2
disebabkan oleh tingginya produktivitas di tahun tersebut. Namun demikian, setelahtahun 2000 produktivitas mengalami penurunan dari tahun ke tahun, sehingga padatahun 2003 hanya mencapai 7,59 ton per hektar. Hal tersebut mengindikasikankurang optimalnya teknologi budidaya yang digunakan oleh petani buncis. Ada beberapa faktor penyebab belum baiknya teknologi yang digunakan oleh petani,diantaranya: 1) teknologi yang direkomendasikan tidak dapat memecahkanpermasalahan petani, 2) proses transfer teknologi tidak berjalan dengan baik, atau3) teknologi yang direkomendasikan belum tersedia (Lionberger dan Gwin, 1991). Adapun untuk budidaya buncis, kemungkinan disebabkan oleh belum tersedianyateknologi yang direkomendasikan. Hal tersebut berkaitan erat dengan skala prioritasprogram penelitian sayuran. Selama ini buncis tidak dimasukkan sebagai sayuranyang mendapat prioritas untuk diteliti, sehingga penelitian-penelitian untuk komoditas tersebut sangat terbatas (lihat sub bab hasil-hasil penelitian).
Tabel 21 Produksi buncis di Indonesia, 1999-2003Persentase perubahan (%)TahunLuas panen(ha)Produksi(t)Produktivi-tas (t/ha)Luas panen Produksi Produkti- Vitas1999 28 546 282 198 9,88 - - -2000 28 257 302 624 10,71 - 1,01 + 7,24 8,402001 25 651 227 862 8,88 - 9,22 - 24,70 - 17,082002 26 660 230 020 8,62 + 3,78 + 0,95 - 2,932003 32 626 247 782 7,59 22,38 + 7,72 - 11,95Sumber: Survei Pertanian, BPS (berbagai tahun)
Berkaitan erat dengan tingkat adaptabilitasnya, pertanaman buncis di Indonesiatersebar terutama di daerah dataran tinggi. Tabel 22 menunjukkan perkembanganareal tanam dan produksi di beberapa propinsi penting penghasil buncis, serta dataagregatnya. Berdasarkan data tersebut Propinsi Jawa Barat merupakan sentraproduksi terbesar di Indonesia dengan kontribusi sebesar 29,84 – 38,13% terhadapproduksi nasional selama periode 1999–2003. Propinsi lainnya sebagai sentraproduksi terbesar setelah Jawa Barat, tercatat Sumatera Utara, Jawa Timur,Bengkulu dan Jawa Tengah.Ditinjau dari produktivitasnya, hasil yang dicapai Jawa Barat jauh di atas propinsi-propinsi lainnya. Sebagai contoh pada tahun 2003 produktivitas buncis di Jawa Baratmencapai 13,53 ton per hektar, sementara propinsi lainnya berkisar antara 2,13-10,08 ton per hektar. Produktuvitas buncis di Jawa Barat tersebut masih di atasproduktivitas rata-rata Indonesia yang hanya mencapai 7,59 ton per hektar. Haltersebut secara tidak langsung mengindikasikan bahwa penggunaan teknologi disentra produksi Jawa Barat sudah lebih baik dibandingkan dengan propinsi lainnya.