Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
1Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Gerakan Mahasiswa Dan Organisasi Kemahasiswaan Era 1990

Gerakan Mahasiswa Dan Organisasi Kemahasiswaan Era 1990

Ratings: (0)|Views: 146|Likes:
Deskripsi Gerakan Mahasiswa
Deskripsi Gerakan Mahasiswa

More info:

Published by: قل الخير أو ليسمت on Jul 02, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOC, TXT or read online from Scribd
See More
See less

01/20/2014

pdf

text

original

 
Fadli Zon
Sebuah gerakan mahasiswa tidak akan lahir dalam situasi vakum. Dinamisasimerupakan syarat yang tak bisa dihindarkan ketika mahasiswa menuntut kembali peran politiknya dalam interaksi politik nasional. Relevansi mempertanyakan peranmahasiswa Indonesia memang tepat pada waktunya, saat depolitisasi hampir mencapai titik jenuh. Situasi yang berubah ditandai menaiknya tuntutan demokratisasidan hak-hak asasi manusia mempercepat pergeseran-pergeseran kekuasaan di tingkatelit serta mempertinggi kesadaran rakyat pada umumnya tentang what's going on inthis country.Titik jenuh depolitisasi kampus memang harus terjadi. Lebih dari sepuluh tahunmahasiswa berada dalam penjara ketidakterlibatan politik yang menyebabkan putusnya akar gerakan mahasiswa sebelum nya. Keadaan ini merupakan konsekuensilogis dari kekalahan-kekalahan beruntun gerakan mahasiswa sejak 1970-an. Bermuladari gerakan moral menuju gerakan politik, gerakan mahasiswa 1970-an ditunggangi pertarungan elit. Gerakan mahasiswa1966 yang telah menjadi mitos gerakanmahasiswa Indonesia hingga kini dianggap berhasil memenangkan pertarungan, yangsebenarnya telah didisain oleh Angkatan Darat. Sebagai ujung tombak kemenangan,demikian Angkatan 1966 sering diidentifikasi, mereka telah masuk dalam granddesign elit yang menang. Akibatnya ketika Orde Lama tumbang dan Orde Baru masuk dalam pentaspolitik Indonesia, tidak ada alternatif disain yang ditawarkan gerakanmahasiswa, suatu bukti bahwa mahasiswa hanya menjadi alat dan mediatorpeople's power. Ketika kemenangan tiba, mahasiswa disingkirkan dan berusaha direduksikekuatan politiknya. Hanya saja, hal yang tak bisa dipungkiri dari Angkatan 1966adalah kemenangannya memilih partner politik yang kuat, yang tidak berhasil pada1974 dan seterusnya.Puing-puing gerakan mahasiswa yang ditinggalkan atas kekalahan gerakan mahasiswa1978 menjadi klimaks legitimasi pemerintah untuk memberangus bibit-bibit barugerakan mahasiswa. Putuslah sudah perjuangan politik mahasiswa secara nasionalyang membawa isu-isu substansial mengenai strategi pembangunan dan persoalannegara secara makro.Angkatan 1980-an mencoba menyambung getaran-getaran yang masih tersisa darikehancuran gerakan mahasiswa itu. Upaya-upaya sistematis dari pemerintah untuk mereduksi kekuatan politik mahasiswa makin gencar dengan proyek NormalisasiKehidupan Kampus (NKK), penempatan rektor sebagai penguasa tunggal di kampus,dan berbagai bentuk campur tangan korporatis yang takhentinya memerintahkanmahasiswa untuk menjadikan kampus sebagai tempat belajar. Sendi-sendi politik mahasiswa dipatahkan dengan tesis pendidikan sebagai pemenuhan tekno struktur  pembangunan.Tak terhindarkan lagi, peran lembaga intra kampus yang dulu dimotoriDewanMahasiswa (DM) hapus sudah. Pereduksian politik ini berhasil dan akibatnyamenyurut pula peran lembaga ekstra universitas. Organisasi kemahasiswaan sepertiHMI, GMNI, GMKI, PMKRI, PMII semakin kurang laku di kalangan mahasiswa.Angkatan 1980-an mencoba memajukan tesis baru berupa kelompok studi yangmenurut mereka sebagai warming up menuju proses yang akhirnya memunculkansituasi anomik. Mereka lebih memilih menunggu momentum ketimbang menciptakanmomentum, sehingga dalam proses sejarahnya yang tidak ditunjang kaderisasi,kelompok studi-kelompok studi yang semula menjamur akhirnya lenyap perlahan-
 
