Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
3Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Wawasan Al-quran Tentang Demokrasi

Wawasan Al-quran Tentang Demokrasi

Ratings: (0)|Views: 73 |Likes:
adakah demokrasi dalam islam? musyawarah dan demokrasi apa bedanya?
adakah demokrasi dalam islam? musyawarah dan demokrasi apa bedanya?

More info:

Categories:Types, Research
Published by: Muhamad Ridwan Nurrohman on Jun 17, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/07/2013

pdf

text

original

 
1 |
Wawasan al-Quran tentang Demokrasi
 
WAWASAN AL-QURAN TENTANG DEMOKRASI
 
 Muhamad Ridwan Nurrohman
 
A.
 
Prolog: Adakah Demokrasi Islam?
“ 
Dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat! 
” 
jargon itulah yang paling sering diungkapkanketika membahas mengenai demokrasi. Khusus berbicara mengenai demokrasi dari kacamata Islam,kata demokrasi selalu dikait-kaitkan dengan akar kata
 syura
atau musyawarah dalam bahasasekarang. Potongan ayat yang paling sering digunakan adalah QS. Al-Syura (42): 38 yang berbunyi:
 
 
 
 
 
 
“S 
edang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka
.”
 
 Namun nyatanya hal ini menjadi perkara yang “tarik 
-
ulur”, sebagian ada yang memandang
 bahwa
 syura
itu bukanlah demokrasi, namun sebagian lain memandang bahwa jelas
 syura
itudemokrasi. Hal ini menjadi isu yang menarik, karena topik ini sejak dulu sampai hari ini selalu
mengundang perbedaan pendapat yang cukup “tajam”.
Lalu sebenarnya bagaimanakah al-Quranmemandang permasalahan ini? Apa makna
 syura
yang dikehendaki oleh al-Quran? Kalaulahdemokrasi itu sejalan dengan konsep
 syura
dalam al-Quran, demokrasi yang bagaimanakah itu?
B.
 
Antara Demokrasi dan Musyawarah
Kata “demokrasi” muncul dalam tradisi bahasa Arab belumlah lama, bahkan istilah ini masih
diterjemahkan
“ad 
-
dimuqrathiya”
(
 
 
). Hal ini menunjukkan bahwa demokrasi memangistilah dan konsep yang asing dan tidak dikenal dalam tradisi pemikiran Islam. Selain itu, demokrasi juga berbeda asasnya dengan
 syura
ataupun
 jumhur 
. Karena dalam demokrasi tidak mengenal batas
kedaulatan Allah atau kedaulatan syari‟at.
1
 Dalam tradisi bahasa Indonesia juga terdapat perbedaan yang cukup mencolok antara istilahdemokrasi dan musyawarah. Secara , demokrasi diartikan sebagai bentuk atau sistem pemerintahandimana seluruh rakyatnya turut serta memerintah dengan perantaraan wakilnya; pemerintahanrakyat. Selain itu, demokrasi juga diartikan sebagai gagasan atau pandangan hidup yangmengutamakan persamaan hak dan kewajiban serta perlakuan yang sama bagi semua warganegara.
2
Bersebrangan dengan itu, musyawarah hanya diartikan sebagai pembahasan bersamadengan maksud mencapai keputusan atas penyelesaian masalah; perundingan; perembukan.
3
 Dari dua penjelasan
lugawi
di atas, sangat nampak perbedaan yang terkandung dalam duaterm tersebut. Ada nilai lebih, yang coba istilah demokrasi tanamkan dalam benak pembaca, dimanahal tersebut sangat problematik, bahkan untuk konteks diterapkan di Indonesia terlebih lagi jikaharus diterapkan untuk Islam secara keseluruhan, sebagaimana diungkap oleh Gus Dur dalam
 Islam Kosmopolitan
-nya. Bila diringkas ungkapannya menjadi seperti ini,
“Ketika kita ingin melakukan demokratisasi terhadap sistem negara kita, maka kita akan
berhadapan dengan tokoh-tokoh agama yang ingin menegakkan eksklusifitas agama merekaatas agama-agama lain. Salah satu sebab yang menghambat proses demokratisasi ini tidak 
1
 
“Menimbang Kembali Konsep Demokrasi” karya Adian Husaini dalam J
urnal ISLAMIA edisi MenggaliIdentitas Politik Islam, vol. V no. 2. Selanjutnya disebut:
 
Adian Husaini dalam “Menimbang Kembali KonsepDemokrasi”.
 
