Welcome to Scribd. Sign in or start your free trial to enjoy unlimited e-books, audiobooks & documents.Find out more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
57690072 Case ISPA Fajar

57690072 Case ISPA Fajar

Ratings: (0)|Views: 22|Likes:
Published by Elizar Jar

More info:

Published by: Elizar Jar on Jul 11, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/13/2013

pdf

text

original

 
 1
Case Report Session 
INFEKSI SALURAN NAFAS AKUT (ISPA)
Oleh:
FAJAR SESARIOM. REZA SAPUTRA
Perseptor:Dr. Rina Gustia , Sp.KK 
PUSKESMAS PADANG PASIRFAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALASPADANG2011
 
 
 2
TINJAUAN PUSTAKAInfeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)A.
 
Definisi
Infeksi Saluran Pernapasan Akut
(ISPA) disebut juga “
Common Cold 
” atau
 Nasofaringitis Akut. Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) adalah penyakit yang melibatkanorgan saluran pernafasan, hidung, sinus, faring atau laring. ISPA merupakan keadaan infeksianak yang paling lazim, tetapi kemaknaannya terutama tergantung pada frekuensi relatif darikomplikasi yang terjadi. Pada anak-anak sindrom ini lebih luas daripada orang dewasa, seringmelibatkan sinus paranasal dan telinga tengah serta nasofaring.
B.
 
Etiologi
Penyakit disebabkan oleh lebih dari 200 agen virus yang berbeda secara serologis. 75% penyakit ini disebabkan oleh virus. Agen utamanya adalah
rhinovirus
, yang menyebabkan lebihdari sepertiga dari semua kasus
cold 
; koronavirus menyebabkan sekitar 10%. Masa infektivitas berakhir dari beberapa jam sebelum munculnya gejala sampai 1-2 hari sesudah penyakit nampak.
Streptokokus
grup A adalah bakteri utama yang menyebabkan nasofaringitis akut.
Corynebacterium diphteriae, Mycoplasma pneumonia, Neisseria meningitides, dan N. gonorrhea
  juga merupakan agen infeksi primer.
 Hemophilus influenza, Streptococcus pneumonia, Moraxell catarrhalis,
dan
Staphylococcus aureus
dapat menimbulkan infeksi sekunder pada jaringansaluran pernapasan atas dan menyebabkan komplikasi pada sinus, telinga, mastoid, limfonodusdan paru-paru. Infeksi
 M. pneumonia
dapat berlokalisasi pada nasofaring dan pada kasus inisukar dibedakan dengan nasofaringitis virus.
C.
 
Faktor Predisposisi
Kelelahan, gizi buruk, anemia dan kedinginan. Walaupun umur bukan faktor yangmenentukan daya rentan, namun infeksi sekunder purulen lebih banyak dijumpai pada anak kecil. Penyakit ini sering diderita pada waktu pergantian musim.
D.
 
Epidemiologi
Kerentanan terhadap agen yang menyebabkan nasofaringitis akut adalah universal, tetapikarena alasan yang kurang dimengerti kerentanan ini bervariasi pada orang yang sama dariwaktu ke waktu. Walaupun infeksi terjadi sepanjang tahun, di Belahan Bumi Utara ada puncak kejadian pada bulan September kira-kira pada saat sekolah dimulai, pada akhir Januari, danmendekati akhir bulan April. Anak menderita rata-rata lima sampai delapan infeksi setahun, danangka tertinggi terjadi selama umur 2 tahun pertama. Frekuensi nasofaringitis akut berbanding
 
 3langsung dengan angka pemajanan, dan pada sekolah taman kanak-kanak serta pusat perawatanharian mungkin merupakan epidemik yang sebenarnya. Kerentanan dapat bertambah karenanutrisi jelek; komplikasi purulen bertambah pada malnutrisi.
E.
 
Patologi
Perubahan pertama adalah edema dan vasodilatasi pembuluh darah pada submukosa.Infiltrate sel mononuclear menyertai, yang dalam 1-2 hari menjadi polimorfonuklear. Perubahanstruktural dan fungsional silia mengakibatkan pembersihan mukus terganggu. Pada infeksisedang sampai berat, epitel superficial mengelupas. Regenerasi sel epitel baru terjadi setelahlewat stadium akut. Ada produksi mukus yang banyak sekali, mula-mula encer, kemudianmengental dan biasanya purulen. Dapat juga ada keterlibatan anatomis saluran pernafasan atas,termasuk oklusi dan kelainan rongga sinus.
F.
 
Manifestasi Klinis
Cold 
lebih berat pada anak kecil daripada anak yang lebih tua dan dewasa. Padaumumnya anak yang berumur 3 bulan sampai 3 tahun menderita demam pada awal perjalananinfeksi, kadang-kadang beberapa jam sebelum tanda-tanda yang berlokalisasi muncul. Bayi yanglebih muda biasanya tidak demam, dan anak yang lebih tua dapat menderita demam ringan.Komplikasi purulen terjadi lebih sering dan lebih parah pada umur 
 – 
umur yang lebih muda.Sinusitis persisten dapat terjadi pada semua umur.Manifestasi awal pada bayi yang umurnya lebih dari 3 bulan adalah demam yang timbulmendadak, iritabilitas, gelisah dan bersin. Ingus hidung mulai keluar dalam beberapa jam, segeramenyebabkan obstruksi hidung, yang dapat mengganggu pada saat menyusu; pada bayi kecilyang mempunyai ketergantungan lebih besar pada pernafasan hidung, tanda-tanda kegawatan pernafasan sedang dapat terjadi. Selama 2-3 hari pertama membrane timpani biasanyamengalami kongesti dan cairan dapat ditemukan di belakang membrane tersebut, yangselanjutnya dapat terjadi otitis media purulenta atau tidak. Sebagian kecil bayi mungkin muntah,dan beberapa penderita menderita diare. Fase demam berakhir dari beberapa jam sampai 3 hari;demam dapat berulang dengan komplikasi purulen.Pada anak yang lebih tua, gejala awalnya adalah kekeringan dan iritasi dalam hidung dantidak jarang, di dalam faring. Gejala ini dalam beberapa jam disertai dengan bersin, rasamenggigil, nyeri otot, ingus hidung yang encer dan kadang-kadang batuk. Nyeri kepala, lesu,anoreksia, dan demam ringan, mungkin ada. Dalam 1 hari sekresi biasanya menjadi lebih kentaldan akhirnya menjadi purulen. Cairan ini mengiritasi, terutama selama fase purulen. Obstruksihidung menyebabkan pernafasan mulut, dan hal ini, melalui pengeringan membrane mukosatenggorokan, menambah rasa nyeri. Pada kebanyakan kasus, fase akut berakhir selama 2-4 hari.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->