Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Teologi Islam (Ilmu Kalam)

Teologi Islam (Ilmu Kalam)

Ratings: (0)|Views: 74 |Likes:
Published by Alfan Ghinan Rusydi
Hal yang berisi tentang Ilmu Kalam !!!
Hal yang berisi tentang Ilmu Kalam !!!

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: Alfan Ghinan Rusydi on Jun 07, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/19/2013

pdf

text

original

 
The 9
th
Annual Conference on Islamic Studies (ACIS)Surakarta, 2-5 November 2009
FILSAFAT ILMU KALAM(STUDI ILMU PEMIKIRAN DALAM ISLAM)
1
 
 Abdul Rozak 
2
 
 ABSTRAK 
Ilmu Kalam/Teologi Islam, adalah ilmu yang membahas aspek ketuhanan dan segala sesuatu yangberkait dengan-Nya secara rasional. Berkenaan dengan itu, maka obyek forma teologi yaitu permasalahanketuhanan dan segala sesuatu yang berkait dengan-Nya. Sementara metodologinya, yaitu upayamemahami ayat-ayat al-Qur’an dan al-Sunnah secara mendalam diikuti elaborasi pemaman dengan fakta-fakta empirik. Biasa dikenal dengan istilah dialog ilmiah keagamaan. Sebagai sebuah disiplin ilmu,
teologiislam
, berada satu rumpun dalam disiplin
ilmu Pemikiran dalam Islam
(Teologi Islam, Filsafat Islam,dan Tasawuf).Secara ilmiah, teologi islam, dapat diklasifikasikan menjadi dua bagian, yaitu:
Pertama
, teologi islamklasik teoritik. Disiplin ilmu ini, hanya membahas secara teoritik aspek-aspek ketuhanan dan berbagaikaitan-Nya, yang selama ini dibicarakan oleh berbagai aliran teologi di dunia Islam.
Kedua
, teologi islamkontemporer praktik. Disiplin ilmu ini, secara praktik membahas ayat-ayat Tuhan dan Sunah-sunah Rasul-Nya yang nilai doktrinnya mengadvokasi berbagai ketimpangan sosial. Teologi kedua ini dapatdikembangkan lagi menjadi tiga kategori:
Pertama,
Teologi Lingkungan;
kedua
, Teologi Pembebasan; dan
ketiga,
Teologi Sosial.Ketiga teologi islam praktik ini, merupakan teologi-teologi yang membahas aspek-aspek ketuhanandan berbagai kaitan-Nya, untuk mengadvokasi obyek forma teologi itu. Seperti teologi lingkungan,maksudnya yaitu pembahasan secara mendalam doktrin-doktrin agama Islam dengan argumenrasionalnya yang nilainya berupaya mengadvokasi permasalahan lingkungan alam semesta. Di sini dapatdikaji lebih luas lagi dengan menampilkan kajian seperti: teologi pemeliharaan lingkungan, teologisampah, teologi banjir, dan yang sebangsanya.Teologi transformative. Maksudnya yaitu pembahasan secara mendalam doktrin-doktrin agama Islamdengan argument rasionalnya yang nilainya berupaya mengadvokasi permasalahan perubahan. Di sinidapat dikaji lebih luas lagi dengan menampilkan kajian seperti: teologi pembebasan, teologi postmodernisme, teologi sains, dan yang sebangsanya.Dan teologi sosial. Maksudnya yaitu pembahasan secara mendalam doktrin-doktrin agama Islamdengan argument rasionalnya yang nilainya berupaya mengadvokasi permasalahan kemasyarakatan. Disini dapat dikaji lebih luas lagi dengan menampilkan kajian seperti: teologi populis, teologi perdamaian,teologi kaum tertindas, teolog gender, teologi feminis, teologi persamaan hak, dan yang sebangsanya.Di dalam sejarah perkembangannya, teologi -- di dunia Barat -- pada mulanya berkembang dari:
Pertama
, sebagai metodologi teologi. Sebagai sebuah metodologi teologi merupakan suatu caramemahami doktrin Agama melalui pendekatan wahyu dan pemikiran rasionalnya.
Kedua,
menjadi ilmuteologi. Sebagai sebuah ilmu, teologi merupakan ilmu yang membahas masalah ketuhanan dan segalasesuatu yang berkait dengan-Nya. Dan
ketiga,
menjadi teologi aksiologi. Sebagai sebuah eksiologi teologimerupakan upaya memahami doktrin Agama secara mendalam untuk mengadvokasi berbagaipermasalahan ketimpangan sosial.Wilayah kajian teologi menyangkut: Aspek tokoh teologi; karya-karya para teolog; gagasan atau ideapara teolog; sejarah perkembangan (tokoh-tokoh, karya-karya,dan gagasan para teolog); pengaruh timbalbalik antara tokoh, karyakarya, dan gagasan para teolog dengan ipoleksosbudagama; perbandingan(tokoh, karya-karya, dan gagasan); dan selain hal yang tersebut di depan ini. Berkenaan dengan itu,maka berbagai metodologi/pendekatan penelitiannya, dapat menggunakan berragam metodologipenelitian. Hal ini disesuaikan dengan aspek teologi apa yang akan diteliti oleh para pengkajinya.Umpamanya, untuk meneliti tokoh teolog, dapat digunakan pendekatan historis, atau sosiologis. Untuk meneliti gagasan teolog, dapat digunakan pendekatan antropologi, fenomenologi, strukturalism, atauselain pendekatan-pendekatan tersebut.
I. ONTOLOGI A.
 