2
Departemen Pendidikan Nasional,
 Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa.
(Jakarta: Gramedia PustakaUmum, edisi keempat: 2012) hlm. 310.
3
 
 Ibid.
Hlm. 944.
 
2 |
Wawasan al-Quran tentang Demokrasi
 
lain karena adanya perbedaan hakikat nilai-nilai dasar yang dianut keduanya (agama dandemokrasi). Karena setiap agama senantiasa bertitik tolak dari pandangan normatif yang disampaikan oleh Kitab Suci-nya, dan ini berarti hanya ada satu jenis kebenaran yang dapat diterima sebuah agama, yaitu kebebasan agamanya sendiri. Terlebih lagi apabila nilai iniharus diterapkan kepada
sistema
syari‟ah
(hukum agama), maka akan terlihat kaburlah pandangan demokrasi ini. Contoh kasus dalam masalah pernikahan, garis hukum pernikahanmana yang harus dianut oleh negara, ketika Islam, misalnya memperbolehkan perceraian dan poligami, sedangkan dalam Kristen Katolik sebah perceraian itu adalah merusak kesucian perkawinan yang telah diberkati oleh Tuhan. Maka dengan sendirinya hak warga negarauntuk melakukan perceraian melalui perundang-undangan negara merupakan tantangan bagikonsep perkawinan yang telah diyakini oleh pihak gereja.
4
 
Maka dari itu Dr. Adian Husaini menyimpulkan, mengenai hubungan musyawarah dan
demokrasi ini, dengan ungkapannya bahwa “istilah
 syura
 
tidak bisa diganti dengan demokrasi”.
5
  Namun berbeda dengan pandangan tersebut, A. Hassan dalam
 Kedaulatan dalam Islam
-nya
mengatakan, yang mempersamakan “rembukan rakyat”
atau musyawarah
 – 
saat menjelaskan QS.Al-Syura (42): 38- dengan demokrasi. Namun beliau membatasi dimana ranah yang boleh
dilakukan “rembukan rakyat” tersebut dan mana yang tidak boleh – 
dalam hal ini beliaumenjelaskan bahwa hanya hukum-hukum yang belum ditetapkan dalam al-Quran dan al-Sunnahsaja lah yang boleh ditentukan melalui rembukan-.
6
Bagi A. Hassan, untuk zaman sekarang tidak ada sistem negara yang lebih memfasilitasi untuk terciptanya
 sistema
musyawarah atau
 syura
selaindalam sistem demokrasi. Pada akhirnya, kesimpulan demikian didukung pula oleh M. Natsir selainsejalan pula dengan pemahaman Yusuf Qardhawi.
7
Bahkan Yusuf Qardhawi mengungkapkan,kalaulah kita mengetahui apa substansi dari demokrasi, maka kita akan mengatakan bahwademokrasi itu sejalan dengan Islam.
8
 Maka dari itu, dalam makalah ini penulis hanya akan membatasi kajian pada substansidemokrasi yang sejalan dengan Islam saja, atau dalam ranah
 syura
atau musyawarah saja. Selainitu, untuk menyelamatkan pembaca dari kebingungan ketika membaca makalah ini, penulis akan
menggunakan term “musyawarah” dan tidak menggunakan term “demokrasi”
dalam beberapa poin pembahasan yang khusus al-Quran sifati bagi
 syura
.
4
 
Dikutip secara bebas dari “Agama dan Demokrasi” dalam Abdurrahman Wahid,
 Islam Kosmopolitan: Nilai-nilai Indonesia dan Transformasi Kebudayaan
. (Jakarta: The Wahid Institute, 2007) hlm. 281-290. Selanjutnya disebut
Abdurrahman Wahid dalam “Agama dan Demokrasi”.
 
5
 
Adian Husaini dalam “Menimbang Kembali Konsep Demokrasi”
.
6
A. Hassan,
 Kedaulatan dalam Islam
dalam Tiar Anwar Bachtiar (editor).
 Risalah Politik A. Hassan
. (Jakarta:Pembela Islam Media, 2013) hlm. 157-158.
Selanjutnya disebut 
 
 Risalah Politik A. Hassan.
 
