teknologi
a la
industri Barat. Besi misalkan, sebagai sebuah logam mutu rendah yang justru dapatmenjadi bahan mentah dasar bagi peralatan untuk pertanian, hanya dapat ditemui di utara Filipina,tenggara Kalimantan, bagian tengah Sulawesi, Sumatera, dan Sumbawa. Di Jawa sendiri, sebagai
centre of influence
, biasa mengolah bahan metalurgi yang disebut dengan ‘batu meteor’—mungkin karena bahan ini dianggap sebagai satu-satunya bahan dasar logam yang cukup kuatuntuk diolah menjadi senjata. Di luar itu, teknik pengolahan logam biasa ditemui pada bahan-bahan logam mulia yang memiliki tingkat peleburan elemen yang cukup tinggi, namun kurangkuat untuk dapat dijadikan alat senjata, seperti tembaga, perunggu, perak, dan juga emas. Itusebabnya ketika Belanda pada abad 16-17 memutuskan untuk menggiatkan produksi di Jawa,mereka mendatangkan bahan besi ke tanah Jawa dalam jumlah yang cukup besar.Sesungguhnya, kegagalan pengolahan logam besi ini tidak semata-mata terjadi karena ketiadaanunsur besi di pusat kekuasaan. Masyarakat Jawa, yang menjadi pencitraan struktur minimasyarakat Indonesia, menempatkan pengolahan logam berbanding lurus dengan pandanganmanusia akan aspek kreativitas yang mitis. Para
pande besi
bernaung di bawah payung kerajaan,bekerja demi kepentingan keselarasan yang dirumuskan tatanan kekuasaan. Demikian juga parapujangga yang dapat menjadi cermin karakteristik kreativitas, tidak kurang bekerja untuk kepentingan yang sama.
1
Aspek harmoni dan keselarasan merupakan satu poin penting dalamakar kesadaran masyarakat ini. Kita bisa melihatnya pula dalam teknik pengolahan senjata keris,dimana
pamor
dan logam-logam pelengkap yang mempercantiknya justru menjadi elemenpenting dalam teknik pengolahannya.
Mitos Penciptaan dan Kerja
2
Hampir seluruh format kerja—sebagai bagian dari aspek material budaya—pada masyarakattradisional selalu berkait dengan mitos penciptaan. Hal ini tak tertolakkan karna bagaimanapunmitos penciptaan adalah daya utama, semacam atlas panduan hidup sampai ketingkatan praksis.Pada tataran global, fenomena ini hanya mampu ditandingi oleh Konfusianisme di Cina sekaligusdikalahkan secara telak oleh mitos penciptaan agama-agama langit termasuk ruh homogenitasyang diusung etik protestan, Weber. Setelah masa itu, mitos penciptaan di luar agama-agamalangit, boleh dikata, tidak lagi mendapat tempat.Sebelum agama langit mendominasi mitos penciptaan, baik langsung maupun tak langsung,hampir sebagian masyarakat tradisional mempercayai tidak adanya sekat antara kerja, interaksimaupun doa. Bahkan bagi Orang Jawa misalkan, diantara ketiganya tidak ada perbedaan prinsip
1
Para pande ataupun pujangga pada masa itu terbilang sebagai intelektual pra-modern Indonesia. Merekaadalah kelompok tertentu yang bermodalkan lebih dari sekedar pengetahuan empirik. Dalam ranah ini,yang empirik adalah suatu yang banal, biasa. Seringkali orang harus mencapai tahap
suwung
, sebuahpengalaman mengalami ada dan bukan bertanya apa, untuk menduduki posisi itu. Jakob Sumardjomenyebutnya ‘
tan kena kinaya apa’
. Di luar perbincangan kiblatnya ke arah penguasa ataupun tidak, dapatdipastikan jika intelektual pra-modern Indonesia pada dirinya merangkap beberapa fungsi maupunkedudukan; begawan, ilmuwan, guru sekaligus praktisi. Format ‘interdisipliner’ inilah yang menjadi reluntuk membangun dinamika masyarakat.
2
Sebagian dari uraian ini disarikan dari Jakob Sumardjo,
Estetika Paradoks,
Bandung: Sunan Ambu Press,2006.
Leave a Comment