Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
1Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
otonomi daerah

otonomi daerah

Ratings: (0)|Views: 520|Likes:
Published by Echo 'Tovi'
ufhfjfhjhj
ufhfjfhjhj

More info:

Published by: Echo 'Tovi' on Jul 09, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOCX, TXT or read online from Scribd
See More
See less

10/27/2013

pdf

text

original

 
A. PENDAHULUAN
 Pembicaraan mengenai otonomi daerah sebenarnya menyentuh perdebatan tentang bangun besar (bentuk) negara yang masihmenjadi perdebatan sepanjang sejarah kekuasaan di Indonesia (Dwipayana, 2000: x). Meskipun diketahui bahwa ketika
TheFounding Fathers
bersidang dalam sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia untuk merumuskan Undang-Undang Dasar,mereka mempunyai suatu tekad yang sama bahwa negara baru yang bereksistensi di dunia internasional adalah dalam bentuksuatu negara kesatuan (Amrusyi, 1987: 59). Namun kesepakatan yang telah dirancang dari awal ini kelihatannya belum mampumemberikan suatu solusi dalam rangka penerapan otonomi daerah. Sebagai bukti bahwa sejak Indonesia merdeka pada tahun1945 sampai saat ini, penerapan otonomi daerah selalu mengalami perubahan. Perubahan yang selalu terjadi dalam penerapanotonomi daerah menimbulkan problematika tersendiri, apalagi jika dikaitkan dengan eksistensi Negara Indonesia yang berbentukkesatuan.Perubahan yang selalu terjadi dalam penerapan otonomi daerah mengindikasikan bahwa bangsa Indonesia belum mampumencetuskan bagaimana konsepsi terbaik otonomi daerah dalam kaitannya dengan menjaga eksistensi negara kesatuan. Otonomidaerah selama ini baru mampu merefleksikan berbagai problema yang tidak kunjung usai. Hal ini terbukti berdasarkan faktasejarah bahwa undang-undang yang paling sering diganti adalah undang-undang yang mengatur tentang pemerintahan daerah.Sebagai upaya mengkritisi permasalahan yang ada, perlu dipahami bagaimana sebenarnya konsepsi otonomi daerah menurutUndang-Undang Dasar 1945? Konsepsi secara sederhana dimaksudkan sebagai rumusan. Konsepsi otonomi daerah dipahamidengan rumusan otonomi daerah. Terkait dengan hal ini, untuk mengetahui konsepsi otonomi daerah di Negara Kesatuan RepublikIndonesia harus beranjak dari pemahaman tentang rumusan otonomi daerah itu sendiri. Kajian terhadap konsepsi otonomi daerahmenjadi lebih menarik ketika diketahui bahwa dalam Undang-Undang Dasar 1945 tidak merincinya. Walaupun demikian,keberadaan Undang-Undang Dasar 1945 perlu dikritisi dalam kaitannya dengan konsepsi otonomi daerah. Hal ini diperlukan karenaUndang-Undang Dasar 1945 merupakan hukum dasar yang menjadi panduan dalam menjalankan roda pemerintahan.
B. METODE PENELITIAN
 Penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif yang dilakukan dengan cara meneliti bahan pustaka atau data sekunderbelaka. Penelitian terhadap data sekunder dimungkinkan untuk menarik generalisasi yang lebih luas dari hasil-hasil penelitian, tidakterikat oleh suatu waktu dan tempat, penghematan ternaga dan biaya, dan punya ruang lingkup yang seluas-luasnya. Sifatpenelitian adalah deskriptif-analitis dengan menggunakan pendekatan yuridis dan historis. Pengumpulan bahan hukum dilakukandengan metode dokumentasi. Bahan hukum yang dikumpulkan terdiri dari bahan hukum primer, bahan hukum sekunder, danbahan hukum tertier. Analisis menggunakan teknik analisis kualitatif. Penelitian ini difokuskan untuk membahas konsepsi otonomidaerah dalam UUD 1945 sebelum amandemen, dengan pertimbangan bahwa UUD tersebut dirumuskan dengan perdebatan yangcukup alot dan telah berlaku dalam waktu yang relative panjang, perubahan terhadap UUD tersebut baru dilaksanakan setelah erareformasi bergulir di Indonesia.
C. PEMBAHASAN
 
