Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
9Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Materi PKD_09 PMII Tarbiyah IAIN Sunan Ampel

Materi PKD_09 PMII Tarbiyah IAIN Sunan Ampel

Ratings:

4.5

(2)
|Views: 2,088 |Likes:
Published by Bahauddin Amyasi
Dokumen ini adalah arsip materi PKD PMII Komisariat Tarbiyah Surabaya Selatan, IAIN Sunan Ampel.
Dokumen ini adalah arsip materi PKD PMII Komisariat Tarbiyah Surabaya Selatan, IAIN Sunan Ampel.

More info:

Published by: Bahauddin Amyasi on May 01, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/11/2014

pdf

text

original

 
REKONSTRUKSI TEOLOGIS :MEMPERTIMBANGKAN GAGASAN HASSAN HANAFI
Oleh : Koord. Materi Keislaman
A. Sekilas Biografi Hassan Hanafi
Memahami pemikiran seseorang, tidak bisa dilepaskan dari perspektif historis kelahiran pemikiran beserta ruang lingkup yang mempengaruhinya. Ada beragam faktor yang turut terlibat dalam memunculkankarakteristik pemikiran seseorang. Menurut Anton Bakker dan Charis Zubair (1990: 47), sebagaimana dikutipListiyono Santoso (2007: 267) manusia itu makhluk historis. Maka memahami pemikiran Hanafi juga tidak bisadilepaskan dari berbagai faktor yang mempengaruhi terbentuknya karakteristk dasar pemikirannya.Hassan Hanafi lahir di Kairo, 13 Februari 1935, dari keluarga musisi (
John L. Esposito, 1995:98 )
.Pendidikannya diawali di pendidikan dasar, tamat tahun 1948, kemudian di Madrasah Tsanawiyah ‘Khalil Agha’,Kairo, selesai 1952. Selama di Tsanawaiyah ini, Hanafi sudah aktif mengikuti diskusi-diskusi kelompok IkhwanulMuslimin, sehingga tahu tentang pemikiran yang dikembangkan dan aktivitas-aktivitas sosial yang dilakukan.Selain itu, ia juga mempelajari pemikiran Sayyid Quthub tentang keadilan sosial dan keislaman. Tahun 1952 itu juga, setamat Tsanawiyah, Hanafi melanjutkan studi di Departemen Filsafat Universitas Kairo, selesai tahun 1956dengan menyandang gelar sarjana muda, terus ke Universitas Sorbone, Prancis. Pada tahun 1966, ia berhasilmenyelesaikan program Master dan Doktornya sekaligus dengan tesis
‘Les Methodes d’Exegeses: Essei sur LaScience des Fondament de La Conprehension Ilmu Ushul Fiqh’ 
dan desertasi
‘L’Exegese de la Phenomenologie, L’etat actuel de la Methode Phenomenologie et son Application au Phenomene Religiux’ 
(
Lutfi Syaukani, 1994:121)
.
Hassan Hanafi harus diakui merupakan seorang intelektual muslim berkebangsan Mesir yang sangat produktif. Pada fase awal pergulatan pemikirannya, tulisan-tulisan Hassan Hanafi bersifat ilmiah murni. Barusetelah itu, ia mulai berbicara tentang keharusan Islam untuk mengembangkan wawasan kehidupan yang progresif dan berdimensi pembebasan
(Taharrur, Liberation).
Hal itu mengisyaratkan, bahwa fungsi pembebasan jika kita inginkan, dapat membawa masyarakat pada kebebasan dan keadilan. Pada tahun 80-an Hassan Hanafimulai mengarahkan pemikirannya pada upaya universalisasi Islam sebagai paradigma peradaban melaluisistematisasi proyek “Tradisi dan Modernitas” yang ditampilkan memalui bukunya
al-Turas Wa al-Tajdid 
yangterbit pada tahun 1980. Lalu
al-Yasar al-Islami
(Kiri Islam); sebuah tulisan yang berbau ideologis. Jika KiriIslam baru merupakan pokok-pokok pikiran yang belum memberikan rincian dari program pembaruannya, maka, buku
Min al-Aqidah ila Al-Tsaurah
(5 jilid) yang ditulis hampir sekitar 10 tahun dan baru terbit pada tahun 1988,memuat uraian rinci tentang pembaharuan dan memuat gagasan rekonstruksi ilmu kalam (teologi Islam klasik).Dan tulisan singkat ini mencoba untuk mengurai sedikit tentang gagasan rekonatruksi ilmu kalam ini.
C. Dari Teologi Theosentris ke Antroposentris.
