/  6
 
Pohon di Kuburan Meringankan Siksa?
 
ٍيِبَك ف ِناّذعُامو ِناّذعُَل اّ َاَقَِْَْَقِّسو هْَ ىّص ّل رم َاَٍابِْ 
 
اّقَشَًةبطًدِرج َذَخأ ّث ةّلاِشَناََرَخ امأو ِْبل م ِتَْَناََاَدحأ امأ
 
َام اَهّعَل َاََذعََّ َُسا لاَًدحو ْَك ف َزرَغََْ
 
ابْ
“Dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhu , beliau berkata, “Rasulullahshallallahu’alaihi wassalam melewati dua buah kuburan, lalu beliau bersabda,‘Sungguh keduanya sedang disiksa, mereka disiksa bukan karena perkara besar (dalampandangan keduanya). Salah satu dari dua orang ini, (semasa hidupnya) tidakmenjaga diri dari kencing, sedangkan yang satunya lagi, dia keliling menebarnamimah.’ Kemudian beliau mengambil pelepah basah, beliau belah jadi dua, lalubeliau tancapkan di atas masing-masing kubur satu potong. Para sahabat bertanya,‘Wahai Rasulullah, kenapa engkau melakukan ini ?’ Beliau menjawab, ‘Semoga merekadiringankan siksaannya selama keduanya belum kering.” “TakhrijHadits ini diatas dikeluarkan oleh:* Imam Bukhari dalam Al Jami’ As Shahih (1/317-Fathul Baari) No. 216, 218,1361, 1378, 6052 dan 6055* Imam Muslim dalam As Shahih (3/200 - syarah Imam Nawawi) No. 292* Imam Tirmidzi dalam Al Jami‘ (1/102) No. 70, dan beliau mengatakan, “HaditsHasan Shahih”* Imam Abu Daud dalam As Sunan (1/5) No. 20* Imam Nasa’I dalam Al Mujtaba (1/28)* Imam Ibnu Majah dalam As Sunan (1/125) No. 237Pemahaman Yang Benar Terhadap HaditsSabda beliau,
ِناّذعُَل اّإ
 
(Sesungguhnya mereka berdua sedang disiksa.).Kata ganti (mereka berdua-pent) adalah kata ganti untuk kubur, (namun) yangdimaksudkan adalah penghuni kubur.Sabda beliau,
ٍيِبَك ف ِناّذعُامو
 
(Mereka berdua disiksa bukan karenaperkara besar(dalam pandangan keduanya)). Dalam riwayat lain Imam Bukhari,
 
ٌيِبَل هّإو ٍيِبَك ف ِناّذعُ
“Mereka berdua disiksa karena perkara besar (dalam pandangan keduanya) namunsungguh itu adalah perkara besar.”Dalam Shahih Bukhari juga dalam Kitab Wudhu terdapat lafadz,
 
ٌيِبَك هّإ ٍيِبَك ف ِناّذعُامو
“Mereka berdua tidak disiksa karena perkara besar(dalam pandangan keduanya),bahkan sungguh itu adalah perkara besar.”Dengan dua tambahan lafadz yang shahih ini, dapat ditetapkan bahwa penyebabnya
 
adalah dosa besar. Maka sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam, “Merekaberdua disiksa bukan karena perkara besar.” Perlu di jelaskan.Imam Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim (3/201) mengatakan, para ulamatelah menyebutkan dua penafsiran dalam hadits iniPertama, itu bukanlah perkara besar dalam pandangan mereka berdua.Kedua, meninggalkan kedua perkara ini bukanlah sesuatu yang besar (susah).Al Qadli Iyadh menyampaikan tafsir ketiga yaitu, tidak termasuk dosa besar.Saya (Syaikh Raid) katakan, berdasarkan tafsir ketiga ini, maksud hadits iniadalah larangan dan memberikan peringatan yang keras kepada orang lain selain duapenghuni kubur ini, agar tidak mengira bahwa adzab Allah itu hanya ada akibat daridosa besar yang membinasakan, karena adzab itu (kadang) ada akibat dari selainnya.Wallahu a’lam.Sebab kedua perbuatan ini (yaitu tidak menjaga diri dari air kencing dan namimah-pent) menjadi dosa besar adalah perbuatan tidak bersih dari kencing mengakibatkanbatalnya shalat. Sehingga tidak diragukan lagi tidak membersihkan diri darikencing merupakan perbuatan dosa besar. Demikian juga menebar namimah (adu domba)dan berusaha berbuat kerusakan termasuk perbuatan yang paling buruk, apalagi jikabersesuaian dengan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wassalam yang menggunakan kataYAMSYI (fi’il mudhari’) yang biasanya menunjukkan keadaan yang terus berkelanjutan(artinya dia terus-terus melakukannya selama hidupnya-pent).Sabda beliau
ِتَْ
 
. Al Hafiz Ibnu Hajar dalam Fathul Baari mengatakan,“Beginilah dalam kebanyakan riwayat yaitu dengan dua huruf yang bertitik duadiatas (dua huruf Ta’-pent), huruf pertama difathahkan dan huruf keduadikasrahkan. Dalam riwayat Ibnu Asakir[1]
ئْَْ
 