1. Landasan Teori
 
a. Pengertian Konsepsi
 Menurut John M. Echols dan Hassan Shadily (1990: 306), konsepsi dalam bahasa Inggris diartikan dengan
concept, notion, idea
.Hal ini berbeda dengan pengertian yang dikemukakan dalam kamus Oxford. Di dalamnya dinyatakan bahwa konsepsi itu dalambahasa Inggris diistilahkan dengan
conception
yang berarti
idea, plan or intension
. Dengan pengertian ini konsepsi tidak disamakandengan konsep.Dalam
Webster’s Word University Dictionary 
dinyatakan bahwa
conception
berarti
the act of forming an idea,understanding
(Edward N. Teall (ed), 1965:215). Untuk itu dapat dipahami bahwa konsepsi dalam bahasa Inggris disebut denganistilah
conception
yang dapat diartikan dengan ide, gagasan, pengertian, pendapat, dan cara membentuk sebuah ide. Dalampenelitian ini, konsepsi diartikan dengan cara membentuk sebuah ide. Ketika dirangkaikan dengan kata
otonomi daerah,
dimaksudkan sebagai cara membentuk sebuah rancangan atau rumusan tentang otonomi daerah.
b. Desentralisasi dan Otonomi Daerah
 Istilah desentralisasi dan otonomi daerah dalam konteks bahasan sistem penyelenggaraan pemerintahan sering digunakan secaracampur aduk. Kedua istilah tersebut secara akademik bisa dibedakan, namun secara praktis dalam penyelenggaraan pemerintahantidak dapat dipisahkan. Karena itu tidak mungkin masalah otonomi daerah dibahas tanpa mempersandingkannya dengan konsepdesentralisasi. Bahkan menurut banyak kalangan otonomi daerah adalah desentralisasi itu sendiri. Tidak heran misalnya dalambuku-buku referensi, pembahasan otonomi daerah diulas dengan memakai istilah desentralisasi. Kedua istilah tersebut bagaikanmata koin yang saling menyatu namun dapat dibedakan. Di mana desentralisasi pada dasarnya mempersoalkan pembagiankewenangan kepada organ-organ penyelenggara negara, sedangkan otonomi menyangkut hak yang mengikuti pembagianwewenang tersebut.Diponolo mengemukakan bahwa otonomi merupakan wewenang mengatur rumah tangga di daerah-daerah. Otonomi jugamengandung pengertian hak untuk membuat undang-undang sendiri, hak untuk mengatur rumah tangga sendiri. Sebagaimanakedaulatan bagi suatu negara, begitulah otonomi bagi suatu daerah di dalam sistim desentralisasi. Sedangkan Vera Jasini Putri(2003:45) dalam Kamus dan Glosarium Otonomi Daerah mengartikan desentralisasi sebagai penyerahan wewenang pemerintahanoleh pemerintah pusat kepada daerah otonom dalam kerangka negara Kesatuan Republik Indonesia. Sedangkan otonomi daerahdipakaikan dalam dua pengertian:
 pertama
, kewenangan daerah untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempatmenurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Kedua
, Kesatuanmasyarakat hukum yang mempunyai batas daerah tertentu berwenang mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempatmenurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dapatlah dipahamibahwa otonomi adalah derivat dari desentralisasi. Daerah-daerah otonom adalah daerah mandiri. Tingkat kemandirian diturunkandari tingkat desentralisasi yang diselenggarakan. Semakin tinggi derajat desentralisasi, semakin tinggi tingkat otonomi daerah.
 
