• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
Download
 
nulis : Benny Susetyo
Pluralitas di Indonesia adalah berkah tak ternilai harganya dari Tuhan Yang Maha Kuasa.sayangnya, manusia sering salah menerjemahkan rahmat tersebut sehingga kerap menjadi bencana. Bukanlah Tuhan yang menganugerahkan bencana, melainkan manusia yang memilikicara pandang sempit (miopik) yang sering menyelewengkan rahmat tersebut menjadi bencana.Agama dan keberagamaan merupakan tolok ukur dan pintu gerbang (avant garde) menilai bagaimana pandangan pluralitas ditegakkan. Bagaimana individu dan kelompok tertentumemandang individu dan kelompok lainnya. Semangat keberagamaan yang cenderung memujafundamentalisme menjadi akar masalah serius seringnya pluralitas berpeluang menjadi bencanadaripada rahmat.Keberagamaan yang demikian akan menjebak sense u-mat hanya kepada saudara-saudaraseagama (in group feeling) dan menomorduakan saudara dari agama lain. Lahir sikap tidak objektif dalam memandang apa yang ada di luar agamanya. Lahirlah primordialisme sempit yangakan mengakibatkan berbagai konflik sosial politik dengan implikasi perang dan kekerasanantaragama yang mengatasnamakan agama. Tentu perlu disadari bahwa agama yang bersifat primordial akan selalu menegasikan aspek pluralitas. Selanjutnya, ini menghilangkan moralitasmanusia yang paling asasi. Tentu perlu kita sadari fungsi agama adalah menolak segala macamsikap kebencian, balas dendam, kepicikan, pembunuhan, pemaksaan, perampokan, dankerusuhan. Fungsi agama adalah mengembangkan sikap kebaikan, belas kasihan, solidaritas, persaudaraan universal tanpa membedakan asal-usul suku dan budaya, ras maupun gender.Agama tanpa fungsi semacam itu hanya akan melahirkan suatu pemujaan (cult) belaka.
Agama dan Ancaman Konflik Sosial
Agama diturunkan ke bumi ini untuk menciptakan kedamaian dan ketenteraman. Tidak pernahada cita-cita agama manapun yang ingin membuat onar, membuat ketakutan, suasana mencekam, pembunuhan, sadisme dan perusakan. Sebelum adanya agama, masyaraka dibayangkan sebagaikelompok tak beraturan, suka berkonflik, saling membunuh, saling menjelekkan dan seterusnya.Kemudian agama datang untuk membawa cahaya kedamaian bagi manusia di bumi ini. Agama,dengan demikian harus kita sepakati terlebih dahulu, hadir untuk menciptakan ketenteraman,untuk saling menghormati dan memahami satu sama lain. Ada banyak agama dan kepercayaan di bumi ini. Logisnya, antaragama dan kepercayaan semestinya tumbuh sikap saling menghormatiitu. Namun sayangnya, dari masa lalu hingga kini, suatu agama kerap memandang dirinya sebagaisatu kebenaran tunggal dalam memotret agama lain, demikian pula dengan agama yang lain.Antaragama jarang menemukan titik temu atas realitas perbedaan yang sudah semestinya niscayaini. Lalu terjadilah konflik yang berdarah-darah, pembunuhan korban tak bersalah atas namaagama. Sebagai pemeluk agama yang benar-benar memanifestasikan imannya untuk kedamaiandi dunia, kita benar-benar dibuat sedih. Jika konflik atas nama agama dibenarkan, hilanglahnurani dan hakikat agama itu sendiri. Agama tak lagi menjadi payung perdamaian karena sudahmengalami politisasi dan fanatisme.
 
Dialog antaragama dan komunikasi antariman dengan demikian, akan menjadi sesuatu yang amat berharga dalam rangka menyelesaikan konflik. Ia adalah suatu konsep di mana penghargaan padamasing- masing keyakinan menjadi poin utama. Logisnya, menganggap keyakinan sendiri paling benar adalah ketidakdewasaan menghadapi dan memahami hakikat atau substansi agama. Untuk membangun pergaulan agama-agama yang lebih manusiawi dan untuk meredam potensi-potensikekerasan umat beragama yang bisa muncul dari klaim-klaim kebenaran sepihak itu, tampaknya jalan untuk mengatasinya adalah dengan memperluas pandangan inklusif (terbuka) dari visireligiusitas kaum beragama.
Humanisme, Agama dan Politisasi
Tidak bisa tidak, agar agama-agama mampu menghadapi tantangan masa depan yang berupaglobalisasi, ia harus benar-benar bersifat humanistik serta terbuka. Artinya, ketika melakukandialog perlu ditanamkan sebuah keyakinan bahwa kebenaran suatu agama adalah milik masing-masing pemeluknya.Sementara itu, penghargaan dan penghormatan atas agama lain adalah prioritas mutlak dalammewujudkan kebersamaan dan perbedaan. Tanpa adanya sikap saling mengormati, tampaknyakita semakin terperosok pada keyakinan yang membabi-buta atas agama tertentu di alam yang plural ini. Dan, kita akan terjebak pada potensi-potensi kekerasan yang jelas-jelas menodai rasakemanusiaan kita. Tugas penting agama- agama adalah bersama mencari makna kemanusiaan.Yang terjadi pada masyarakat kita selama ini adalah ketakutan mental, minimnya sikap salingmenghormati dalam beragama. Ini bertentangan dengan nilai kemanusiaan dalam agama.Sikap agama terhadap masalah kemanusiaan, akan menjadi tolok ukur profetis agama di tengahmasyarakat. Kehilangan fungsi profetis ini otomatis menghilangkan fungsi agama di tengahmasyarakat. Bahkan, TH Sumartana almarhum (1996) mengatakan bahwa dalam diskursus kitatentang pertemuan antaragama, kita terpanggil bukan hanya untuk membuat agenda sosial politik dan lainnya. Tetapi setaraf dengan itu, kita harus mengedepankan sebuah agenda teologi sebagaikesatuan integral.Dengan demikian, tugas teologi dalam agama mestinya diarahkan untuk mengusir rasa takutterhadap agama lain. Sehingga agenda yang sangat mendesak adalah mengalahkan ketakutan bersama antar agama itu dan memunculkan kebersamaan agama-agama dalam menjaga danmempertahankan martabat manusia dari ancaman terutama yang datang dari diri sendiri. Di masaOrba, kita sering merasa sedih karena agama selalu mengalami reduksi dan politisasi. Doktrinagama tentang kedamaian direduksi menjadi sebentuk fundamentalisme, yaitu hasil dari proses politisasi dan fanatisasi agama. Di masa itu pula kita memahami bahwa pereduksian agama akanmelahirkan situasi di mana agama tertentu terjebak dalam konfrontasi dengan kelompok agamalain. Keberagamaan kita terjebak kepada bentuk formalisme beragama. Akibat yang memilukanadalah agama justru terasing dari persoalan kehidupan manusia. Mengapa demikian? Hal ini tak lain karena fungsi agama kabur. Agama yang seharusnya menjadi pembebas, malah terjebak padaaspek romantisme formal.Oleh karena itu, di sini penting mengutip pendapat JB Banawiratma (1996) bahwa dalammemandang agama kita perlu melihatnya dalam dua aspek, yakni dengan huruf kecil dan besar.
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...