Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
1Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
koreksi cairan

koreksi cairan

Ratings: (0)|Views: 134|Likes:

More info:

Published by: Eunike Gracea Ristiana on Jun 27, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOCX, TXT or read online from Scribd
See More
See less

01/01/2014

pdf

text

original

 
1
Jakarta, 28 Feb 2009
Hipernatremia
Hipernatremia (natrium serum di atas 150 mEq/L) merupakan gangguan elektrolit yanglazim dijumpai pada pasien di bangsal perawatan dan unit rawat intensif. Pasien hipernatremiadikelompokkan dalam 3 kategori: (a) ringan, kadar serum 151 sampai 155 mEq/L; (b) moderate,156 sampai 160 mEq/L; dan (c) berat, di atas 160 mEq/L. Kategori ini walau terkesan ditentukansepihak, berasal dari rekomendasi Bingham and the Brain Trauma Foundation. Walaupun ada pasien dengan usia lanjut, gangguan mental dan penghuni panti wreda masuk rumah sakit denganhipernatremia, pada kebanyakan kasus, hipernatremia berkembang selama perawatan. Biasanyahipernatremia diakibatkan oleh kehilangan air bebas (renal, enteral, dan insensible) yang disertaikurangnya asupan air bebas (gangguan mekanisme haus atau sukar mendapatkan air) serta terapiyang tidak tepat dengan cairan isotonik. Pasien rawat-inap dengan hipernatremia memiliki angkakematian lebih tinggi (40%-60%) dibandingkan pasien tanpa hipernatremia ketika masuk rumahsakit. Kekerapan yang dilaporkan pada populasi rumah sakit berkisar antara 0.3% sampai 3.5% .Pasien yang masuk ICU lebih sering mengalami hipernatremia dibandingkan pasien bangsal.Karena hipernatremia sering merupakan kondisi iatrogenik yang terkait dengan mortalitas tinggi, beberapa ahli telah menyimpulkan bahwa ini bisa dipandang sebagai indikator dari kualitas perawatan. Pasien sakit kritis dengan penyakit neurologi atau bedah saraf memiliki banyak faktor yang membuat mereka lebih rentan mengalami hipernatremia. Mereka sering memilikimekanisme haus yang terganggu karena berubahnya kesadaran atau penyakit sistem saraf yangmempengaruhi persepsi haus.Pasien-pasien ini mungkin juga mengidap diabetes insipidus akibat disfungsi hipofisis atauhipotalamus. Meningkatnya insensible loss akibat demam juga merupakan faktor kontribusi.Lebih penting lagi, pada pasien dengan edema serebral dan peningkatan tekanan intrakranial,hipernatremia sering merupakan akibat dari penggunaan diuretik osmotik (mannitol) atau salinhipertonik. Hipernatremia mungkin memiliki peran terapeutik pada pasien yang mendapat terapiosmotik. Pada orang dewasa dengan edema serebral pasca bedah atau pasca trauma yang diterapidengan NaCl; 3%, penurunan tekanan intrakranial telah diperlihatkan berkorelasi dengankenaikan kadar serum. Pada pasien anak dengan trauma kepala yang diterapi dengan salinhipertonik, hipernatremia berkorelasi dengan kontrol yang lebih baik terhadap tekananintrakranial tanpa efek samping bermakna. Kendati demikian, hipernatremia juga telahditunjukkan berhubungan dengan disfungsi ginjal pada populasi ini. Jadi, pada pasien yangmendapat terapi osmotik, kadar natrium serum yang ideal sering sukar ditetapkan. Di satu sisi,hipernateremia mungkin bermanfaat dalam mengendalikan tekanan intrakranial. Di sisi lain, berdasarkan kajian-kajian yang dilaksanakan di basal penyakit dalam-bedah dan ICU,hipernatremia diikuti dengan peningkatan morbiditas dan mortalitas.Dalam memberikan terapi osmotik yang baik, perlu diantisipasi dampak hipernatremiaterhadap mortalitas pada populasi khusus ini. Juga penting ditentukan ambang sampai mana kadar natrium serum bisa ditinggikan dengan aman. Hubungan antara hipernatremia dan mortalitas pada pasien ini belum pernah dikaji sebelumnya.

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->