2. Hasil Penelitian
 Dalam UUD 1945 sebelum amandemen, baik pembukaan maupun batang tubuh tidak terdapat dan tidak ditemukan kata otonomidaerah. Undang-Undang Dasar 1945 hanya memuat tentang daerah yang bersifat otonom. Ketentuan tentang daerah otonom initercantum dalam persoalan yang berkaitan dengan pemerintah daerah. Ketentuan tentang pemerintah daerah itupun satu pasalsaja. Maka dalam upaya melihat konsepsi otonomi daerah perlu dijabarkan bagaimana kandungan pasal tentang pemerintah daerahdimaksud.Pasal tentang pemerintah daerah dalam Undang-Undang Dasar 1945 sebelum amandemen (pasal 18) dimuat dalam bab VI. Pasalini me
ngatur bahwa “Pembagian daerah Indonesia atas daerah besar dan kecil, dengan bentuk susunan pemerintahannya
ditetapkan dengan undang-undang, dengan memandang dan mengingati dasar permusyawaratan dalam sistem pemerintahannegara, dan hak-hak asal usul dalam daerah-
daerah yang bersifat istimewa.” Penjelasan Pasal 18 menyebutkan bahwa (1) olehkarena negara Indonesia itu suatu “eenheidsstaat” maka Indonesia tak akan mempunyai daerah di dalam lingkungannya yang juga
bersifat
staat 
. Daerah Indonesia akan dibagi dalam daerah popinsi, dan daerah propinsi akan dibagi pula dalam daerah yang lebihkecil. Di daerah-daerah yang bersifat
autonoom
(
streek 
dan
locale rechtsgemeenschappen
) atau bersifat daerah administrasibelaka, semuanya menurut aturan yang akan ditetapkan dengan undang-undang. Di daerah-daerah yang bersifat
autonom
akandiadakan badan perwakilan daerah oleh karena di daerahpun, pemerintahan akan bersendi atas dasar permusyawaratan; (2) Dalam
territoir negara Indonesia terdapat lebih kurang 250 “zelfbesturende landschappen dan volksgemeenschappen” seperti desa di Ja
wadan Bali, nagari di Minangkabau, dusun dan marga di Palembang dan sebagainya. Daerah-daerah itu mempunyai susunan asli danoleh karena dapat dianggap sebagai daerah yang bersifat istimewa. Negara Republik Indonesia menghormati kedudukan daerah-daerah istimewa tersebut dan segala peraturan negara yang mengenai daerah itu akan mengingati hak-hak asal-usul daerahtersebut.Berdasarkan kandungan isi Pasal 18 Undang-Undang Dasar 1945 dapat diketahui hal-hal seperti dibawah ini:1.
 
bahwa daerah Indonesia dibagi atas daerah besar dan kecil;2.
 
Bentuk susunan pemerintahan daerah yang dibagi tersebut ditetapkan dengan undang-undang;3.
 
Dalam menetapkan bentuk susunan pemerintahan itu adalah dengan memandang dan mengingati dasarpermusyawaratan dalam sistem pemerintahan negara, dan hak-hak asal usul dalam daerah-daerah yang bersifatistimewa.Sedangkan dari penjelasan pasal 18 dapat dipahami hal-hal seperti di bawah ini:1.
 
Negara Indonesia merupakan “eenheidsstaat” yang artinya bahwa Indonesia tidak boleh mempunyai daerah d
i dalamlingkungannya yang juga bersifat
staat 
;2.
 
Pembagian daerah Indonesia adalah kepada daerah propinsi, dan daerah propinsi dibagi dalam daerah yang lebih kecil;3.
 
Daerah yang dibagi itu ada yang bersifat
autonoom
(
streek 
dan
locale rechtsgemeenschappen
) atau bersifat daerahadministrasi belaka yang ketentuannya diatur sesuai ketetapan undang-undang;4.
 
Di daerah-daerah yang bersifat
autonom
akan diadakan badan perwakilan daerah oleh karena di daerah pun,pemerintahan akan bersendi atas dasar permusyawaratan;5.
 
