Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Hutan Kota

Hutan Kota

Ratings: (0)|Views: 67 |Likes:
Published by greensangrilla
hutan kota
hutan kota

More info:

Published by: greensangrilla on Jun 07, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/26/2013

pdf

text

original

 
HUTAN KOTAUntuk Pengelolaan dan Peningkatan Kualitas Lingkungan Hidup
BAB I. PENDAHULUAN
Pembangunan kota sering lebih banyak dicerminkan oleh adanya perkembangan fisik kota yang lebihbanyak ditentukan oleh sarana dan prasarana yang ada. Gejala pembangunan kota pada masa yang lalumempunyai kecenderungan untuk meminimalkan ruang terbuka hijau dan juga menghilangkan wajahalam. Lahan-lahan bertumbuhan banyak dialih-fungsikan menjadi pertokoan, pemukiman, tempatrekreasi, industri dan lain-lain.Ternyata dengan semakin tidak harmonisnya hubungan manusia dengan alam tetumbuhanmengakibatkan keadaan lingkungan di perkotaan menjadi hanya maju secara ekonomi namun mundursecara ekologi. Padahal kestabilan kota secara ekologi sangat penting, sama pentingnya dengan nilaikestabilannya secara ekonomi. Oleh karena terganggunya kestabilan ekosistem perkotaan, maka alammenunjukkan reaksinya berupa : meningkatnya suhu udara di perkotaan, penurunan air tanah,banjir/genangan, penurunan permukaan tanah, intrusi air laut, abrasi pantai, pencemaran air berupaair minum berbau, mengandung logam berat, pencemaran udara seperti meningkatnya kadar CO, ozon,karbon-dioksida, oksida nitrogen dan belerang, debu, suasana yang gersang, monoton, bising dan kotor.Hijaunya kota tidak hanya menjadikan kota itu indah dan sejuk namun aspek kelestarian, keserasian,keselarasan dan keseimbangan sumberdaya alam, yang pada giliran selanjutnya akan membaktikanjasa-jasa berupa kenyamanan, kesegaran, terbebasnya kota dari polusi dan kebisingan serta sehat dancerdasnya warga kota.Dari catatan sejarah dinyatakan, taman kerajaan milik bangsawan, taman rumah milik pedagang kayaraya, alun-alun dengan pohon beringin yang indah merupakan cerminan kehidupan manusia sejak jamandulu sangat membutuhkan tumbuhan. Pada kenyataan selanjutnya dengan meningkatnya taraf hidup,kemampuan dan kebutuhan manusia, maka sejak tahun 1950-an sampai dengan 1970-an ruang terbukahijau banyak dialih-fungsikan menjadi pemukiman, bandar udara, industri, jalan raya, bangunanperbelanjaan dan lain-lain. Dengan semakin meningkatnya kemampuan dan kesejahteraan masyarakat,pembangunan fisik kota terus melaju dengan pesat, di lain pihak korbannya antara lain menyusutnyaluasan lahan bervegetasi. Baru setelah manusia menyadari akan kekeliruannya selama ini, yakniterjadinya kekurang-akraban manusia dengan tumbuhan/hutan, khususnya di perkotaan, bahkan adakecenderungan untuk memusnahkannya, maka hubungan yang kurang baik tersebut ingin diperbaikikembali. Hutan kota kemudian menjadi perhatian utama untuk dibangun dan dikembangkan di seluruhkota, baik kota besar, kota menengah, kota kecil bahkan sampai tingkat kecamatan.
 
BAB II. KOTA DAN PERMASALAHANNYA
 
1. Upaya Perbaikan Mutu Lingkungan Kota
Kota merupakan tempat bermukim warga, tempat bekerja, tempat hidup, tempat belajar, pusatpemerintahan, tempat berkunjung dan menginapnya tamu negara, tempat mengukur prestasi paraolahragawan, tempat pentas seniman domestik dan manca negara, tempat rekreasi dan kegiatan-kegiatan lainnya.Kota perlu dikembangkan untuk memenuhi tuntutannya yang terus meningkat. Di dalam menentukanarah kebijakan pengembangannya perlu dibuatkan pola perencanaan pengembangan berdasarkan datayang ada dan kebutuhan yang harus dipenuhi kota tersebut.
 