lahan. Aktor-aktornya menjadi elit individual dan jauh dari basis massa. Di sisi lainkelompok demokrasi jalanan atau parlemen jalanan memuntahkan isu-isu populislokal dan berharap suatu saat isu-isu lokal itu akan menjadi isu nasional. Tetapidemokrasi jalanan inipun tidak kuatstaminanya. Sedangkan LSM cenderung lebihakomodatif terhadap kegiatan aksi dan refleksi, tetapi peran mahasiswa di lembaga inirelatif terbatas dibanding peran mantan-mantan aktivis.Ada beberapa kekurangan-kekurangan Angkatan 1980-an. Pertama, ketiadaankaderisasi. Kelompok studi maupun demokrasi jalanan dimotori oleh orang yangitu-itu juga. Kedua, ketiadaan basis massa. Situasi massa memang tidak mendukung, proyek depolitisasi berhasil, tindakan represif mengancam setiapgerakan mahasiswayang membawa isu-isu substansial. Ketiga, disakumulasi kekuatan mahasiswa.Menyadari pereduksian politik yang berakibat posisimahasiswa berada di jalur  peripheral, pinggiran, mestinya kekuatan-kekuatansporadis mahasiswa melakukanakumulasi, saling bergandeng tangan. Tetapiyang terjadi adalah saling menuduh dansaling menghakimi antara kelompok studi dan demokrasi jalanan. Bahkan sesamademokrasi jalanan pun terjadi kleim-mengkleim tentang sebuah move. Ada semacamarogansi, sayangnya arogansi ini lahir dari kaum pinggiran yang makin dimarjinalisasisehingga kekuatan gerakan mahasiswa 1980-an mengalami disakumulasi kekuatan, power disaccumulation. Bisa dibayangkan jika sebuah kelompok marjinal yangmakinmarjinal, ingin "menggoyang" center yang makin menguat. Hasilnya adalahkegagalan Angkatan 1980-an. Angkatan BaruMembangun sebuah gerakan mahasiswa baru, gerakan mahasiswa 1990-an, bukan halmudah. Puing-puing gerakan mahasiswa sebelumnya masih membayang-bayangi.Adalah satu keberanian menggulirkan diskursus gerakan mahasiswa 1990-an ditengah kehancuran politik mahasiswa. Bahkan istilah gerakan mahasiswa1990-anadalah nama yang mendahului sejarah. Seringkali angka-angka 1908,1928, 1945,1966, 1974, 1978, lahir setelah terjadi, post factum. Angka-angka itu pun eratkaitannya dengan sebuah momentum. Bisakah gerakan mahasiswa 1990-anmenciptakan momentum ketimbang menunggu momentum, karena memangmomentum tidak akan datang dari langit. Kare nanya agenda gerakan mahasiswa1990-an haruslah menghela sejarah, bukan menunggu masa krisis maupun momentumyang dihela oleh elit-elit politik yang bertikai.Pesimisme kemungkinan terbangunnya suatu kekuatan baru mahasiswa memang ada.Pertama, aksi-aksi mahasiswa sekarang hanya merupakan bentuk gagah-gagahan dan"menapaktilas" Angkatan 1966. Aksi-aksi itu masih dilingkupi romantisme Angkatan1966 yang ikut mendongkel Orde Lama. Kedua, aksi-aksi mahasiswasekarang kurangdibekali landasan konsepsional yang matang serta peta politik, ekonomi, yang akurat.Hal ini merupakan dampak NKK yang mengisolasikan mahasiswa dari politik dan persoalan kemasyarakatan. Ketiga,aksi-aksi lebih banyak mengandalkan liputanmedia massa ketimbang berdiri otonom. Keempat, aksi-aksi bersifat sporadis,temporer dan reaktif, tidakmembangun isu dari bawah. Sementara isu yangdimunculkan juga bersifatsesaat tidak perubahan mendasar. Kelima, dampak NKK masih terasa dan proyekdepolitisasi kampus masih diterapkan. Kebanyakanmahasiswa menjadi asing terhadap persoalan-persoalan bangsanya sendiri. Keenam,gerakan mahasiswa sendiri terpecah belah dalam banyak faksi mewakili kepentinganyang bervariasi dengan strategi gerakan yang juga beragam. Ketujuh, ormaskepemudaan dan ormas kemahasiswaan kurang berperan dan semakin tidak kritisterhadap ketidakadilan dan kesewenang-wenangan. Sehingga, kehadiran aksi-aksisulit diharapkan menjadi pressure group bagi pemerintah.
 