Dalam territoir negara Indonesia terdapat lebih kurang 250 “zelfbesturende landschappen” dan “volksgemeenschappen” 
seperti desa di Jawa dan Bali, negeri di Minangkabau, dusun dan marga di Palembang dan sebagainya. Daerah-daerah itumempunyai susunan asli dan oleh karena dapat dianggap sebagai daerah yang bersifat istimewa.6.
 
Negara Republik Indonesia menghormati kedudukan daerah-daerah istimewa tersebut dan segala peraturan negara yangmengenai daerah itu akan mengingati hak-hak asal-usul daerah tersebut.Perumus Undang-Undang Dasar 1945 menghendaki adanya otonomi daerah. Hal ini terlihat melalui rancangan Muhammad Yamin,rancangan Panitia Perancang Undang-Undang Dasar, dan rancangan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Dari riwayatterjadinya Pasal 18 Undang-Undang Dasar 1945 tersebut ternyata bahwa desentralisasi dapat diterima oleh para tokoh rakyatIndonesia sebagai suatu keharusan. Pasal 18 merupakan pasal desentralisasi yang mengatur pembentukan daerah otonom.Pemerintahan daerah yang dimaksud oleh Pasal 18 Undang-Undang Dasar 1945 adalah dalam rangka desentralisasi tidak diragukan
lagi apabila diperhatikan anak kalimat “dengan memandang dan mengingati dasar permusyawaratan dalam sistem pemerintahan
negara (Soehino,1983: 120). Di dalam menyusun undang-undang tentang pembagian daerah otonom tersebut, oleh pasal 18diberikan beberapa syarat yaitu dengan memandang dan mengingat dasar permusyawaratan dalam sistem pemerintahan negaradan hak asal usul dalam daerah yang bersifat istimewa. Syarat yang ditentukan oleh pasal 18 itu adalah merupakan konsekuensi
dari apa yang ditentukan di dalam pembukaan yang menyebutkan “kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
 
