Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
pendidikan multikultural

pendidikan multikultural

Ratings: (0)|Views: 134 |Likes:
Published by Yusran

More info:

Published by: Yusran on Jul 05, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/23/2013

pdf

text

original

 
KONSEP PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DALAM PLURALISMEKALIMANTAN BARAT
 
YUSRAN
 
F03112046
 
Program studi Pendidikan Fisika, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
 
Unversitas Tanjungpura
 
Abstrak 
 
Tulisan ini akan menjelaskan strategi yang dapat diterapkan akibat pluralismemelalui sistem pendidikan Indonesia khusus di Kalimantan Barat. Keragaman suku bangsa merupakan kekuatan bangsa dimiliki oleh provinsi Kalimantan Barat. Kemampuan untuk mengelola keragaman suku bangsa yang besar sangat diperlukan untuk mencegah terjadinya konflik dan perpecahan yang akanmengganggu kesatuan bangsa. Konflik muncul dengan menggunakan simbol 
-
  simbol etnis, agama, dan ras. Hal ini terjadi akibat akumulasi "tekanan" secaramental, spiritual, politik sosial, budaya dan ekonomi yang dirasakan oleh sebagian masyarakat. Berkaitan dengan hal tersebut, maka pendidikanmultikultural menawarkan satu alternatif melalui penerapan strategi dan konsep pendidikan yang berbasis pada pemanfaatan keragaman yang ada di masyarakat, secara khusus yang ada pada siswa seperti keragaman etnis, budaya, bahasa,agama, status sosial, gender, kemampuan, umur, dan lain
-
lain. Pengenalanbudaya sangat diperlukan dari berbagai etnis di Kalimantan Barat, sebagai faktor yang akan memperkuat perasaan kesatuan di Indonesia. Melaluiimplementasi pendidikan multikultural diharapkan akan membantu siswamengerti, menerima dan menghargai orang lain yang berbeda suku, budaya dannilai kepribadian. Sehingga konflik etnis yang terus melanda di Kalimantan Barat dapat diredam dengan lahirnya generasi baru yang menjunjung tinggi nilai
-
nilaikesatuan dan keutuhan bangsa.
 
 Kata kunci 
: pluralisme, pendidikan multikultural 
 
PENDAHULUAN
 
Kebudayaan adalah seluruh cara kehidupan dari masyarakat yang manapundan tidak hanya mengenai sebagian dari cara hidup itu yaitu bagian olehmasyarakat dianggap lebih tinggi atau lebih diinginkan serta diterapkan pada carahidup kita sendiri dengan cara berlaku yang akan kita ikuti selama hidup(Ihromi,1996).
 
Indonesia merupakan negara yang mempunyai masyarakat yang multietnis,memiliki kebudayaan dan masyarakat beragam. Di satu sisi Indonesia negara yang plural, sehingga banyak sekali suku, budaya, adat istiadat, bahasa, dan agama.Dengan sifat yang plural itu negara Indonesia timbul sebuah konflik karena lebihsulit menjaganya dari pada ketentraman dan keamanan masyarakat yang homogensehingga terjadi di beberapa daerah. Sehingga pengenalan budaya dari berbagaietnis di Indonesia sangat diperlukan, sebagai faktor yang akan memperkuat perasaan kesatuan di Indonesia.
 
Konflik merupakan suatu gejala sosial yang melekat pada kehidupanmasyarakat. Banyak peristiwa kerusuhan yang melibatkan masyarakat dalamsekala luas yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Sebagai contoh,
 
Kalimantan Barat (konflik etnis di Singkawang dan Sambas) yang kerap terjadidan dilakukan dalam rentang yang hampir berdekatan.
 
Peristiwa
-
peristiwa yang belum terselesaikan sampai sekarang disebabkankarena persoalan
-
persoalan etnis dan persoalan agama, berbagai persoalan yangmenyangkut dengan kehidupan sosial, politik dan ekonomi yang kemudian justru berlanjut menjadi masalah yang besar karena dikait
-
kaitkan dengan persoalanyang dianggap sangat sensitif, yaitu masalah SARA.
 
Indonesia di perkuat dengan simbol Bhinneka Tunggal Ika, yang maknanyaadalah pluralisme didalam kesatuan. Oleh karena itu, pluralitas masyarakat bangsaIndonesia sebagai suatu realitas sosial budaya dan realitas sejarah harus dilihatsebagai sesuatu yang seimbang. Dalam arti bahwa semua konsep, semua wancana,dan semua realitas mengenai pluralitas suku
-
suku bangsa itu di tempatkan padatingkatan yang sederajat. Kompleksitas permasalahan kesukubangsaan tidak direfleksikan oleh seberapa besar warga komunitas, tetapi lebih difokuskan padasubstansi masalah yang dihadapi dalam rangka menegakkan perasaan kebangsaandan semangat persatuan.
 
Semboyan Bhineka Tunggal Ika yang ditunjukan kepada Indonesiamerupakan cita
-
cita bangsa Indonesia yang harus diperjuangkan dan diwujudkanoleh segenap bangsa Indonesia. Mengenai persatuan nasional kerap kali bangsaIndonesia diancam oleh berbagai pertentangan pendapat diberbagai kekuatansosial politik tertentu, jadi memang benar Bhineka Tunggal Ika harusdiperjuangkan secara terus menerus. Konflik juga kerap kali mewarnai upaya
-
upaya dalam mewujudkan integrasi nasional. Dengan pluralisme itu, Indonesiamudah sekali terjadi konflik, diakibatkan karena kurang kesadaran terhadapsimbol Bhineka Tunggal Ika yang menjunjung persatuan dan kesatuan.
 