Di samping pesimisme itu ada faktor eksternal dan internal yang mendukungoptimisme. Faktor eksternal adalah faktor di luar dunia kemahasiswaan atau gerakanmahasiswa yaitu perubahan cuaca politik. Cuaca politik di era1990-an mengalamikemajuan terutama dengan dibukanya keran keterbukaan oleh pemerintah, meskipun belum pada tahap yang diharapkan. Kuatnya isu demokrasi dan hak asasi manusia didunia internasional telah membawa perhatian pemerintah untuk lebih arif menyelesaikan persoalan-persoalan pemerintah dengan rakyat seperti kasus tanah,upah buruh, monopoli, dan seterusnya. Terjadi pula perubahan power block, blok kekuasaan, dalam konstalasi pemerintahan Orde Baru. Arief Budiman menyebut inisebagai realiansi, dari Soeharto-Katolik-CSIS-Ali Murtopo ke Soeharto-Islam-ICMI-Habibie yang dipicuUU Peradilan Agama tahun 1989. Berturut-turut Islam, yangselama dua dekade Orde Baru ditempatkan sebagai ekstrem kanan, mendapatakomodasi politik seperti dengan kehadiran ICMI, CIDES, BMI, penghapusan pelarangan jilbab, penghapusan SDSB, dan seterusnya. Meskipun akomodasi politik Islam ini masih bersifat artifisial, namun ia telah membawa kegairahan baru dikalangan umat Islam yang selama ini marjinal dalam politik Indonesia. Hal inimerupakan harapan baru bagi upaya demokratisasi di Indonesia. Tanpa keterlibatanmayoritas, tidak mungkin tercipta demokrasi di Indonesia. Karenanya Islam diIndonesia harus mendorong demokratisasi. Ini merupakan suatu revolution fromabove yang menjadi blessing in disguise bagi demokratisasi di Indonesia.Faktor internal adalah faktor dalam dunia kemahasiswaan sendiri. Perlahan-lahan,kesadaran politik mahasiswa mulai kembali meskipun belum pada derajat memahami politik itu. Kepedulian terhadap nasib rakyat yang tertindas masih hadir dan makinhidup. Hal ini tecermin dalam banyak kasus seperti pembelaan terhadap kasus tanah,upah buruh, dan seterusnya. Meskipun pembelaan itu masih dalam kerangka "reaktif"namun masih ada harapan. Contoh yang menarik adalah kasus SDSB tahun 1993.Angkatan 1990-an berhasil menggelindingkan bola salju SDSB sehingga isu lokal populis ini dengan akseleratif menjadi isu nasional yang tak terelakkan danakumulatif.Menghadapi itu, pemerintah mau tak mau harus mencabut SDSB.Meskipun kemenangan ini kecil, bahkan pemerintah dan ABRI mendapat citra baik dalampencabutan SDSB ini, tetapi tak bisa disangkal bahwa pupusnya SDSB telahmenjadi platform dan legitimasi bahwa gerakan mahasiswa masih ada, dandemonstrasi sebagai jalan akhir ketika dialog macet, masih efektif digunakan. Inimerupakan stepping stone bagi gerakan mahasiswa 1990-an.Kasus SDSB merupakan fenomena menarik melihat gerakan mahasiswa 1990-an.Sebagai sebuah batu loncatan, hapusnya SDSB harus dilihat secara optimistik bahwadalam isu-isu tertentu akan terjadi konsolidasi yang begitu kuat menghadapi policy pemerintah yang tidak dikehendaki rakyat. Argumentasi relijius dan ekonomisternyata cukup kuat untuk mendongkel sebuah kebijakan.Terjadilah the unity of action dari berbagai kelompok mahasiswa mulai dari kelompok mahasiswa yang bernafaskan kelompok studi, parlemen jalanan atau demokrasi jalanan, aktivislembaga mahasiswa SMPT, aktivis ekstra kampus,OKP berbasis mahasiswa dankelompok mahasiswa relijius. Bahkan dalam perkembangannya, ketika aksi-aksi antiSDSB telah meluas, pihak-pihak tertentu yang semula tidak concern soal SDSB,mungkin juga mendukung SDSB,secara mengejutkan berusaha ikut memboncengdengan niatan berbeda. Keberhasilan gerakan mahasiswa dalam isu SDSB harusdiakui tertolong oleh power block politik yang ada. Pemerintah tidak mau berhadapandengan Islam, hanya untuk mempertahankan SDSB.
Fenomena Baru Gerakan Mahasiswa

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->