Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
8Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Pengaruh Sist Rohani Hindu-budha Di Sumatera-jawa

Pengaruh Sist Rohani Hindu-budha Di Sumatera-jawa

Ratings: (0)|Views: 1,063|Likes:
Published by abhiseca

More info:

Published by: abhiseca on May 12, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/11/2014

pdf

text

original

 
 
(bagian 2 dari 3 tulisan)
PENGARUH
 
HINDU-BUDHA
d i S u m a t e r a d a n J a w a
cin pratipa hapsarin
I. Pengaruh Sistem Kerohanian Hindu-Budha di Sumatera
Pengaruh India di wilayah ini memang terjadi hingga paruh abad 8. Tetapi sulit memastikanapakah ini berjalan lantaran ekspansi, perjalanan dagang atau usaha pelarian politik dariIndia ke Nusantara atau sebaliknya. Yang jelas pada masa-masa awal telah dikenal nama-nama India seperti Mulawarman (dari Kutai), Açwawarman dan Purnawarman (dariTarumanagara, Jawa Barat) dan agama yang dianut adalah agama Brahma dan Hindu dengantiga dewa utamanya: Brahma, Çiwa dan Wisnu.Penggunaan nama-nama India boleh jadi merupakan bagian dari usaha untuk melegitimasikekuasaan. Seperti diketahui wilayah-wilayah kerajaan pada waktu itu tidak mengenalsentrum kekuasaan tunggal dan masih terpecah dalam bagian-bagian kecil. India adalahsalah satu
locus
yang memiliki sejarah panjang kebudayaan dan menghasilkan banyak peradaban besar, mulai dari filsafat, agama, tehnologi, ekonomi hingga politik. Sekiranya halitulah yang mendorong pengambilan nama ataupun simbol-simbol lain yang ada di India.Transformasi atau sebutlah pengutipan tersebut tidak lain dari usaha untuk menyamakan diridengan pusat kekuasaan atau kebudayaan yang berfungsi untuk mengikat daerah lain yanglebih kecil di dalam satu payung kekuasaan. Implikasi logis dari kedekatan dengankebudayaan India itu adalah lahirnya kekuasaan pendeta atau
heirocratic civilisation
. Di siniperan pendeta menjadi tak tertolak karena ialah yang berkuasa penuh untuk menghubungkanraja dengan sumber kekuasaan yang mutlak. Akhirnya konsolidasi kekuasaan terlihat pulapada digunakannya aksara
 Dewanagari
dan
Pallawa
.
1
 Kehadiran Hindu segera disusul oleh Gunawarman yang masuk ke Nusantara tahun 420 Muntuk melakukan syiar Budha. Raja Kashmir tersebut datang bersama rombongan pendetaBudha dan sejak saat itu agama Budha menjadi agama kalangan atas.
1
Lebih lengkap lih. Simbolon, 1995: 8-9.
 
 
Berita pada masa itu diperolah melalui catatan yang dibuat oleh Fa Hien, seorang rahibBudha yang dari Cina yang sedang singgah di Nusantara, khususnya Sumatera dan Jawakarena perahunya terkena badai. Fa Hien berada di Nusantara selama lima bulan, antaraDesember 412 – Mei 413. Dalam laporannya, Fa Hien mengatakan bahwa kebanyakanpenduduk menyembah berhala. Berita selanjutnya baru datang dari It Sing yang mengadakanperjalanan suci antara tahun 671-695. It Sing mengatakan bahwa ketika ia singgah diSumatera, ia telah mendapati beribu orang menjadi penganut Budha. Tampaknyakeberhasilan Gunawarman yang juga menyebarkan Budha di Tiongkok menyebabkanpeziarah Tiongkok yang akan ke India masuk ke Sumatera. Iklim itu menyebabkanmaraknya perkembangan agama Budha di Sumatera khususnya di Sriwijaya.Hindu-Budha kemudian menjadi agama resmi di banyak kerajaan baik di Sumatera ataupundi Jawa. Sriwijaya bahkan pernah menjadi salah satu pusat pengajaran Budha terbesar.Diantara yang terkemuka itu terdapat seorang pemuka agama yang bernama Dharmapala.Pada abad ke-7, tokoh inilah yang menyebarkan dalil Mahayana di Sumatera sedangkan padawaktu itu Sumatera masih dikuasai oleh Budha Hinayana. Dharmapala sebelumnya adalahseorang guru yang mengajar di Nalanda, kota biara di dekat Sungai Gangga. Di Sumatera,Hindu-Budha bertahan lebih dari 600 tahun, kira-kira mulai abad 7-13 M.
II. Pengaruh Sistem Kerohanian Hindu-Budha di Jawa
Sumardjo mengatakan bahwa kekuasaan Hindu-Budha di Jawa bertahan kurang lebih 1000 tahun. Diduga Hindu-Budha masuk mulai abad ke 6-7 dan berkembang di sepanjang lereng Merapi- Merbabu (wilayah Tuk Mas). Kekuasaan Hindu-Budha baru mengalami kemunduran setelah Majapahit dijatuhkan kekuatan Pantai Utara Jawa. Sementara di Sunda, kekuasaan Hindu-Budhaberdiri hingga lebih dari 1100 tahun dan baru hancur ketika Pajajaran di taklukan oleh kekuatan Banten (1579) yang telah menjadi Islam (Sumardjo, 2002: 28).
2
 