Nama dan Definisi Teologi Islam
Teologi Islam diisitilahkan oleh berbagai pakarnya dengan berragam nama, antara lain: AbuHanifah (d.150H/767M) memberinya nama dengan istilah
 ‘ilmu fiqh al-akbar
3
.
Imam Syafi’ie(d.204H/819 M), Imam Malik (d.179H/795M), dan Imam Ja’far al-Sadiq (148H/765M) memberinya
1
Makalah disampaikan dalam
Call for papers
bagi Dosen Senior PTAI
 Annual Conference on Islamc Studies IX
Tahun2009.
2
Guru Besar (Profesor) Sejarah Perkembangan Pemikiran dalam Islam (SPPI) Fakultas Ushuluddin UIN Sunan GunungDjati Bandung.
3
 
Lihat Mushthafa ‘Abd. Al-Raziq. 1959.
Tamhid li tarikh al-falsafah al-Islamiyyah.
Hlm. 265
 
The 9
th
Annual Conference on Islamic Studies (ACIS)Surakarta, 2-5 November 2009
nama dengan istilah
 ‘Ilmu al-Kalam,
dengan istilah tokohnya disebut sebagai
al-Mutakallimun.
Imamal-Asy’ari (d.324H/935M), al-Bagdady (d.429H/1037M), dan beberapa tokoh al-Azhar Universitymemberinya nama dengan istilah
 ‘Ilmu Ushul al-Din.
 Al-Thahawi (d.331H/942M), al-Ghazali(d.505H/1111M), al-Thusi (d.671H/1272M), dan al-Iji (756H/ 1355M) memberinya nama denganistilah
 ‘Ilmu al-Aqa’id.
 Abdu al-Jabbar (d.415H/1024M) memberinya nama dengan istilah
 ‘Ilmu al-Nadhar wa al-Istidlal.
 Al-Taftazani memberinya nama dengan istilah
 ‘Ilmu al-Tauhid wa al-Shifah.
Muhammad ‘Abduh (d.1323H/1905M) memberinya nama dengan istilah
 ‘Ilmu al-Tauhid
4
.
Harry Austyn Wolfson memberi nama dengan istilah
The Philosophy of Kalam
5
.
 Ahmad Mahmud Shubhymemberinya nama dengan istilah
 ‘Ilmi al-Kalam
6
.
M Abdel Haleem memberi nama dengan istilah
Speculative Theology
7
.
C A Qadir memberi nama dengan istilah
Dialectica Teology
8
.
Sementara ituHarun Nasution (d.2000 M) memberi nama dengan istilah
Teologi Islam
9
.
Dari beberapa nama yang menjadi istilah, -- berkembang selama ini --, tidak dapat dipungkiribahwa sebenarnya istilah ilmu kalam itu merupakan transformasi dari pemikiran teologi (
 ‘Ilmu al-lahut
), yang telah berkembang di dunia Barat pada masa sebelumnya.Berkenaan dengan itu, terdapat pakar yang mendefinisikan ilmu kalam/
Ilmu al-lahut
sebagai
discourse or reason concerning God
10
 
