Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
2Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Analisis Agitasi, Retorika Dan Propaganda Politik

Analisis Agitasi, Retorika Dan Propaganda Politik

Ratings: (0)|Views: 564 |Likes:

More info:

Published by: Tomy Satria Wardhana on Jun 12, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/06/2014

pdf

text

original

 
TUGASANALISIS AGITASI, RETORIKA DAN PROPAGANDA POLITIK 
(Disusun sebagai Tugas pada Mata Kuliah JURNALISTIK POLITIK)Dosen : Bpk Dr. Mohammad NasihDisusun Oleh:Tomy Satria Wardhana NPM : 2011130007
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA2013
 
Perkembangan jurnalistik dimulai dari perkembangan jurnalistik sebagai pengetahuankemasyarakatan dalam bidang pernyataan antar manusia. Namun, gejala dan masalah-masalah jauhsebelum itu sudah terlihat. Berdasarkan pada sifat manusia yang selalu berusaha menghubungkan diri danmencari hubungan dengan sesama serta lingkungannya, menunjukkan bahwa karya jurnalistik itumempunyai usia yang sama dengan umur manusia itu sendiri.Adapun usaha untuk melaksanakan hubungan antar manusia diantaranya adalah salingmenyatakan atau menyiarkan dan saling menerima gerak kehendak serta cipta rasanya masing-masinghingga dalam perkembangan peradabannya timbul berbagai macam pengetahuan, seperti ilmu retorika,ilmu tulis menulis, karang mengarang, penerangan, propaganda, reklame dan agitasi, ilmu gerak-gerik atau isyarat manusia, dan seni drama.Demikian pula dalam bidang perkakas maupun alat-alat untuk kepentingan usaha tersebut, kitalalu mengenal ilmu-ilmu kejurusan teknik dalam hal telepon, radio, film, dan televisi. Dengan adanyaalat-alat yang dipergunakan untuk keperluan usaha manusia dalam hal pernyataannya itu, sebagaiakibatnya maka timbul pula ilmu pendapat umum.Perkembangan serta pertumbuhan ilmu-ilmu pengetahuan tersebut menggambarkan perkembangan dan kemajuan keperluan manusia terhadap hubungan dan pengertian satu sama lainnya,atau terhadap rasa dan kesadaran bermasyarakat. Gairah untuk menyatakan dan/ menyiarkan gerak kehendak serta isi hati nurani kepada sesamanya, serta gairah untuk mengetahui isi hati sesamanya adalahciri-ciri asasi manusia dalam hidup bermasyarakat.Politik bahasa di Indonesia menjadi kepanjangan tangan dari rezim orde baru. politik bahasaterkadang dijadikan agenda dan ideologi kehidupan bernegara. penetapan bahasa Indonesia yang baik dan benar pembinaan dan Pengembangan Bahasa, kedudukan dan fungsi bahasa daerah asing Indonesia, ejaan bahasa Indonesia yang disempurnakan (EYD), pedoman umum pembentukan istilah. Tata bahasa baku bahasa Indonesia, peristilahan Indonesia (asing ke Indonesia, baku ke tidak baku) oleh pusat pembinaandan pengembangan bahasa yang
notabene
organ pemerintahan merupakan contoh pembentukan politik  bahasa Indonesia. menurut Ariel Heryanto
dalam bukunya “Bahasa dan Kuasa adalah tatapan
 postmodernisme dalam bahasa dan k 
ekuasaan”, bahasa Indonesia pada hakikatnya merupakan komoditas
industrial. bahasa tidak lahir dan tumbuh dari dinamika umum masyarakat, tetapi merupakan produk rekayasa para professional yang dirancang untuk dipasarkan secara massal. bahasa bukan lagi menjadi bahasa ibu maupun sebagai bahasa yang telah berkembang luas dan menjadi penghantar berkomunikasiantar dan inter komunitas melainkan menjadi komuditas yang bersumber pada keputusan para pejabat pembinaan dan pengembangan bahasa.
 
Politisasi bahasa yang paling terlihat dan sering dipergunakan oleh penguasa dan masyarakatadalah penjulukan atau labeling. Pola semacam ini juga berlaku pada era orde baru dimana kita kerapmendengar istilah-istilah ekstrim kanan, ekstrim kiri, anti pancasila, subversive, anti pembangunan, provokator, OTB, GPK. Selain labeling muncul pula berbagai gaya bahasa seperti eufimisme ataudihalus-haluskan, puferistis atau sarkastis (dikasar-kasarkan), bombastis (dibesar-besarkan), vulgarristis(dijijik-jijikkan), feodalistis atau stratifikatif dan juga sloganistis dijadikan gaya bahasa pemerintah Orde baru dalam Reformasi Pembangunan. counter yang dilakukan oleh masyarakat kemudian menghasilkan plesetan bahasa seperti, Supersemar (Soeharto persis seperti Marcos), RCTI (Ratu cendana TitipInvestasi) SDSB (Soeharto Dalang Segala Bencana), KKN (Korupsi, Kolusi, Nepotisme), BJ Habibie(bicara jago, habis bicara bingung), Akbar Tanjung (Akhirnya Bubar Tanpa Ujung). Keduanyamerupakan contoh bahasa politik yang berlaku di Indonesia sekaligus respon yang muncul darimasyarakat. Muncul istilah-istilah yang secara makna dikudeta oleh para penguasa orde baru telahmengubah pandangan dan cara berpikir masyarakat Indonesia yang menjadi subjek bahasa.Bahasa politik merupakan bahasa yang dipergunakan oleh para elit birokrasi guna menyampaikankepentingan dalam kekuasaannya. M
enurut Virginia Matheson Hooker dalam bukunya “Bahasa dan
Pergeseran Kekuasaan, Politik Wacana di Panggung Orde B
aru” menyebutkan ciri bahasa politik yaitu :
terjadinya politisasi makna atas bahasa-bahasa yang dipergunakannya, terjadi penghalusan makna dalam bentuk eufimisme atau ungkapan halus dari bahasa yang dalam terminologi Mochtar Lubis sebagaisebuah penyempitan makna serta memunculkan citra positif terhadap penguasa dengan menyembunyikankenyataan yang menyakitkan, terjadinya bentuk-bentuk bahasa propaganda dalam rangka meyakinkan pihak lain, terutama masyarakat. propaganda yang paling berani adalah menggunakan bahasa agitasi dan bahasa rumor (tidak jelas sumbernya) untuk mencegah gejolak social.Istilah agitasi, propaganda, dan retorika atau orang-orang sering menyebutnya ARETOP (Agitasi,Retorika dan Propaganda) adalah bagian dari cara berkomunikasi. Sebetulnya ada banyak cara berkomunikasi lainya seperti penerangan, jurnalistik, humas, publisitas, pameran, dll. Seperti apa yangmenjadi tujuan umum dari komunikasi maka ARETOP ditujukan juga untuk mengubah sikap, pendapat,dan perilaku orang lain seperti yang diharapkan oleh komunikator (pengirim pesan) atau jurnalis.Karena terkait masalah perilaku individu dalam situasi sosial, ARETOP tidak lepas dari masalah psikologi sosial. ARETOP akan menjadi efektif apabila disertai dengan pemahaman atas faktor-faktor internal maupun eksternal yang mempengaruhi sikap, maupun perilaku individu maupun kelompok.Faktor internal seperti kepribadian, sistem nilai, motivasi, serta sikap terhadap sesuatu yang adadisekitarnya, sedangkan secara eksternal dipengaruhi oleh sistem nilai yang hidup ditengah masyarakat,

Activity (2)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->