Selain secara teoritis, teologi klasik dianggap tidak ilmiah dan tidak filosofis, karena cenderung lepasdari sejarah dan pembicaraan tentang manusia disamping cenderung sebagai legitimasi bagi status quo, menurutHanafi, secara praktis, teologi tidak bisa menjadi ‘pandangan yang benar-benar hidup’ yang memberi motivasitindakan dalam kehidupan konkrit manusia. Sebab, penyusunan teologi tidak didasarkan atas kesadaran murnidan nilai-nilai perbuatan manusia, sehingga muncul keterpecahan (
 split 
) antara keimanan teoritik dan keimanan praktis dalam umat, yang pada gilirannya melahirkan sikap-sikap moral ganda atau ‘singkritisme kepribadian’.Fenomena sinkritis ini tampak jelas, menurut Hanafi, dengan adanya ‘faham’ keagamaan dan sekularisme (dalamkebudayaan), tradisional dan modern (dalam peradaban), Timur dan Barat (dalam politik), konservatisme dan progresivisme (dalam sosial) dan kapitalisme dan sosialisme (dalam ekonomi). (Hanafi,
1991: 59)
Kerangka konseptual di atas pada gilirannya membuat Hanafi berani mengajukan konsep baru tentangteologi Islam. Tujuannya untuk menjadikan teologi tidak sekedar sebagai dogma keagamaan yang kering dankosong melainkan mampu menjelma sebagai ilmu tentang perjuangan sosial, menjadikan keimanan berfungsisecara aktual sebagai landasan etik dan motivasi tindakan manusia. Karena itu, gagasan-gagasan Hanafi yang berkaitan dengan teologi, berusaha untuk mentranformulasikan teologi tradisional yang bersifat teosentris menujuantroposentris, dari Tuhan kepada manusia (bumi), dari tekstual kepada kontekstual, dari teori kepada tindakan,dan dari takdir menuju kehendak bebas. Pemikiran ini, minimal, di dasarkan atas dua alasan; pertama, kebutuhanakan adanya sebuah ideologi (teologi) yang jelas di tengah pertarungan global antara berbagai ideologi. Kedua, pentingnya teologi baru yang bukan hanya bersifat teoritik tetapi sekaligus juga praktis yang bisa mewujudkansebuah gerakan dalam sejarah (
AH. Ridwan, 1998: 44-5)
.Untuk menggagas satu formulasi baru dan menambal kekurangan teologi klasik yang dianggap tidak  berkaitan dengan realitas sosial, Hanafi menawarkan dua teori (
Hanafi, 1991: 408-409)
.
 Pertama
, analisa bahasa.Bahasa dan istilah-istilah dalam teologi klasik adalah warisan nenek moyang dalam bidang teologi yang khas, danseolah-olah sudah menjadi doktrin yang tidak bisa diganggu gugat. Menurut Hanafi, istilah-istilah dalam teologisebenarnya tidak hanya mengarah pada realitas yang transenden dan ghaib, tetapi juga mengungkap tentang sifat-sifat dan metode keilmuan; yang empirik-rasional seperti iman, amal dan imamah, yang historis seperti nubuwahdan ada pula yang metafisik, seperti Tuhan dan akherat.
 Kedua
, analisa realitas. Menurut Hanafi, analisa inidilakukan untuk mengetahui latar belakang historis-sosiologis munculnya teologi dimasa lalu dan bagaimana pengaruhnya bagi kehidupan masyarakat atau para penganutnya. Selanjutnya, analisa realitas berguna untuk menentukan stressing bagi arah dan orentasi teologi kontemporer.Untuk melandingkan dua usulannya tersebut, Hanafi paling tidak menggunakan tiga metode berfikir;
dialektika, fenomenologi
dan
hermeunetik.
Dialektika adalah metode pemikiran yang didasarkan atas asumsi bahwa perkembangan proses sejarah terjadi lewat konfrontasi dialektis dimana tesis melahirkan antitesis yangdari situ kemudian melahirkan sintesis. Hanafi menggunakan metode ini ketika, sebelumnya, menjelaskan tentangsejarah perkembangan pemikiran Islam. Juga ketika Hanafî berusaha untuk membumikan kalam yang dianggapmelangit. Maka apa yang dilakukan Hanafi terhadap kalam klasik ini sama sebagaimana yang dilakukan Marxterhadap pemikiran Hegel. Menurut Marx, pemikiran Hegel berjalan di kepalanya, maka agar bisa berjalan
 
