Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
2Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Hermeneutik dalam Ilmu

Hermeneutik dalam Ilmu

Ratings:

4.0

(1)
|Views: 2,125|Likes:
Published by rhopyklawa

More info:

Published by: rhopyklawa on Apr 25, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOCX, TXT or read online from Scribd
See More
See less

06/28/2009

pdf

text

original

 
Hermeneutik dalam Ilmu-ilmu Alam (Bagian 1)
ABSTRAK
Hermeneutik yang dalam istilah sehari-hari diartikan sebagai interpretasi atau penafsiran, padaawalnya merupakan metode penelitian dalam human sciences. Penerapan hermeneutik dalam humansciences ini diawali oleh F. Schleiermacher dan W. Dilthey, yang kemudian dikembangkan lagi olehbeberapa pemikir sesudahnya seperti Heidegger dan Gadamer. Dalam makalah ini akan ditunjukkanbahwa di dalam sejarah perkembangannya, ilmu-ilmu alam atau natural science - yang berkaitan eratdengan scientific method, objectivity, dan rationality - juga melibatkan unsur-unsur hermeneutik.Beberapa teori dalam ilmu-ilmu alam, misalnya dalam fisika kuantum dan kosmologi, sebenarnyaperupakan hasil interpretasi-interpretasi para ilmuwan yang dalam sejarahnya dapat digantikan olehinterpretasi-interpretasi baru atau yang oleh Kuhn disebut sebagai pergeseran paradigma dalam ilmupengetahuan. Dalam makalah ini akan diuraikan perkembangan pengertian hermeneutik, dilanjutkandengan diskusi keberadaan hermeneutik dalam ilmu-ilmu alam, termasuk pergeseran paradigma Kuhn,dan diakhiri dengan uraian ringkas beberapa penemuan atau teori dalam ilmu alam yang relevan.
Pendahuluan
Apakah yang dimaksud dengan hermeneutik? Mengapa hermeneutik ditawarkan sebagai salah satumetode penelitian dalam ilmu-ilmu kemanusiaan atau ilmu sosial? Apakah hermeneutik juga berlakudalam ilmu-ilmu alam? Pertanyaan-pertanyaan seperti itulah yang akan dicoba dijawab dalam makalahini, dengan penekanan pada pertanyaan terakhir, yang sebenarnya secara tidak langsung jugamenunjukkan bahwa metode penelitian ilmiah atau scientific method memiliki keterbatasan-keterbatasan sehingga dalam situasi dan kondisi tertentu para ilmuwan terpaksa menggunakaninterpretasi untuk menjelaskan fenomena alam tertentu.Secara umum, ilmu pengetahuan dibedakan menjadi dua kelompok besar, yaitu ilmu-ilmu alam danilmu-ilmu sosial. Dalam masa Aufklarung atau Zaman Pencerahan beberapa tokoh filsafat sepertiAuguste Comte, Ernst Mach, dan para filsuf dalam Vienna Circle, berpendapat bahwa tidak perlu adaperbedaan metode penelitian atau pendekatan dalam kedua kelompok ilmu pengetahuan tersebut.Kesuksesan pendekatan (metode) ilmiah dalam ilmu-ilmu alam yang berhasil menjelaskan gejala-gejalaalam sampai menjadi teknologi, diyakini akan dapat diperoleh juga jika diterapkan dalam ilmu-ilmusosial. Pandangan atau aliran semacam ini disebut aliran positivisme. Dalam perkembangannya, usahapenerapan metode ilmiah ilmu-ilmu alam dalam ilmu-ilmu sosial menimbulkan masalah, bukan saja darisegi keilmuan, tetapi juga segi kemanusiaan. Masalah inilah yang akhirnya memunculkan metode-metode alternatif dalam ilmu-ilmu sosial, yang salah satunya adalah hermeneutik atau penafsiranatau interpretasi.[1]Ilmu alam berkembang sangat cepat. Dalam fisika misalnya, teori atau gagasan 50 tahun yang lalu jauh berbeda dengan teori atau gagasan 100 tahun yang lalu. Gagasan mekanika Newton berbedadengan gagasan mekanika Kuantum. Thomas Kuhn dalam bukunya The Structure of ScientificRevolutions, yang terbit tahun 1963, menyebutkan bahwa dalam ilmu alam terjadi revolusi, yaituperubahan dari paradigma lama ke paradigma baru yang begitu signifikan dalam waktu yang singkat,misalnya paham geosentris digantikan oleh paham heliosentris.[*] Perubahan-perubahan yang cepatdalam ilmu-ilmu alam ini menimbulkan pertanyaan pertanyaan. Apakah teori atau pemahaman barudiartikan lebih objektif daripada teori atau pemahaman lama? Benarkah objektivitas masihmerupakan salah satu ciri dalam ilmu alam?.[2] Dalam makalah ini, dengan bantuan beberapa contohnyata perkembangan dalam ilmu-ilmu alam, ditunjukkan bahwa metode pendekatan hermeneutik yang
 
