Loc. Cit.
 
20
 Ibid.
 

Activity (10)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Adem Agata liked this
Dadan Rusmana liked this
Noeng Nurdin liked this
Zylrainy Hye Gyo liked this
Jeky Izy liked this
iniki liked this
Abdul Khoir liked this
alfaruqiy_2009 liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->