Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
83Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
an Masyarakat Multikultural Melalui Pendidikan Kewarganegaraan

an Masyarakat Multikultural Melalui Pendidikan Kewarganegaraan

Ratings:

4.63

(8)
|Views: 10,637 |Likes:
Published by dikdik baehaqi arif

More info:

Published by: dikdik baehaqi arif on Apr 25, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/01/2013

pdf

text

original

 
1
PENGEMBANGAN
MASYARAKAT
MULTIKULTURAL MELALUIPENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN
 
Oleh
 Dikdik Baehaqi Arif 
 
Abstrak
 
Tulisan ini mengkaji tentang pengembangan masyarakat multikultural
yang
dewasa ini menjadi kebutuhan bagi bangsa Indonesia yang
majemuk 
(pluralit
as) dan
beranekaragam
(heterogenitas), sebab multikultural padadasarnya menekankan pada kesederajatan kebudayaan yang ada dalamsebuah masyarakat, dan mengusung semangat untuk hidup berdampingansecara damai (
 peaceful coexistence
) dalam perbedaan kultur yang ada baik secara individual maupun secara kelompok dan masyarakat.
Pembentukan
masyarakat multikultural Indonesia yang sehat tidak bisa secara
taken for 
granted 
 
atau
trial and error 
, sebaliknya harus diupayakan secara sistematis,programatis, integrated dan berkesinambungan melalui pendidikanmultikultural, yaitu pendidikan untuk atau tentang keragaman kebudayaandalam meresponi perubahan demografis dan kultural lingkungan masyarakattertentu atau bahkan dunia secara keseluruhan. Dalam hal ini, pendidika
n
kewarganegaraan memiliki peranan penting sebagai pendidikanmultikultural sebab pendidikan kewarganegaraan dimaksudkan untuk membentuk peserta didik menjadi manusia yang dapat hidup berdampingan
secara damai dalam keanekaragaman budaya.
A.
 
Pendahuluan
 
Neg
ara bangsa Indonesia terdiri atas sejumlah besar kelompok-
kelompok 
etnis, budaya, agama dan lain-lain. Hefner (2007:16) mengilustrasikan Indonesiasebagaimana juga Malaysia dan Singapura memiliki warisan dan tantanganpluralisme budaya (
cultural pluralism
) secara lebih mencolok, sehinggadipandang sebagai lokus klasik bagi bentukan baru masyarakat majemuk (
 plural society
). Kemajemukan masyarakat Indonesia paling tidak dapat dilihatdari dua cirinya yang unik,
 pertama
secara horizontal, ia ditandai oleh
kenyataan
adanya kesatuan
-
kesatuan sosial berdasarkan perbedaan suku bangsa, agama, adat,
serta perbedaan kedaerahan, dan
kedua
secara vertikal ditandai oleh adanya
perbedaan
-perbedaan vertikal antara lapisan atas dan lapisan bawah yang cukuptajam (Nasikun, 2007:33). Kondisi di atas tergambar dalam prinsip
bhinneka
 