( diskursus atau pemikiran tentang Tuhan). Bahkan denganmengutip istilah yang diberikan oleh William Ockham, L Reese menyatakan bahwa
Theology to be adiscipline resting on revealed truth and independent of both philosophy and science
11
 
(Teologimerupakan sebuah disiplin ilmu yang meletakkan kebenaran wahyu, lewat argumen filsafat dan ilmupengetahuan yang independen). Dengan nada yang hampir sama Ibn Khaldun seperti dikutip olehMushthafa Abd. Al-Raziq mendefinisikan ‘Ilmu kalam sebagai
 ‘Ilmu al-Kalam huwa ‘Ilmunyatadlammanu al-hujjaja ‘an ‘aqa idi al-Imaniyyah bi al-adillah al-‘aqliyyah
12
 
(Ilmu kalam yaitusebuah disiplin ilmu berkaitan dengan keimanan yang diperkuat dengan menggunakanargumentasi-argumentasi rasional).
B.
 
Rumpun Disiplin Ilmu Teolog Islam
.Disiplin ilmu Teologi Islam yang subyek matternya masalah ketuhanan, berpangkal dari
bidangilmu aqidah
13
.
Ilmu ini bertujuan untuk maksud menyempurnakan nilai-nilai spiritual manusia.Kondisi ini, disiplin ilmu teologi islam, masih satu rumpun dalam disiplin ilmu-ilmu keislaman rasional.Rumpun disiplin ini dinyatakan sebagai
disiplin
 
ilmu-ilmu pemikiran dalam islam
, yangdidalamnya mencakup:
Sub disiplin teologi islam sendiri, filsafat islam,
dan
tasawuf 
dalamislam.Secara ilmiah, -- dalam rangka pengembangan -- sebenarnya, teologi islam ini juga dapatdidekati lewat berbagai metode, sehingga dapat menimbulkan beberapa
ranting sub disiplin
teologiislam baru. Antara lain: Dengan pendekatan rasional empirik, teologi islam ini dapat menumbuhkandisiplin teologi yang bernilai aksiologis. Seperti:
teologi sosial, teologi feminis, teologi seni,teologi ekonomi, teologi masyarakat kelas bawah, teologi kemiskinan,
dan selain hal-haltersebut.Sementara itu dengan pendekatan rasional murni (filsafat), akan menumbuhkan disiplin ilmu-ilmuteologi islam lain seperti teologi transformatif, teologi sunnatullah, dan selain dua hal tersebut.
C.
 