Training of Trainer (ToT)Pelatihan Kader Dasar (PKD) PMII Tarbiyah Surabaya Selatan
“Re-Eksistensi Mahasiswa : Mendobrak Antagonisme Gerakan danDiabolisme Pemikiran”.
normal ia harus dijalankan diatas kakinya (
Bertens, 1996: 235 dan Berten, 1983: 80).
Artinya, kalam klasik yangterlalu theosentris harus dipindah menjadi persoalan ‘material’ agar bisa berjalan normal.Akan tetapi, bukan berarti Hanafi terpengaruh atau mengikuti metode dialektika Hegel atau Marx.Hanafi menyangkal jika dikatakan bahwa ia terpengaruh atau menggunakan dialektika Hegel atau Marx.Menurutnya, apa yang dilakukan semata didasarkan dan diambil dari khazanah keilmuan dan realitas sosialmuslim sendiri; persoalan kaya-miskin, atasan-bawahan dan seterusnya yang kebetulan sama dengan konsepHegel maupun Marx. Bahkan ia mengkritik tajam metode dialektika Marx yang dinilai gagal memberi arahankepada kemanusiaan, karena akhirnya yang terjadi justru totalitarianisme (
Hanafi, 1979: 1-2)
. Disini, barangkali iaterilhami oleh inspirator revolosi sosial Iran; Ali Syariati, ketika dengan metode dialektikanya Syariatimenyatakan bahwa manusia adalah syntesa antara ruh Tuhan (tesa) dan setan (anti-tesa).Fenomenologi adalah sebuah metode berfikir yang berusaha untuk mencari hakekat sebuat fenomenaatau realitas. Untuk sampai pada tingkat tersebut, menurut Husserl (1859-1938) sang penggagas metode ini, peneliti harus melalui --minamal-- dua tahapan penyaringan (reduksi); reduksi fenomenologi dan reduksi eidetis.Pada tahap pertama, atau yang disebut pula dengan metode apoche, peneliti menyaring atau memberi kurungterhadap fenomena-fenomena yang dihadapi. Peneliti mulai menyingkirkan persoalan-persoalan yang dianggaptidak merupakan hakekat dari objek yang dikaji. Tahap kedua, reduksi adetis, peneliti masuk lebih dalam lagi.Tidak hanya menyaring yang fenonemal tetapi menyaring intisarinya (
Drijarkara, 1984: 121-124 ; Brouwer 
 ,
1980: 52 ;Anton Bekker, 1984: 113-7)
Hanafi menggunakan metode ini untuk mengalisa, memahami dan memetakan realitas-realitas sosial, politik ekonomi, realitas khazanah Islam dan realitas tantangan Barat, yang dari sana kemudian dibangun sebuahrevolosi (
Hanafi, 1981: 84-6)
. ‘
Sebagai bagian dari gerakan Islam di Mesir, saya tidak punya pilihan lain kecualimenggunakan metode fenomenologi untuk menganalisa Islam di Mesir’ 
, katanya. Dengan metode ini, Hanafiingin agar realitas Islam berbicara bagi dirinya sendiri; bahwa Islam adalah Islam yang harus dilihat darikacamata Islam sendiri, bukan dari Barat. Jika Barat dilihat dari kacamata Barat dan Islam juga dilihat dari Barat,akan terjadi ‘sungsang’, tidak tepat.Hermeneutik adalah sebuah cara penafsiran teks atau simbol. Metode ini mensyaratkan adanyakemampuan untuk menafsirkan masa lampau yang tidak dialami, kemudian dibawa ke masa sekarang, yangaktivitas penafsirannya itu sendiri merupakan proses triadik; mempunyai tiga segi yang saling berhubungan,yakni teks, penafsir atau perantara dan penyampaian kepada audiens. Orang yang melakukan penafsiran harusmengenal pesan atau kecondongan sebuah teks dan meresapi isinya, sehingga dari yang pada mulanya ‘yang lain’menjadi ‘aku’ penafsir sendiri (