permusyawaratan perwakilan.” Realisasi dari dasar permusyawaratan itu ialah diadakanny
a badan perwakilan daerah di dalamdaerah otonom yang bersangkutan.Pasal 18 Undang-Undang Dasar 1945 walaupun memberi dasar otonomi dan desentralisasi, hampir tidak kelihatan di dalamnyabayang-bayang distribusi kekuasaan antara pemerintah pusat dan daerah. Menurut analisis Bagir Manan Undang-Undang Dasar1945 di satu sisi menghendaki dilaksanakannya desentralisasi dengan pemberian otonomi yang seluas-luasnya dengan tujuanuntuk menumbuhkan prakarsa daerah dan menfasilitasi keanekaragaman, sementara di saat yang sama harus ada tempat bagipusat untuk melakukan sentralisasi atas hal-hal yang tidak dapat dilaksanakan oleh daerah, yaitu fungsi untuk menuju pemerataankeadilan dan kesejahteraan.Ada beberapa hal yang dapat dipahami dari Pasal 18 dan penjelasan angka I pasal tersebut sebagai berikut:a. Indonesia adalah negara kesatuan dan tidak mungkin dapat dibentuk negara lagi dalam negara Indonesia. Hal ini lebih
dipertegas dengan ketentuan Pasal 1 UUD 1945 yang menyatakan “(1) Negara Indonesia ialah Negara
Kesatuan yang berbentuk
Republik”. Oleh karena itu dalam membicarakan desentralisasi di Indonesia, maka desentralisasi yang tercipta adalah yang
berkaitan langsung dengan prinsip negara kesatuan dan pada akhirnya juga akan berkaitan dengan prinsip sentralisasi.b. Daerah-daerah akan bersifat autonoom (otonomi) atau bersifat administratif belaka. Daerah yang bersifat otonom adalah atasdasar desentralisasi, sedangkan daerah administrasi belaka adalah atas dasar dekonsentralisasi. Dengan demikian prinsipdesentralisasi dan juga prinsip dekonsentrasi dilaksanakan baik secara bersamaan maupun sendiri-sendiri di masing-masing daerahtersebut.c. Akan ada aturan yang ditetapkan dengan undang-undang mengenai pembagian daerah tersebut, dengan memperhatikanbahwa untuk daerah otonom, pemerintahannya akan bersendi atas dasar permusyawaratan.Dasar bagi otonomi pemerintah daerah adalah Pasal 18 Undang-Undang Dasar 1945 yang tiang-tiangnya tersebut dengan nyatadalam pasal itu, yaitu:a. Pembagian daerah Indonesia atas daerah besar dan kecil.b. Dasar permusyawaratan dan dasar itu harus diacuhkan dan diingati.c. Dasar perwakilan yang tersebut di atas harus dalam pemerintahan negara berdasarkan ajaran Pancasila.d. Hak-hak asal usul dalam daerah-daerah yang bersifat istimewa: daerah kira-kira 250 zelfbesturende landschappen dahulu danvolksgemeenschappen, seperti juga marga, nagari dan dusun masuk kepada bagian daerah yang mempunyai susunan asli menuruthukum adat.e. Sifat susunan otonomi daerah besar dan kecil yang dimaksud pada angka satu diatur dengan undang-undang.f. Selainnya dari pada susunan otonomi, maka daerah besar dan kecil itu dapat diserahi kekuasaan dan pekerjaan oleh pihakatasan supaya membantu pemerintah pusat dan pihak atasan (M. Solly Lubis, 1982:163
 ).
.Pemberian otonomi kepada daerah esensinya terakomodasi dalam Pasal 18 UUD 1945 yang intinya sistem ketatanegaraanIndonesia tidak menganut faham sentralisme, tetapi membagi daerah Indonesia atas dasar provinsi dan Daerah Propinsi akand
ibagi dalam daerah yang lebih kecil. Daerah itu bersifat „otonom‟ (
streek en locale rechtsgemeenschappen
) dengan dibentuk
badan perwakilan rakyat, atau hanya berupa “daerah administrasi” saja. Daerah besar dan kecil yang diberikan kewenangan
otonomi seberapa luas apapun bukan merupakan Negara Bagian (s
tate
), melainkan daerah yang tidak terpisahkan dari dandibentuk dalam kerangka Negara Kesatuan. Corak daerah besar dan kecil tersebut diatur dalam Undang-undang.Menurut Kuntara Magnar dengan mengutip pendapat Bagir Manan mengatakan bahwa kalau semata-mata berpegang kepada apayang tercantum dalam Pasal 18 UUD 1945 tersebut sebenarnya agak sulit untuk menentukan corak pemerintahan daerah yangbenar-benar dikehendaki oleh UUD, tetapi dari penjelasannya dapat dipahami bahwa UUD menghendaki diberikannya otonomikepada daerah-daerah sebagai sistem dalam menyelenggarakan pemerintahan Negara (Kuntara Magnar, 1984: 20-21). Denganadanya pasal 18, maka Negara Kesatuan Republik Indonesia bukanlah negara yang mempunyai pemusatan atau sentralisasikekuasaan, karena susunan pemerintah Republik Indonesia mengenal pembagian kekuasaan antara pusat dan daerah sehinggaNegara Kesatuan Republik Indonesia ialah negara unitaristis dengan mengenal dekonsentralisasi (desentralisasi) sampaipemerintah daerah itu mempunyai otonomi kekuasaan. Besarnya kekuasaan otonomi atau keswatanteraan itu ditetapkan denganundang-undang.Konsepsi otonomi daerah menurut UUD 1945 sebelum amandemen sejalan dengan persoalan-persoalan yang terkait denganberbagai aspek pendirian negara. Undang-Undang Dasar 1945 sebelum amandemen merupakan perwujudan dari hasrat untukmembentuk suatu Negara Kesatuan Republik Indonesia, suatu negara yang bebas dari belenggu dan jajahan bangsa asing.Kecenderungan memilih bentuk negara kesatuan pada saat awal berdirinya negara Indonesia adalah didorong oleh kekhawatiranpolitik
devide et impera
yang selalu dipergunakan oleh kolonial Belanda untuk memecah belah negara Indonesia. Meskipun secara

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->