Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword or section
Like this
2Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Sapaan Dalam Bahasa Lombok

Sapaan Dalam Bahasa Lombok

Ratings: (0)|Views: 736|Likes:
Published by azizuny149

More info:

Published by: azizuny149 on Jun 10, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/12/2013

pdf

text

original

 
1
BAB
 
I
 
PENDAHULUANA.
 
Latar Belakang Masalah
Setiap kelompok masyrakat memopunyai sistem intraksi antar individu.Sistem intraksi itu berbeda beda antar satu kelompok masyrakat dengankelompok masyrakat yang lain, perbedaan itu pada dasarnya ditentukan peraturansosial setiap kelompok masyrakat. Dengan demikian, komonikasi yang terjadiantar individu baik yang saling kenal maupun tidak mengikuti sebuah sistem.Perbedaan sistem intraksi antar individu tersebut sangat jelas terlihat salam sistemsapaan bahasa kelompok yang bersangkutan, kenyatan itu dapat dilihat dari beberapa hasil penelitian beberapa ahli. Diantara ahli tersebut adalah brown dangilman (1977) tentang masyrakat indo eropa. Ahli selanjutnya adalah ford (1984)tentang bahasa inggris amerika, kridalaksana (1975), tentang sapaan bahasaindonesia, halim(1990), tentang sistem sapaan bahasa orang minang kabau,suwarso (1990) tentang sapaan mahasiswa ui, hoed (1990) tentang penerjemahan pronomina orang kedua tunggal bahasa perancis kedalam bahasa indonesia danmahmud dkk (1997) tentang sapaan bahasa tamiang.(Saefudin mahmud dkk;2003)Sistem sapaan kelompok masyrakat memiliki keunikan tersendiri,keunikan tersebut terletak pada pemakaian istilah sapaan bahasa. Keunikan ituterletak pada pemakaian bahasa sasak lombok kecamatan suralaga, keunikan dankeberagaman penyebutan dan penyapaan dalam istilah kekeluargaan memiliki cirikhas tersendiri.Peletak dasar pondasi dalam linguistik modern abad ke-19 yangdipelopori oleh
 Ferdinand De Saussure
(1916) yang memandang bahasa sebagailembaga kemasyarakatan yang sama dengan lembaga kemasyarakatan lain,Ferdinand terinspirasi dari tokoh skaligus bapak dunia ilmu social
 Emil Durhem
seperti perkawinan dan pewarisan harta peninggalan telah memberi isyarat akan pentingnya perhatian terhadap dimensi sosial bahasa. Namun, kesadaran tentanghubungan yang erat antara bahasa dan masyarakat baru muncul pada pertengahanabad ini
(Hudson 1996: 2
). Para ahli bahasamulai menyadari bahwa pengkajian
 
2masyarakat akan mengesampingkan beberapa aspek penting dan menarik,bahkanmungkin menyempitkan pandangan terhadap disiplin bahasa itu sendiri.Argumentasi ini telah dikembangkan antara lain oleh
 Labov
 