Sumaryono, 1993: 31)
.Hanafi menggunakan metode hermaunetik untuk melandingkan gagasannya berupa antroposentrisme-teologis; dari wahyu kepada kenyataan, dari logos sampai praktis, dari pikiran Tuhan sampai manusia (
Hanafi,1991: 1)
. Sebab, apa yang dimaksud dengan hermeneutik, bagi Hanafi, bukan sekedar ilmu interpretasi tetapi jugailmu yang menjelaskan tentang pikiran Tuhan kepada tingkat dunia, dari yang sakral menjadi realitas sosial.
D. Operasinalisasi Teologi Hanafi.
Dari tawaran konsep diatas
 plus
metode pemikiran yang digunakan, Hanafi mencoba merekonstruksiteologi dengan cara reinterpretasi tema-tema teologi klasik secara metaforis-analogis. Dibawah ini dijelaskan tiga pemikiran penting Hanafi yang berhubungan dengan tema-tema kalam; zat Tuhan, sifat-sifat Tuhan dan persoalantauhid.Menurut Hanafi, konsep atau nash tentang dzat dan sifat-sifat Tuhan tidak menunjuk pada ke-Maha-andan kesucian Tuhan sebagaimana yang ditafsirkan oleh para teolog. Tuhan tidak butuh pen-
taqdisan
manusia,karena tanpa yang lainpun Tuhan tetap Tuhan Yang Maha Suci dengan segala sifat kesempurnaan-Nya. Semuadeskripsi Tuhan dan sifat-sifat-Nya, sebagaimana yang ada dalam al-Qur’an maupun Sunnah, sebenarnya lebihmengarah pada pembentukan manusia yang baik, manusia ideal, insan kamil.Diskripsi Tuhan tentang dzat-Nya sendiri memberi pelajaran kepada manusia tentang kesadaran akandirinya sendiri (
cogito
), yang secara rasional dapat diketahui melalui perasaan diri (
 self feeling 
). PenyebutanTuhan akan dzatnya sendiri sama persis dengan kesadaran akan keberadaan-Nya, sama sebagaimana Cogito yangada dalam manusia berarti penunjukan akan keberadaannya. Itulah sebabnya, menurut Hanafi, mengapa deskripsi pertama tentang Tuhan (
aushâf 
) adalah wujud (keberadaan). Adapun deskrip-Nya tentang sifat-sifat-Nya (
aushâf 
) berarti ajaran tentang kesadaran akan lingkungan dan dunia, sebagai kesadaran yang lebih menggunakan desain,sebuah kesadaran akan berbagai persepsi dan ekspresi teori-teori lain. Jelasnya, jika dzat mengacu pada cogito,maka sifat-sifat mengacu pada cogitotum. Keduanya adalah pelajaran dan ‘harapan’ Tuhan pada manusia, agar mereka sadar akan dirinya sendiri dan sadar akan lingkungannya.Disini terlihat Hanafi berusaha mengubah term-term keagamaan dari yang spiritual dan sakral menjadisekedar material, dari yang teologis menjadi antropologis. Hanafi melakukan ini dalam rangka untuk mengalihkan perhatian dan pandangan umat Islam yang cenderung metafisik menuju sikap yang lebih berorentasi
Sekretariat: Jl. Pabrik Kulit Gg. III No. 18 C Wonocolo Surabaya 60237.Blog : www.pmii-tarbiyah-iain.co.cc Email : admin@pmii-tarbiyah-iain.co.cc
2
 