Obyek Kajian teologi islam
Teologi islam sebagai sebuah disiplin ilmu, mempunyai obyek kajian tersendiri.
Obyek kajiannya yaitu ketuhanan dan segala sesuatu yang berkaitan dengan-Nya
. Berkenaandengan itu, maka teologi islam membicarakan keyakinan kebenaran ketuhanan keagamaan islam,bukan mencari kebenaran keagamaan islam.C A Qadir mengistilahkan obyek kajian teologi islam ini sebagai problema atas dasar pengakuaneksistensi Tuhan beserta sifat-sifat-Nya dan segala sesuatu yang berhubungan dengan-Nya.
4
Lihat M Abdel Haleem
Early Kalam,
dalam Seyyed Hossein Nasr dkk (ed). 1996. “ History of Islamic Philosophy” Hlm. 74-75.
5
Lihat Harry Austyn Wolfson. 1976.
The Philosophy of Kalam.
6
Ahmad Mahmud al-Shubhy.
Fi ‘Ilmi al-Kalam: Dirasah Falsafiyah Li Ara’i al-Firaq al-Islamiyyah fi Ushuli al-Din.
7
Lihat M Abdel Haleem,
Early ….
dst. Hlm. 71
8
Lihat C A Qadir. 1989.
Philosophy and Science in the Islamic World.
Hlm.46
9
Lihat Harun Nasution menulis beberapa buku tentang teologi, antara lain berjudul
Teologi Islam: Aliran-aliran,Sejarah Analisa Perbandingan
.
10
Lihat William L Resse. 1980
. Dictionary of Philosophy and Religion.
Hlm. 28
11
Lihat Reese
Dictionary …..
dst. Hlm. 28-29
12
Lihat Mushthafa ‘Abd. Al-Raziq. 1959.
Tamhid li Tarikh al-Falsafah al-Islamiyyah.
Hlm. 260-261.
13
 
CA Qadir.
Philosophy and Science …dst.
hlm.46
 
The 9
th
Annual Conference on Islamic Studies (ACIS)Surakarta, 2-5 November 2009
D. Sejarah Perkembangan Disiplin Ilmu Teologi Islam
Secara historis, teologi islam -- yang di Barat dikenal dengan istilah teologi -- bermula sebagaisebuah advokasi keagamaan terhadap ketimpangan sosial (teologi
sebagai sebuahaxiologi
 /
Theology as Axiology
) yang berkembang pada masanya. Untuk kepentingan ini, doktrinkeagamaan diinterpretasikan secara rasional, sehingga dapat dijadikan argumen teologis untuk membacking pemikiran/gagasan/idea yang substansinya menentang ketimpangan sosial yang sedangterjadi. Terhadap masalah ini, Philip Bob Cock 
14
menyatakan
Theology is (A) Rational interpretation of religious faith, practice, and exercise
(teologi yaitu upaya memahami keyakinan, perbuatan, danpengalaman keagamaan secara rasional).
 