Kota dengan perencanaan yang kurang memadai akan menjadi lesu, sakit dan semrawut yang jika tidakdilakukan usaha penataan kembali, akan menghadapi kematian. Kota-kota seperti itu layak diberijulukan miserapolis (
 ghetto
) yang berarti kota yang sakit, menyedihkan, melarat, kotor dan acak-acakan.Kesadaran pemerintah akan perlunya pengelolaan lingkungan di perkotaan sesungguhnya sudah sejaklama. Namun pada waktu itu gerakan tersebut masih belum menyeluruh diterima oleh seluruh wargamasyarakat dan belum semua kota benar-benar mengusahakannya secara sungguh-sungguh.Baru setelah tahun 1970-an pemerintah memperlombakan gelar "Adipura" bagi kota yang bersih, makagerakan kebersihan dan penataan kota mulai memasyarakat. Maka semua kota berlomba menata danmengelola kotanya menjadi kota yang indah, sejuk, hijau, berbunga, nyaman dan bersih, selain untukmendapatkan gelar Adipura juga takut mendapat julukan kota paling kotor.Bukti nyata perhatian pemerintah pusat dalam masalah ini antara lain berupa dimasukkannyapembangunan perkotaan dalam Rencana Pembangunan Lima Tahun kelima 1989/90-1993/94 sepertitercantum dalam Buku I halaman 423 : "Perkotaan perlu dibangun secara terencana dan terpadu dst ...Perhatian khusus perlu diberikan kepada perbaikan pengelolaan limbah kota, pengangkutan umum, tataruang kota, taman kota, dst ..." Pada halaman 431 juga dinyatakan : "... daerah hijau paru- paru kotadst ... dalam Repelita V akan dilanjutkan pembangunannya untuk meningkatkan fungsi lindung daerahtersebut". Selanjutnya pada Pekan Penghijauan Nasional ke 33 tahun 1990 di Palu Bapak Presiden telahmenyatakan tentang perlu dibangunnya hutan kota.Banyak sekali landasan operasional yang dapat dipergunakan untuk membangun hutan kota antara lain:Undang-undang No. 5 tahun 1974, No. 5 tahun 1979, No. 4 tahun 1982, No. 5 tahun 1990, No. 6 tahun1990, Inmendagri No. 14 tahun 1988 dan Keppres No. 32 tahun 1990.Beberapa kegiatan dalam memacu masyarakat agar berperan aktif dalam upaya pengelolaan lingkunganperkotaan di antaranya dengan membuat moto seperti : beriman (Bogor), bestari (Probolinggo),bercahaya (Cilacap), berseri (Yogyakarta), bersemi (Cianjur), bersih manusiawi-wibawa (DKI Jakarta),sihmponi (Ponorogo), berhiber (Bandung), Ikhlas (Pemalang) dan Satria (Purwokerto).
2. Hutan Kota dan Hubungannya dengan Ketahanan/Masa Depan Bangsa
Dari
Dapat dijelaskan bahwa kota merupakan tempat untuk berbagai kegiatan. Presiden,menteri, gubernur, walikota, bupati, dosen, guru, mahasiswa, pelajar, pelancong, duta besar, tamunegara, pelaku ekonomi, olahragawan, seniman dan komponen penting lainnya banyak melakukankegiatannya dan banyak pula yang tinggal di perkotaan.Dengan meningkatnya pembangunan berbagai kegiatan seperti pembangunan jalan, kegiatantransportasi, industri, pemukiman dan kegiatan lainnya sering mengakibatkan luasan ruang terbukahijau menurun dan sering juga disertai dengan menurunnya mutu lingkungan hidup. Hal ini akanmengakibatkan kota menjadi sakit, tercemar dan kotor. Pada keadaan yang menyedihkan seperti ini,pejabat pemerintah mungkin tidak lagi dapat berpikir tenang, tajam dan terarah, sehinggakemampuannya dalam memecahkan masalah yang kompleks dan yang bersifat futuristik akan menurun.Pelajar dan mahasiswa pada kota yang sakit dan tercemar mempunyai sifat yang mengarah ketemperamental-brutal dengan daya asah otak yang kurang kuat, karena selama perjalanan pergi danpulangnya banyak tercemar oleh gas CO dan logam berat Pb yang diemisikan oleh kendaraan bermotor.Seniman dan olahragawan pun tidak dapat menunjukkan kemampuan secara maksimal pada kondisiyang tercemar, bising dan panas.
 