Training of Trainer (ToT)Pelatihan Kader Dasar (PKD) PMII Tarbiyah Surabaya Selatan
“Re-Eksistensi Mahasiswa : Mendobrak Antagonisme Gerakan danDiabolisme Pemikiran”.
 pada realitas empirik. Lebih jelas tentang penafsiran Hanafi mengenani sifat-sifat (
aushâf 
) Tuhan yang enam;
wujûd, qidâm, baqa’, mukhalafah li al-hawâdits, qiyâm binafsih
dan
wahdaniyah
, menafsirkan sebagai berikut.Pertama,
wujûd 
. Menurut Hanafi, wujud disini tidak menjelaskan wujud Tuhan, karena --sekali lagi--Tuhan tidak memerlukan pengakuan. Tanpa manusia, Tuhan tetap wujud. Wujud disini berarti
tajribah wujûdiyah
 pada manusia, tuntutan pada umat manusia untuk mampu menunjukkan eksistensi dirinya. Inilah yang dimaksuddalam sebuah syair,
kematian bukanlah ketiadaan nyawa, kematian adalah ketidakmampun untuk menunjukkaneksistensi diri
.Kedua,
qidâm
(dahulu) berarti pengalaman kesejarahan yang mengacu pada akar-akar keberadaanmanusia didalam sejarah. Qidam adalah modal pengalaman dan pengetahuan kesejarahan untuk digunakan dalammelihat realitas dan masa depan, sehingga tidak akan lagi terjatuh dalam kesesatan, taqlid dan kesalahan. Ketiga,
baqa
berarti kekal, pengalaman kemanusiaan yang muncul dari lawan sifat fana Berarti tuntutan pada manusiauntuk membuat dirinya tidak cepat rusak atau fana, yang itu bisa dilakukan dengan cara memperbanyak melakukan hal-hal yang konstruktif; dalam perbuatan maupun pemikiran, dan menjauhi tindakan-tindakan yang bisa mempercepat kerusakan di bumi. Jelasnya, baqa adalah ajaran pada manusia untuk menjaga senantiasakelestarian lingkungan dan alam, juga ajaran agar manusia mampu meninggalkan karya-karya besar yang bersifatmonumental.Keempat
 
