Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
2Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Prosedur Operasi Standar Pendidikan Inklusi

Prosedur Operasi Standar Pendidikan Inklusi

Ratings: (0)|Views: 161 |Likes:
Published by Rafa Ramdhani

More info:

Published by: Rafa Ramdhani on Jun 10, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/10/2013

pdf

text

original

 
PROSEDUR OPERASI STANDAR PENDIDIKAN INKLUSI
 
DIREKTORAT PEMBINAAN SEKOLAH LUAR BIASADIREKTORAT JENDERAL MANDIKDASMEN
 
DEPARTEMEN PENDIDIKAN NATIONAL
 
TAHUN 2007
 
A. PENDAHULUAN
 
1. Latar Belakang
 Pemerintah Indonesia memberikan jaminan sepenuhnya kepada anak berkebutuhan khusus(ABK) untuk memperoleh layanan pendidikan yang bermutu. Hal tersebut sesuai denganamanat Undang Undang Dasar 1945 pasal 31 ayat 1 dan Undang
 – 
Undang Nomor 20 tahun2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jumlah anak berkebutuhan khusus usia sekolahmenurut data BPS dan Depsos (2003) adalah 317.016 ABK. Sampai saat ini 66.610 ABK atau sekitar 21 % telah memperoleh layanan pendidikan pada Sekolah Luar Biasa (SLB),Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB), dan Sekolah Terpadu. Ini berarti 79 % atau 250.442 ABK di Indonesia belum memperoleh layanan pendidikan.Berdasarkan kenyataan tersebut, maka diperlukan alternatif sistem pendidikan lain yang lebihmemberikan peluang bagi perluasan dan peningkatan mutu layanan pendidikan bagi ABK.Untuk mengantisipasi permasalahan ini, model pendidikan inklusif merupakan sistem pendidikan yang memberikan kesempatan kepada semua anak untuk memperoleh layanan pendidikan yang bermutu, humanis dan demokratis, sesuai dengan penjelasan pasal 15 dalamUndang-Undang S
isdiknas Tahun 2003, yang berbunyi: “Pendidikan khusus merupakan
 penyelenggaraan pendidikan untuk peserta didik yang berkelainan atau peserta didik yangmemiliki kecerdasan luar biasa yang diselenggarakan secara inklusif atau berupa satuan pendidikan khusu
s pada tingkat pendidikan dasar dan menengah.”
 
2. Landasana. Landasan Filosofis
 1) Setiap anak mempunyai hak mendasar untuk memperoleh pendidikan,2) Setiap anak mempunyai potensi, karakteristik, minat, kemampuan dan kebutuhan belajar yang berbeda,3) Sistem pendidikan seyogyanya dirancang dan dilaksanakan dengan memperhatikankeanekaragaman karakteristik dan kebutuhan anak,4) Anak berkebutuhan khusus mempunyai hak untuk memperoleh akses pendidikan disekolah umum.5) Sekolah umum dengan orientasi inklusi merupakan media untuk menghilangkansikap diskriminasi, menciptakan masyarakat yang ramah, membangun masyarakat yanginklusif dan mencapai pendidikan bagi semua.
b. Landasan Yuridis
 1) Undang Undang Dasar 1945, ps 31 (1) dan (2).2) Undang-Undang No.23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak, ps 51.3) Undang Undang No. 20 Tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional: ps 3, ps 4(1), ps 5 (1) (2) (3) (4) , ps 11 (1), ps. 12 (1.b)4) Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1997 tentang Penyandang cacat.5) Surat Edaran Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Depdiknas No.380/G.06/MN/2003 tanggal 20 Januari 2003 tentang pendidikan inklusif.
d
.
Landasan Empiris
 1) Deklarasi Hak Asasi Manusia, (1948),
 Declaration of Human Rights
,2) Konvensi Hak Anak, (1989),
Convention on the Rights of the Child 
,3) Konferensi Dunia (1990), tentang Pendidikan untuk Semua, (
World Conference on Education for All 
),
 
4) Resolusi PBB nomor 48/96 tahun 1993 tentang Persamaan Kesempatan bagi OrangBerkelainan
(the standard rules on the equalization of opportunities for persons withdisabilities)
 5) Pernyataan Salamanca (1994), tentang Pendidikan Inklusif,6) Komitmen Dakar (2000) mengenai Pendidikan untuk Semua,7) Deklarasi Bandung (2004)
 
dengan komitmen “Indonesia menuju pendidikan inklusif”,
 8) Rekomendasi Bukittinggi (2005), tentang meningkatkan kualitas sistem pendidikanyang ramah bagi semua.
3. Pengertian Pendidikan Inklusif 
 Pendidikan inklusif adalah sistem layanan pendidikan yang memberikan kesempatan kepadasemua anak belajar bersama-sama di sekolah umum dengan memperhatikan keragaman dankebutuhan individual, sehingga potensi anak dapat berkembang secara optimal.Semangat pendidikan inklusif adalah memberi akses yang seluas-luasnya kepada semua anak,termasuk anak berkebutuhan khusus, untuk memperoleh pendidikan yang bermutu danmemberikan layanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhannya.
4. Prinsip-prinsip Penyelenggaraan
 1.
 
