Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Kaidah Kaidah Hukum Islam

Kaidah Kaidah Hukum Islam

Ratings: (0)|Views: 132 |Likes:
Published by Hamzah Zatnika

More info:

Published by: Hamzah Zatnika on Jun 25, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/27/2013

pdf

text

original

 
KAIDAH KAIDAH HUKUM ISLAM
Kamis, 3 Januari 2013
KAIDAH-KAIDAH HUKUM ISLAM
Editor : Drs.HM.Sakti Rangkuti,MA.Oleh : Drs. H. Ahmad Supardi Hasibuan, MA
.
PendahuluanUntuk menetapkan hukum atas sebuah persoalan yangdihadapi oleh ummat Islam maka jalan yang ditempuh oleh para ulama untuk menetapkannya adalah dengan melihatnyadalam al-Qur’an, kalau hal tersebut telah diatur dalam al-Qur’an, maka ditetapkanlah hukumnya sesuai denganketetapan al-Qur’an. Dan apabila dalam al-Qur’an tidak ditemukan hukumnya, maka para ulama mencarinya dalam-Al-Hadis. Apabila dalam al-Hadis telah diatur, maka paraulama menetapkan hukumnya sesuai dengan ketentuan al-Hadis.
Persoalan baru muncul adalah manakala hukum atas persoalan tersebut tidak ditemukandalam al-Qur’an dan juga dalam al-Hadis, sebab al-Qur’an dan al-Hadis adalah merupakansumber hukum pokok (primer) dalam ketentuan hukum Islam.
Dalam menghadapi kondisi yang seperti ini maka para ulamamencari sumber hukum lain yang dapat dijadikan patokan dan pegangan dalam memberikan hukum atas persoalan yangtimbul, sebab sebagaimana diketahui bahwa agama Islam itutelah sempurna dan tidak akan ada lagi penambahan hukumyang bersifat Syar’iyyah, hanya saja untuk menjawab persoalan-persoalan hukum yang timbul di kemudian haritelah diberikan rambu-rambu dan ketentuan-ketentuan lainnyadalam rangka memberikan hukum atas persoalan baru yangtimbul.
 
Sumber hukum baru sebagaimana dimaksudkan di atas, paraulama berbeda pendapat dalam menetapkannya. Ada yang berpendapat bahwa apabila suatu persoalan baru timbul danitu tidak diatur dalam al-Qur’an dan al-Hadis, makadikembalikan kepada Ijma’. Dalam hal kembali kepada Ijma’ini, para ulama nampaknya sepakat, hanya saja yangdisepakati secara utuh dalam rangka Ijma’ adalah Ijma’ yang bersumber dari al-Qur’an dan al-Hadis, sedangkan Ijma’ yang bersumber di luar al-Qur’an dan al-Hadis, terjadi perbedaan pendapat di antara para ulama. Ada yang setuju dan ada jugayang tidak setuju. Yang setuju dengan Ijma’ berpendapat bahwa sesuai dengan hadis Nabi yang menyebutkan bahwa,“UmmatKu tidak akan bersepakat dalam hal kesesatan”. Yangtidak setuju dengan Ijma’ berpendapat bahwa Ijma’ itu adalahhasil pemikiran dan pendapat dari para Ulama, yang namanyahasil pemikiran dan pendapat bisa salah dan juga bisa benar,oleh karena itu tidak bisa dijadikan sebagai hukum yang pasti.Apabila dalam ketiga hal tersebut di atas tidak juga ditemukanmaka para ulama mengembalikannya kepada sumber-sumber hukum yang lain seperti Qiyas, Istihsan, Istishab, MaslahahMursalah dan Syar’u man Qablana. Untuk menetapkansumber-sumber hukum Islam ini, selain para ulama berbeda pendapat, mereka (para ulama) juga berbeda pendapat dalammenetapkan kaidah-kaidahnya. Perbedaan dalam kaidah-kaidah ini secara otomatis akan menimbulkan perbedaan- perbedaan dalam bidang produk hukum, sebab kaidah sangatmenentukan produk hukum. Namun satu hal yang pasti adalahkaidah-kaidah sangat menentukan dan sangat membantuseseorang dalam mengistimbathkan hukum.Atas dasar hal-hal tersebut di atas, maka penulis merasa berkepentingan untuk membahas tentang Kaidah-KaidahFiqhiyah (Hukum) sebagai suatu alat bantu dalam
 
mengistimbathkan hukum Islam. Kaidah-Kaidah iniditelorkan oleh para ulama-ulama mujtahid pelopor mazhab-mazhab seperti Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’i,Imam Hambali dan imam-imam lainnya yang cukup banyak,hanya saja mazhab-mazhabnya tidak berkembang lagi padamasa sekarang ini. Para imam-imam ini mempunyai kaidah-kaidah tersendiri di dalam menetapkan ataupunmengistinbathkan hukum atas suatu persoalan yang timbul.Pengertian Qaidah FiqhiyahQaidah dalam bahan Indonesia dikenal dengan istilah kaidah(sesuai dengan judul makalah) yang berarti aturan atau patokan. Secara terminologis, kaidah mempunyai beberapaarti. Dr. Ahmad Muhammad Asy-Syafi’i, dalam bukunyaUshul Fiqh Islami menyatakan bahwa kaidah adalah :Artinya : Hukum yang bersifat universal (kulli) yang diikutioleh satuan-satuan hukum juz’i yang banyak.Sedangkan bagi mayoritas ulama ushul fiqh sebagaimanadisebutkan oleh Drs. H. Muchlis Usman, MA. mendefinisikankaidah sebagai berikut :Artinya : Hukum yang biasa berlaku yang bersesuaian dengansebagian besar bagian-bagiannya.Sedangkan arti fiqhiyah diambil dari kata fiqh yang diberitambahan ya’ nisbah yang berfungsi sebagai penjenisan ataumembangsakan. Secara etimologi makna fiqh lebih dekatkepada ilmu sebagaimana yang banya dipahami oleh parasahabat, makna tersebut diambil dari firman Allah :Artinya : Untuk memperdalam pengetahuan mereka tentangagama.Dan sabda Nabi Muhammad SAW :

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->