• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
Download
 
S k e t s a
INDUSTRI DAN KELAS MENENGAH
I n d o n e s i a
 
Sebuah Percobaan untuk Memahami Tradisi Industri
Oleh: Peter Johan Djangoen & Cin P. Hapsarin
Pengantar
Memperbincangkan industri erat kaitannya dengan rancangan tentang masyarakat modern yangmenyandarkan dirinya pada aspek kesadaran individual. Industri selalu dirancang untuk menghasilkan sebuah bentukan produksi yang dapat digunakan secara massal, tanpameninggalkan nilai guna produk tersebut. Untuk mencapai tahapan yang biasa kita sebut sebagaipasar, pandangan terhadap nilai guna produk dan perkembangan kesadaran manusia merupakandua poin yang sangat penting; dimana visibilitas pasar mempersyaratkan fluktuasi
demand 
dan
supply
. Nilai guna produk bergantung pada pengembangan teknik dan pola konsumsi masyarakatsecara sosiologis, sementara kesadaran manusia justru bergantung pada strategi kebudayaan yangditempuh
centre of influence
legalitas formal kulturalnya.Tulisan ini bukanlah upaya membongkar ataupun memberikan kerangka struktural atasperkembangan industri pada masyarakat Indonesia. Dalam pertarungan gagasan politik yangmenghubungkan langsung antara landasan ideologis dan landasan fungsional-kebijakan, kitaharus berhati-hati dan bersikap terbuka atas arti dan makna industrialisasi dalam perkembanganmasyarakat Indonesia. Hal ini wajar, karena pertarungan idiomatik makna atas kata telahmempolitisasi arti sesungguhnya dari kata itu sendiri. Dalam upaya inilah tulisan ini dibuat,bagaimana menengok dinamika industrialisasi dalam wajah masyarakat Indonesia dan potensipengembangannya.
Konsep dan Definisi
Industri dapat diartikan sebagai kegiatan memproses atau mengolah barang dengan menggunakansarana atau peralatan, misalkan mesin (KBBI: 2005). Keterlibatan mesin dalam pengolahanbarang merupakan bagian dari teknik massifikasi dan pabrifikasi yang berorientasi pada kuantitas,dimana teknik ini dikembangkan sejalan dengan metode komunikasi publisistik dan percetakanyang berkembang pada era positivisme modernitas Eropa abad 15-17.Revolusi Industri di Inggris pada abad 19 berhasil merubah wajah perekonomian sekaligusmenciptakan tata ekonomi baru, dimana industri memberikan
landscape
baru tentang bagaimanamelakukan penataan ruang kota dan relasi ekonomikal antar manusia. Penataan kota Manchester
 
misalkan, memberikan gambaran bagaimana kerangka industrialisasi dan penataan lingkungansosial dapat terintegrasikan secara nyata. Barulah di kemudian hari intervensi Amerika Serikatpada Perang Dunia II dan konsolidasi Masyarakat Ekonomi Eropa (MEE) melengkapi sketsa barutentang strukturasi dunia yang berlandaskan pada jaringan ekonomi global.Pergulatan untuk menemukan wajah industri Eropa tidak lepas dari proses pergerakan kesadaranyang membentuk tatanan sosial masyarakatnya. Prolog pembentukan kesadaran individuasi inisesungguhnya bisa ditarik jauh ke belakang, yakni ketika gerakan kelas menengah non-monarkidi Italia pada abad 15 berusaha mendorong perubahan akses kekuasaan lewat pembentukankonsolidasi ekonomi dan pengetahuan. Secara filosofis, gerakan tersebut membuka kemungkinanbagi perubahan strukturasi kekuasaan lewat terobosan-terobosan filsafat positivisme dan titik akaraufklarung-nya. Pembentukan kesadaran individuasipun makin terkristalisasi lewat pembentukankesadaran kelas; dimana pembentukan kesadaran ini sejalan dengan landasan relasi ekonomikalantar individu dan hak kepemilikan individuasi. Perubahan pola kepemilikan kekuasaanberdasarkan monarki menuju kepemilikan kekuasaan ekonomi menciptakan wajah baru tentangrelasi antar manusia: dari relasi raja-kawula menjadi relasi majikan-buruh.Di kemudian hari, relasi ini diproyeksikan secara politikal dalam relasi antar negara: antaranegara maju dan negara berkembang; antara negara yang memiliki kemampuan melakukanpabrifikasi dan negara yang memiliki sumber daya manusia besar. Kita bisa melihatperkembangan lanjutan ini, atau teori ekonomi menyebutnya sebagai teori ketergantungan, dalamberagam pandangan. Pada tulisan ini, kita mempersempit pandangan dengan melihat motivasiindustri yang selalu membutuhkan
demand 
yang tinggi, dimana negara-negara berkembang yangmemiliki jumlah sumber daya manusia besar tentu menjadi prospek terbaiknya.Namun, konsep industri purba ini mengalami perubahan yang sangat besar ketika Amerika dibawah kepemimpinan Ronald Reagen melakukan revolusi ekonomi dengan menganut pendekatanpasar bebas tanpa regulasi. Selain sifat fluktuatifnya, pendekatan ini menciptakan kamuflase imajiatas nilai guna sebuah produk. Bukan lagi pabrifikasi, namun orientasi industri bergerak padaaspek-aspek idiomatik yang sesungguhnya politis dan determinatif bagi proses pembentukankesadaran sosial. Pada tahapan inilah industri kehilangan nilai gunanya, baik sebagai cerminsejarah peradaban maupun cermin kebudayaan yang menyandarkan diri pada aspek pembentukankesadaran.
Ketiadaan Massifikasi di Indonesia
Perkembangan industri di Indonesia sesungguhnya berada tepat di bawah lajur perkembangangaya modernisasi politik etis kolonialisme Belanda. Kegagalan integrasi jaringan ekonomi globalpada masa penjajahan bisa ditilik dari berbagai sebab: mulai dari kebangkrutan maskapaiperdagangan VOC hingga metode
black market 
pedagang-pedagang Tionghoa yang justrumembawa benih kecurangan dalam sistem perdagangan Indonesia dewasa ini.Di luar itu, dalam sejarahnya, pengembangan aspek alat sebagai prasarana teknologi yang dapatmenunjang munculnya kreasi-kreasi teknis sangat berlainan dengan pola perkembangan prasarana
 