sebenarnya pada awal mulanya bahkan ditujukan untuk melawan paham positivisme, juga terdapatdalam ilmu-ilmu alam.
Perkembangan Pengertian Hermeneutik
Istilah hermeneutik mencakup dua hal, yaitu seni dan teori tentang pemahaman dan penafsiranterhadap simbol-simbol baik yang kebahasaan maupun yang non-kebahasaan. Pada awalnyahermeneutik digunakan untuk menafsirkan karya-karya sastra lama dan kitab suci, akan tetapidengan kemunculan aliran romantisme dan idealisme di Jerman, status hermeneutik berubah.Hermeneutik tidak lagi dipandang hanya sebagai sebuah alat bantu untuk bidang pengetahuan lain,tetapi menjadi lebih bersifat filosofis yang memungkinkan adanya komunikasi simbolik. Pergeseranstatus ini diawali oleh pandangan Friedrich Schleiermacher dan Wilhelm Dilthey. Sekarang,hermeneutik tidak lagi hanya berkisar tentang komunikasi simbolik, tetapi bahkan memiliki areakerja yang lebih mendasar, yaitu kehidupan manusia dan keberadaannya.Menurut Friedrich Schleiermacher, terdapat dua tugas hermeneutik yang pada hakikatnya identiksatu sama lain, yaitu interpretasi gramatikal dan interpretasi psikologis. Aspek gramatikalinterpretasi merupakan syarat berpikir setiap orang, sedangkan aspek psikologis interpretasimemungkinkan seseorang memahami pribadi penulis. Oleh karenanya, untuk memahami pernyataan-pernyataan dari pembicara, seseorang harus mampu memahami bahasanya sebaik ia memahamikejiwaannya. Semakin lengkap pemahamam seseorang atas sesuatu bahasa dan latar belakangpsikologi pengarang, maka akan semakin lengkap pula interpretasinya terhadap karya pengarangtersebut. Kompetensi linguistik dan kemampuan memahami dari seseorang akan menentukankeberhasilannya dalam bidang seni interpretasi. Namun, pengetahuan yang lengkap tentang kedua haltersebut kiranya tidak mungkin, sebab tidak ada hukum-hukum yang dapat mengatur bagaimanamemenuhi kedua persyaratan tersebut.[3]Schleiermacher menawarkan sebuah rumusan positif dalam bidang seni interpretasi, yaiturekonstruksi historis, objektif dan subjektif terhadap pernyataan. Melalui rekonstruksi objektif-historis, ia bermaksud membahas sebuah pernyataan dalam hubungannya dengan bahasa sebagaikeseluruhan. Melalui rekonstruksi subjektif-historis, ia bermaksud membahas awal mula sebuahpernyataan masuk ke dalam pikiran seseorang. Schleiermacher sendiri menyatakan bahwa tugashermeneutik adalah memahami teks sebaik atau lebih baik daripada pengarangnya sendiri danmemahami pengarang teks lebih baik daripada memahami diri sendiri. Jika diterapkan dalam bidangsains, sebagai contoh, untuk memahami teori relativitas Einstein, maka sebaiknya kita juga berusahamengetahui faktor-faktor yang melatarbelakangi pemikiran Einstein tersebut.Schleiermacher menegaskan adanya masalah hermeneutical circle atau lingkaran hermeneutik, yaitubahwa untuk memahami sebagian dari teks pembaca memerlukan pemahaman atas kontekskeseluruhan teks, dan untuk memahami keseluruhan teks pembaca memerlukan interpretasi atasbagian-bagian dari teks tersebut. Dengan demikian, untuk dapat memahami suatu teks pembacamemerlukan pemahaman akan sumber-sumber lain untuk membantu pemahamannya, termasukpemahaman akan kehidupan dan minat penulis. Hal ini juga memerlukan pemahaman akan konteksbudaya di mana karya penulis tersebut muncul.[4]Wilhelm Dilthey (1833-1911) membedakan ilmu pengetahuan ke dalam Naturwissenschaften atau ilmupengetahuan tentang alam dan Geisteswissenschaften atau ilmu pengetahuan tentang batin manusia.Perbedaan ini sangat penting karena pada kenyataannya kedua jenis ilmu pengetahuan tersebutmempergunakan metodologi atau pendekatan yang berbeda. Naturwissenschaften atau ilmupengetahuan tentang alam menggunakan metode ilmiah yang hasil penemuannya dapat dibuktikan
 
