Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
2Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Penerapan regresi spasial dalam pemodelan rasio keluarga pra sejahtera di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011

Penerapan regresi spasial dalam pemodelan rasio keluarga pra sejahtera di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011

Ratings: (0)|Views: 440 |Likes:
Published by ochaholic
dapatkah data kondisi perumahan hasil SUSENAS dijadikan prediktor untuk memodelkan data rasio jumlah keluarga pra sejahtera yang dihasilkan BKKBN?
dapatkah data kondisi perumahan hasil SUSENAS dijadikan prediktor untuk memodelkan data rasio jumlah keluarga pra sejahtera yang dihasilkan BKKBN?

More info:

Categories:Types, Research
Published by: ochaholic on Jun 06, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/04/2014

pdf

text

original

 
PENERAPAN METODE REGRESI SPASIAL BERBASIS AREA DALAM PEMODELANRASIO KELUARGA PRA SEJAHTERA DI PROVINSI JAWA TENGAH TAHUN 2011
Erie Sadewo
1
, Solikhin
1
 
1
Mahasiswa Pascasarjana Statsistika ITS Surabayaerie12@mhs.statistika.its.ac.id, Solikhinsst@yahoo.com 
Abstrak
Melalui program pemutakhiran data keluarga (MDK), BKKBN selaku instansi pengelola kebijakankependudukan di Indonesia berusaha untuk mengumpulkan berbagai indikator, termasuk indikatormengenai keaadan perumahan masyarakat. Hal ini terkait dengan upaya untuk melihat sejauh manaketerkaitan kondisi perumahan dengan tingkat kesejahteraan yang diwakili oleh indikator rasiokeluarga pra sejahtera. Mengingat besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk pendataan secarareguler, maka berikut ditawarkan penggunaan indikator perumahan yang dihasilkan secara reguleroleh BPS melalui SUSENAS sebagai prediktor dalam menjelaskan besarnya keragaman rasio keluargapra sejahtera. Dengan mempergunakan Provinsi Jawa Tengah sebagai objek penelitian, didapatibahwa penggunan model regresi klasik tidak mampu menghasilkan model yang tepat. Karena adanyadugaan keterkaitan spasial antar wilayah, maka dilakukan penambahan pembobotan spasialsehingga dihasilkan Spatial Error Model yang mampu menjelaskan keragaman data hingga 96,05persen.
Kata Kunci
:
Rasio keluarga pra sejahtera, indikator perumahan, Spatial Error Model 
 
 
BAB 1PENDAHULUAN1.1.
 
Latar Belakang
Jawa Tengah merupakan salah satu provinsi yang mempunyai populasi terbesar diIndonesia dengan jumlah penduduk tahun 2010 mencapai 32,38 juta jiwa. Dari jumlah tersebut,hampir 16,36 persen atau 5,3 juta jiwa merupakan penduduk miskin. Berdasarkan kajian BadanNasional Penanggulangan Bencana, indeks kemiskinan Provinsi Jawa Tengah berada di atas 20,hal ini merupakan suatu indikasi bahwa Jawa Tengah termasuk dalam daerah rawan kemiskinan.Masalah kemiskinan memang sangat mendesak untuk ditanggulangi, namun seyogyanya upayauntuk mengentaskan kemiskinan harus didahului dengan pengenalan karakteristik penyebabkemiskinan itu sendiri.Berbagai upaya dilakukan untuk mengetahui penyebab kemiskinan di Provinsi JawaTengah, namun selama ini kajian mengenai masalah kemiskinan lebih banyak dilakukan denganmenggunakan angka kemiskinan yang dihasilkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Padahal, masihterdapat sumber data lain yang juga digunakan dalam rangka program pengentasan kemiskinanoleh pemerintah. Salah satu indikator tersebut adalah rasio keluarga pra sejahtera yang dihasilkanoleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Pada tahun 2011, rasiokeluarga pra sejahtera di Jawa Tengah mencapai hampir 3 juta keluarga atau 28,79 persen dari jumlah keluarga yang ada.
Gambar 1.1. Peta Sebaran Rasio Keluarga Pra Sejahtera Provinsi Jawa Tengah Menurut Kab/Kota (%)
 
3Indikator Keluarga Sejahtera pada dasarnya berangkat dari pokok pikiran yangterkandung didalam undang-undang no. 10 Tahun 1992 dengan disertai asumsi bahwakesejahteraan merupakan variabel komposit yang terdiri dari berbagai indikator yang spesifik danoperasional. Karena indikator yang yang dipilih akan digunakan oleh kader di desa, yang padaumumnya tingkat pendidikannya relatif rendah, untuk mengukur derajat kesejahteraan paraanggotanya dan sekaligus sebagai pegangan untuk melakukan melakukan intervensi, makaindikator tersebut selain harus memiliki validitas yang tinggi, juga dirancang sedemikian rupa,sehingga cukup sederhana dan secara operasional dapat di pahami dan dilakukan olehmasyarakat di desa.Berbagai macam kebijakan telah dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan dantingkat kesejahteraan masyarakat, salah satunya melalui pembangunan dan rehabilitasi rumah,atau lebih dikenal sebagai program bedah rumah. Pengaruh dari adanya bedah rumah tersebutterhadap tingkat kesejahteraan masyarakat berusaha diukur oleh BKKBN selakupenanggungjawab penyusunan indikator tersebut melalui program pemutahiran data keluarga(MDK). Beberapa indikator yang ingin dipantau secara berkala adalah faktor kondisi perumahanseperti adanya fasilitas tempat buang air besar, sumber air minum bersih, dan sumberpenerangan listrik.Pelaksanaan Pemutakhiran Data Keluarga Tahun 2011, merupakan kegiatanpengumpulan data keluarga secara berjenjang dari tingkat Dusun/RW atau Desa/Kelurahan sesuaiUU No. 10 Tahun 1992 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan KeluargaSejahtera. Pendataan Keluarga menjadi sarana operasional untuk para petugas dan pengelolauntuk mengetahui sasaran secara seksama guna mempertajam segmentasi sasaran program.Hasil pendataan atau pemutakhiran data ini dibuat laporan rekapitulasi hasil pendataan keluargasampai ke tingkat Pusat. Dalam melakukan pemutakhiran data keluarga ini dilakukan olehpendata yang berasal dari kader yang bukan merupakan pegawai organik dari BKKBN.Dalam pelaksanaannya di lapangan, keinginan ini menemui kendala mengingat BKKBNsebagai instansi vertikal pemerintahan sampai dengan saat ini belum memiliki unit kerja yangmampu melakukan pendataan kondisi perumahan masyarakat secara berkala. Sebenarnya hal initelah berusaha diatasi dengan mendelegasikan dan mengkoordinasikan tugas tersebut kepadadinas teknis terkait di daerah. Namun demikian, muncul permasalahan baru karena adanyaotonomi daerah menyebabkan tidak semua daerah memberikan perhatian untuk turut sertamensukseskan program tersebut, sebagaimana yang terjadi di Kabupaten Buru Selatan dan KotaTual di Provinsi Maluku.

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->