Kalingga, Tarumanegara dan Taruma
Awalnya, berita tertulis tertua di Nusantara di temukan di tepi Sungai Mahakam, Kutai,Kalimantan Timur, menggunakan hurup Pallawa dan bahasa Sanskrit. Prasasti bertarikh 400M itu menjelaskan bahwa saat itu telah terdapat seorang Pangeran yang termasyur. Pangerantersebut bernama Kundungga dan telah memiliki anak yang bernama Açwawarman, sangpendiri wangsa. Prasasti itu didirikan oleh ‘pemuka dari yang lahir dua kali’ dan ditujukanuntuk mengenang segala jasa baik Mulawarman, anak Açwawarman yang telahmempersembahkan banyak emas. Setelah itu baru ditemukan data arkeologis yangmenunjukan adanya seorang Raja di barat Pulau Jawa, yakni Purnawarman. Kerajaannyadisebut dengan Tarumanegara dan Raja tersebut memerintah selama 22 tahun. Diperkirakanprasasti yang ditemukan di Bogor dan di Tugu merujuk pada kitaran abad ke-4 atau ke-5.
2
Yang menarik, pada kasus Sumatera dan Sunda, setelah Islam masuk sedikit sekalipeninggalan atau kebudayaan Hindu-Budha yang tersisa atau membekas. Fenomena tersebut berbedadengan Jawa, walaupun Islam berhasil menguasai wilayah politik tetapi secara kultural, kekuatanHindu-Budha tidak tergeser dalam artian penuh atau kemudian berhasil dilebur. Banyak kebudayaanatau ritual di Jawa yang hingga hari ini secara genetik berasal dari peninggalan atau kebudayaanHindu-Budha.
 
 
 
Lepas itu diperkirakan lebih dari 200 tahun tidak didapati berita mengenai Nusantara.Namun demikian ada beberapa berita resmi Dinasti Liang (502-556) yang menyebut namaKerajaan Lang-ga-su yang terletak di Pantai Selatan Jawa. Beberapa pihak berspekulasibahwa yang dimaksud dengan lang-ga-su atau Langg-ga adalah Kalinga (tetapi datamengenai Kalinga baru di buat pada masa Dinasti Tang, 618-906 M). Kerajaan ini sangatkaya karena memiliki 28 negri yang mengakui kekuasaan rajanya. Kalinga / Kaling atauHoling sempat dipimpin oleh Ratu yang sangat ternama karena kebijaksanaannya, yakniRatu Sima. Ratu ini sangat terkenal karena ketegukan dan kebijakannya. Pada jamannya,hukum nagari ditegakkan. Negara menjadi sangat teratur dan tidak ada satu penyamunpunberani berkeliaran disana. Ia pernah menghukum anaknya sendiri karena menyentuh emasyang milik Pangeran Arab yang ada diperbatasan negri (di tempat umum). Namun ataspermintaan para mentri hukuman dikurangi menjadi memotong kaki dan kembali atasdesakan para mentri akhirnya Ratu Sima hanya memenggal jempol kaki putranya. Melihathal itu Pangeran Arab yang sebelumnya berniat menyerang Kalinga pun membatalkanniatnya. Ratu Sima ditasbihkan pada tahun 647 M.Di Jawa Barat sendiri, selain Taruma terdapat beberapa kerajaan di bawah hukum Hindu-Budha. Sebut saja Galuh, Saunggaluh dan Pajajaran. Sayangnya, sedikit sekali peninggalanarkeologis maupun susastra yang cukup representatif untuk menggambarkan keadaan padawaktu itu sehingga hanya dapat diketahui bahwa pada masa itu agama Hindu-Budha pertamakali dipelajari melalui jalan literal. Dengan demikian dapat dikatakan jika kegiatanintelektual menempati posisi penting dalam perkembangan Kerajaan, sementara ketikaagama Hindu-Budha berkembang dikalangan Istana, agama Rakyat—yang kerap disebutdengan Agama Sunda—tetap berkembang di luar pagar istana. Dikenalnya konsep SangHyang Tunggal pada masyarakat Sunda adalah bukti transformasi kosmologi dan teologiHindu dengan Agama Sunda.Selain itu, berbeda dengan wilayah lain, di Sunda hampir tidak diketemukan data-data yangmenunjukkan hasrat penguasaan wilayah (baca: ekspansi) dari satu kerajaan ke kerajaan lain(sehingga sedikit prasasti diketemukan). Puncak kekuasaan baru terbangun beberapa waktukemudian, itupun di bawah penguasaan kekuatan Islam yang masuk melalui ekspan SunanGunung Jati. Selepas itu tidak ada berita apapun yang menceritakan sisa-sisa kejayaanHindu-Budha di Tanah Sunda.Prijohutomo (1953: 97) menganggap kejatuhan Hindu-Budha sebenarnya terjadi setelahKerajaan Pajajaran hancur akibat perang Bubat dengan Majapahit. Seperti diketahuikegagalan pernikahan Hayam Wuruk dengan Puteri Sunda berakhir dengan tewasnya seluruhanggota kerajaan. Puteri Sunda dan ibunya sendiripun kemudian melakukan
bela pati
yangwaktu itu memang menjadi tradisi Hindu-Budha. Tak lama setelah itu, menurut Prijohutomo,Pasundan pun segera diislamkan (1522-1526).

Activity (8)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Ben Bella liked this
pengit liked this
jay009id liked this
'uky Kazuki' liked this
mohdw liked this
gusipul liked this

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->