teknologi
a la
industri Barat. Besi misalkan, sebagai sebuah logam mutu rendah yang justru dapatmenjadi bahan mentah dasar bagi peralatan untuk pertanian, hanya dapat ditemui di utara Filipina,tenggara Kalimantan, bagian tengah Sulawesi, Sumatera, dan Sumbawa. Di Jawa sendiri, sebagai
centre of influence
, biasa mengolah bahan metalurgi yang disebut dengan ‘batu meteor’—mungkin karena bahan ini dianggap sebagai satu-satunya bahan dasar logam yang cukup kuatuntuk diolah menjadi senjata. Di luar itu, teknik pengolahan logam biasa ditemui pada bahan-bahan logam mulia yang memiliki tingkat peleburan elemen yang cukup tinggi, namun kurangkuat untuk dapat dijadikan alat senjata, seperti tembaga, perunggu, perak, dan juga emas. Itusebabnya ketika Belanda pada abad 16-17 memutuskan untuk menggiatkan produksi di Jawa,mereka mendatangkan bahan besi ke tanah Jawa dalam jumlah yang cukup besar.Sesungguhnya, kegagalan pengolahan logam besi ini tidak semata-mata terjadi karena ketiadaanunsur besi di pusat kekuasaan. Masyarakat Jawa, yang menjadi pencitraan struktur minimasyarakat Indonesia, menempatkan pengolahan logam berbanding lurus dengan pandanganmanusia akan aspek kreativitas yang mitis. Para
 pande besi
bernaung di bawah payung kerajaan,bekerja demi kepentingan keselarasan yang dirumuskan tatanan kekuasaan. Demikian juga parapujangga yang dapat menjadi cermin karakteristik kreativitas, tidak kurang bekerja untuk kepentingan yang sama.
1
Aspek harmoni dan keselarasan merupakan satu poin penting dalamakar kesadaran masyarakat ini. Kita bisa melihatnya pula dalam teknik pengolahan senjata keris,dimana
 pamor 
dan logam-logam pelengkap yang mempercantiknya justru menjadi elemenpenting dalam teknik pengolahannya.
Mitos Penciptaan dan Kerja
2
 
Hampir seluruh format kerja—sebagai bagian dari aspek material budaya—pada masyarakattradisional selalu berkait dengan mitos penciptaan. Hal ini tak tertolakkan karna bagaimanapunmitos penciptaan adalah daya utama, semacam atlas panduan hidup sampai ketingkatan praksis.Pada tataran global, fenomena ini hanya mampu ditandingi oleh Konfusianisme di Cina sekaligusdikalahkan secara telak oleh mitos penciptaan agama-agama langit termasuk ruh homogenitasyang diusung etik protestan, Weber. Setelah masa itu, mitos penciptaan di luar agama-agamalangit, boleh dikata, tidak lagi mendapat tempat.Sebelum agama langit mendominasi mitos penciptaan, baik langsung maupun tak langsung,hampir sebagian masyarakat tradisional mempercayai tidak adanya sekat antara kerja, interaksimaupun doa. Bahkan bagi Orang Jawa misalkan, diantara ketiganya tidak ada perbedaan prinsip
1
Para pande ataupun pujangga pada masa itu terbilang sebagai intelektual pra-modern Indonesia. Merekaadalah kelompok tertentu yang bermodalkan lebih dari sekedar pengetahuan empirik. Dalam ranah ini,yang empirik adalah suatu yang banal, biasa. Seringkali orang harus mencapai tahap
suwung
, sebuahpengalaman mengalami ada dan bukan bertanya apa, untuk menduduki posisi itu. Jakob Sumardjomenyebutnya ‘
tan kena kinaya apa’
. Di luar perbincangan kiblatnya ke arah penguasa ataupun tidak, dapatdipastikan jika intelektual pra-modern Indonesia pada dirinya merangkap beberapa fungsi maupunkedudukan; begawan, ilmuwan, guru sekaligus praktisi. Format ‘interdisipliner’ inilah yang menjadi reluntuk membangun dinamika masyarakat.
2
Sebagian dari uraian ini disarikan dari Jakob Sumardjo,
 Estetika Paradoks,
Bandung: Sunan Ambu Press,2006.
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...