Prinsip pemerataan dan peningkatan mutu.Pemerintah mempunyai tanggung jawab untuk menyusun strategi upaya pemerataankesempatan memperoleh layanan pendidikan dan peningkatan mutu. Pendidikan inklusif merupakan salah satu strategi upaya pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan, karenalembaga pendidikan inklusi bisa menampung semua anak yang belum terjangkau olehlayanan pendidikan lainnya. Pendidikan inklusif juga merupakan strategi peningkatan mutu,karena model pembelajaran inklusif menggunakan metodologi pembelajaran bervariasi yang bisa menyentuh pada semua anak dan menghargai perbedaan. b. Prinsip kebutuhan individualSetiap anak memiliki kemampuan dan kebutuhan yang berbeda-beda, oleh karena itu pendidikan harus diusahakan untuk menyesuaikan dengan kondisi anak.c. Prinsip KebermaknaanPendidikan inklusif harus menciptakan dan menjaga komunitas kelas yang ramah, menerimakeanekaragaman dan menghargai perbedaan.d. Prinsip keberlanjutanPendidikan inklusif diselenggarakan secara berkelanjutan pada semua jenjang pendidikan.e. Prinsip KeterlibatanPenyelenggaraan pendidikan inklusif harus melibatkan seluruh komponen pendidikan terkait.
5. Tujuan
 1.
 
1.
 
Memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada semua anak (termasuk anak berkebutuhan khusus) untuk memperoleh pendidikan yang layak sesuaidengan kondisi anak.2.
 
Mempercepat penuntasan program wajib belajar pendidikan dasar 3.
 
Meningkatkan mutu pendidikan dasar dan menengah dengan menekan angkatinggal kelas dan putus sekolah4.
 
Menciptakan sistem pendidikan yang menghargai keanekaragaman, tidak diskriminatif, serta pembelajaran yang ramah terhadap semua anak.
6. Sasaran
 Sasaran pendidikan inklusif adalah semua anak usia sekolah termasuk ABK. ABK terdiri atasanak yang mengalami hambatan permanen, temporer maupun hambatan dalam perkembangan. Anak-anak dengan kebutuhan khusus yang dapat dilayani melalui pendidikaninklusif diantaranya, cacat fisik, intelektual, sosial, emosional, cerdas dan/atau berbakatistimewa, anak yang tinggal di daerah terpencil/terbelakang, suku terasing, korban bencana
 
alam/ sosial, kemiskinan, warna kulit , gender, ras, bahasa, budaya, agama, tempat tinggal,kelompok politik, anak kembar, yatim, yatim piatu, anak pedesaan, anak kota, anak terlantar,tuna wisma, anak terbuang, anak yang terlibat dalam sistem pengadilan remaja, anak terkenadaerah konflik senjata, anak pengemis, anak terkena dampak narkoba HIV/AIDS (ODHA),anak gelandangan dan nomaden, dll sesuai dengan kemampuan dan kebutuhannya.
B. PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN INKLUSIF1. Kriteria Sekolah
 Setiap satuan pendidikan formal, baik TK/RA, SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, danSMK/MAK, pada dasanya dapat menyelenggarakan pendidikan inklusif sesuai dengansumber daya yang tersedia. Namun demikian untuk menghindari kemungkinan terjadinyaimplementasi penyelenggaraan pendidikan inklusif yang kurang sesuai, maka setiap satuan pendidikan yang akan menyelenggarakan pendidikan inklusif perlu memenuhi beberapakriteria, di antaranya sebagai berikut :a. Terdapat Peserta Didik Berkebutuhan Khusus (PDBK)Melalui proses identifikasi dan asesmen terhadap semua peserta didik di sekolah yang bersangkutan, yang dilakukan oleh sekolah atau tenaga profesional lain, kita dapatmenemukan ada atau tidak ada peserta didik berkebutuhan khusus di sekolah tersebut.ABK mungkin juga dapat diperoleh dari proses penjaringan terhadap anak usia sekolah yang belum bersekolah di lingkungan terdekat. ABK juga dapat diperoleh berdasarkan hasilrujukan dari Sekolah Luar Biasa/Institusi lain terdekat, baik karena proses mutasi sekolahataupun melanjutkan sekolah.Jika sekolah umum tersebut terdapat peserta didik berkebutuhan khusus, baik karena melalui proses identifikasi dan asesmen, penjaringan di lingkungan terdekat, maupun rujukanSLB/Institusi lain, maka secara otomatis sekolah tersebut dapat menyelenggarakan pendidikan inklusif.1.
 
1.
 
Kesiapan SekolahUntuk mendukung kelancaran dalam penyelenggaraan pendidikan inklusif, setiap satuan pendidikan harus memiliki kesiapan untuk menyelenggarakan pendidikan inklusif. Kesiapandimaksud meliputi :(1) Adanya persepsi dan sikap yang positif dari semua komponen sekolah, termasuk orangtua anak pada umumnya, tentang pendidikan inklusif.(2) Adanya kemauan yang kuat dari sekolah untuk meningkatkan pemerataan dan mutu pendidikan tanpa diskriminatif (3) Adanya peluang untuk meningkatkan aksesibilitas ABK dalam penyelenggaraan pendidikan inklusif 1.
 
Layanan dalam Pendidikan Inklusif 
 Layanan dalam pendidikan inklusif harus memperhatikan hasil identifikasi dan asesmenABK. Berdasakan hasil identifikasi dan asesmen tersebut dikembangkan berbagaikemungkinan alternatif program pelayanan sesuai dengan kebutuhannya.Beberapa alternatif program pelayanan yang dapat dipilih sesuai dengan kebutuhan pesertadidik di antaranya adalah :1.
 
Layanan pendidikan penuhSemua anak termasuk ABK belajar bersama di dalam komunitas kelas yang beragam di bawah bimbingan guru kelas, guru bidang studi atau guru lainnya. Sedangkan peran GuruPendidikan Khusus (GPK) bertanggung jawab dalam pembuatan program, monitor  pelaksanaan program dan mengevaluasi hasil pelaksanaan program.1.
 
Layanan pendidikan yang dimodifikasiABK mengikuti proses belajar bersama-sama anak pada umumnya dalam komunitas kelasyang beragam di bawah bimbingan guru kelas, guru bidang studi atau guru lainnya untuk 

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->