dengan menggunakan metode yang sangat ketat, sedangkan Geisteswissenschaften atau ilmupengetahuan tentang batin manusia atau tentang hidup tidak dapat diterapi dengan metode ilmiahseperti halnya pada Naturwissenschaften karena ilmu-ilmu Geisteswissenschaften berhubungandengan hidup manusia.Dilthey menyatakan bahwa metode atau pendekatan hermeneutik merupakan dasar dariGeisteswissenschaften. Ia tertarik pada metode hermeneutik ketika ia mencoba memecahkanpersoalan tentang bagaimana membuat segala pengetahuan tentang individu manusia menjadi ilmiah.Persoalan pokok Dilthey adalah bagaimana menemukan metode lain untuk Geisteswissenschaften jikametode ilmiah tidak dapat digunakan. Dari sinilah ia mulai melirik hermeneutik sebagai metode untukpembahasan Geisteswissenschaften.Bagi seorang ilmuwan bidang sains, yang dapat menjadi objek penelitian objektif dan ilmiahnya adalahbenda-benda yang berada dalam dunia fisik, sedangkan hal-hal atau peristiwa-peristiwa yangbertalian dengan individu hanya dapat dipahami dan diinterpretasikan. Menurut Dilthey, terhadapbenda-benda di alam kita hanya mampu "mengetahui", sedangkan terhadap manusia kita mengunakan"pemahaman" dan "interpretasi" untuk "mengetahui" manusia.[5]Tujuan akhir dari pendekatan hermeneutik adalah kemampuan memahami penulis atau pengarangmelebihi pemahamanm terhadap diri kita sendiri. Seorang sejarawan yang menuliskan segalaperistiwa sejarah, tidak jauh dari zaman di mana ia hidup, tidak akan mempunyai pandangan yanglebih jernih jika dibandingkan dengan sejarawan yang hidup sekian abad sesudahnya. Namunpandangan semacam ini dapat juga dianggap keliru. Sejauh prasangka dan keikutsertaan penulis yangbersifat subjektif dijauhkan, maka ia dapat melihat segala peristiwa dalam kebenarannya yangobjektif atau sebagaimana mestinya terjadi. Dalam pendekatan hermeneutik, seseorangmenempatkan dirinya dalam konteks ruang dan waktu, maka visinya juga mengalami berbagai macamperubahan. Ia menggunakan apa saja yang mungkin untuk ditafsirkan. Ini berbeda dengan metodeilmiah yang lebih mementingkan fenomena.[6]Pada tahun 1927, dalam karyanya Sein und Zeit (Being and Time), Martin Heidegger memberikanpengertian baru tentang hermeneutik. Menurut Heidegger, hermeneutik bukanlah mengenaipemahaman komunikasi linguistik, juga bukan merupakan basis dari metodologi bagi ilmu-ilmu tentangkehidupan manusia atau geisteswissenschaften, tetapi hermeneutik lebih merupakan ontologi.[†]Heidegger berpendapat bahwa tugas dari filsafat adalah untuk menunjukkan bagaimana subjek dapatsecara rasional memberikan aturan-aturan epistemologi di mana sebuah representasi dikatakansebagai benar atau salah. Dari suatu posisi tertentu, jalan ke konsepsi tentang kebenaran tidaklah jauh dikaitkan dengan metode yang disediakan oleh metode ilmu-ilmu alam. Model yang seperti inicenderung melupakan aspek yang paling mendasar, aspek pre-scientific keberadaan manusia di dunia.Inilah yang menjadi ruang lingkup kerja hermeneutik menurut Heidegger. Hermeneutik, atau yangoleh Heidegger disebut hermeneutics of facticity, adalah apa yang oleh filsafat dijadikan hal yangpaling utama.Dalam bukunya yang berjudul Truth and Method (1960), Hans-Georg Gadamer, yang merupakanmurid dari Martin Heidegger, membahas mengenai masalah hermeneutik yang dikemukakan olehSchleiermacher dan Dilthey dengan menggunakan metode yang disajikan oleh Heidegger dalambukunya Being and Time. Menurut Gadamer, human sciences selalu berusaha mendekati teks darisuatu posisi yang dijaga berjarak dari teks itu sendiri, yang disebut alienation, yang menghapuskanikatan-ikatan yang sebelumnya telah dimiliki oleh interpreter dengan objek yang sedangdiinterpretasikan. Menurut Gadamer, jarak tersebut dapat diatasi dan ikatan-ikatan tersebut dapat

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->