Belakangan, teologi berkembang menjadi sebuah metodologi (
Theology as Method).
Sebagaisebuah metodologi/pendekatan
, teologi merupakan salah satu diantara beberapa pendekatanyang telah digunakan oleh para ahli sains masa lalu. Di dalam perkembangannya, pendekatan ini jugadigunakan oleh para ahli keislaman
15
.Seorang pakar yang banyak mengkaji Perbandingan Agama
16
menyatakan bahwa
Theologicalmethod must always be a secondary matter for comparative theology, subsidiary to converseinterpretations of the specific symbols of a particular religious tradition. It is helpful, therefore, toreflect on what kind of general theological method may be contemporary comparative theologiansdespite otherwise sharp differences among them.
Pada masa-masa berikutnya, barulah teologi berkembang menjadi sebuah disiplin ilmu (
Theologyas Science).
Sebagai sebuah disiplin ilmu
, di dunia islam, teologi islam
17
berkembang sejak AbuHasyim dan kawannya Imam al-Hasan bin Muhammad bin Hanafiah, para tokoh Mu’tazilah
18
. Adapunorang pertama yang membentangkan pemikiran ilmu kalam secara lebih baik lewat logikanya yaituImam al-Asy’ari, seorang tokoh teologi Suni
19
, dengan karya yang terkenal
al-Maqalat
, juga
al-Ibanah ‘an ushul al-diyanah
. Teologi ini selain mempunyai obyek kajian tersendiri, yaitu membicarakanketuhanan dan segala sesuatu yang berkaitan dengan-Nya, maksudnya keyakinan kebenarankeagamaan islam; ilmu ini juga telah tersusun dengan baik/tersistematisasikan di dalam membahasobyek kajian itu; dan mempunyai metodologi tersendiri yaitu dialog ilmiah keagamaan, sertadimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan salah satu dari tiga unsur keimanan seorang Muslim, yaitudalam aspek 
nuthqun bi al-lisan
20
.Berkenaan dengan itu, -- di dunia Barat -- seorang teolog
21
, menyatakan bahwa di dalam teologiberkembang istilah
Teologica Systematika
. Teologi ini menguraikan tentang dogmatika, etika, danfilsafat agama. Ada juga istilah
Teologia Historica
. Teologi ini menguraikan tentang kitab suci, sejarahGereja, sejarah dogma, dan sejarah agama. Juga ada istilah
Teologia Practica.
Teologi inimenguraikan tentang homeletik, katechetik, dan liturgi.Pada akhir-akhir ini teologi islam, telah berusaha menjadi sebuah advokasi bagi permasalahansosial, atau teologi menjadi sebuah axiologi. Hal ini tampak dengan berkembangnya istilah-istilahseperti teologi feminisme, teologi gender, teologi kemiskinan, teologi kaum tertindas, teologitransformatif, teologi pembebasan, dan berbagai macam istilah lagi. Semua peristilahan itu padadasarnya merupakan sebuah kajian ilmiah yang di dalamnya berbicara mengenai ayat-ayat al-Qur’andan sunah Rasul-Nya sebagai sumber primer keagamaan islam yang -- secara tematik --mengadvokasi hal-hal yang berkait dengan ketimpangan sosial.
14
Lihat Philip Bob Coch (ed). 1987.
Webster’s Third New International Dictionary of the English Language.
Hlm. 2371.
15
Untuk memahami secara lebih luas kajian ini, anda dapat dibaca buku Abdul Rozak.
Cara Memahami Islam(metodologi Studi Islam).
Gema Media Pusakatama.
16
 
Lihat Mircea Eliade (ed).1987.
The Encyclopedia of Religion.
 Vol.13&14. Hlm. 452.
17
Untuk memperluas pemahaman tentang ilmu ini, baca Abdul Rozak.dkk.
Ilmu Kalam.
Bandung: Pustaka Setia.
18
Baca al- Asy’ari.
Maqalat al-Islamiyyin wa Ikhtilaf al-Mushallin.
Hlm. 23 menyatakan bahwa
Wa kana al-Mu’tazilahawwalu man isti’ana bi al-falsafah al-Yunaniyah.
19
Lihat Ibrahim Madkur.
Fi al-Falsafah al-Islamiyah: Manhaj wa tathbiquh.
Jld.II. Hlm.46-47 menyatakan bahwa
walayazalu al-madzhab al-Asy’ary ‘aqidah Ahlu Sunnah ila al-yaum
; Jo. ‘Abd Lathif Muhammad al-‘Ibr.
al-Ushul al-Fikriyah LiMadzhab Ahl al-Sunnah.
Cet.X. Mesir: Dar al-Nahdlah al-‘Arabiyyah.
20
Laboratorium Pancasila IKIP Malang.
Pokok-pokok Pembahasan Pancasila Dasar Filsafat Negara Republik Indonesia.
Hlm.19. menyatakan bahwa, ada empat unsur bahwa sebuah konstruk dapat dinyatakan sebagai ilmu, yaitu 1) terdapatobyek tertentu yang dapat diselidiki(obyektif). 2) Dalam mengetahui obyek itu melalui metode tertentu (metodis). 3)Kesimpulan hasil penyelidikan itu disistematisasikan secara baik dan benar (sistematis). Dan 4) Aktivitas tersebut untuk tujuan memenuhi kebutuhan dorongan manusia (
Science for the seek of science
)
21
H Hilman Hadikusuma.1993.
 Antropologi Agama.
Bandung: Citra AdityaBakti. Hlm.10

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->