Kontroversi Tap MPR No XI/1998 | Hiduplah Indonesia Raya
Hal lain yang tidak memungkinkan Tap MPR No XI dicabut adalah kehadiran Tap MPR No I/ MPR/2003 tentang Peninjauan atas Materi dan Status Hukum Ketetapan MPRS/MPR Tahun1960-2002. Dalam Tap MPR No I/2003 ada enam status Tap MPR sepanjang 1960-2002, yaitu(1) dicabut dan dinyatakan tidak berlaku; (2) tetap berlaku dengan ketentuan masing-masing; (3)tetap berlaku sampai terbentuknya pemerintahan hasil Pemilu 2004; (4) tetap berlaku sampaidengan terbentuknya undang-undang; (5) tetap berlaku sampai ditetapkan peraturan tata tertibyang baru oleh MPR hasil Pemilu 2004; dan (6) tidak memerlukan tindakan hukum lebih lanjut,baik karena bersifat final (einmalig), telah dicabut, maupun telah selesai dilaksanakan.Dari semua status hukum itu, Tap MPR No XI tidak masuk kategori "dapat dicabut" dan"dinyatakan tidak berlaku", tetapi masuk kategori "tetap berlaku sampai dengan terbentuknyaundang-undang". Dalam buku Materi Sosialisasi Putusan MPR RI (2005), setidaknya ada tigaperkembangan aktual memasukkan Tap MPR No XI dalam kategori "tetap berlaku", yaitu praktikKKN masih menjadi keprihatinan nasional, perlu tindakan tegas memberantas KKN, danpemberantasan KKN belum dilaksanakan sungguh-sungguh.Atas perkembangan aktual itu, hasil kajian yang dikemukakan dalam buku Materi SosialisasiMPR RI menyimpulkan, TAP MPR No XI masih memiliki daya laku (validity) dan daya guna(efficacy), meski telah terbentuk berbagai UU. Hasil kajian ini sekaligus mematahkan pendapatyang mengatakan Tap MPR No XI tidak berlaku lagi (setidaknya bisa dicabut) karena sudah adasejumlah undang-undang yang terkait pemberantasan KKN.Agenda lain?Sepanjang perdebatan yang ada, semua gagasan yang muncul terkait kasus hukum Soehartoadalah gagasan berulang yang mengiringi hampir sepuluh tahun usia Tap MPR No XI. Namun,ketika gagasan bergerak ke arah pencabutan Tap MPR No XI, sejumlah kalangan merasakan,amat mungkin gagasan itu disusupi agenda lain sehingga kontraproduktif dengan agendapemberantasan korupsi.Sebagai sebuah produk hukum yang lahir dari semangat reformasi, Tap MPR No XI menyimpanamanat pemberantasan korupsi yang luar biasa dahsyat. Mari simak secara lengkap bunyi Pasal4 Tap MPR No XI yang menyatakan, upaya pemberantasan KKN harus dilakukan secara tegasterhadap siapa pun juga, baik pejabat negara, mantan pejabat negara, keluarga, dan kroninyamaupun pihak swasta/konglomerat, termasuk mantan Presiden Soeharto dengan tetapmemerhatikan prinsip praduga tak bersalah dan hak-hak asasi manusia.Pasal 4 Tap MPR No XI memang eksplisit menyebut mantan Presiden Soeharto. Namun, di situ
masih tersimpan amanat lain melakukan proses hukum secara tegas kepadapejabat negara, mantan pejabat, keluarga dan kroninya serta pihak swasta/konglomerat.
Bisa jadi, gagasan pencabutan itu merupakan agenda tersembunyi berbagaikelompok lain (selain Soeharto) yang terancam dengan Tap MPR No XI.Dalam konteks itu, saya sepakat dengan ungkapan Ketua MPR Hidayat Nur Wahid, mencabutTap MPR No XI sama dengan mencabut komitmen pemerintah untuk memberantas KKN(Kompas, 17/1). Karena itu, semua pihak harus hati-hati menanggapi usulan pencabutan TapMPR No XI. Bisa jadi, banyak pihak sedang menangguk keuntungan dari kondisi mantanPresiden Soeharto saat ini.Saldi Isra Dosen Hukum Tata Negara dan Direktur Pusat Studi Konstitusi (PUSaKO) Fak HukumUniversitas Andalas, PadangSumber: Kompas
r
r
r
r
r
r
q
Arsip
q
q
January 2008
MTWTFSS
262728293031
http://id.buck1.com/politik-hukum/kontroversi-tap-mpr-no-xi1998-388 (2 of 3)25/01/2008 9:33:21
Select Month
Leave a Comment