7
 
Untuk pandangan M. Natsir mengenai demokrasi pembaca bisa merujuk “Membedah Paradigma Politik Persis”
karya Pepen Irpan Fauzan dalam Endang Sirodjudin Hafidz, dkk.
 Pergulatan Pemikiran Kaum Muda Persis.
(PW.Pemuda Persatuan Islam Jawa Barat & Penerbit Granada, 2005) hlm. 123-125. Kemudian untuk pandangan Yusuf Qardhawi pembaca bisa merujuk Yusuf Qardhawi,
 Fiqih Daulah dalam Perspektif al-Quran dan Sunnah.
Terj. Kathur Suhardi. (Jakarta: Pustaka al-Kautsar, cet-6: 2000) hlm. 181-184. Dalam hal ini, Quraish Shihab juga ada kecondonganmempersamakan antara musyawarah dan demokrasi, untuk lebih jelasnya bisa dilihat dalam M. Quraish Shihab,
Wawasan al-Quran
. (Bandung: Mizan, cet-19: 2007) hlm. 472.
8
 
 Ibid.
Hlm. 184.
 
3 |
Wawasan al-Quran tentang Demokrasi
 
C.
 
Makna Musyawarah secara Khusus
Kata musyawarah terambil dari akar kata
 sy-, w-, r-,
yang arti asalnya
mengeluarkan madudari sarang lebah
. Makna ini kemudian berkembang sehingga mencakup segala sesuatu yang dapatdiambil atau dikeluarkan dari yang lain (termasuk pendapat), dan kata ini pada dasarnya hanyadigunakan untuk hal-hal yang baik, sejalan dengan makna dasarnya.
9
 Lebih jauh lagi, Quraish Shihab menggambarkan, madu itu bukan saja manis, melainkan jugaobat untuk berbagai penyakit, sekaligus juga sumber kesehatan dan kekuatan. Itu sebabnya madudicari di mana pun dan oleh siapa pun, hal ini berarti mempersamakan pendapat yang benar denganmadu, dan bermusyawarah adalah upaya untuk mendapatkan madu tersebut dimanapun diaditemukan
 – 
dalam artian pendapat siapa pun yang dinilai benar tanpa mempertimbangkan siapayang menyampaikannya.
10
Lanjut beliau, madu dihasilkan oleh lebah. Jika demikian, yang bermusyawarah itu mesti bagaikan lebah: makhluk yang sangat berdisiplin, kerja-samanyamengagumkan, makanannya sari kembang, dan hasilnya madu. Di mana pun hinggap, lebah tak  pernah merusak. Ia takkan menganggu kecuali diganggu. Bahkan sengatannya pun dapat menjadiobat. Seperti itulah makna permusyawarahan, dan demikian pula sifat yang melakukannya. Makatak heran jika Rasulullah Saw. menyamakan seorang mukmin dengan lebah.
11
 
D.
 
Musyawarah dalam al-Quran
Setidaknya ada tiga (3) ayat yang akar katanya menunjukkan arti musyawarah, yaitu QS. Al-Baqarah (2): 233; QS. Ali Imran (3): 159; dan QS. Al-Syûra (42): 38. Namun jika dilihat lebih teliti,maka ayat yang berkaitan dengan konsep negara atau kehidupan sosial secara luas hanya dicakupoleh QS. Ali Imran (3): 159; dan QS. Al-Syûra (42): 38.Secara terperinci, potongan ayat dari QS. Al-Baqarah (2): 233 yang berbunyi,
 
 
 
“...
 Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan antara mereka, maka tidak ada dosa atas keduanya
...”
ini sedang berbicaratentang bagaimana seharusnya hubungan suami-istri saat mengambil keputusan yang berkaitandengan rumah tangga dan anak-anak, seperti menyapih anak dalam konteks ayat ini.
12
Selanjutnya,dalam QS. Ali Imran (3): 159 yang berbunyi,
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka.Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, danbermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan (tertentu). Kemudian apabila kamu telahmembulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.
ini sedang berbicara tentang perintah Allah yang ditujukan
9
M. Quraish Shihab,
Wawasan al-Quran
. Hlm. 469.
10
M. Quraish Shihab,
Tafsir al-Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian al-Quran
. (Jakarta: Lentera Hati, cet-3:2005) vol. 12. Hlm. 512.
11
M. Quraish Shihab,
Wawasan al-Quran
. Hlm. 469.
12
 
 Ibid.
Hlm. 470.

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->