2
tunggal ika
, yang berarti meskipun Indonesia adalah ber
bhinneka
, tetapi
terintegrasi dalam kesatuan.
Namun demikian, pengalaman Indonesia sejak masa awal kemerdekaan,khususnya pada masa demokrasi terpimpin Presiden Soekarno dan masa OrdeBaru Presiden Soeharto memperlihatkan kecenderungan kuat pada politik monokulturalisme (Azra, 2006:152). Lebih lanjut Azra (2006:152)mengemukakan bahwa dalam politik ini, yang diberlakukan bukannya
penghormata
n terhadap keragaman (kebhinnekaan, atau multikulturalisme), tetapisebaliknya adalah keseragaman (monokulturalisme) atas nama stabilitas untuk 
pembangunan.
 Berakhirnya sentralisasi Orde Baru yang memaksakan monokulturalisme,pada gilirannya telah memunculkan kesadaran akan pentingnya memahamikembali kebhinnekaan, multikulturalisme Indonesia. Di samping itu, wacanamultikulturalisme Indonesia yang semakin mendapat tempat dalam masyarakatIndonesia disebabkan oleh beberapa kondisi (Saifuddin, 2006:137),
 per 
tama
,
desentralisasi mendorong ditingkatkannya batas-batas identitas kebudayaan diIndonesia, baik identitas etnik, agama maupun golongan. Integrasi sosial dannasional mendapat tantangan besar dari perubahan yang terjadi.
Kedua
,
desentralisasi politik masa kini sangat kurang memperhatikan dimensikebudayaan. Keputusan untuk melaksanakan desentralisasi lebih pada keputusanpolitik oleh para elit politik partai ketimbang mempertimbangkan dimensikebudayaan yang sesungguhnya sangat mendasar dan penting.
Ketig
a
, ketika
batas
-batas kebudayaan itu semakin nyata dan tajam, dan orientasi primordialismemulai memicu konflik yang tajam antar etnik, agama, dan golongan, dan gejala inidikuatirkan mengancam integrasi bangsa, para elit politik tergesa-gesa mencari
obat
penawarnya, mencari strategi untuk membangun kembali integrasi bangsa
dan kebudayaan mulai diperhatikan.
 Sekaitan dengan beberapa kondisi di atas, bangunan Indonesia Baru darihasil reformasi adalah sebuah masyarakat multikultural Indonesia. Berbeda
deng
an masyarakat majemuk yang menunjukkan keanekaragaman suku bangsa
 
3dan kebudayaan suku bangsa, multikulturalisme dikembangkan dari konsep
pluralism
e budaya dengan menekankan pada kesederajatan kebudayaan yang adadalam sebuah masyarakat (Suparlan, 2005:98).
 
Multikulturalisme ini mengusungsemangat untuk hidup berdampingan secara damai (
 peaceful coexistence
)
dalam
perbedaan kultur yang ada baik secara individual maupun secara kelompok danmasyarakat (Azra, 2006:154, Suparlan 2005). Individu dalam hal ini dili
hat
sebagai refleksi dari kesatuan sosial dan budaya di mana mereka menjadi bagiandarinya. Dengan demikian, corak masyarakat Indonesia yang
bhinneka tunggal
ika
bukan lagi keanekaragaman suku bangsa dan kebudayaannya tetapikeanekaragaman kebudayaan yang
ada dalam masyarakat Indonesia.
 Istilah multikulturalisme menurut Parekh (1997:2001) sebagaimana
dikemukakan oleh Saifuddin (2006:139) mencakup sedikitnya tiga unsur, yaitu (1)
terkait dengan kebudayaan, (2) merujuk kepada pluralitas kebudayaan, dan (3)
ca
ra tertentu untuk merespon pluralitas tersebut. Dengan demikian, makamultikulturalisme adalah cara pandang kebudayaan yang diwujudkan secara
konkret dalam kehidupa yang nyata.
Sekaitan dengan pendapat di atas, Lawrence A Blum, seorang profesorfilsafat di University of Massachusetts di Amherst menawarkan definisi
multikulturalisme
sebagai
 
berikut:
 
Multikulturalisme meliputi sebuah pemahaman, penghargaan dan penilaianatas budaya seseorang, serta sebuah penghormatan dan keingintahuantentang budaya etnis orang lain. Ia meliputi sebuah penilaian terhadap
budaya
-budaya orang lain, bukan dalam arti menyetujui seluruh aspek dari
budaya
-budaya tersebut, melainkan mencoba melihat bagaimana sebuahbudaya yang asli dapat mengekspresikan nilai bagi anggota-
anggotany
a
sendiri.
(Blum, 2001:16)
 
Tuntutan pengembangan masyarakat multikultural tidak dapat dilepaskandari kebutuhan warganegara. Memasuki abad ke-21, warganegara suatu bangsadihadapkan pada berbagai perubahan dan ketidakpastian seiring denganperkembangan konstelasi kehidupan dalam berbagai aspek, baik aspek politik,sosial, ekonomi, pendidikan, kebudayaan, dan sebagainya. Dalam kehidupan ini,perubahan merupakan suatu kaniscayaan karena tidak ada yang tetap keculaiperubahan itu sendiri. Perubahan merupakan bagian yang melekat dalam

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->