(1972) dan Halliday
 (1973) yang mengungkapkan bahwa ujaran mempunyai fungsi sosial, baik sebagaialat komunikasi maupun sebagai cara mengidentifikasikan kelompok sosial danapabila kita mempelajari ujaran tanpa mengacu ke masyarakat yangmenggunakannya sama dengan menyingkirkan kemungkinan ditemukannya penjelasan sosial bagi struktur ujaran tersebut. Salah satu aspek yang juga disadariadalah hakikat pemakaian bahasa sebagai suatu gejala yang senantiasa berubah.Pemakaian bahasa bukanlah cara bertutur yang digunakan oleh semua orang bagisemua situasi dalam bentuk yang sama. Sebaliknya, pemakaian bahasa itu berbeda-beda tergantung pada berbagai faktor sosial.Hubungan gejala bahasa dan faktor-faktor sosial dikaji secara Mendalamdalam disiplin sosiolinguistik (Fishman 1972; Wardhaugh 1986; Homes 1992:1,Hudson, 1996: 1). Bahasa dalam disiplin ini tidak didekati sebagai struktur formalsemata sebagaimana dalam kajian linguistik teoretis, melainkan didekati sebagaisarana interaksi di dalam masyarakat. Sosiolinguistik mencakupi bidang kajianyang luas, bukan hanya menyangkut wujud formal bahasa dan variasi bahasamelainkan juga penggunaan bahasa di masyarakat. Penggunaan bahasa itu bertemali dengan berbagai faktor, baik faktor kebahasaan maupun faktor nonkebahasaan, seperti faktor tata hubungan antara penutur dan mitra tutur.Implikasinya adalah bahwa tiap-tiap kelompok masyarakat mempunyaikekhususan dalam nilai-nilai sosial budaya penggunaan bahasa dalam interaksisosial.Bahasa sasak merupakan salah satu pelestarian khazanah budaya salahsatu daerah diindonesia yang memili sejarah dan tradisi yang cukup tua dipeliharadan dilestarikan oleh masyrakat penuturnya (suku sasak). Dipulau lombok,Selainitu juga bahasa sasak adalah bahasa yang sangat penting didaerah lombok, karena bahasa sasak digunakan sebagai alat komonikasi dan berintraksi dan memenuhisegala hajat hidup masyrakat Lombok selain bahasa Indonesia sebagai bahasa Nasional.
 
3Bahasa Lombok yang didiami masyrakat suku sasak beratus bahkan beriburibu tahun, bahasa sasak ngeto ngete merupakan salah satu aksen atau bentuk  pengucapan bahasa sasak selain bentuk atau aksen bahasa sasak lainnya.Masyrakat penutur bahasa sasak yang mendiami pulau lombok diperkirakan lebihkurang 4 juta jiwa yang trsebar pada 4 kabupaten yaitu kabupaten lombok timur,lombok tengah, lombok barat, lombok utara.Pernyataan diatas sesuai dengan apa yang dikemukakan
 Fasold
1984)yang menyatakan bahwa dalam sebuah sosiolinguistik tidak ada masyrakat yangmonolitik, dalam bahasa ada ragamnya dan dalam ragam bahasa tersebut adasubragamnya, bahkan dalam tiap tuturan inndividu beragam. Kenyatan inimembuktikan bahwa tiap tiap bahasa daerah sepert bahasa Jawa, Bali, Madura danlain sebagainya memiliki dialek regional dan dialek sosial.Banyaknya ragam bahasa geografis dan sosial merujuk pada setiapkelompok masyrakat dalam berintraksi terhadap sesamanya sekurang kurangnyamenggunakan dua komponen yaitu peserta dan bahasa.(
Sumarpouw,2000:220 Via Johar Amir) .
Bahasa dalam intraksi verbal yaitu pembicara dan lawan bicara. Salahsatu aspek yang penting dalam intraksi verbal adalah sistem penyampaan, sistemini digunakan oleh penutur dan mitra tutur sebagai alat untuk saling menghormati.Sehubungan dengan itu, mayrakat suku sasak yang mendiami pulauLombok memiliki bahasa penyapa tersendiri sebagai pertanda penghormatanterhadap sesamanya dalam berintraksi dan melangsungkan hidup mereka dalammasyrakat. Dalam bahasa sasak aksen ngeto ngete kata penyapa bentuk  pronomina digunakan serentak, kita ambil contoha.
 
Pengkura tini tonz?lagi ngpain disana saudara ? b.
 
Gin pe kmbe amaq?Mau kemna bapak?Berdasarkan contoh diatas, penyapa dalam bahasa sasak aksen ngetongete memiliki bentuk yang unik karena digunakan dan disertakan dalamhubungan kekerabatannya dan menunjukan kelas sosialnya dalam masyrakat.

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->