Mereka semua dapat keracunan gas CO, NOx, SOx, O
3
dan partikel Pb yang diemisikan oleh kendaraanbermotor dan industri. Akibatnya, tingkat kesehatan mereka menurun, bahkan pada tingkat yang lebihparah lagi dapat menemui kematian. Bencana seperti ini pernah juga dilemparkan oleh Rachel Carsondalam bukunya
Silent Spring
.Mungkin gejala seperti ini sudah mulai merambah dan menghantui kota besar seperti Jakarta. Hal inidiantaranya ditandai dengan udara kota yang semakin panas serta udara di terminal terasamenyesakkan pernapasan dan memedihkan mata. Oleh sebab itu nampaknya untuk menghindarikeadaan tersebut, seminar, konperensi, rapat dan beberapa kegiatan lainnya sering tidak lagidiselenggarakan di dalam kota, namun di luar kota yang sejuk, bersih dan tidak bising, seperti: Puncak,Cipanas, Cisarua, Gadog dan Ciawi. Ataupun jika kegiatan tersebut dilakukan di Jakarta pada ruanganyang ber-AC.Pada keadaan kota yang sakit seperti ini kesehatan, unjuk tampil (
 performance
) dan unjuk kerja(produktivitas) dari subjek penting di perkotaan, seperti yang telah disebutkan di atas menjadi burukdan pada akhirnya akan menghasilkan kekuatan dan masa depan bangsa dan negara yang lemah dansuram.Lain halnya dengan kota yang ditata dengan baik kualitas lingkungannya. Hutan kota yang dibangun dandikembangkan akan mengurangi monotonitas, meningkatkan keindahan, membersihkan lingkungan daripencemaran, meredam kebisingan, menjadi lebih alami dan beberapa keuntungan lainnya yang akandijabarkan secara rinci pada bab selanjutnya, sehingga semua warga kota dan tamu kota dan negaraakan betah, karena lingkungannya yangbersih, nyaman dan indah. Mereka hidup dalam kesehatan,keceriaan dan kecerahan dengan unjuk tampil dan unjuk kerja yang tinggi. Dengan demikian negaraakan menjadi kuat dengan masa depan yang baik dan cerah.
BAB III. PENGERTIAN HUTAN KOTA
Ada dua pendekatan yang dipakai dalam membangun hutan kota.
Pendekatan pertama
, hutan kota dibangun pada lokasi-lokasi tertentu saja. Pada pendekatan ini hutankota merupakan bagian dari suatu kota. Penentuan luasannya pun dapat berdasarkan:(1) Prosentase, yaitu luasan hutan kota ditentukan dengan menghitungnya dari luasan kota.(2) Perhitungan per kapita, yaitu luasan hutan kota ditentukan berdasarkan jumlah penduduknya.(3) Berdasarkan isu utama yang muncul.Misalnya untuk menghitung luasan hutan kota pada suatu kota dapat dihitung berdasarkan tujuanpemenuhan kebutuhan akan oksigen, air dan kebutuhan lainnya. Perhitungan luasan hutan kota dariketiga cara tersebut di atas akan dijelaskan lebih lanjut pada Bab VI (Pembangunan).
Pendekatan kedua
, semua areal yang ada di suatu kota pada dasarnya adalah areal untuk hutan kota.Pada pendekatan ini komponen yang ada di kota seperti pemukiman, perkantoran dan industridipandang sebagai suatu enklave (bagian) yang ada dalam suatu hutan kota.Negara Malaysia dan Singapura membangun hutan kota dengan menggunakan pendekatan kedua. Olehsebab itu pada saat penulis berkunjung ke sana definisi hutan kota tidak terlalu dipersoalkan benar.Yang penting kota harus dihijaukan dengan tanaman secara maksimal, agar lingkungan menjadi bersihterbebas dari pencemaran udara, sejuk , indah, alami dan nyaman. Walaupun mungkin pada lokasiterbuka yang luasnya kurang dari 10 m
2
saja, jika dimungkinkan untuk dapat ditanami, maka akanditanami dengan tanaman, sehingga akan diperoleh lingkungan yang lebih indah dari segi tata letak,komposisi, aksentuasi, keseimbangan, keserasian dan kealamian, tanpa melupakan persyaratansilvikulturnya.

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->