,
mukhâlafah li al-hawâdits
(berbeda dengan yang lain) dan
qiyâm binafsih
(berdiri sendiri),keduanya tuntunan agar umat manusia mampu menunjukkan eksistensinya secara mandiri dan berani tampil beda,tidak mengekor atau taqlid pada pemikiran dan budaya orang lain.
Qiyam binafsih
adalah deskripsi tentang titik  pijak dan gerakan yang dilakukan secara terencana dan dengan penuh kesadaran untuk mencapai sebuah tujuanakhir, sesuai dengan segala potensi dan kemampuan diri.Kelima,
wahdaniyah
(keesaan), bukan merujuk pada keesaan Tuhan, pensucian Tuhan dari kegandaan(syirk) yang diarahkan pada faham trinitas maupun politheisme, tetapi lebih mengarah eksperimentasikemanusiaan. Wahdaniah adalah pengalaman umum kemanusiaan tentang kesatuan; kesatauan tujuan, kesatuankelas, kesatuan nasib, kesatuan tanah air, kesatuan kebudayaan dan kesatuan kemanusiaan.Dengan penafsiran-penafsiran term kalam yang serba materi dan mendunia ini, maka apa yang dimaksuddengan istilah tauhid, dalam pandangan Hanafi bukan konsep yang menegaskan tentang keesaan Tuhan yangdiarahkan pada faham trinitas maupun politheisme, tetapi lebih merupakan kesatuan pribadi manusia yang jauhdari perilaku dualistik seperti hipokrit, kemunafikan ataupun perilaku oportunistik. Menurut Hanafi, apa yangdimaksud tauhid bukan merupakan sifat dari sebuah dzat (Tuhan), deskripsi ataupun sekedar konsep kosong yanghanya ada dalam angan belaka, tetapi lebih mengarah untuk sebuah tindakan kongkrit (
 fi’li
); baik dari sisi penafian maupun menetapan (
itsbat 
). Sebab, apa yang di kehendaki dari konsep tauhid tersebut tidak akan bisadimengerti dan tidak bisa difahami kecuali dengan ditampakkan. Jelasnya, konsep tauhid tidak akan punya maknatanpa direalisakan dalam kehidupan kongkrit. Perealisasian nafi (pengingkaran) adalah dengan menghilangkantuhan-tuhan modern, seperti ideologi, gagasan, budaya dan ilmu pengetahuan yang membuat manusia sangattergantung kepadanya dan menjadi terkotak-kotak sesuai dengan idiologi dan ilmu pengetahuan yang dimiliki dandipujanya. Realisasi dari
isbat 
(penetapan) adalah dengan penetapan satu ideologi yang menyatukan danmembebaskan manusia dari belenggu-belenggu tuhan-tuhan modern tersebut.Dengan demikian, dalam konteks kemanusiaan yang lebih kongkrit, tauhid adalah upaya pada kesatuansosial masyarakat tanpa kelas, kaya atau miskin. Distingsi kelas bertentangan dengan kesatuan dan persamaaneksistensial manusia. Tauhid berarti kesatuan kemanusiaan tanpa diskriminasi ras, tanpa perbedaan ekonomi,tanpa perbedaan masyarakat maju dan berkembang, Barat dan bukan Barat, dan seterusnya (Khudori Soleh, 2004:45-49).
E. Penutup.
Dari uraian singkat di atas, ada beberapa poin yang perlu dikemukakan.1.Dari sisi metodologis, Hasan Hanafi dipengaruhi --atau ada kesamaan dengan-- cara berfikir Barat,terutama pemikiran Marxis dan Husserl. Statemennya bahwa kemajuan Islam tidak bisa dilakukandengan cara mengadopsi Barat (westernisasi) tetapi harus didasarkan atas khazanah pemikiran Islamsendiri jelas modal pemikiran fenomenologi Husserl. Kesamaannya dengan Marxisme adalah ketikaHanafi mencoba mnempatkan persoalan sosial praktis sebagai dasar bagi pemikiran teologinya. Teologidimulai dari titik praktis pembebasan rakyat tertindas. Kesamannya dengan metode dialektika Marxis juga terlihat ketika Hanafi menjelaskan perkembangan pemikiran Islam dan usaha yang dilakukan ketikamerekonstruksi pemikiran teologisnya dengan menghadapkan teologi dengan filsafat Barat untuk kemudian mensintetiskannya. Bedanya, jika dalam pemikiran Marxis dikatakan bahwa pergerakan dan pembebasan manusia tertindas tersebut semata-mata didorong oleh kekuatan materi dan duniawi, dalamHanafi dibumbui roh yang tidak sekedar materialistik. Ada pranata-pranata yang bersifat religius ataukerohanian yang menggerakkan sebuah perjuangan muslim. Juga, jika dalam perjuangan ala Marxis bisa
Sekretariat: Jl. Pabrik Kulit Gg. III No. 18 C Wonocolo Surabaya 60237.Blog : www.pmii-tarbiyah-iain.co.cc Email : admin@pmii-tarbiyah-iain.co.cc
3

Activity (9)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
MaLihan BeIh liked this
Ferdy Harlin liked this
Luqman Rifai liked this
Samsul Anwar liked this
Septya Khusnul H liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->