Penerapan strategi pendidikan multikultural menjadi kian penting,khususnya dalam upaya memberantas diskriminasi dan meminimalisasi konflik.Di Indonesia, pendidikan multikultural relatif baru dikenal sebagai suatu pendekatan yang dianggap lebih sesuai bagi masyarakat Indonesia yangheterogen, terlebih pada masa otonomi dan desentralisasi yang baru dilakukan.Pendidikan multikultural yang dikembangkan di Indonesia sejalan pengembangandemokrasi yang dijalankan sebagai counter terhadap kebijakan desentralisasi danotonomi daerah. Apabila hal itu dilaksanakan dengan tidak berhati
-
hati justru akanmenjerumuskan kita ke dalam perpecahan nasional.
 
Menyusun pendidikan multikultural dalam tatanan masyarakat yang penuh permasalahan anatar kelompok mengandung tantangan yang tidak ringan.Pendidikan multikultural tidak berarti sebatas "merayakan keragaman" belaka.Apalagi jika tatanan masyarakat yang ada masih penuh diskriminasi dan bersifatrasis. Dapat pula dipertanyakan apakah mungkin meminta siswa yang dalamkehidupan sehari
-
hari mengalami diskriminasi atau penindasan karena warnakulitnya atau perbedaannya dari budaya yang dominan tersebut? Dalam kondisidemikian pendidikan multikultural lebih tepat diarahkan sebagai advokasi untuk menciptakan masyarakat yang toleran dan bebas toleransi.
 
Pluralisme Budaya dan Konflik Etnis di Kalimantan Barat
 
Pluralisme adalah suatu kemajemukan yang dipandang sebagai dasar 
-
dasar  perbedaan dari unsur 
-
unsur yang membuat keragaman tersebut dapat diukur  berdasarkan kualitas ataupun kuantitas.
 
 
Ada 4 (empat) kelompok etnik utama di Kalimantan Barat: Dayak, Melayu,Cina dan Madura. Dua kelompok etnik pertama merupakan penduduk asli
-
mayoritas, sedangkan dua kelompok etnik berikutnya merupakan pendatang
-
minoritas.
 
Bangsa melayu terdiri dari dari berbagai suku bangsa (etnis), jelas kelihatanmasing
-
masing etnis mengembangkan bahasa dan kebudayaannya sesuai dengankondisi geografis tempat mereka hidup. Proses ini telah terjadi ribuan tahun,sehingga yang tampak pada masa kini seolah
-
olah tidak terdapat hubungan antarasuku bangsa dengan suku bangsa lain.
 
Istilah melayu dan dayak di Kalimantan Karat relatif unik kalau mengkajikepada sejarahnya, mereka yang disebut melayu dalam pengertian etnis itu ”tidak ada”, kurang abad ke 18, seorang antropolog inggris menyebut “Orang Asli”(
indegan Ous People
), yang memeluk agama islam adalah sebagai orang melayu.
 
Pada dasarnya “penduduk asli” Kalimantan Barat, baik Melayu maupundayak merupakan kelompok 
-
kelompok kecil masyarakat yang masing
-
masing dari padanya mengembangkan bahasa dan kebudayaan masing
-
masing. Cina danMadura merupakan kelompok minoritas atau pendatang yang memilikikecenderungan untuk mengusai ekonomi, politik dan sosial
-
kultural di wilayahini.
 
Secara sosiologis, pluralistis budaya ini sangat menyulitkan interaksi sosialharmonis, sebaliknya cenderung menimbulkan konflik terbuka maupun tertutup.Kalimantan Barat sebagai salah satu daerah yang dihuni oleh berbagai etnis tidak terlepas dari persoalan tersebut. Mulai dari peristiwa Sanggau Ledo akhir 1996hingga awal 1997 dan kerusuhan Sambas 1999 adalah sebuah contoh betaparentannya Kalimantan Barat terhadap konflik.
 
Menurut Koentjaraningrat (1982) sebenarnya telah mengingatkan bahwaKalimantan Barat menyimpan potensi konflik yang terpendam antar suku bangsa,selain Sumatera Selatan, Lampung, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan danSulawesi Tengah. Dalam pandangan Koejaningrat, selain daerah itu relatif homogen juga karena tidak adanya kebudayaan dominan (
dominant culture
)sebagai wadah pembauran (
melting pot 
) dari masing
-
masing atau suku bangsayang hidup di daerah tersebut.
 
Konflik etnis di Kalimantan Barat diketahui bahwa telah terjadi konflik etnis Madura dengan empat etnis di Kalimantan Barat mulai terjadi tahun 1993.Dalam catatan Polda Kalbar (1999) sejak 1962 hingga 1999 sudah terjadi 14 kali.Konflik tersebut terjadi antara komunitas Dayak dengan Tionghoa sebanyak 1 kali1967, Dayak dengan Madura sebanyak 11 kali konflik, yakni pada tahun 1962,1963, 1968, 1972, 1976, 1977, 1979, 1983, 1993, 1994, 1996
-
1997, dan Melayudengan Madura sebanyak dua kali yakni 1998 dan 1999. Konflik berikutnya tahun2000 di kota Pontianak juga melibatkan etnis Melayu dan Madura.
 
Sejak konflik pertama hingga terakhir terjadi upaya memecahkan konflik selalu dilakukan dengan cara membuat perjanjian damai dengan etnis yang bertikai. Begitu konflik pertama terjadi penyelesaiannya segera dilakukan denganmembuat perjanjian damai.
 
Salah satu sebab konflik adalah karena reaksi yang diberikan oleh satu ataudua kelompok atau lebih dalam satu situasi yang berbeda
-
 beda. Konflik jugamudah terjadi apabila prasangka ini terlalu lama terdapat. Konflik ini dapat terjadikarena :
 

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->