(membesihkan diri-pent) denganhuruf ba’ disukunkan, berasal dari kata
ءَْْس
Dalam hadist riwayat Imam Muslim dan Abu Dawud dari hadits Al A’masy[2]
ِَْ
 
dengan huruf nun yang disukunkan, setelah itu huruf zai lalu huruf ha. Makna kata
ِتَْ
 
adalah tidak membuat antara dia dengan kencingnya sesuatu yang bisamelindunginya dari percikan kencing. Dengan demikian, maka maknanya sejalan denganriwayat
ِَْ
 
.Al hafizh Ibnu Hajar rahimahullah dalam Fathul Baari (1/318) menyatakan, “Dalamriwayat Abu Nu’aim berbunyi
ىّَ
 
(tidak menjaga diri-pent) dan kata inimerupakan penjelas maksud (kata-kata diatas-pent). Sebagian para ulamamemberlakukan kata
ِتَْ
 
sesuai zhahirnya. Mereka mengatakan, bahwa artikata itu adalah tidak menutup auratnya.Sabda beliau
ةّلاِش
 
yaitu mengutip dan menceritakan perkataan seseorangdengan tujuan mencelakakan. Adapun jika tujuannya untuk mewujudkan satukemaslahatan atau menghindari kerusakan secara syar’i maka hal itu dibenarkan.Imam Nawawi rahimahullah dalam Syarh Muslim (3/201) mengatakan, “(Namiimah) adalahmenceritakan perkataan seseorang ke orang lain dengan tujuan merusaknya (Adu
 
domba).”Sedangkan perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam menaruh dua potong pelepahbasah diatas dua kubur, menurut pandangan para ulama, perbuatan beliau shallallahu‘alaihi wassalam itu dipahami bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wassalam memintakansyafa’at untuk penghuni kubur itu, lalu permintaan beliau shallallahu ‘alaihiwassalam dikabulkan dengan diberi keringanan adzab kepada kedua penghuni kubur itusampai kedua potong pelepah itu kering.Imam Muslim rahimahullah menyebutkan di akhir kitab Shahih-nya sebuah hadits yangpanjang yaitu hadits Jabir tentang dua penghuni kubur, (beliau shallallahu ‘alaihiwassalam bersabda-pent):“… maka syafa’atku untuk meringankan adzab dari kedua penghuni kubur itudikabulkan selama dua batang kayu ini masih basah.”Dalam hadits tersebut tidak ada isyarat yang menunjukkan bolehnya menanam pelepahkurma atau yang lainnya di atas kuburan. Itu merupakan (kekhususan) Rasulullahshallallahu ‘alaihi wassalam, karena Allah Ta’ala memperlihatkan kepada beliaushallallahu ‘alaihi wassalam keadaan dua penghuni kubur tersebut dan adzab yangmereka alami. Ini merupakan kekhususan diantara kekhususan-kekhususan Rasulullahshallallahu ‘alaihi wassalam sebagaimana penjelasan yang akan datang insya AllahTa’ala .Pemahaman keliru tentang hadits iniAda yang memahami hadits diatas dengan pemahaman keliru. Sebagian mereka berdalil(berargumentasi) dengan hadits ini, tentang bolehnya menanam kurma dan pepohonandiatas kuburan. Mereka mengatakan bahwa illah (penyebab) diringankan adzab darikedua penghuni kubur ini adalah dua pelepah yang masih basah karena keduanyasenantiasa bertasbih kepada Allah selama masih basah sedangkan yang kering tidakbertasbih.Pendapat ini menyelisihi firman Allah Ta’ala ,
 
ْِبْََنَقََلو دْَِبُإ ءْَم نإو
“Dan tak ada suatupun melainkan nertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekaliantidak mengerti tasbih mereka.” (QS Al Isra’ 44)Kalaulah seandainya, penyebab diringankan adzab adalah tasbih, tentu tidak adaseorangpun yang mendapatkan siksa di dalam kuburnya karena debu dan bebatuan yangberada di atas mayit bertasbih kepada Allah Ta’ala .Syaikh kami Al Albani rahimahullah mengatakan dalam Ahkamul Janaaiz (hal. 201),“Kalau seandainya kondisi basah pelepah itu yang dimaksud, pasti para salafusshalih telah memahaminya dan mengamalkan penunjukkannya serta telah meletakkanpelepah atau batang pohon di atas kubur ketika mereka berziarah. Kalau seandainyamereka melakukan hal tersebut, tentu beritanya akan masyhur kemudian dinukil paraperawi terpercaya kepada kita. Karena ini termasuk perkara yang menarik perhatiandan mesti dinukil. Jika tidak dinukil, maka menunjukkan bahwa hal itu tidakpernah terjadi. Cara seperti ini dalam mendekatkan diri kepada Allah adalahbid’ah”.Adapun hadits Buraidah Al Aslamiy radhiallahu ‘anhu yang berisi bahwa beliauberwasiat agar ditaruhkan dua pelepah diatas kuburnya. Maka hal ini merupakanhasil ijtihad beliau semata dan ijtihad itu kadang benar dan kadang salah. Dan

Share & Embed

More from this user

Add a Comment

Characters: ...