* * *
Mahkamah Agung tak hanya memenangkan Garuda, Tempo, dan Time, tapi juga mengirim wartawan Radar Jogja dan Oposisi ke penjara. Menurut Koordinator Advokasi Aliansi Jurnalis Independen Margiyono, ini karena doktrin independensi hakim dalam menanga perkara. "Hakim merasa tak perlu mengikuti hakim sebelumnya dalam memutus perkara," kata dia.Mantan Ketua Dewan Pers Atmakusumah menyebut perbedaan sikap hakim agung itu sebagai terbelahnya sikap aparat penegak huk dalam menggunakan pidana penjara bagi jurnalis. Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dedy Jamaludin Malik, melihatnya sebagai "sik proporsional hakim dalam menangani perkara". Menurut Atmakusumah, tak semua hakim agung setuju dengan pendapat bahwa wartawan bisa dipenjarakan. Sikap ini pula yang banyak terdapat di institusi kejaksaan dan kepolisian. Pada akhirnya, kata dia, itu juga bergantung pada subyektivitas dan pengalaman dari para hakim yang menanganinya.Bagi Atmakusumah, ini akan menjadi laten karena hukum positif memang masih menyediakan banyak pidana penjara. Hingga kini setidaknya ada sejumlah undang-undang yang menyediakan pidana penjara bagi wartawan, antara lain Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, Undang-Undang Penyiaran, Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, serta Undang-Undang Hak Cipta. "Meski sebagian besar wartawan yang berurusan dengan hukum karena KUHP, utamanya karena kasus pencemaran nama baik," kata Atmakusumah.Utamanya melalui kasus pencemaran nama baik. Misalnya Bambang Harymurti dari majalah Tempo serta Karim Paputungan dan Suparman dari Rakyat Merdeka, termasuk Dahri dan Risang Bima Wijaya. Adapun Teguh Santosa dari Rakyat Merdeka dijerat denga penghinaan terhadap agama.Menurut Atmakusumah, adanya regulasi yang masih menyediakan pidana penjara dan kasus-kasus gugatan terhadap wartawan inilah yang membuat indeks kebebasan pers Indonesia di mata Reporter San Frontiers (RSF) terus menurun, setelah dianggap dalam kondis terbaiknya pada 2005. Dengan berada di peringkat ke-57 dalam indeks RSF, tahun itu kebebasan pers di Indonesia dianggap yang terbaik di Asia Tenggara.Setelah itu indeks kebebasan pers tersebut terus menurun: pada 2003 berada di peringkat ke-111, 2004 peringkat ke-117, 2005 pering ke-102, 2006 peringkat ke-103, 2007 peringkat ke-100, dan pada 2008 peringkat ke-111. "Selain karena regulasi, meningkatnya jumla kasus kekerasan memicu turunnya indeks kita," kata Atmakusumah.Soal sejumlah regulasi ini, menurut Dedy, karena tak semua anggota DPR punya persepsi yang sama dalam melihat peran pers. Ada juga anggota DPR yang konservatif dan melihat kebebasan pers dengan rasa cemas. "Ada kekhawatiran mereka menggunakan kekuasaannya sehingga mereka juga harus dikontrol melalui undang-undang," kata dia. Atmakusumah mengiyakan kondisi itu dan mengingat sebuah rapat dengar pendapat yang dihadirinya bersama sejumlah lembaga swadaya masyarakat dengan Komisi I DPR.Dalam rapat pada 1998 itu, anggota DPR menyampaikan secara eksplisit bahwa kebebasan pers dan kebebasan berekspresi perlu dikontrol karena pendidikan masyarakat masih rendah. Pandangan itu, bagi Atmakusumah, sangat menggelikan meski akhirnya menunjukkan bahwa mungkin itulah alam pikir sebagian anggota parlemen. Ia pun menyanggahnya dengan mengatakan publik Amerik Serikat tak lebih baik dari kita pada 1999 saat menyusun Amendemen Pertama. Dedy tak menampik pandangan itu.Menurut Margiyono, banyaknya undang-undang yang menyediakan pidana penjara bahkan setelah era reformasi ini memang tak terlal mengherankan. Sebagai proses politik, pembuatan undang-undang merupakan hasil pertarungan antara yang konservatif dan reformis."Lahirnya undang-undang yang menyediakan pidana penjara itu menunjukkan bahwa kelompok pertamalah yang masih dominan," kat dia.Idealnya, kata dia, pasal-pasal itu harus dihapuskan melalui berbagai cara, entah melalui judicial review ke Mahkamah Agung, entah melalui pembuatan undang-undang baru di DPR. Namun, itu butuh waktu lama dan bukan perjuangan. Namun, kata dia, itu bisa diatas dengan menidurkan pasal-pasal tersebut. "Pasal-pasal itu tidak akan berkekuatan jika tak dipakai alias ditidurkan," kata dia.Bagi Atmakusumah, salah satu yang harus dilakukan pers adalah mensosiasialiasi putusan yang memiliki perspektif membela kebebas pers agar diketahui hakim di banyak tempat. Tak hanya itu. Menurut Dedy, apa yang dilakukan sejumlah lembaga dengan melakukan l kepada anggota DPR sebagai cara efektif untuk mencegah lahirnya undang-undang yang tak ramah kepada pers. Ia mengatakan kasu kasus yang menjerat pers selama ini tak dilakukan secara sistematis.Margiyono juga berharap preseden positif, seperti kasus Time, Tempo, dan Garuda, dimasukkan dalam lembar yurisprudensi, meski ia tahu bahwa itu tak otomatis diikuti oleh hakim lainnya. "Minimal, jika itu tak dilakukan, vonisnya bisa dibatalkan di Mahkamah Agung," k dia. Bagi Atmakusumah, pers juga harus menunjukkan sikap profesional dan taat kode etik, selain terus meyakinkan publik bahwa manfaat dari pers bebas lebih besar dari kerugian yang ditimbulkannya.
Abdul Manan
Regulasi dan Penjara
Cukup banyak undang-undang yang berpotensi mengirim wartawan ke penjara. Ini beberapa di antaranya:
1. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP)
Page 2 of 3KORAN TEMPO › Print Article4/27/2009http://www.korantempo.com/korantempo/cetak/2009/04/20/Nasional/krn.20090420.163012.i
Add a Comment